Adipati negeri vs Sekar Kedaton

Adipati negeri vs Sekar Kedaton
22. Hampir selesai.


__ADS_3

Jam dua dini hari Bang Risang berhasil membuat nasi kuning karena Papa Igo membantunya.


tok.. tok.. tok..


"Siapa nih pagi buta ketok pintu." Gumam Bang Risang kemudian berjalan membuka pintu.


"Bang masak apa?" Tanya Bang Naru sudah berdiri di depan pintu.


"Nasi kuning. Yesha ngidam."


"Minta donk. Dara juga jadi pengen, baunya sampai rumahku." Jawab Bang Naru.


"Kalian belum tidur?" Sapa Papa Igo.


"Mana bisa tidur, Dara syok dengan kejadian tadi sampai mual. Sekarang dia malah lapar." Kata Bang Naru.


"Apa Dara hamil?" Tanya Papa Igo.


"Nggak Pa, aku pernah coba test tapi hasilnya negatif." Jawab Bang Naru.


"Bawa kesini testpack nya..!!" Pinta Papa Igo.


~


Bang Risang dan Bang Naru masing-masing menyuapi sang istri.


"Ini positif Be. Masih samar sekali tapi Papa yakin Dara hamil."


"Aahh Papa sok tau." Jawab Bang Naru.


"Papa ini bapak anak tiga. Papa sudah fasih lihat barang seperti ini." Ucap kesal Papa Igo.


"Alhamdulillah.. yeeess, aku juga punya anak Bang. Makanya sekarang makan saja harus pilih-pilih." Bang Naru mengecup kening Dara lalu menyuapinya kembali.


"Maass.. kok nasinya di makan sendiri?????" Protes Yesha. Sejak tadi sang suami hanya menyimak Papa Igo dan Bang Naru berbincang.


"Oiya.. mas lupa."


"Balikin lagi ke piring..!!" Pinta Yesha.

__ADS_1


"Kapoookk..... ya itu..!! Nikmati hasil kerja kerasmu..!!" Ledek Papa Igo.


"Jangan di jimpit Mas, itu punya Dara." Kata Dara juga mulai memprotes sampai menjepit bibir Bang Naru dengan jari telunjuk dan jempolnya.


"Ampun dah, sudah Mas telan nih."


"Ternyata bukan hanya hamil saja yang menular, tapi kelakuan macam ini pun menular." Gumam Bang Risang.


Seketika semua mata tertuju pada Bang Naru dan Bang Risang. Ia pun menelan ludah susah payah.


"Kalau kamu belum tau ilmunya lebih baik diam Be..!!" Saran Papa Igo. "Menangani bumil itu ilmunya nggak sembarangan. Ini belum apa-apa. Andaikan kamu mabuk sekalian. Tamat kau..!!" Papa Igo tersenyum meledek penuh kelicikan. "Rasakan kau..!!"


Dara menatap wajah Bang Naru dengan malas. "Lain kali Kangmas tanya dulu..!!" Kata Dara dengan pelitnya.


"Iyaa, maaf ya sayang..!!" Bujuk Bang Naru.


"Iya.."


Bang Naru dan Bang Risang melotot mendengar jawaban enteng dari Dara.


Papa Igo tertawa saja kemudian meninggalkan anak menantunya untuk makan pagi.


...


"Ada info?" Tanya Bang Naru pada Bang Abra.


"Ora ono..!!" Jawab Bang Abra.


"Iya, masih gelap." Jawab Bang Bramantyo.


"Kemana dia? Kalau dia tidak salah, kenapa harus kabur. Bukankah dia juga tau kalau Ayana sedang hamil." Bang Risang mulai geregetan.


"Ijin Dan, Letda Adri sedang berada di pantai panas." Om Eman yang sedang ikut dalam team pencarian akhirnya datang melapor.


:


braaakk....


Tatapan mata elang Bang Risang menghujam menatap Bang Adri yang sedang memeluk perempuan lain di dalam kamar.

__ADS_1


"B******n..!!!!!!!!" Bang Risang menarik lengan Bang Adri lalu menghajarnya hingga terguling babak belur tanpa sehelai benang pun dan di sana seorang gadis di bawah umur berteriak kencang di dalam selimutnya.


Tak cukup dengan itu, Bang Naru pun ikut menghajar Bang Adri tanpa ampun. "Kau harus membayar mahal dengan semua perbuatanmu..!!" Bentaknya.


...


Masih dalam keadaan setengah sadar Bang Adri menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kedua Abang Ayana, awalnya mereka berdua ingin menangani tanpa Bang Abra tapi suami Ayana itu ingin mendengar sendiri pengakuan dari Bang Adri meskipun terdengar sangat menyakitkan.


"Saya memang mengajak ketiga teman saya untuk meniduri Ayana saat dia tidur. Terus terang saat Ayana mengatakan kalau dia hamil.. saya bingung siapa ayahnya karena kami semua 'kerja'."


Betapa sakitnya hati kedua Abang hingga rasanya air mata dan tenaga tak lagi bisa di lepaskan. Merasa terluka, gagal menjaga sudah pasti terasa di lubuk hati yang terdalam.


Bang Abra menarik kerah pakaian seragam Bang Adri. "Kamu sungguh tidak punya perasaan. Kita ini pria, mungkin punya pikiran dan hati yang sama namun kontrol dirimu telah hilang boss. Kenapa dulu kamu tidak terlahir sebagai binatang saja. Saya sebagai pecinta wanita pun tidak sampai hati memperlakukan wanita sampai seperti ini."


plaaaakk..


"Kalau kamu berani macam-macam dengan Ayana.. kau ingat baik-baik wajah suaminya. Lettu Dewa Agung Abra..!!!!"


Bagai terkena serangan jantung Bang Adri mendengarnya. "Saya hanya butuh waktu Bang, bukan berarti tidak mau tanggung jawab. Bagaimana kalau yang ada dalam rahim Ayana adalah anak saya???"


"Wanita butuh kepastian yang tepat. Kamu sudah mengambil kesempatan dari seorang gadis lugu hanya untuk kepentingan pribadi mu saja. Pria b*****t..!!!!"


...


Papa Igo hanya mendapat laporan dari kedua putranya tentang Letda Adri. Beliau tak lagi bersikap tegang seperti saat yang lalu. Kejadian kehamilan Ayana begitu melukai dan membekas di dalam hatinya.


"Biar dia di proses secara hukum. Papa tak mau tau tentang Adri lagi..!! Juga terserah suaminya mau apakan Ayana." Kata Papa Igo kini sudah jauh lebih tegar.


"Paaa.. jangan begitu..!!" Mama Nai masih saja terisak tak tega dengan apapun yang terjadi dengan putrinya.


"Bisakah kamu tidak selemah ini Ma. Papa tau kamu yang mengandungnya, melahirkan dan membesarkannya.. tapi semua ini adalah konsekuensi hidup yang harus ia jalani karena kebodohannya sendiri." Suara Papa Igo membuat seluruhnya terdiam. "Ini juga pelajaran bagi kalian. Kalian hidup di dunia ini tidak hanya terima lahir saja.. tapi kalian juga harus berjuang, berpikir sejalan dengan hati. Jadilah orang yang berguna. Bukan hidup sebagai sampah yang hanya bisa mengotori."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2