Air Mata Istri Setia

Air Mata Istri Setia
Fay Kecelakaan


__ADS_3

"Terima kasih, Dok. Pamit dulu." Fay tersenyum keluar klinik kandungan. Ia berjalan perlahan menuju lobby depan.


Begitu sampai di lobby depan, mobil sudah menunggu. Kali ini Nero terpaksa menyuruh sopir pribadinya untuk menemani Fay kontrol kandungan.


Nero harus menghadiri meeting di London selama tiga hari. Ada beberapa hal yang harus ia tangan sendiri.


"Kita langsung pulang ke rumah ayah saya ya, Pak."


Sopir langsung mengangguk patuh,"Baik, Nona."


Tak lama kemudian mobil telah melaju tenang menyatu dengan pengendara lainnya.


Fay menyempatkan diri memberi kabar Nero lewat pesan. Ia mengabarkan hasil periksa tadi dalam bentuk foto.


Sayangnya pesan itu belum dibaca. "Mungkin sibuk," gumam Fay memperhatikan centang pesan yang belum berubah biru.


"Setidaknya aku sudah melakukan apa yang dia minta," ujar Fay pelan. Mengisi rasa bosan, ia putuskan melihat beberapa koleksi karya lukisan di media sosial.


"Kita perlu mampir untuk makan siang, Nona?" tanya sopir dengan santun.


"Nggak usah, Pak. Kita mampir di toko kue terdekat aja. Saya mau beli camilan."


Sopir mencari toko kue terdekat yang searah dengan jalan menuju rumah orang tua Fay. Beruntung ada toko tidak terlalu jauh dari posisi mereka.


Fay meminta sopir untuk membeli kue berdasarkan catatan yang ia tulis. Badannya cukup lelah setelah mengantre di rumah sakit tadi.


Kebetulan parkiran di halaman toko kue sudah penuh. Terpaksa mobil hanya diparkirkan di pinggir jalan. Fay sedikit menggeser tubuhnya ke kursi mobil paling dekat dengan jalan raya. Ia ingin menikmati ramainya lalu lalang pengendara yang lewat.


Tiin ...!!! Entah dari mana datangnya terdengar suara klakson mobil begitu kencang dan panjang. Suara ban berdecit juga terdengar jelas.


Belum sempat Fay menoleh mencari tahu sumber suara itu berasal, tiba-tiba ia merasakan benturan cukup keras. Entah apa itu yang jelas pandangannya langsung gelap setelah ia terlempar keluar dari mobil.


Brak ...!!! Melihat sebuah mobil sedan hitam melaju kencang tanpa kendali dan berakhir menabrak bahu mobil membuat sopir berlari mendekat.


"Nona!" teriaknya panik mendapati majikan terlempar keluar mobil, terkapar di halaman parkir toko tak sadarkan diri.


Langsung ia hubungi nomor emergency. Meminta bantuan ambulans. Menjelaskan ada korban kecelakaan, kondisi tidak sadarkan diri dan butuh bantuan. Tak lupa ia menambahkan bahwa kondisinya tengah hamil.


Sesaat kemudian mobil ambulans datang. Perlahan mengangkat tubuh Fay, memasukkannya ke dalam ambulans.


*****


"Terima kasih, Resta. Kamu bisa istirahat. Kita ketemu lagi nanti. Saya juga ingin istirahat."


Resta mengangguk hormat dan berlalu keluar ruangan. Nero mengendorkan dasi, membuka kancing bagian atas. Baginya negosiasi hari ini cukup melelahkan.


Teringat kondisi Fay, ia raih HP yang sedari tadi tidak ia buka. Begitu membuka pesan dari Fay, ia tersenyum lega melihat calon jagoannya tumbuh sehat.

__ADS_1


Baru saja hendak menghubungi Fay, terdengar ketukan pintu. "Masuk!" perintah Nero mengurungkan niatnya menghubungi Fay.


"Permisi, Tuan. Ada beberapa dokumen audit yang perlu Anda periksa."


"Bawa kemari." Ia pun kembali sibuk dengan pekerjaannya. Dalam hati Nero berniat akan menghubungi Fay setelah ini.


*****


"Galen, gimana kejadiannya?" Arya berlari tergopoh-gopoh menghampiri Galen yang duduk panik di depan ruang operasi.


Tak lama kemudian Danu berjalan mendekat. Ia baru saja selesai menandatangani berkas persetujuan penanganan pasien.


"Nero masih belum bisa kamu hubungi, Len?" tanya Danu begitu duduk di samping Galen.


