
"Kamu tidur dalam satu kamar bersama kedua istrimu?" Bisik Papa Igo menegur Bang Risang.
"Aku terpaksa Pa, Yesha kerepotan kalau harus bangun sendiri sedangkan Ratih masih mual dan kadang malah pingsan." Bang Risang balik berbisik di samping telinga Bang Risang.
"Kepala Papa mau pecah mikir kamu Ris." Kata Papa Igo.
"Apalagi aku yang merasakannya Pa, salah langkah sedikit.. istriku nangis semua." Jawab Bang Risang.
Papa Igo menepuk bahu Bang Risang memberi semangat. Rasa tak karuan menyelimuti perasaannya sebagai seorang pria, ia tak sanggup membayangkan bagaimana jadinya jika dirinya yang mengalami hal serumit ini. Punai sang istri satu-satunya saja sudah sangat pencemburu bagaikan singa betina yang bersiap menerkam mangsa. "Semangat le, mungkin kalau Papa yang menjalaninya.. usia Papa tidak sampai tiga puluh tahun." Kata Papa Igo.
"Paaaaa..!!!!" Terdengar suara pekik Oma Nindy di dalam kamar.
Bang Risang dan Papa Igo sejenak saling menatap kemudian berjalan cepat menuju lantai bawah.
"Ada apa Ma???" Tanya Papa Igo panik.
"Ini Go.. Papamu pakai obat merah ( iodine ) di mata karena tadi pakai lampu remang-remang."
"Aaiisshh.. lagipula kenapa sih kamar pakai di pasang lampu remang-remang??" Protes Opa Ricky jengkel.
"Harusnya saya yang tanya, kenapa Opa mau pakai lampu remang-remang??" Bang Risang balik bertanya.
"Opa khan sedang liburan, memangnya kamu saja yang pengen menikmati suasana sakral." Jawab Opa Ricky.
"Astagfirullah Opa, nyebut Opaa.. umur sudah banyak, nggak usah mikir yang sakral. Nanti kesurupan." kata Bang Risang yang kadang kesal melihat Opanya yang semakin nyentrik di usia senja. Dengan rambut corak marmer, Opa Ricky masih suka bersikap genit terhadap Oma Nindy dan hal itu sering memancing kemarahan Oma Nindy.
"Jangan berisik.. Opa nggak bisa lihat nih..!!" Suara jengah Opa Ricky kembali terdengar.
Papa Igo dan Bang Risang secepatnya menangani mata Opa Ricky.
"Kemarin alkohol Papa kira obat batuk, sekarang obat merah.. besok apa Pa?" Oma Nai mengusap dadanya merasakan tingkah suaminya yang semakin hari semakin tak karuan.
"Apa Papa mulai pikun Ma?" Tanya Papa Igo.
"Sepertinya nggak Go. Memang Papamu saban hari sekarang hobby nya buat ulah" jawab Oma Nindy.
__ADS_1
"Apa ada obat yang perlu di tebus Ma? Takutnya Opa mengalami kemunduran daya ingat." Bang Risang pun sampai ikut cemas di buatnya.
"Kalau obatnya kawin lagi boleh nggak Ma" Opa Ricky tersenyum menggoda Oma Nindy.
Siapa sangka Oma Nindy tidak tertawa dan malah menatapnya tajam seakan membawa jutaan ancaman.
"Bukannya sholat tobat malah mau pikir kawin..!! Lakukan saja kalau berani..!! Foto kebanggaan Papa akan segera pindah ke buku Yasin." Jawab Oma Nindy.
"Astagfirullah.. Lailaha Illallah.. Nauzubillah min dzalik. Maaa.. kenapa do'ain Papa yang jelek, nggak baik lho...!!" Bujuk Opa Ricky ketakutan sendiri.
"Yang nauzubillah min dzalik itu Papa.. dari mana pikiran seperti itu??? Kita ini hanya tinggal tunggu giliran Pa." Kata Oma Nindy selalu mengingatkan sang suami.
"Papa bercanda Ma, sungguh..!! Di hati Papa hanya ada Mama seorang."
Mendengar rayuan gombal sang suami, Oma Nindy tersipu malu padahal saat itu mata Opa Ricky sedang terpejam karena matanya masih perih akibat salah pakai obat tetes mata.
"Hhhkkkkk.."
Suara alamiah bumil terdengar dari lantai atas. Bang Risang pun refleks menoleh.
~
"Dinda mau di kamar sendirian.....!!" Pinta Ratih di sela kesadarannya.
bllgghh..
Tanpa banyak kata Bang Risang mengangkat Ratih ke kamar istri keduanya itu dan merawatnya hingga beberapa saat Ratih terbangun.
"Alhamdulillah..!! Mas temani ya..!!" Bang Risang masih merasakan genggaman tangan Ratih yang sangat kuat namun perlahan mengendur.
"Dinda pengen tidur sendiri Mas." Kata Ratih.
Mama Nai melihat wajah Ratih yang sangat merindukan kebersamaan dengan suaminya tapi dirinya harus mengalah karena tau Yesha juga pasti membutuhkan Bang Risang.
"Kamu sungguh nggak apa-apa kalau Mas tinggal?" Tanya Bang Risang memastikan.
__ADS_1
Ratih tersenyum di hadapan Bang Risang. "Iya Mas, Ratih hanya ingin tidur." Jawab Ratih terlihat meyakinkan.
"Baiklah, Mas tinggal ya. Kalau ada apa-apa, panggil saja.. teriak kalau Mas nggak dengar..!!" Pesan Bang Risang.
Ratih mengangguk dengan senyum manisnya.
~
Mama Punai membelai rambut menantu keduanya itu. "Mama ini wanita dan Mama tau perasaanmu. Kenapa kamu tidak membiarkan Mas Risang merawatmu?"
"Ada yang lebih berhak atas diri Mas Risang Ma." Jawab Ratih.
"Sayang, suamimu bukanlah barang untuk di perebutkan. Berhentilah menyiksa diri dan kalian harus saling menyadari bahwa pernikahan kalian ini tidak seperti pernikahan pada umumnya." Nasihat Mama Punai.
"Ratih hanyalah sosok yang datang di saat yang tidak tepat dan mengambil hak mbak Yesha. Ratih hanyalah seorang pengganggu. Tidak ada wanita yang kuat di madu."
"Kamu tidak mencintai Mas Ris?" Tanya Mama Nai.
Bang Risang yang sebenarnya mengintip dan mendengar di balik pintu sejak tadi tiba-tiba jantungnya berdesir tak karuan.
"Ti_dak.. Mas Ris hanya milik Mbak Yesha." Jawab Ratih terbata.
Entah mengapa saat itu hati Bang Risang terasa begitu perih, hingga ia mengusap dadanya tapi rasa sakit itu seakan masih membekas dan terasa.
"Tatap mata Mama dan katakan sekali lagi..!!" Pinta Mama Nai yang menghindari tatapan mata sang Mama mertua.
Sontak Ratih memeluk Mama Nai. "Cukup anak ini saja yang Ratih punya.. Pemberian dari Mas Ris. Setelah anak ini lahir, Ratih akan menjauh dari kehidupan Mas Ris dan Mbak Yesha..!!"
Baru kali ini Bang Risang merasakan ada batin yang terpukul, ada rasa kehilangan yang tak sanggup ia uraikan.
.
.
.
__ADS_1
.