
Langit sunset Kuta terlihat cantik hari ini. Nero dan Fay menikmati waktu dengan duduk di kursi pantai.
Fay tampak cantik dengan dress motif bunga warna putih. Nero terlihat tampan dengan celana selutut warna putih dan kemeja motif surfing warna biru langit.
"Kuta selalu menjadi tempat yang menyenangkan untuk melewatkan momen sunset ya, Mas."
Nero tersenyum menanggapi ucapan istrinya. Diusapnya lembut ujung kepala Fay. "As long as you happy, honey. Saya juga senang."
"Tapi bener, kan?"
Nero mengangguk mengiyakan. "Sepadat apapun Kuta, saya juga tidak bisa melewatkan pantai ini kalau sedang di Bali."
"Nanti kita dinner dimana, Mas?"
"Kejutan." Nero tersenyum misterius.
*****
Mobil meluncur membelah jalanan Bali yang cukup padat. Merambat perlahan terus menuju ke selatan.
"Kita kemana, Mas? Sumpah aku penasaran."
Nero tersenyum menatap lurus ke depan, fokus menyetir. "Kamu sering ke Bali. Nanti kamu tahu sendiri kita akan kemana."
Menyusuri jalan yang memang tidak asing bagi Fay, senyumnya mengembang saat tahu kemana tujuan mereka saat ini.
"Mas, kamu beneran ajak aku ke sana?" Fay menatap dengan mata berbinar.
"Iya. Kata papa kamu ... itu tempat favorit kamu banget."
"Kangen banget kesana. Makasih, Mas." Fay memeluk Nero singkat, mendaratkan satu kecupan di pipi.
"Sama-sama, sayang."
*****
"Saya sudah reservasi, atas nama Nero Adhitama." Nero mengajak Fay berjalan masuk mengikuti langkah waitress yang diajak bicara Nero barusan.
Keduanya melangkah menuju salah satu tempat duduk dimana view pantai terlihat sangat jelas. Menikmati debur ombak malam hari, diterangi bulan bersinar penuh, bintang bertaburan, sempurna.
Instrumen musik romance milik Gus Teja menambah nuansa semakin syahdu dan romantis.
Keduanya menikmati makan malam dengan bahagia. Sesekali saling menatap penuh cinta.
"Fay, kamu ... masih dapat mimpi soal Nakula dan Sadewa?"
"Enggak, Mas. Sejak mimpi terakhir itu, aku jadi lebih tenang. Aku makin bisa terima semuanya. Apalagi, Nakula dan Sadewa mengatakan sendiri kalau mereka bahagia."
Fay menghela nafas panjang, tersenyum tegar. "Dan lagi, mereka nggak ingin aku sedih. So, aku harus bahagia demi wujudin keinginan mereka ... anak kita."
"Saya seneng kamu bisa bangkit. Memang seperti itu seharusnya. Setidaknya ... kita masih terus bersama. Bahkan, hidup sebagai pasangan yang lebih baik."
__ADS_1
"Aku nggak nyangka, bakal dapat hal kayak gini, ini kayak mimpi."
"Sama, saya juga nggak nyangka akan dipertemukan istri luar biasa seperti kamu, Fay. Sorry for my mistakes. Saya sadar ..."
Fay menempelkan telunjuk jarinya ke bibir Nero. "Kita nggak usah bahas cerita kemarin, Mas. Bagi aku, sekarang. Kita berdua ... saling mencintai ... tanpa terpaksa."
"I love you, Fay."
Fay tersenyum jahil. "Sama."
Nero merengut kesal. "Say I love you. Kok bilang sama, sih?"
"Sama aja." Fay berlagak cuek. Ia senang membuat Nero sedikit kesal.
"Say it, Fay."
Fay menggeleng, menolak tegas permintaan Nero. Melihat wajah suaminya yang cemberut, ia tertawa bergelak.
*****
Nero berbaring di pangkuan Fay. Keduanya tengah menikmati film dari layar TV. Puas menikmati dinner romantis, keduanya memutuskan nonton film di hotel tempat mereka menginap.
Fay asyik menikmati popcorn. Sesekali ia juga menyuapkan beberapa popcorn ke mulut Nero.
"Kamu mau nggak ... kalau kita ikut program hamil lagi?" celetuk Nero.
"Mau aja sih, Mas. Memang ... Mas masih mau punya anak dari aku?"
"Mas! Rese' ah!" Fay pura-pura cemberut.