Anak bungsunya itu hanya menggeleng lemas.


"Kamu yang tenang, duduk dulu, Arya." Danu mendudukkan besannya itu agar bisa lebih tenang.


"Bagaimana bisa tenang? Ceritanya gimana?" tanya Arya panik.


"Ada mobil melaju kencang, ternyata remnya blong dan hilang kendali. Kebetulan mobil yang membawa Fay parkir di bahu jalan. Kena benturan, Fay terlempar keluar dari mobil," tutur Galen sama persis dengan apa yang diceritakan sopir.


Arya terduduk lemas. "Tuhan selamatkan anakku."


"Aku udah kirim pesan ke Mas Nero. Papa tenang aja." Galen mencoba menenangkan Danu yang menyesal telah meminta Nero menangani masalah kantor di London.


*****


Dibukanya layar pesan. Ada banyak telpon masuk yang tidak sempat ia angkat. Dari Galen, ayahnya, dan mertuanya.


"Tumben kompak nelpon." Nero melihat ada chat dari Galen. Ia masih enggan membuka pesan dari adeknya. Sikap kasar Galen membuat Nero malas berurusan dengannya.


"Di sana pasti masih sore." Nero menekan tombol telpon untuk kontak dengan nama Fay. Beberapa kali ia telpon, suara yang terdengar tetap sama, dari operator.


"Kemana Fay?"


Drrt... Drrt... Drrt... Nama Galen muncul di layar HP.


"Kenapa? Saya malas berdebat dengan kamu," ujar Nero enggan.


"Fay kecelakaan!"


"Kecelakaan?" Nero memastikan kembali ucapan Galen.


"Tertabrak mobil, kondisinya kritis. Sekarang lagi di ruang operasi."


"Kirim alamat rumah sakit, saya pulang sekarang."

__ADS_1


*****


Operasi berjalan lancar. Fay masih harus menjalani observasi pasca operasi. Keluar dari ruang operasi, ia masih dirawat di ICU.


Selang oksigen dan monitor denyut jantung juga masih terpasang. Kondisi Fay belum dikatakan selamat dari kritis.


Bergantian Galen, Arya, dan Danu melihat kondisi Fay.


"Loe harus selamat, Fay. Gue tahu loe kuat," bisik Galen pelan tepat di telinga Fay. Air matanya menetes.


Esoknya Nero tiba di rumah sakit. Wajahnya tampak pucat. Setelah mengenakan pakaian khusus dari rumah sakit, ia segera masuk ke ICU.


"Fay, bangun. Kamu harus kuat," panggil Nero pelan. Tidak pernah sedikitpun terbayang betapa mengerikannya mendengar kabar Fay kecelakaan.


Nero sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada Fay. "Kamu harus bangun, Fay." Perlahan air mata Nero menetes.


*****


Tiga hari Fay masih dalam keadaan koma, belum juga sadar. Kabar baiknya, kondisi Fay semakin membaik. Tensi yang semula rendah semakin normal. Begitu pula degup jantung semakin normal.


Setiap hari Nero setia menemani Fay. Ia benar-benar ingin Fay segera membuka nata.


"Fay, apapun yang terjadi, saya mau kamu cepat bangun," bisik Nero tepat di telinga Fay.


Perlahan Fay menggerakkan kelopak matanya, lalu terbuka perlahan. Melihat sosok Nero di sampingnya, lirih ia memanggil.


"Mas ... aku dimana?" tanya Fay lemah.


Nero melihat Fay sadar dari koma langsung memencet tombol darurat. Sesaat kemudian perawat tiba bersama dokter.


Memastikan kondisi Fay beberapa saat dan menyatakan pasien lewat dari masa kritis pasca operasi.


"Mas ... aku dimana?" tanya Fay lagi.


"Kamu di rumah sakit, kamu yang kuat. Semua punya hikmah," ujar Nero berusaha setegar mungkin.


Merasakan ada yang aneh, Fay memegang kedua perutnya. "Perut aku kenapa kempes? Bayi aku ... bayi aku dimana?"


Nero hanya terdiam menatap Fay dengan pandangan iba. Hatinya juga ikut hancur. Tapi, takdir tidak bisa diubah.


"Bayi kita ... sudah bahagia di sana."


"Maksud Mas apa?"


"Karena terpental jauh, kamu keguguran. Bayi kita tidak selamat, Fay."


"Nggak mungkin!" teriak Fay histeris. Wajahnya basah oleh derai air mata yang mengalir deras. Sesaat kemudian ia kembali tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Fay!" teriak Nero panik.


__ADS_2