Adipati negeri vs Sekar Kedaton

Adipati negeri vs Sekar Kedaton
32. Cemas.


__ADS_3

Secara sadar Bang Risang membelai tubuh Ratih. Hanya dirinya dan Tuhan yang tau bagaimana perasaannya saat ini. Salah atau tidak, itu adalah urusannya dengan Yang Maha Kuasa.


~


"Maaass..!!" Ratih mencengkeram erat bahu Bang Risang.


"Sabar ya Dinda..!!" begitu pula dengan Bang Risang yang mendekap erat tubuh Ratih, dirinya berusaha menjadikan Ratih istri yang sesungguhnya. Ia bukannya tidak paham penolakan Ratih, tapi Ratih yang terus saja meronta dan bergerak semakin membuatnya terbuai, balasan rasa dari hasratnya ia dapatkan dari seorang Ratih.


Bang Risang terasa melayang merasakan detik-detik yang hampir usai. "Hmph.. eegghh.." tubuh Bang Risang menegang hingga akhirnya ia melepaskan seluruh kehangatan di tubuh Ratih. "Alhamdulillah.." ucapnya lirih hampir tak terdengar. Rasa teramat lega dan puas ia rasakan. Sadar atau tidak Bang Risang kembali memberikan sekilas ciuman basah di bibir Ratih.


"Sakiiiit..!!" Rintih Ratih sampai terisak.


"Maaf Dinda." Bang Risang mengecup lagi bibir Ratih sebagai tanda terima kasihnya yang terdalam. Kali ini perasaannya luluh lantah. "Terima kasih sudah memberikannya untuk Kangmas."


Ratih mengangguk pelan. Tak ada lagi wajah tegas dari seorang putri, yang ada hanya wajah merajuk manja khas seorang wanita.


Perlahan Bang Risang menarik diri dari tubuh istri keduanya.


"Aaahh.." Ratih sampai menggelinjang saat Bang Risang menyudahinya.


"Ya Allah.. kenapa bisa sampai begini??" Bang Risang sampai melotot melihat banyaknya bercak dan hal itu membuatnya syok setengah mati. "Apa Kangmas terlalu kasar???" Tanya Bang Risang cemas.


Ratih tak bisa menjawabnya, ia hanya terisak.


~


Bang Risang memijat pangkal hidungnya.


"Sudah Kangmas. Nggak sakit lagi." Kata Ratih yang masih menyembunyikan wajahnya di bawah sehelai selimut. "Kembalilah ke kamar Mbak Yesha.


"Kamu masih sakit."


"Nggak, Dinda sudah nggak apa-apa." Jawab Ratih yang kini sudah lebih kalem dan tidak banyak memberontak lagi.


Bang Risang tersenyum mendengarnya. "Tidurlah.. Kangmas temani..!!" Sebenarnya dalam hati Bang Risang ingin segera melihat keadaan Yesha namun saat ini istri keduanya sedang tidak baik-baik saja. Rasa tidak teganya muncul begitu saja.


Bang Risang melihat selembar sprei yang baru saja di cucinya. Disana lah saksi bisu tentang dirinya yang telah mendua. 'Kedua belahan jiwaku. Mohon maafkan Kangmas yang telah menduakan kalian. Sungguh Kangmas tidak ingin seperti ini, tapi inilah takdir yang harus kita jalani. Mudah-mudahan Kangmas sanggup mendidik, menyayangi dan mencintai kalian tanpa ada beda karena seadil-adilnya segala hal, hanya Allah yang memiliki. Maafkan kekurangan Kangmas, Dinda Yesha.. Dinda Ratih..!!'


\=\=\=


Bang Naru mengadakan acara syukuran kecil-kecilan di Batalyon karena bayinya kini sudah berusia tiga puluh lima hari atau selapan.


Papa Igo yang kini telah mengundurkan diri Wira Wiri melihat sang cucu dari Bang Naru yang sudah terlihat montok menggemaskan.

__ADS_1


"Pa..!!" Sapa Ayana.


Papa Igo hanya menolehnya sekilas meskipun saat ini Ayana sedang menggendong bayinya.


Ayana sangat sedih karena hingga saat ini Papa masih marah padanya. Tragedi yang terjadi pada Bang Risang membuat sang Papa tidak bisa memaafkannya begitu saja.


Saat Papa meninggalkan Ayana, Bang Naru menghadangnya. "Gendonglah cucu Papa kalau Papa merindukannya. Reina belum pernah di gendong Opanya."


"Dia bukan cucuku." Kata Papa Igo.


Bang Naru meminta Reina dari gendongan Ayana lalu membawanya ke hadapan Papa Igo. "Lihat Pa, cucu Papa cantik sekali."


