Adipati negeri vs Sekar Kedaton

Adipati negeri vs Sekar Kedaton
45. Awal terungkap.


__ADS_3

Beberapa jam yang lalu, Bang Risang menanda tangani surat tindakan untuk Ratih. Dengan gelisah, ia terus berdiri memandangi pintu yang tidak kunjung terbuka.


Tak lama dokter membuka ruang tindakan. Bang Risang begitu gelisah melihat ekspresi dokter yang baru saja membuka masker medis.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Bang Risang.


"Pak Risang.. kami sudah berusaha. Saat ini kondisi Ibu Ratih masih mengambang. Kesadarannya hilang dan timbul. Jika bapak ingin melihat keadaan Ibu Ratih.. silakan Pak..!! Ibu Ratih baru saja sadar dan bisa membuka matanya" Kata dokter.


~


Bang Risang menitikan air mata, ia mencium tangan Ratih berkali-kali. "Maafkan Kangmas membuatmu jadi seperti ini. Sungguh Kangmas sayang sama kamu Dinda. Bertahanlah.. temani Kangmas membesarkan anak kita..!!"


Ratih yang sudah bisa membuka matanya, langsung menoleh ke sumber suara.


"Kangmas, terima kasih banyak atas cintamu untuk Ratih. Maaf Ratih banyak menyusahkan Kangmas..!!" Ucapnya masih terbata.


"Tidak ada istri yang menyusahkan. Kangmas yang salah.. tidak bisa menempatkan diri. Maaf Dinda.. Kangmas tidak sanggup jika harus berpisah denganmu..!!" Jawab Bang Risang.


Ratih tersenyum tipis mendengarnya. "Perdengarkan kata-kata itu pada Mbak Yesha juga. Alangkah bahagianya saat Mbak Yesha mendengar kata cinta dan sayangmu Kangmas."


"Iya Dinda.. nanti Kangmas juga akan katakan pada Yesha." Tak kuasa Bang Risang menahan laju air mata saat Ratih semakin melemah.


"Kangmas, jika Kangmas tidak keberatan.. sudikah kiranya Kangmas memakaikan jilbab untuk Dinda." Pinta Ratih.


Isakan tangis Bang Risang semakin terdengar. Ia mengangguk pilu. "Iya, nanti Kangmas belikan jilbab yang indah untuk Dinda pakai..!!"


...


Sore hari Bang Risang membawakan jilbab yang cantik untuk Ratih namun saat itu kamar rawat Ratih sudah ramai dengan banyaknya orang. Bang Risang segera mempercepat langkahnya.


"Ada apa Ma???" Tanya Bang Risang panik.


Mama segera menghampiri Bang Risang dan memeluk putranya. "Sabar ya le."


Bang Risang menengadah sesaat menahan perih dalam hati, ia melihat Ratih dengan susah payah menarik nafas. Mata mereka saling menatap kemudian Bang Risang melepas pelukan sang Mama. Di genggamnya jilbab berwarna hijau army.. warna favorit istri keduanya. "Kangmas datang membawa jilbab yang Dinda inginkan." Kata Bang Risang.


Tak ada kata terucap dari bibir Ratih. Hanya linangan air mata mengiring perasaannya.


Bang Risang tak melepas pandangannya dari Ratih sampai menyadari janjinya. Ia memasangkan jilbab untuk Ratih. "Cantik sekali Dinda..!! Parasmu secantik hatimu sayang..!!" Ucapnya menahan tangis.

__ADS_1


"Pak Risang.. ibu Ratih mengalami komplikasi pasca persalinan. Sekarang kondisinya melemah. Beliau.. juga keracunan..!!"


"Keracunan apa dok?????" Tanya Bang Risang tidak percaya.


...


Bang Risang, Bang Naru, Opa Ricky dan Papa Igo menyelidiki kasus tersebut. Rumah sakit sebesar itu sampai bisa kecolongan seorang pasien sampai bisa keracunan.


Saat itu juga, mata Bang Risang dan yang lainnya terbelalak.


"Apa itu Yesha??" Tanya Bang Naru.


Ingin sekali rasanya Bang Risang tidak mempercayai matanya tapi kenyataannya, wanita yang berdiri dari kursi roda itu adalah Yesha. Istri pertamanya yang sangat lancar berjalan. "Yesha?? Sejak kapan dia bisa berjalan??"


"Papa tidak bisa berkomentar apapun.. lebih baik kamu sendiri yang menangani masalah ini..!!" Saran Papa Igo.


"Yesha tidak mungkin sendiri, pasti ada yang membantu..!!" Kata Opa Ricky.


"Hubungi Aryanto sekarang..!!"


-_-_-_-_-


"Ma_af mbak."


