Agent Love Story

Agent Love Story
Pertemuan yang tak terduga


__ADS_3

...Pertemuan yang tak terduga...



Sesuai arahan yang telah di berikan oleh Don Savaroni, Mayhan datang ke tempat yang telah di tentukan yaitu taman Kota Jakosta untuk bertemu dengan putri sang Don, saat sedang menunggu di lokasi secara tiba - tiba Mei datang dari arah belakang dan bertanya.


"Mayhannn"


"Astagaaa"


"Kenapa Mayhan"


"Aku hanya kaget saja Mei"


"Kaget kenapa"


"Aku kaget kamu datang dari arah belakangku"


"Ternyata kamu bisa kaget juga"


"Aku juga manusia normal sama sepertimu"


"Wkwkwk bisa saja kamu Mayhan"


"Hahahahahahaha, oh iya bagaimana kabarmu sekarang Mei"


"Yaaa seperti inilah banyak kesibukan di perkuliahanku"


"Hahaha semangat belajarnya ya"


"Tentu Mayhan, Oh iya kamu sedang apa disini"


"Aku sedang menunggu seseorang"


"Menunggu siapa"


"Aku tidak tahu, Mei"


"Sebentar Mayhan, kamu menunggu seseorang tapi tidak tahu orang itu siapa"


"Aku hanya di perintahkan tuanku"


"Tuan siapa"


"Yaaa tuan yang ada di pekerjaanku sekarang Mei"


"Namanya siapa"


"Kalau itu masalah pribadi di pekerjaanku tentu aku tidak akan menyebutkan namanya"


"Hemmm baiklah Mayhan"



Ketika di tengah percakapan itu tiba - tiba handphone milik Mei berbunyi dan seketika Mei mengangkat telepon tersebut.


"Ya hallo ayah"


"Kamu sudah bertemu sama orang itu"


"Hmmm masih belum ayah"


"Mungkin dia masih di perjalanan"


"Ya mungkin saja"


"Ikuti perintah ayah ya nak"


"Iya ayah"


"Itu baru anak ayah"


"Oh iya ayah aku mau tanya orang itu ciri - ciri fisiknya seperti apa, biar aku tidak salah orang disini"


"Ayah lupa ciri - cirinya yang ayah ingat orang itu bernama Mayhan"


"Mayhannnn"


"Iya namanya Mayhan"


"Baiklah Yah"


"Ada masalah apa dengan nama orang itu"


"Tidak ada yah"


"Seperti ada sesuatu yang kamu tutupi dari ayah"


"Tidak ada yah, aku cuma kaget saja mendengar nama itu"


"Ayah kira kamu tahu sesuatu"

__ADS_1


"Tidak Yah"


"Kalau sudah bertemu dengan orang itu, kamu tinggal bilang kalau kamu anak dari keluarga Savaroni"


"Iya aku tahu Ayah"


"Baiklah kalau begitu nak, ayah harus pergi untuk urusan bisnis keluarga, kamu tunggu dia di situ sampai dia datang nanti"


"Iya ayah"


Mayhan yang mendengar percakapan antara Mei dan ayahnya yaitu Don Savaroni merasa kaget bahwa wanita yang ia temui di bus beberapa hari yang lalu ternyata adalah putri dari sang Don Savaroni sekaligus target utama Mayhan sebenarnya akan tetapi Mayhan berusaha tetap tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Ternyata kamu orang yang dimaksud ayahku kan"


"Kemungkinan iya"


"Kamu sebelumnya tidak diberitahu kalau aku anaknya ayah"


"Tidak"


"Memang begitu ayahku"


"Maaf sebelumnya aku tidak tahu kalau kamu anak dari Tuan Savaroni"


"Tidak usah minta maaf Mayhan"


"Tapi aku merasa bersalah"


"Sudahlah lupakan saja lagian itu juga salah ayahku yang tidak memberitahumu secara lengkap tentang aku"


"Iya Mei"


"Ayo kita pergi"


"Pergi kemana"


"Kamu sudah lupa sama janjimu yang mau mengajak aku jalan - jalan"


"Ohh iya aku lupa hal itu tapi kita jalan - jalan kemana"


"Terserah kamu mau kemana Mayhan"


"Baiklah Mei"


"Kamu bawa motorkan"


"Iya aku bawa tapi sekarang aku taruh di parkiran taman bagian ujung"


"Ya udah ayo kita kesana"


"Baiklah Mei"


"Mei aku mau tanya"


"Apa"


