
Dokter telah menjelaskan, tidak ada indikasi gangguan kejiwaan apalagi baby blues dalam diri Yesha. Semua dalam keadaan sehat dan hal ini memicu amarah Bang Risang sebab kata lain berarti segala tindakan Yesha adalah murni pemikirannya sendiri.
Bang Risang meminta Yesha duduk tepat di sebelah ranjang Ratih. Ia menatap kedua istrinya secara bergantian.
"Pernikahan ini sudah terlanjur terjadi dan ada anak hasil dari pernikahan kita. Wilang dan Larung sudah lahir. Sampai kapan kita seperti ini? Mereka butuh kasih sayang kita sebagai orang tua dan keluarga yang lengkap." Ucap Bang Risang. "Dinda Yesha.. Dinda memang mengalami hal buruk dalam hidup, Mas pun turut merasakan sakit di hatimu juga ketakutanmu tapi bukan berarti tindakanmu bisa di benarkan." Bang Risang yang duduk di hadapan kedua istrinya berusaha untuk bicara dari hati ke hati. "Dinda Ratih.. Kangmas tau hatimu juga tersiksa, tapi sikap diam mu juga tidak selalu menyelesaikan masalah. Apapun yang Dinda lakukan.. tidak akan mengubah kenyataan bahwa Dinda istri Mas Ris, ibu dari anak Mas Ris juga dan Dinda pun berhak atas diri Mas Ris tanpa kecuali..!! Taukah dindaa.. sikap Dinda sangat menyiksa perasaan Mas Ris..!!!!!"
Yesha menangis mengingat tindakannya sedangkan Ratih tidak menjawab apapun karena tubuhnya sudah sebegitu lemahnya.
"Yesha tau.. Yesha salah. Tolong maafkan kesalahan Yesha Mas..!!" Pinta Yesha penuh permohonan.
Untuk sesaat Bang Risang memejamkan mata. Rasa sakit di hatinya kian terasa bagai puluhan belati yang menyayat.
"Kesalahanmu tidak main-main Dinda. Adri melukaimu sampai kamu mengalami kepahitan dalam hidupmu, hidup kita.. tapi sekarang apa bedanya kamu dan Adri???" Tak sampai hati Bang Risang mengatakannya tapi semua harus ia tuntaskan saat itu juga. "Sejak menikah, tidak ada sedikit pun hari Dinda Ratih tanpa tekanan darimu. Tindakanmu itu membunuhnya secara perlahan Dindaa..!!!"
"Satu yang ingin Yesha tanyakan, kenapa Mas bisa begitu mudah mencintai Ratih padahal Mas baru saja mengenal???"
"Apa yang membuatmu suka dengan ajudan Papamu. Ajudan yang bahkan belum kamu kenal dekat selain adiknya." Bang Risang membalik pertanyaan Yesha dan untuk beberapa saat Yesha terdiam. "Apa ada paksaan saat Mas melamar hingga menikahimu??"
Yesha menunduk tak sanggup menatap mata Bang Risang.
"Tidak bisa menjawabnya?? Lalu kenapa kamu tanyakan isi hati manusia? Hanya Allah yang sanggup meniup rasa cinta di hati manusia."
__ADS_1
Papa Igo dan Opa Ricky terus mengawasi Bang Risang. Kedua sesepuh sangat takut jika Bang Risang sampai kelepasan bicara yang akan membuat suasana semakin buruk.
"Ini semua salah Dinda.. kalau saja Dinda memilih pulau terpencil itu, pasti semua tidak akan seperti ini..!!"
Seketika Bang Risang berdiri mendengar jawaban Ratih. "Berhenti mengatakan hal seperti itu lagi Dinda..!!!!!" Akhirnya Bang Risang membentak Ratih yang selama ini terlalu memiliki hati selembut tissue. "Dinda harus berani mengatakan apa yang Dinda inginkan selama jadi istri kangmas.. tidak hanya mengalah yang nantinya akan menyakiti hatimu sendiri."
Papa Igo menepuk bahu putranya untuk memintanya sedikit meredam emosi.
"Mas Ris tau ini semua berat. Dalam hati kecil Mas Ris sungguh mencintai dan menyayangi kalian berdua namun Mas menyadari.. kalian berdua berhak untuk bahagia." Bang Risang menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Matanya memerah berusaha sekuatnya menahan sesak dalam dada. "Teruntuk Dinda Yesha dan Dinda Ratih.. Mas mengalah dan mengikhlaskan jika Dinda Ratih atau Dinda Yesha tidak sanggup hidup dalam payung poligami. Carilah kebahagiaan kalian. Mas Ris meminta maaf telah menyakiti hati kalian berdua."
