Air Mata Istri Setia

Air Mata Istri Setia
Apa Rencana Nero?


__ADS_3

Fay sibuk memeriksa beberapa lukisan di layar i-pad miliknya, ia ingin melakukan sedikit perombakan pada koleksi lukisan di galeri yang ia buka setiap hari.


Menjalani aktifitas kantor sangat membantunya untuk sejenak merupakan realita hidup yang pahit.


Galen tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia langsung duduk di kursi depan meja Fay, berhadapan lebih tepatnya.


"Mas Nero dimana?" tanpa Galen to the point. Wajahnya terlihat sangat bad mood.


"Pergi ke Australi, ada meeting katanya," jawab Fay cuek. Ia tetap fokus dengan pekerjaannya.


"Dari kapan?"


Fay menjawab kalau suaminya pergi dari kemarin bersama Resta, asisten pribadi.


"Loe yakin?"


Fay mengalihkan pandangannya sekilas ke Galen, kembali melanjutkan pekerjaannya, wanita itu mengangguk yakin.


Galen mengeluarkan HP miliknya, di letakkannya di atas meja dengan layar menghadap ke atas. Terlihat jelas ada foto Nero dan Widi tengah dinner bersama.


Galen cerita kalau ia dapat foto itu dari temannya yang kebetulan bertemu dengan mereka. Ia menjelaskan kalau foto itu diambil di Jepang, tepatnya semalam.


"Setelah apa yang kita lakukan buat dia, ini yang dia lakukan, masih setia dengan wanita si*lan itu. Percuma kita bantu dia ambil video itu!" Galen tampak gusar.


Fay berusaha tenang, diletakkannya i-pad di atas meja. "Kita harus gimana lagi?"


"Gue bakal bikin perhitungan sama dia!" ucap Galen tegas.


"Biar gue ngomong berdua dulu sama Mas Nero, kita jangan mudah terpancing emosi, Len. Sabar."


"Gue nggak bisa nahan sabar lagi!"


"Please," pinta Fay sungguh-sungguh.


"Terserah loe! Gue cabut," pamit Galen dengan rasa kecewa.


Fay hanya menghela nafas sepeninggal Galen dan kembali sendiri di ruang kerjanya.


"Aku nggak habis pikir dengan kamu, Mas," gumam Fay.

__ADS_1


*****


Esoknya Nero sudah kembali. Tanpa berniat menyapa Fay sama sekali, ia pergi ke kantor seperti biasanya. Raut wajahnya terlihat santai seolah tidak merasa bersalah sedikitpun.


Fay sangat kesal, pertanyaannya sama sekali tidak dijawab. Menu sarapan yang ia buat sama sekali tidak disentuh, melihat saja tidak. Nero seenaknya langsung berangkat kerja.


Menahan kesal, Fay memutuskan segera berangkat ke galeri, makanan di meja juga tidak ia sentuh. Seleranya hilang, menyadari bahwa sosoknya tidak dianggap ada.


Galen sudah tahu keberadaan kakaknya lewat Resta, asisten pribadi Nero. Ia memberi tahu Fay akan membuat perhitungan pada kakaknya.


Fay meminta waktu sampai besok, ia akan mencari kesempatan untuk bisa bertanya lebih detail, dengan cara baik-baik tentunya. Sebelum ia mendapat penjelasan, Galen tidak boleh ikut campur.


Terpaksa Galen mengikuti Fay sebab bagaimanapun di sini yang lebih berhak emosi dan kecewa adalah Fay, istrinya Nero.


Aktifitas Fay terasa menjemukan entah kenapa, ini lain dari biasanya. Fay mengalami mood swing tanpa bisa ia kendalikan. Kepalanya juga pusing.


Siang itu beberapa lukisan telah ia atur ulang sesuai konsep yang dibuat ayahnya. Gea di ruang koleksi karya tengah menyelesaikan tugas yang ia berikan.


Fay memilih rehat di ruangannya sejenak sebab badannya terasa lemah. Nafsu makannya juga sedikit buruk. Ia memilih berbaring sebentar di sofa.


Brak! Ance membuka pintu cukup keras. Fay langsuang terkejut hingga terbangun duduk. Begitu mendapati si biang kerok, ia langsung melotot tajam.


"Jangan gini Ance! Duduk!" bentak Fay semakin kesal.


"Tolongin Ance, Mbak ..." rengek Ance ketakutan.