"Ini kira - kira kita mau kemana"


"Ya terserah kamu"


"Bagaimana kalau kita makan"


"Ya tidak apa - apa"


"Kamu sudah makan apa belum"


"Sebenarnya sudah"


"Kamu makan lagi gapapa kan"


"Iya gapapa tapi aku cuma makan sedikit kayaknya"


"Bagaimana kalau kita pergi ke restoran"


"Iya gapapa"


"Kamu suka makanan Jepang apa tidak"


"Suka Mayhan"


"Oke kita pergi ke restoran Jepang"


"Kamu tahu lokasinya ada dimana"


"Aku tahu lokasinya"


"Baiklah kalau kamu tahu Mayhan"


"Oh iya kamu besok apa ada kuliah"


"Tidak ada kuliah besok"

__ADS_1


"Baiklah kalau tidak ada kuliah, aku takut kamu bangun kesiangan besok"


"Tenang saja aku besok tidak ada kuliah sama sekali"


"Baiklah kalau begitu Mei"



Setibanya di tempat restoran, Mayhan dan Mei memasuki restoran tersebut lalu memesan sebuah makanan khas Jepang dan sambil berbincang - bincang mengenai kehidupan mereka selama ini.


"Seperti apa pekerjaanmu sekarang Mayhan"


"Ya begitulah, terkadang suruh mengantarkan seseorang atau mengambil sebuah paket"


"Hati - hati kalau kamu bekerja untuk ayahku karena banyak orang yang tidak suka ke ayahku"


"Iya aku tahu soal itu Mei"


"Ya seperti itulah perasaan orang lain ke keluargaku"


"Bagaimana kehidupan perkuliahanmu"


"Penuh dengan kesibukan wkwkwk"


"Seperti apa contohnya"


"Ya terkadang aku pulang larut malam buat mengerjakan tugas biar cepat selesai terkadang aku sampai lupa waktu buat tidur"


"Hanya demi nilai"


"Kalau kamu kerja dari pagi sampai malam demi sesuatu kan"


"Kalau aku demi uang"


"Sama saja"


"Wkwkwkwk, Bagiamana lingkungan pertemananmu di perkuliahan"


"Ya kurang enak saja masalahnya mereka semua takut mau berteman denganku"


"Takut kenapa"


"Mereka takut karena aku dari keluarga seperti itu jadinya mereka tidak mau berteman denganku"


"Jadi mereka takut karena faktor keluarga"


"Bisa bilang begitulah"


"Yaaa biarkan saja mereka itu"


"Aku sudah biasa seperti ini Mayhan"


"Maaf aku bertanya seperti itu Mei"


"Gapapa Mayhan"



Sesaat kemudian pelayan restoran datang ke arah meja yang di tempati oleh Mayhan dan Mei sambil membawa hidangan yang telah di pesan.


"Pesanan atas Mayhan ya"


"Iya betul"


"Ini pesanannya"


"Baik terima kasih pak"


"Sama - sama"


Mayhan dan Mei memakan hidangan tersebut sambil diiringi canda tawa saat di sela - sela mereka makan berdua.



Tak terasa malam pun tiba terlihat waktu begitu cepat bagi mereka berdua yang baru saja menikmati waktu bersama antara Mayhan dan Mei, dengan segera Mayhan mengantarkan Mei pulang ke rumahnya sebelum malam semakin larut. Setibanya di rumah Don Savaroni, Mei turun dari sepeda motor milik Mayhan dan berkata


"Haehhhh tak terasa waktu sudah malam"


"Waktu sangat cepat"


"Iya Mayhan"


"Oh iya kamu ada waktu kapan lagi"


"Aku tidak tahu Mayhan"


"Nanti kalau ada waktu aku telepon dan sambil tanya - tanya kamu bisa jalan - jalan lagi kapan"


"Baiklah Mayhan, aku tunggu telepon darimu"


"Iya Mei"

__ADS_1


Mayhan kembali pulang ke apartemennya dan hari itu adalah merupakan hari pertama kalinya dalam hidup Mayhan keluar bersama dengan Mei dan menikmati waktu berdua dengannya. Selama di perjalanan pulang ke apartemennya, Mayhan masih memikirkan Mei yang tak berhenti muncul terus menerus di pikirannya tersebut, hal itu membuat Mayhan memiliki perasaan terhadap Mei secara perlahan - lahan.


Semenjak hari itu Mayhan mulai menyukai Mei meskipun tidak di perlihatkan secara nyata di depan Mei sendiri.


__ADS_2