Agent Love Story

Agent Love Story
Lakukan atau tidak


__ADS_3

...Lakukan atau tidak...



Di Bar Rafaeli Mayhan bertemu dengan Andreas, lalu mereka berdua membicarakan isu tentang berita penangkapan para pejabat korup tersebut.


"Andreas"


"Mayhan"


"Aku akan ikut denganmu"


"Kamu yakin Mayhan"


"Aku yakin"


"Bulatkan tekadmu itu"


"Aku sungguh yakin ikut bersamamu"


"Mayhan, aku tidak bisa membalasmu dengan apa pun"


"Tidak apa - apa"


"Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih saja"


"Iya Andreas"


"Kita tunggu berita selanjutnya seperti apa Mayhan"


"Baiklah"


"Jangan terlalu gegabah menentukan sesuatu"


"Iya Andreas"


"Kamu mau minum alkohol"


"Sedikit saja Andreas"


"Hmmm baiklah"


"Sepertinya ada masalah"


"Aku cuma ingin menghabiskan waktu saja bersama teman - temanku"


"Hahahaha menghabiskan waktu sebelum melancarkan aksi kita"


"Ya Mayhan, kita tidak tahu nanti bisa selamat apa tidak di peristiwa itu nanti"


"Iya Andreas"


"Kalau kita tidak selamat setidaknya kita sudah bersenang - senang"


"Hahahaha iya Andreas"


Mayhan dan Andreas menikmati waktu mereka di bar tersebut sambil bercerita satu sama lain tentang kehidupan mereka masing - masing.


Tanpa di sadari bahwa apa yang dilakukan Mayhan selama ini hanyalah berpura - pura untuk mendapatkan kepercayaannya saja.



6 hari kemudian berita tentang penangkapan para pejabat korup itu tersebar begitu luas hingga sampai - sampai terdengar ke telinga masyarakat setempat. Pemerintah Kota Jakosta menanggapi berita viral tersebut dengan mengadakan persidangan secara terbuka untuk mengadili para pejabat korup atas kejahatan yang telah mereka lakukan. Andreas yang tahu tentang berita pengadilan tersebut meresponnya dengan mengerahkan seluruh anak buahnya serta Mayhan yang akan membantunya untuk menyerang saat persidangan berlangsung nanti dan membunuh semua para pejabat korup itu agar kebusukan keluarga Savaroni tidak terpublikasi oleh media setempat. Saat matahari di pagi hari menyinari Kota Jakosta dengan cuaca yang cerah, Andreas dan Mayhan beserta yang lainnya sedang mempersiapkan diri untuk melakukan penyerangan dalam skala besar ke gedung pengadilan yang menjadi target mereka.


"Hari ini akan menjadi hari yang bersejarah di kota ini"


"Kamu benar Andreas"


"Akan ada banyak pertumpahan darah dari kedua belah pihak dan yang terpenting dari semua ini adalah kita harus berhasil melakukannya"


"Iya Andreas"


"Aku dengar penjagaannya di jaga ketat oleh pihak kepolisian dan militer juga"


"Aku kira dari pihak kepolisian saja"


"Tidak Mayhan"


"Kamu tahu itu darimana"


"Ada saja"


"Kamu sepertinya punya mata - mata"


"Iya lalu kenapa"

__ADS_1


"Siapa orang itu"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu kepadaku"


"Aku cuma ingin tahu saja"


"Memangnya ada apa"


"Tidak ada apa - apa"


"Ada sesuatu yang kamu tutupi"


"Aku tidak menutupi apapun"


"Aku kira ada sesuatu yang kamu tutupi"


"Tidak ada, tapi kamu yakin ke orang itu"


"Aku sangat yakin Mayhan"


"Aku harap dia bisa di percaya"


"Dia mata - mata kepercayaanku"


"Hmmm baiklah kalau begitu"


"Tenang saja Mayhan, orang itu bekerja di kepolisian dan orang pemerintahan di kota ini"


"Bagus, kalau begitu orang itu bisa aku percaya"


"Sepertinya kamu takut"


"Aku takut kalau mereka berbohong ke kita terkait berita ini"


"Tidak akan Mayhan"


"Lalu rencana kita nanti seperti apa"


"Kita akan menggunakan mobil ambulan dan masuk sebagai petugas medis di lapangan"


"Selanjutnya"


"Kita semua akan berjalan menuju tempat kesehatan dan lalu di situ kita akan melancarkan aksi kita"


"Nanti akan ada beberapa orang yang akan menahan gerak laju mereka untuk masuk ke dalam gedung persidangan tersebut"