"Masihlah, Fay." Nero menghadapkan wajah Fay ke wajahnya, jarak keduanya sangat dekat. "Saya mau punya anak dari kamu, Fay."
"Iya, Mas. Tapi ... kali ini ... kalau alami aja gimana, Mas?"
Nero menggeleng. "Saya harus pastikan kondisi kesehatan kamu, Fay. Apalagi Selama keguguran, kemarin kamu sempat jatuh cukup parah. Kita harus konsultasi dan selalu diawasi dokter."
"Tapi Mas ..."
"Semua demi keselamatan kamu dan calon bayi kita. Tolong Fay, jangan buat saya memutuskan sesuatu yang berat kalau terjadi apa-apa."
"Waktu kecelakaan kemarin ... apa Mas sempat disuruh memilih?"
Nero mengernyit tidak paham.
"Memilih antara keselamatan aku atau Nakula dan Sadewa."
Nero menggeleng. "Nggak, Fay. Kamu pendarahan hebat karena benturan perut yang cukup keras. Mereka ... tidak mampu bertahan. Kata dokter ... meninggal di perjalanan menuju rumah sakit."
Fay memejamkan matanya sejenak. Mencari nafas dalam dan menghembuskannya. Ia sudah berjanji dalam hati. Selama honeymoon tidak ada air mata. Sesak di dada hanya ia rasakan dengan mata terpejam.
"Ini sudah jadi takdir kita, Fay. Tuhan pasti punya maksud lain di balik ini semua."
__ADS_1
Masih memejamkan mata, Fay mengangguk perlahan.
"Lihat Saya, Fay ..." bisik Nero lembut. Perlahan Fay membuka matanya. "Kamu kuat, istriku."
"Makasih, Mas."
*****
Langit Ubud sangat cerah hari ini. Menuruti keinginan Fay, mereka jalan-jalan ke Ubud. Menikmati sarapan dan makan siang di sana.
Beberapa galeri lukisan mereka singgahi. Bagi Fay, keliling galeri melihat lukisan adalah jalan-jalan sebenarnya. "Ini baru cuci mata, Mas," komentar Fay sembari asyik melihat lukisan di galeri.
"Kamu nggak ingin melukis untuk saya?"
"Aku jadi ada ide!" mata Fay berbinar menatap Nero. "Kita beli alat lukis ... terus melukis berdua. Mau, ya?"
"Lukisan Saya jelek."
"Ayolah ... aku tahu Mas Nero bisa melukis. Jangan merendah deh, Mas. Aku lihat lho ... piala suara 1 lomba melukis kamu di ruang tengah."
Nero hanya terkekeh. Ia sudah tidak punya alasan lagi untuk mengelak. "Baiklah ... ayo kita melukis berdua."
Keduanya beranjak mencari toko peralatan lukis. Setelah menemukan tempat yang nyaman, keduanya mulai melukis.
Mereka memilih melukis di resort. Salah satu teman bisnis Nero memiliki usaha di sana. Keduanya memutuskan mampir. Keduanya sekarang berdiri di taman resort, menghadap kanvas kosong dengan kuas di tangan.
"Kita melukis apa?" tanya Nero semangat.
"Apa ya?" Fay tampak berpikir. Ia pun membuat sketsa sosok laki-laki berdiri menghadap samping. "Gimana?"
"Kamu mau gambar kita?"
Fay mengangguk setuju.
Beberapa jam kemudian, tak terasa hari sudah kembali sore. Lukisan mereka juga sudah selesai. Tinggal menunggu cat kering.
Fay dan Nero memutuskan jalan santai susuri pantai. Kebetulan resort ada di dekat pantai.
"Fay ..." Tiba-tiba Nero menghentikan langkahnya dan berlutut di hadapan Fay.
"Kok berlutut, sih? Dilihat orang, Mas." Fay menoleh ke kanan dan kiri. Memastikan tidak ada yang melihat ke arah mereka berdua.
Nero tidak peduli. Ia meraih tangan kiri Fay. Ia keluarkan cincin permata, perlahan sembari mengucapkan kalimat indah sama persis saat mereka ucap janji di depan altar.
"Jesslyn Fay Edre, cincin ini Saya berikan kepadamu sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaan. I love you."
"Indah banget, Mas." Fay tampak terharu dengan kejutan yang Nero berikan.
"Fay ..." lirik Nero sewot.
"Ups ... hehe ... I love you Mas." Keduanya tersenyum hangat.
__ADS_1