"Kebahagiaan Yesha hanya Mas. Yesha mencintai Mas Ris. Yesha ingin tetap bersama Mas Ris mempertahankan hubungan kita..!! Baiklah Yesha akan merawat Wilang tapi Yesha jujur tidak bisa bersama Dinda Ratih. Kita bisa memulai hidup baru dan sebagai gantinya.. Kangmas bisa memberikan rumah itu untuk Dinda Ratih." Jawab jujur Yesha.
"Jikalau Dinda masih memiliki umur panjang. Biarkan Dinda menghabiskan waktu yang ada bersama Raden alit Wilang di kesultanan. Dinda akan menyimpan rapat Raden Mas dalam hati Dinda. Sembah sujud Dinda untuk Kangmas, sembah sujud Dinda untuk Mbakyu Yesha.. semoga pernikahan Kangmas dan Mbakyu langgeng..!!"
Untuk kesekian kalinya Bang Risang terkejut mendengar peraturan kesultanan. Dan untuk kesekian kalinya dirinya kembali merasa Yesha sangat keterlaluan dalam keegoisan. Istri pertamanya itu sudah jelas tau peraturan kesultanan tapi masih mengatakan tidak sanggup hidup bersama Ratih dan itu berarti Yesha membiarkan Ratih tertimpa masalahnya sendiri. Kini dirinya terjebak dalam kata-katanya sendiri. Harapan agar Yesha memiliki hati malah membuat istrinya itu semakin menekannya.
"Mas ragu berpisah dari Dinda Ratih?" Tanya Yesha.
"Dinda Yesha, apa saat ini Dinda membuat Mas terlihat sangat jahat dan tidak berperasaan?" Bang Risang balik bertanya. "Sebenarnya cinta macam apa yang ada di dalam hatimu?"
"Ingin cintamu utuh tanpa terbagi..!!" Jawab Yesha.
__ADS_1
Mendengarnya sungguh Bang Risang sangat lemas dan menyangga tubuhnya pada sisi ranjang sampai Papa Igo, Bang Naru dan Bang Aryanto membantu Bang Risang menopang tubuhnya. Ia meremas dada sekuatnya, ada rasa teramat sakit mendera ulu hatinya. Bang Risang menoleh dan menatap lekat mata Bang Aryanto.
"Kalau kalian tidak mau mengerti, kalian belah saja tubuh Kangmas. Jika nyawa ini mampu mendamaikan ibu dari anak-anakku.. lebih baik saya mati saja..!!"
Bang Aryanto pun akhirnya paham maksud tatapan mata Bang Risang yang dalam, ia mengambil pisau yang terselip pada sisi kanan ikat pinggang lalu membuka dan menghujam ke arah Bang Risang.
Saat itu Yesha hanya memberi ekspresi syoknya sedangkan Ratih refleks bangkit dan memeluk Bang Risang seerat mungkin.
"Jangaaan.. demi Allah jangan sakiti suamiku..!! Kalian boleh ambil nyawaku tapi jangan lukai ayah dari anakku..!!!!!" Ratih menangis meraung. "Mbak Yesha boleh membawanya.. Dinda tidak meminta apapun, tidak ingin harta.. Dinda hanya ingin Kangmas sehat."
Bang Risang balik memeluk erat tubuh Ratih. Terlalu sakit melepaskan wanita berhati bidadari secantik Ratih dengan segala pengorbanannya. "Ya Allah Ya Rabb.. kapan Kangmas bisa memberimu kebahagiaan untukmu Dindaa..!!"
Bang Aryanto menurunkan pisau lipatnya. Ia menunduk pasrah menitikan air mata. "Risang.. dalam hidup ini terkadang ada pilihan sulit dari yang tersulit. Jika kamu ingin melepaskan Yesha.. saya selaku perwakilan keluarga ikhlas dengan segala keputusanmu. Namun jika masih ada maaf tersisa.. ijinkan kami mendidiknya kembali hingga hatimu lapang untuk menerima hadirnya kembali. Sebagai seorang pria.. saya paham jika kita sebagai pria membutuhkan istri yang seiring dan sejalan dengan hati kita."
"Kami selaku pihak keluarga menyarankan agar Dinda Yesha introspeksi diri lebih dulu. Biarkan sejenak Bang Risang berpikir tenang dan waras. Pahamilah kondisi seorang imam yang harus memutuskan hal terbaik bagi rumah tangganya." Saran Bang Naru.
.
.
.
__ADS_1
.