"Ingat Ratih. Aku hanya mengijinkan kamu untuk menikah dengan Mas Ris, bukan untuk punya anak. Kenapa kamu melayani hasrat suamiku?" Tegur Yesha. "Taukah kamu, penderitaanku sangatlah besar, dulu Kangmas sangat menyayangiku dan hanya ada aku hingga kamu datang dan malah merebut segalanya. Aku tidak butuh ginjal darimu, tidak butuh semua sikap sok baikmu. Aku hanya butuh suamiku..!!"


Dari balik pintu Bang Risang mendengar semua perkataan Yesha pada Ratih.


"Jika kamu memang niat pergi dari kehidupan Kangmas.. seharusnya kamu tidak perlu ikut dengan Kangmas lagi..!!" Pekik Yesha kemudian menyuntik sesuatu ke dalam botol infus Ratih.


Tak tahan lagi mendengar semuanya, Bang Risang membuka pintu kamar rawat Ratih. "Jadi kamu dalang di balik semua ini Dinda??"


"Kangmas??" Yesha sangat kaget melihat kehadiran Bang Risang yang tiba-tiba. Terlihat kepanikan Yesha yang tengah mencari sandaran.


"Ikut Mas sekarang??"


"Kangmas.." Ratih berusaha menyentuh tangan Ratih. "Jangan..!!"


"Ratih.. Jangan terus mencari muka..!!" Teriak Yesha.

__ADS_1


"Cukup..!!!!!!" Bentak Bang Risang tak tahan lagi. Kali ini dirinya berniat menyelesaikan semua permasalahan. "Sejak kapan Dinda bisa berjalan????" Tanya Bang Risang.


Yesha diam seribu bahasa dengan wajah datarnya.


"Jawaaaabb..!!!!!"


"Sebelum pindah ke paviliun."


"Apaaaa??? Berarti itu saat dimana Mas belum menikahi Dinda Ratih." Emosi Bang Risang meluap.


Amarah Bang Risang tak terkendali dan saat itu Bang Aryanto tiba. "Pot.. sabar..!! Kita bicarakan dengan kepala dingin..!!" Bujuk Bang Aryanto sembari memeluk Bang Risang. "Aku sendiri yang akan bertanggung jawab atas tindakan Yesha."


~


Bang Risang memegangi tangan Ratih yang setengah sadar. Dirinya masih saja emosional. Dokter membuang racun yang terlanjur masuk ke dalam tubuh Ratih.


"Saat itu Yesha takut Mas Ris akan meninggalkan Yesha karena Bang Adri sudah menodai Yesha." Kata Yesha. "Yesha sengaja tidak bilang masalah kesembuhan ini agar Mas Ris hanya fokus pada Yesha dan soal pernikahan itu, Yesha menyetujuinya asalkan.. Ratih tidak bersedia di sentuh Mas Ris."


"Astagfirullah Yesha. Jika seorang laki-laki dan perempuan sudah sah dalam ikatan pernikahan, memang sudah sewajarnya seorang laki-laki memberi nafkah lahir dan batin.. tidak bisa timpang, jika kami tidak melakukan kewajiban.. hukumnya dosa yeshaaaa..!!!!" Suara Bang Aryanto sampai meninggi. "Abang memang pernah memohon pada Risang agar mau menikahi Ratih, salah satu tujuannya juga untuk menyelamatkan kamu. Kamu pun paham aturan lingkungan keluarga kita."


"Yesha tau Bang, maka dari itu setelah Yesha sadar, Yesha merencanakan semua ini dan bertemu dengan Ratih.. Yesha membisikkan sesuatu untuk meminta pernikahan ini hanya sebuah status saja. Sikap Yesha yang meminta agar Kangmas berada di dalam kamar Ratih hanya pura-pura karena pastinya abdi dalem dan si mbok menguping untuk melapor pada Bunda permaisuri dan selir utama tapi Ratih malah berkhianat."


"Ya Allah Yesha.. kenapa kamu memutuskan segalanya sendiri??????? Pantas saja.. Abang curiga, jika seseorang sakit parah dan sedang dalam pengobatan tentu saja kehamilanmu akan terlambat karena obat.. tapi kamu langsung saja hamil. Sekarang semua sudah terjadi, kelakuanmu semakin mengacaukan keadaan kita." Bang Aryanto sampai ikut murka mendengar pengakuan Yesha adiknya.


Dada Bang Risang terasa sangat sakit. Nafasnya sesak, wajahnya pucat. "Bisa-bisanya kamu bilang Dinda Ratih berkhianat. Lalu bagaimana soal kepergian Dinda Ratih."


"Kalau soal itu Yesha tidak tau Mas..!!" Jawab Yesha.


Ratih mengeratkan genggamannya dan meminta Bang Risang untuk tidak marah.


"Kamu juga diam Dinda...!!" Ucap tegas Bang Risang menatap wajah Ratih. "Mas imam dalam rumah tangga ini. Mas harus meluruskan pertikaian di antara kita..!!!!!!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2