"Makanya duduk dulu ...atau saya usir kamu!" ancam Fay geram. Ance menurut, ia bangkit dan duduk di samping Fay.


"Kenapa?"


"Ance diancam bakal dibunuh sama Mbak Widi. Kemarin Mas Nero minta putus. Hubungan mereka berakhir, Mbak. Dia tahu kalau Ance yang bantuin Mas Nero buat ambil video itu," beber Ance panik.


Fay terdiam, ingatannya langsung beralih pada cerita Galen soal dinner romantis di Jepang itu. "Mereka baru saja dinner romantis di Jepang, kok," sangkal Fay.


"Setelah dinner itu, Mbak. Ance kurang begitu paham ceritanya gimana. Pokok sekarang nyawa Ance dalam bahaya. Ance nggak berani pulang, takuuut ..."


Merasa bertanggung jawab sebab ia yang menyuruh Ance, Fay mengajak pergi ke apartemen Galen. Sementara biar Ance tinggal di sana dulu.


Nasib baik Galen ada di apartemen miliknya saat Fay dan Ance meluncur ke sana. Begitu Ance cerita soal teror Widi padanya, Galen pun setuju. Ia memberikan izin Ance untuk tinggal sementara di apartemen miliknya.

__ADS_1


Fay langsung menelpon Nero dan meminta waktunya untuk bicara berdua, ia sangat ingin tahu cerita detailnya.


*****


"Mau bicara apa?" tanya Nero dingin. Keduanya sekarang tengah duduk berhadapan di ruang kerja pribadi milik Nero.


Fay mengambil nafas, menatap serius wajah Nero yang hanya menatapnya dingin. "Aku nggak tahu harus mulai dari mana, tapi ... aku yakin Mas lebih paham soal ini."


Fay menunjukkan foto dinner Nero dengan Widi di Jepang. Foto yang ia dapat dari Galen.


"Gara-gara ini, Ance diteror sama Widi. Sekarang dia ketakutan dan nggak berani pulang," cerita Fay.


"Dimana Ance?"


"Cerita dulu baru aku kasih tahu dimana Ance."


Nero diam sejenak, matanya semakin tajam menatap Fay. "Tidak ada yang perlu dan wajib saya ceritakan ke kamu, Fay."


"Kata Ance, Mas Nero mutusin Widi gara-gara video itu. Hidup Ance dalam bahaya, Mas. Kenapa kamu tega libatkan dia?" Fay mengambil nafas lagi mencoba menahan emosi. "Kita sudah sepakat untuk tidak pernah menyebut nama Ance. Kamu bohong!"


"Saya tidak sebut nama dia!" sentak Nero lebih keras.


Nero akhirnya menceritakan kronologinya. Dinner romantis kemarin adalah acara perpisahannya untuk Widi. Esoknya setelah dinner, Nero mengatakan bahwa dia sudah menghapus semua jejak percintaan mereka.


Terhapusnya video hubungan intim mereka, membuat Widi tidak mempunyai kekuatan untuk menahan Nero lagi. Nero lega bisa mengakhiri hubungan mereka.


"Intinya saya dan Widi sudah berakhir. Kamu tidak perlu tahu kronologinya. Soal Ance, saya yang urus. Dimana dia?"


"Di apartemen Galen," jawab Fay lesu. Dipandangnya wajah Nero yang tampak biasa saja setelah putus dari Widi.


"Besok kita ke apartemen Galen." Nero meneguk segelas kopi buatan Fay.


"Apapun rencana Mas, jangan rugikan siapapun," pesan Fay. Ia cukup lelah berdebat hari ini. Pusingnya belum juga hilang. Merasa semakin lemah, Fay memilih mengakhiri percakapan.


Fay kembali ke kamar dan segera berbaring untuk istirahat. "Besok sebelum ke apartemen Galen mending aku ke dokter dulu, deh," gumam Fay pada dirinya sendiri sebelum akhirnya tertidur.


Sementara di ruang kerja miliknya, Nero masih duduk menikmati kopi dengan wajah muram. Masih jelas terekam di memori, pertemuan terakhir dengan Widi.


Meneguk sekali lagi kopi, tiba-tiba ia teringat pesan Fay barusan soal tidak merugikan siapapun. Mengingat kenekatan Widi, laki-laki itu seperti menimbang-nimbang sesuatu.

__ADS_1


"Haruskah ku ceritakan detailnya? Perlukah Fay tahu rencanaku?" gumam Nero.


__ADS_2