Air Mata Istri Setia

Air Mata Istri Setia
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama sebab jalur yang macet, akhirnya mobil tiba juga di rumah kediaman Adhitama. Mereka memutuskan membawa Nero ke rumah ini demi pemulihan yang lebih cepat.


Nero turun dari mobil, melangkah dengan ragu. Tapi, jauh di dasar lubuk hati terdalam, ia tidak merasa asing dengan rumah dan semua hal yang ada. Dekorasi dan suasana tampak tidak asing walau ia tidak ingat apapun.


"Nero," panggil Danu lembut. Ia rangkul anaknya itu dengan kasih sayang, diajaknya masuk ke dalam rumah, diikuti Fay dan Galen di belakang.


Mereka memilih duduk di ruang keluarga yang ada di ruang tengah. Danu memutuskan mulai hari ini sampai ingatan Nero pulih, ia akan tinggal di rumah ini, termasuk Fay.


"Saya tahu kamu merasa asing. Tapi nanti, ingatan kamu pasti pulih dan kamu akan kembali seperti semula," ujar Danu menenangkan anaknya.


"Kita istirahat dulu, yuk," ajak Fay. Nero yang memang merasa kelelahan hanya mengangguk setuju. Ia mengikuti langkah Fay yang berjalan menuju lantai atas.


Fay mengajak Nero masuk ke kamar pribadinya. Saat keduanya sudah berada di dalam kamar, Nero menatap Fay dengan pandangan tidak nyaman.


"Kita kan suami istri, Mas. Sudah sewajarnya kalau kita tidur sekamar," kata Fay berusaha menjelaskan.


"Saya tahu, di masa sebelum saya amnesia, mungkin kamu memang istri saya. Tapi maaf. Saya masih belum nyaman kalau harus satu kamar dengan kamu. Jadi ... kamu tahu kan maksud saya?"


Fay beberapa detik berusaha mencerna ucapan Nero. Begitu ia paham, ia pun mengangguk paham. "Kamu bisa panggil aku kalau butuh sesuatu." Cara bicara Fay cukup canggung sebelum akhirnya ia melangkah keluar kamar.


Begitu menutup pintu kamar, Fay menghela nafas panjang. "Hanya sementara Fay, setidaknya suami loe udah pulang dan baby kecil tetap punya ayah. Sabar," gumamnya pelan.


"Fay," panggil Galen. "Katanya istirahat."


Fay berjalan menghampiri Galen dan memberi isyarat untuk mengecilkan suara. "Mas Nero masih belum nyaman sekamar dengan gue. Ada kamar kosong? Gue capek banget."


"Sebelah kamar gue kosong. Loe tidur sana aja. Atau loe tidur di kamar gue aja, kebetulan malam ini gue ada kerjaan penting. Paling gue balik ke apartemen aja. Pake aja kamar gue."


"Gue pake kamar yang sebelah aja."


"Lumayan berantakan di sana. Loe pake kamar gue aja. Besok jangan lupa kasih kunci rumah loe ke anak buah bokap. Biar mereka aja yang ambil baju loe di white land."


Fay mengangguk. "Gue numpang sementara di kamar loe, ya. Tapi besok gue udah bisa tempatin kamar sebelah kan?"

__ADS_1


Galen mengangguk yakin. "Tidur gih!"


Fay mengangguk, ia berlalu menuju kamar Galen. Begitu masuk, ia sempatkan diri untuk cuci muka. Setelah badan terasa lebih segar, Fay segera membaringkan badan di atas ranjang, tak lama kemudian, ia sudah tertidur lelap.


Sementara di kamarnya, Nero memperhatikan seluruh dekorasi kamar. Banyak foto dirinya dari masa masih kecil hingga dewasa.


"Apa benar ini saya?" gumam Nero dalam hati sembari terus mengamati foto yang terpajang di dinding kamar satu per satu.


Ada satu foto paling besar yang menarik perhatiannya. Foto dirinya dan juga Fay dalam balutan pakaian pernikahan.


"Perempuan ini, apa memang benar istri saya?"


*****


Esok paginya dokter yang dijanjikan Danu untuk proses terapi pemulihan Nero datang ke rumah. Nero menjalani beberapa tahapan pemeriksaan sederhana.