Lagi-lagi Papa Igo hanya meliriknya. Sampai Reina menangis pun Papa Igo masih terdiam sampai akhirnya Papa Igo kesal sendiri. "Cckkk.. bagaimana sih caramu menggendong. Masa gendong begini saja tidak bisa????" Papa Igo mengambil alih Reina dan menenangkan cucunya. "Uuusshh diam.. cucu siapa kamu??? tidak boleh cengeng. Perempuan juga harus kuat.


Ajaibnya baby Reina langsung terdiam di pelukan sang Opa membuat tangis Ayana pecah. Bang Abra membetulkan letak jilbab Ayana. "Papa pasti menyayanginya, kamu harus sabar..!!"


Tak lama Bang Aryanto menghampiri Bang Abra dan Bang Naru. "Risang tertimpa masalah lagi."


"Astagfirullah.. kenapa lagi Abangku?" Bang Naru sampai menggeleng pening.


"Yesha hamil." Jawab Bang Aryanto.


"Salahnya dimana?"


"Posisi Yesha saat ini seperti 'yang berbuat salah' jadi seharusnya Ratih dulu yang hamil."


bruuugghh...


"Gusti ayu..!!!!" Si mbok menjerit membuat Bang Risang ikut kaget.


"Ada apa mbok????" Tanya Bang Risang.


"Gusti ayu pingsan, dari semalam badannya demam."


Bang Risang pun sigap mengangkat Ratih menuju paviliun. Empat hari ini Bang Risang belum pulang ke paviliun utama karena mendengar kabar kehamilan Yesha dan itu membuatnya sangat senang sekaligus takut. Dan sejak hari itu, Bang Risang belum pernah menyentuh Ratih lagi padahal Bang Risang sudah bolak balik memadu cinta dengan Yesha.


Setelah beberapa saat Bang Risang berusaha menyadarkan Ratih akhirnya istrinya itu sadar juga. "Dindaa.. apa yang sakit?"


"Nuwun Sewu Raden.. sebenarnya Gusti Ayu.........."


"Dinda nggak apa-apa Kangmas, biasa lah perempuan terkadang lemas. Dinda punya anemia." Jawab Ratih memutus ucapan si mbok. "Cepat temui Mbak Yesha. Kasihan kalau hamil di tinggal sendirian. Selamat ya Kangmas dan Mbak Yesha." Ratih mengurai senyumnya.


"Benar Dinda tidak apa-apa Kangmas tinggal?" Tanya Bang Risang.

__ADS_1


"Ratih sangat sehat."


"Baiklah, Kangmas ke paviliun Dinda Yesha dulu."


"Iyaa.. sudah sana..!!!" Ratih tersenyum sembari mendorong lengan Bang Risang agar segera beranjak ke paviliun Yesha.


~


"Hhkkk.. si mbok, toloong..!!"


"Gusti ayuuu.. si mbok tidak rela. Kenapa Gusti tidak katakan kalau Gusti Ayu sedang hamil muda." Si mbok menangis sembari memijat tengkuk Ratih.


"Jangan mbok, Kangmas sedang bahagia. Biarkan Kangmas merasakan kebahagiaannya. Sudah lama Kangmas menderita. Kehamilan Mbakyu memang sudah ditunggu Kangmas." Kata Ratih.


"Tapi Gusti Ayu hamil lebih dulu..!! Selir utama jadi mentitahkan gelar selir utama pada ndoro ayu Yesha."


"Si mbok, sejak kapan si mbok punya pikiran seperti itu. Kehamilan bukanlah perlombaan. Ndoro ayu berhak bahagia bersama Kangmas."


"Lalu kapan Gusti Ayu akan bahagia??? Gusti Ayu sejak dulu terlalu banyak mengalah."


"Saya bahagia jika Kangmas Risang bahagia." Jawabnya membuat si mbok berderai air mata.


-_-_-_-


"Hhkk.."


"Kamu kenapa Dinda? Lihat Kangmas kok muntah?" Tanya Bang Risang saat dirinya masuk ke kamar Ratih dan istrinya itu malah berlari ke kamar mandi.


"Nyuwun pangapunten Kangmas, Dinda nggak bermaksud...... Hhkkk..!!!" Ratih kembali mual dan muntah.


"Kangmas pijat badanmu ya..!!"


"Jangan Kangmas, itu nggak sopan..!!" Tolak Ratih.


"Kamu ini kenapa???? Wajar khan kalau suami memanjakan istrinya." Kata Bang Risang.


"Dinda nggak apa............"


Belum selesai Ratih bicara, Ratih sudah ambruk menimpa Bang Risang. "Dindaaa.. bangun Dindaaa.. Jangan buat Kangmas takut..!!!!" Bang Risang menepuk pipi Ratih tapi istrinya tak kunjung sadar. "Duuh Dinda.." Bang Risang segera membawa Ratih ke tempat tidur.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2