
Menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bandung, akhirnya Galen dan Fay tiba di depan rumah Widi. Waktunya sangat tepat. Tiba-tiba pintu pagar dibuka dari dalam. Tampak Widi dan Nero berjalan keluar rumah.
Fay tersenyum bahagia melihat sosok Nero yang berjalan menuju mobil yang terparkir di depan rumah. Ia langsung turun dari mobil dan berlari mendekati Nero. "Mas, aku seneng bisa ketemu kamu lagi."
Fay langsung memeluk tubuh Nero dari belakang. Widi yang menyadari keberadaan Fay langsung melotot kaget. Ia langsung tegang. Belum usai rasa kagetnya, ia semakin kalut begitu mendapati Galen juga ikut bersama Fay.
Widi tidak menyangkan keberadaannya diketahui secepat itu. Memasang muka marah, Widi menghardik Fay dan melepaskan pelukannya pada Nero.
"Lepas! Jangan sembarangan peluk kekasih orang!" teriak Widi penuh amarah.
"Mas, ini aku Fay. Kamu jangan percaya mulut perempuan busuk ini, Mas! Mas, aku ini ... jangan pergi dulu ... biarkan aku selesaikan penjelasan aku!"
Fay berusaha mencegah Widi yang membawa Nero masuk mobil secepatnya. Nero hanya kebingungan menatap Fay yang histeris ingin memeluknya kembali.
Usaha Fay sia-sia. Nero berhasil masuk mobil bersama Widi dan melaju meninggalkan rumah. Galen menarik Fay masuk mobil agar bisa menyusul mereka berdua.
Terjadilah aksi kejar-kejaran antara mobil yang dinaiki Widi dan Nero dengan mobil milik Galen dan Fay. Awalnya jarak mereka masih tidak begitu jauh, tapi karena tidak begitu hafal jalur, Galen kewalahan mengikuti Widi.
"Sial!" umpat Galen begitu ia kehilangan jejak mobil Widi. Entah tikungan mana yang diambil, Widi sangat lihai mengambil jalan tikus.
"Apa kita tunggu saja mereka pulang?" Fay memijat keningnya. Kepalanya terasa pusing.
"Fay! Itu mereka!" Galen tiba-tiba memacu mobilnya. Secara tidak sengaja mobil Widi kembali melintasi mereka. Ia menduga kalau sedari tadi ia memang sengaja dibuat berputar saja. Pasti jalan ini merupakan arah menuju rumah sakit.
Kali ini dia bermain cantik. Galen sebisa mungkin mengikuti Widi tanpa ketahuan. Mobil Widi melaju santai. Jelas bahwa Widi tidak tahu tengah dibuntuti oleh Galen dan Fay.
"Mereka pasti akan ke rumah sakit. Gak jauh dari sini ada rumah sakit besar." Fay membuka map di HP. Ada satu rumah sakit yang merasa beberapa harus meter dari jarak mereka.
"Mungkin, Fay. Kita ikuti saja kemana mereka pergi."
Benar saja, beberapa saat kemudian mobil Widi dan Nero memasuki pelataran rumah sakit. Saat Fay eh ndak turun, Galen langsung menahannya.
"Jangan sekarang. Kita cari waktu saat Widi lengah. Kalau loe turun sekarang, mereka pasti kabur."
Fay mau tidak mau menuruti kata Galen. Ia menunggu sampai Widi dan Nero masuk ke gedung rumah sakit. Baru ia turun menyusul ke dalam. Tentunya dengan langkah hati-hati dan terus waspada. Jangan sampai ke perasaannya diketahui Widi.
__ADS_1
Fay sangat emosi tapi ia berusaha sabar. Baru saja ia merasakan indahnya rumah tangga, lagi-lagi harus menghadapi cobaan. Ini menyakitkan, harus diam-diam, mengendap seperti penguntit hanya untuk menemui suaminya sendiri.
Widi dan Nero melangkah santai menyusuri koridor menuju bagian pendaftaran pasien. Bermodalkan identitas kalau yang ia buat dari kenalannya, Widi menyodorkan ke bagian administrasi.
"Terima kasih," ujar Widi ramah begitu proses pendaftaran selesai dilakukan. Klinik tempat Nero periksa berada di lantai 3. Keduanya naik menggunakan lift.
Fay duduk menutupi wajahnya dengan koran yang ia dapat dari Galen yang sempat kembali sebelum masuk rumah sakit. Ia duduk beberapa meter dari Widi dan Nero.
Keduanya masih harus menunggu sebab dokter belum datang. Diperkirakan terlambat sebab ada operasi. Begitulah yang diucapkan perawat pada Widi saat ia menyodorkan nomor antrean.
Fay terus mengamati Nero yang duduk diam tanpa ekspresi. Dalam hati Fay merasa terharu. Ia sudah sangat merindukan kehadiran Nero. Melihat hanya kepala yang diperban, ia cukup lega. Setidaknya suaminya tidak sakit parah.
Mengingat ucapan dokter soal memori ingatannya yang hilang, dalam hati Fay bertanya tentang kebenarannya itu. Ditambah lagi saat ia memeluknya, Nero jelas merasa asing padanya.
"Ke mana Widi?" batin Fay yang melihat Widi beranjak berdiri dan berjalan menuju salah satu ruangan tanpa Nero. Melihat ada tulisan toilet di tempat yang di tujuh Widi, Fay tersenyum.
