Agent Love Story

Agent Love Story
Tidak menyerah


__ADS_3

...Tidak menyerah...



Dalam kondisi yang masih tidak sadarkan diri, Mayhan terus di hantui dengan mimpi buruk yaitu tentang Mei yang selalu akan di bunuh oleh teman – teman agennya, sedangkan di posisi Andreas ia berusaha dengan cukup keras untuk menolong Mayhan untuk di bawa ke rumah dokter Stephanus meskipun kakinya sendiri mengalami luka tembak. Dokter Stephanus sendiri adalah sahabat dekat dari Andreas yang merupakan teman masa kecilnya yang sekarang sudah memiliki profesi menjadi seorang dokter spesialis bedah dan tinggal di Fertosenburg, di sisi lain Mei memiliki perasaan yang tidak enak kepada Mayhan yang hal itu membuatnya takut dan berulang kali menelepon Mayhan akan tetapi tidak ada respon jawaban sama sekali dari Mayhan.



Tuttt Tuttt Tuttt (Bunyi telepon)


“Ayolah Mayhan”


Tuttt Tuttt Tuttt (Bunyi telepon)


“Ayolah Mayhan angkatlah”


Tuttt Tuttt Tuttt (Bunyi telepon)


“Angkatlah Mayhan, aku takut kalau kamu ada apa – apa”


Tittt Tuttt Tuttt


"Kenapa kamu tidak menjawabnya Mayhan"


Mei begitu khawatir saat tidak menerima jawaban telepon dari Mayhan, sedangkan di sisi lain Andreas, Mayhan dan sisa anak buah dari Andreas yang masih hidup berhasil tiba di kediaman dokter Stephanus. Melihat Andreas yang sedang membawa seseorang dan memiliki luka tembak di area titik vital di bagian perut dengan cepat dokter Stephanus menyarankannya untuk di bawah masuk ke ruangannya untuk melakukan operasi gawat darurat.


“Andreas”


“Iya Dokter Stephanus”


“Bawa orang itu masuk ke dalam ruanganku”


“Iya Dok”


“Jangan panggil aku Dok”


“Kenapa”


“Kita teman dari masa kecil dan aku tidak mau di sebutkan jabatanku itu”


“Lalu jadi”


“Panggil langsung namaku saja seperti waktu kecil dulu”


“Baiklah kalau itu yang kamu mau Stephanus”


Dokter Stephanus menyarankan mereka semua untuk meninggalkan ruangannya setelah membawa Mayhan masuk ke dalam ruangannya karena akan segera dilakukannya operasi kepada Mayhan saat itu juga. Di saat kondisi yang masih genting karena menunggu jalannya operasi Mayhan, tiba - tiba ponsel milik Andreas berbunyi karena ada panggilan telepon dari Mei dan seketika Andreas yang melihat hal itu dengan cepat mengangkat panggilan telepon tersebut.



Tuttt Tuttt Tuttt (Bunyi telepon)


"Ya Halo"


"Andreas bagaimana dengan Mayhan"


"Ehhh Mayhan tidak apa - apa"


"Jangan membohongiku"


"Mayhan tidak apa - apa"


"Aku bilang jangan membohongiku"


"Sebenarnyaaaaa"


"Sebenarnya apa"


"Sebenarnya Mayhan dalam kondisi kritis sekarang"


"KENAPA BISA"


"Mayhan tertembak saat menolongku tadi"

__ADS_1


"Apakah Mayhan terluka parah"


"Iya"


"Mayhan terkena tembakan di bagian mana"


"Dia mengalami luka tembak di bagian perutnya"


"Lalu dia sekarang masih sadar"


"Tidak"


"Bagiamana kondisinya sekarang"


"Dia masih sedang menjalani operasi"


"Operasi di rumah sakit mana"


"Bukan di rumah sakit"


"Lalu sekarang masih ada dimana"


"Di rumah Dokter Stephanus"


"Siapa dokter itu"


"Dia teman aku waktu masa kecil"


"Kamu yakin orang itu bisa melakukan operasi dengan baik kepada Mayhan"


"Ahh jangan khawatir soal itu, dia sudah profesional melakukannya sendiri"


"Baiklah kalau begitu"


"Jangan khawatir Mayhan akan selamat"


"Aku harap seperti itu lalu dimana lokasi rumah dokter itu"


"Aku akan ke sana segera"


"Iya baiklah"


Tuttt (Bunyi telepon)


Mei dengan perasaan yang penuh dengan kekhawatiran berangkat menuju ke rumah Dokter Stephanus yang berada di Fertosenburg.



Sedangkan di tempat lain Nico mendatangi lokasi yang telah usai di serang oleh Andreas berserta anak buahnya lalu bertemu dengan wakil walikota Donovi serta Jenderal Irvan.