"Bagaimana denganku Andreas"


"Kamu ikut saja aku"


"Kita akan bergerak kemana"


"Membunuh semua para pejabat itu"


"Bagaimana dengan rencana pelariannya"


"Kita akan melarikan diri melalui saluran pembuangan air yang ada di belakang gedung"


"Lalu bagaimana dengan yang lainnya"


"Aku sudah membagikan rute pelarian mereka masing - masing"


"Baiklah aku harap semuanya bisa pulang dengan selamat Andreas"


"Aku harap begitu juga Mayhan, akan tetapi pasti ada saja yang tidak selamat nantinya"


"Iya Andreas, karena inilah perang"


"Hmmm begitulah, kita hanya bisa melakukannya atau tidak sama sekali"


"Kamu betul Andreas"



Di sisi lain penjagaan di tempat pengadilan di jaga sangat ketat oleh pihak militer maupun pihak kepolisian, tentunya ini akan menjadi hal yang sulit bagi Mayhan dan Andreas. Sementara di Bar Rafeli Andreas menyampaikan pesan - pesan terakhir kepada anak buahnya sebelum mereka melancarkan aksi.


"Kita tahu bahwa hari ini takdir kita akan di tentukan hidup atau mati dan pastinya kita berjuang untuk keluarga kita, selama ini kita berasal dari keluarga kelas bawah tapi berkat keluarga ini kita semua bisa dan kita semua bisa menghidupi keluarga kita serta anak - anak kita maupun saudara kita maka dari itu kita tunjukkan bahwa hari ini kita loyal dan setia untuk keluarga ini"


"UNTUK KELUARGA SAVARONI" (Teriakan serentak seluruhnya)


Mayhan yang melihat Andreas sedang berpidato sangat terkesima dan bangga melihat orang seperti itu meskipun pada dasarnya Mayhan sendiri adalah seorang mata - mata sekaligus seorang pengkhianat di keluarga Savaroni, tidak berselang lama kemudian terdengar suara panggilan telepon dari ponsel milik Mayhan dan ternyata orang yang menelepon tersebut adalah Mei yang sontak Mayhan mengangkat panggilan telepon tersebut.



Tuttt Tuttt Tuttt (Bunyi telepon)

__ADS_1


"Ya Hai Mei"


"MAYHAN"


"Wow wow ada apa"


"Kamu ikut dengan mereka"


"Ikut apa"


"Ikut penyerangan yang dilakukan oleh Andreas"


"Kalau iya kenapa dan kalau tidak kenapa"


"Kuharap kamu tidak ikut"


"Aku tidak ikut"


"Jangan berbohong"


"Aku tidak berbohong"


"Syukurlah kalau kamu tidak ikut dengan mereka, itu baru Mayhan si penurut"


"Ehhh sebenarnya aku ikut"


"Apaaaa"


"Maaf - maaf Mei"


"KENAPA KAMU IKUT MEREKA"


"Aku hanya ingin membantu masalah keluarga ini saja dan tidak enak juga sama Andreas"


"TAPI KAMU KENAPA IKUT MEREKA"


"Ini semua demi keluarga ini"


"Aku tahu ini semua demi keluarga ini, tapi kenapa kamu masih ikut mereka dan ada yang lainnya yang bisa menggantikan posisimu itu"


"Mei, aku tahu apa yang kamu takutkan"


"Apa"


"Takut kalau aku ada apa - apa di peristiwa itu"


"Ehhhh"


"Jujur saja"


"Iya Mayhan"


"Baiklah, aku janji akan pulang dengan selamat dan bertemu dengan kamu lagi Mei"


"Kamu yakin bisa melakukan ini semua"


"Aku yakin bisa dan aku akan membuktikannya"


"Aku janji, aku akan pulang dengan selamat"


"Aku benar - benar takut kalau kamu ada apa - apa nanti"


"Aku pasti bisa Mei dan aku pasti akan pulang"


"Baiklah aku tunggu berita itu"


"Iya Mei, aku janji"


"Aku tunggu pembuktian janjimu itu"


"Iya Mei"


"Baiklah berhati - hatilah Mayhan"


"Aku akan berhati - hati Mei"


"Aku tutup teleponnya"


"Iya Mei"


"Iya Mayhan"


Tuttt (Bunyi telepon)


Mayhan, Andreas pergi menuju tempat pengadilan meskipun hari itu mereka tahu bahwa mereka akan di pertemukan dua keputusan yaitu hidup atau mati.

__ADS_1


__ADS_2