"Ini saatnya," gumam Fay terus melirik ke Widi. Memastikan ia menghilang di balik toilet. Begitu masuk ke dalam toilet, Fay langsung bergegas melihat korannya, berlari menghampiri Nero dan menariknya menjaga dari klinik.
"Berhenti!" bentak Nero menghentikan langkah Fay. Keduanya terhenti setelah beberapa langkah berlari.
Nero mengangkat tangannya meminta Fay berhenti bicara. Selama di perjalanan menuju rumah sakit, Widi cerita kalau perempuan yang memeluknya tadi pagi adalah orang asing.
"Aku takut kalau dia ini sebenarnya wanita gila yang kebetulan suaminya mirip sama kamu, Mas." Begitulah kata Widi saat di dalam mobil.
Melihat wajah Fay yang berderai air mata dengan raut memelas, Nero ikut trenyuh. Ia merasa iba melihat kondisi Fay. "Kalau memang suaminya menghilang, kira-kira kemana, ya?" tanya Nero dalam hati.
Nero berinisiatif membuat Fay percaya kalau ia bukan orang yang Fay cari. "Maaf, Nona. Anda salah orang. Ini identitas saya." Nero mengeluarkan identitas palsu yang dibuatkan Widi.
Fay mengerutkan kening membaca KTP yang diserahkan Nero. Tertera nama lain dengan foto Nero. "Siapa yang kasih ini? Widi?"
"Widi siapa?" Nero heran dengan ucapan Fay. "Perempuan yang bersama saya namanya Kinan. Dia calon tunangan saya. Kamu siapa?"
Fay hanya tercengang tidak habis pikir. Ia tidak menduga kalau Widi bergerak sejauh ini. Benar-benar konyol.
"Mas, bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa KTP ini yang asli, sementara kamu amnesia, Mas."
__ADS_1
Nero memandang Fay tajam. "Saya baru sadar, kamu tahu kalau saya amnesia?"
Fay mengangguk. "Mas, aku cari kamu kemana-mana. Rumah sakit tempat pertama kamu dirawat memberitahu aku, Mas. Kamu amnesia. Mas ... aku punya bukti soal siapa kamu sebenarnya."
Nero diam menunggu apa yang akan ditunjukkan Fay soal dirinya. Ia juga berusaha Mengingat wajah Fay. Berharap mengenali siapa sebenarnya Fay di masa lalunya.
"Aw! Sakit sekali ..." Akibat terlalu keras mengingat, kepala Nero mendadak pusing. Ia pun teriak kesakitan.
"Mas Nero!" Fay mengurungkan mengeluarkan foto pernikahannya dengan Nero. Ia berusaha menjaga tubuh Nero agar tidak jatuh.
"Sakit sekali ... kepala saya pusing ..." keluh Nero sembari terus memegangi kepalanya.
"Mas Aldi!" teriak Widi dari jauh. Ia berlari mendekat dan langsung menjauhkan Nero dari Fay.
Widi berteriak marah pada Fay. Ia membentak Fay agar menjauhi Nero. "Dasar wanita gila! Membuat onar! Tunangan saya sedang sakit, kamu mau nyiksa dia?!"
Semua mata langsung tertuju pada Fay. Terlihat jelas semua pengunjung yang berada di tempat itu menatap Fay dengan tatapan tidak suka. Beberapa ada yang kasak-kusuk membicarakan Fay.
"Security! Security!" teriak Widi kencang. "Ada pengacau di rumah sakit ini!"
Tak lama kemudian, ada dua satpam datang menghampiri mereka. Widi langsung mengatakan kalau Fay adalah biang onar, penyakit tunangannya langsung kambuh gara-gara diganggu Fay.
"Maaf, Nona. Demi kenyamanan seluruh pengunjung dan pasien di rumah sakit, Saya mohon Anda meninggalkan rumah sakit ini."
Fay tidak bisa lagi berkutik saat digiring dua satpam rumah sakit untuk keluar meninggalkan gedung rumah sakit.
"Kita harus mencari cara untuk bisa berbicara lebih lama lagi dengan Mas Nero. Widi benar-benar jahat. Dia memanfaatkan musibah Mas Nero untuk merebut dari aku. KTP Mas Nero dipalsukan. Dia juga menggunakan nama palsu di depan Mas Nero."
"Maksudnya?" tanya Galen penasaran. Tadi sesuai permintaan Fay, dia cukup menunggu di mobil. Rencananya, begitu Nero bisa diajak keluar tanpa Widi, ia bisa langsung memasukkan Nero ke mobil dan langsung melaju pergi.
"Widi memberi nama Aldi untuk Mas Nero, dia menamai dirinya sebagai Kinan. Bahkan, dia membuat karangan cerita kalau mereka berdua sudah bertunangan dan akan segera menikah. Widi benar-benar berniat merebut Mas Nero. Dia memanfaatkan amnesia Mas Nero."
"Sialan! Kita harus buat Mas Nero sadar kalau dia sudah ditipu habis-habisan sama Widi."
Fay menghela nafas panjang. Air mata kembali menetes. "Sakit banget melihat cara Mas Nero natap gue. Dia benar-benar lupa siapa gue."
__ADS_1
"Kamu sabar, Fay. Kita akan cari cara lain untuk bisa membuat ingatan Mas Nero kembali." Galen menepuk pundak Fay, mencoba menghibur dan menyemangati.