Dokter mengatakan kalau ingatan Nero ada kemungkinan hanya hilang sementara. Nanti, ingatannya akan pulih secara bertahap.


"Keluarga terdekat bisa membantu memulihkan ingatan dengan melakukan kegiatan yang serupa di masa lalu. Ini bisa membantu untuk memulihkan ingatan Tuan Nero. Bisa dimulai dengan hal yang sederhana," jelas dokter panjang lebar.


"Mungkin bisa dimulai dengan pengenalan identitas saya secara detail kan, dok? Saya sangat ingin tahu siapa saya lengkap dengan status dan juga profesi saya," sahut Nero tidak sabar.


Dokter mengangguk sopan. "Bisa, Tuan."


Danu meminta Fay mengambilkan satu map biru di atas meja di ruang kerja pribadi miliknya. Setelah mengetahui kondisi Nero yang dikabarkan amnesia, ia segera menyiapkan satu berkas terkait data diri Nero untuk membantunya mengenali diri sendiri.


"Kamu bisa baca dokumen di dalam sini. Baca saja dengan perlahan, ini adalah data diri kamu dari kecil sampai dewasa," kata Danu menyerahkan map biru yang diambilkan Fay.


Nero menerimanya dengan sopan. Meski ia masih merasa asing dengan sosok Danu, ia tetap tidak bisa menyangkal bahwa sosok Danu sangat ia hormati dari awal.


Kehangatan sikap Danu juga membuatnya sangat nyaman dan benar-benar membuatnya yakin kalau ia berada di tempat yang tepat untuk memulihkan memorinya.


Perlahan Nero membaca satu per satu berkas dan melihat lembar-lembar foto. Mulai dari nama lengkap, pertumbuhannya dari bayi hingga dewasa, perjalanan karir dari masih sekolah sampai ia mendapatkan posisi CEO.

__ADS_1


"Saya seorang CEO?" Nero memandang Danu dengan tatapan tidak percaya. Ia tidak menyangka, ternyata di masa lalunya dia adalah sosok sukses yang hidup di tengah-tengah keluarga mapan yang sangat sukses.


"Iya, kamu CEO dari Adhitama Group. Kamu salah satu pria muda sukses, cerdas, dan sangat beruntung memiliki istri cantik." Danu tersenyum memandang Fay.


"Apa saya memiliki anak?"


"Harusnya memiliki, tapi ... karena sesuatu hal, mereka gugur dalam kandungan," jawab Danu lagi.


Nero coba mencerna semua informasi yang baru saja ia pelajari. Baru beberapa detik, tiba-tiba ia merasakan pusing yang amat berat.


"Kepala saya pusing," ujar Nero sembari memegangi kepalanya.


"Jangan dipaksakan Tuan Nero. Silakan letakkan dulu, Anda harus tenang." Dokter menghentikan proses terapi.


"Sebaiknya saya istirahat di kamar, apa boleh?" Nero meminta ijin pada Danu.


"Fay, antarkan suami kamu ke kamar."


Fay mengangguk paham, diantarnya Nero berjalan menuju kamarnya sendiri. Begitu tiba di depan kamar, Nero menghentikan langkah Fay yang hendak membukakan pintu untuknya.


"Saya boleh minta tolong?"


Fay menatap Nero dengan ekspresi mengiyakan meski tanpa suara. Iya cukup lega karena Nero mulai mengajaknya bicara dengan nada lembut.


"Entah kenapa saya ingin sekali makan masakan kamu, apa kamu bisa masak?" tanya Nero ragu.


Fay tersenyum senang. "Mas tunggu saja di kamar. Saya buatkan sarapan."


"Terima kasih." Usai mengucapkan kata terima kasih, Nero membuka pintu kamar dan bergegas masuk.


Fay langsung bergegas turun ke dapur, menyiapkan menu sarapan favorit Nero. Berharap, ia akan bisa mengingat kalau dirinya adalah istri sah Nero yang sangat dia cintai.


"Semoga bukan hanya kembali ke rumah ini, Mas. Tapi, ingatan kamu juga kembali, Mas," bisik Fay penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2