"Selamat siang jenderal Irvan"


"Selamat siang Agen Nico"


"Saya hanya ingin berjalan - jalan di tempat ini dan tidak sengaja bertemu dengan anda Jenderal Irvan"


"Hahaha bisa saja kamu Agen Nico"


"Jenderal Irvan bagiamana dengan kemampuan mereka"


"Mereka ternyata cukup hebat juga"


"Terutama ketua mereka"


"Ketua mereka juga mempunyai orang - orang di kepolisianku"


"Itu sedikit menganggu bagi kita Jenderal Irvan"


"Yaaa, aku harap kalian bisa menemukan list nama - nama para anggota kepolisianku yang bekerja sama dengan mereka"


"Kami akan usahakan"


"Kita semua hanya bisa berharap ke kalian semua saja"

__ADS_1


"Kami mengerti Jenderal Irvan"


"Cepat temukan list nama - nama itu"


"Baik Jenderal tapi lalu bagaimana dengan para pejabat itu"


"Mereka masih hidup dan pihak pengadilan sudah memutuskan menjatuhi hukuman mati kepada mereka itu"


"Bagus kalau sudah sesuai rencana dari awal"


"Ini semua rencananya siapa"


"Ini semua adalah rencananya Mayhan"


"Hmmm aku takjub pada anak itu"


"Takjub kenapa Jenderal"


"Dia masih bisa menyembunyikan identitas dirinya di lingkungan mafia dan bisa merancang strategi penyerangan serta jebakan untuk dirinya sendiri"


"Mayhan memang hebat pada dasarnya Jenderal Irvan"


"Aku dengar mereka semua berhasil kabur"


"Iya Jenderal"


"Itu apakah kalian rencanakan juga"


"Iya Jenderal Irvan"


"Biarkan mereka merasa senang terlebih dahulu"


"Akan ada waktunya bagi mereka untuk tertangkap dan hancur menjadi berkeping - keping"


"Aku dengar ada seseorang yang hampir mirip dengan Mayhan di antara mereka yang mengalami luka tembak di perut"


"Ya itu Mayhan"


"Bagaimana kamu tahu soal itu Agen Nico"


"Kami merencanakan itu juga agar keluarga Savaroni maupun Andreas tidak mencurigai Mayhan selama selesai peristiwa ini terjadi"


"Apa yang kamu bicarakan"


"Kalau Mayhan kembali tanpa luka tembak sedikitpun maka itu akan membuat kecurigaan yang sangat besar dari mereka sedangkan saat baku tembak tadi semua para mafia yang selamat itu mengalami luka tembak semuanya"


"Kamu betul juga, terlebih lagi Mayhan sudah memasuki keluarga mafia itu secara mendalam"


"Iya Jenderal"


"Kalau sampai mereka mengetahuinya, maka Mayhan pasti akan di eksekusi oleh mereka"


"Kita kehilangan Mayhan sama saja kita kehilangan semua informasi"


"Aku harap kamu dan teman - teman agennya bisa melakukan tugas ini dengan baik"


"Kami akan melakukannya dengan baik dan ikhlas"


"Semoga kalian bisa menghancurkan keluarga Savaroni itu"


"Doakan saja Jenderal Irvan"


"Baiklah aku akan kembali ke kantor"


"Iya Jenderal Irvan"


"Semoga berhasil Agen Nico"


"Iya Jenderal Irvan dan aku juga mengucapkan terima kasih atas kerjasamanya hari ini"


"Sama - sama Agen Nico"


Mayhan, Nico beserta teman - teman agennya sudah merencanakan jebakan ini agar semua keluarga Savaroni terkecoh akan berita palsu yang telah di soroti juga oleh pihak pemerintah Kota Jakosta, sedangkan para pejabat korup yang sebenarnya telah melakukan persidangan di tempat lain dan pihak kepolisian juga telah mengintrogasi mereka untuk di minta informasi yang berharga tentang keluarga Savaroni, luka tembak yang dialami oleh Mayhan adalah luka tembak yang di lakukan secara bentuk kesengajaan agar tidak menimbulkan kecurigaan dari keluarga Savaroni sendiri akan tetapi Nico beserta teman - teman agennya tidak tahu kalau tembakan tersebut mengenai titik vital yang ada pada Mayhan. Di sisi lain Mayhan terus berjuang untuk hidup meskipun mengeluarkan banyak darah saat di lakukannya operasi gawat darurat di rumah Dokter Stephanus, tak berselang lama kemudian Mei datang ke tempat tersebut dan menunggu hasil kepastian dari Dokter Stephanus terkait operasinya Mayhan.

__ADS_1


__ADS_2