Air Mata Istri Setia

Air Mata Istri Setia
Usaha Pencarian


__ADS_3

Galen melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat. Setibanya di sana, keduanya langsung menuju tempat informasi. Fay menanyakan apakah ada korban kecelakaan atas nama Nero.


Bagian informasi langsung membenarkan begitu Fay menunjukkan foto Nero. Kebetulan dia ikut mendorong tempat tidur menuju ruang ICU saat baru tiba di rumah sakit.


"Pria ini dibawa pakai ambulans dengan kondisi pendarahan hebat di kepala. Kebetulan ada satu perempuan yang mengaku sebagai istrinya, menemani sampai keluar dari rumah sakit."


"Keluar? Bukannya kondisi pasien dalam keadaan luka parah? Atau hanya luka ringan?" Fay mencoba menanyakan detail tanpa membongkar statusnya sebagai istri sah Nero.


"Kalau berdasarkan catatan administrasi, pasien yang Anda maksud dengan nama Tuan Nero sudah dibawa pulang oleh istrinya."


"Siapa nama istrinya?"


"Nyonya Widi."


Galen menarik lengan Fay. Ia memberikan kode agar Fay tidak bicara lagi. Diajaknya Fay meninggalkan rumah sakit.


"Len, gue masih ingin memastikan kebenaran dari apa yang diucapkan pegawai rumah sakit tadi. Kok elo malah bawa gue pergi, sih!"


"Satu-satunya cara untuk bisa menemukan Widi, kita harus mencari informasi ke apartemen dia."


"Tega banget Widi!" teriak Fay emosi. Air matanya kembali berderai.


Setibanya di apartemen Widi, mereka semakin naik pitam saat mendapati mobil milik Nero sudah terparkir rapi di sana.


Merasa ada yang janggal, Fay langsung berkomentar. "Tunggu, gue gak lihat mobil Widi. Dimana dia parkir mobilnya?"


Galen yang baru menyadari langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling area parkir mobil. Hasilnya, mobil Widi memang tidak ada.


"Kita pastikan dulu ke atas." Fay mengajak Galen menuju apartemen Widi. Keduanya bergegas setengah berlari.

__ADS_1


Hasilnya sesuai perkiraan Fay. Widi tidak ada di dalam apartemennya. Fay jatuh bersimpuh. Hatinya sakit luar biasa. Kondisi Nero belum jelas, hanya soal kecelakaan parah, separah apa dia tidak tahu.


"Kita harus minta bantuan bokap. Biar anak buahnya yang mencari keberadaan Widi dan Mas Nero." Galen menarik nafas panjang, mencoba mengatur nafas. Ia saat ini juga sangat mengkhawatirkan kondisi Nero. Bagaimanapun, ia kakak satu-satunya yang ia miliki.


*****


"Kita jangan lapor polisi dulu. Papa khawatir kalau sampai kolega bisnis Nero tahu, dia akan membatalkan perjanjian kontrak. Dia sangat tidak menyukai berkerja sama dengan orang sakit. Ia takut bangkrut seperti dulu sebab segalanya pasti terbengkalai."


"Tapi kalau tidak lapor polisi, kita akan kesulitan, Pa." Fay protes dengan keputusan Danu.


"Papa punya detektif yang bisa diandalkan. Kalau kita nekat lapor polisi, bukan hanya karir, nasib kita satu keluarga bisa hancur. Tolong mengerti. Kita dalam keadaan sulit. Papa juga ingin segera menemukan Nero. Tenang, detektif ini jauh lebih canggih dari polisi. Dia menjanjikan dalam waktu 24 jam akan beri hasil."


Fay menghela nafas panjang. Berharap apa yang dikatakan ayah mertuanya benar-benar kenyataan. Ia sangat merindukan Nero. Ia ingin memastikan dengan kepalanya sendiri bagaimana kondisi suaminya yang sebenarnya.


*****


Widi berjalan santai keluar mini market. Tampilannya jauh berbeda dengan biasanya. Tanpa riasan dan baju seksi. Ia mengikat rambutnya ngasal, mengenakan kaos putih polos yang ia balut dengan hoodie hitam. Bawahannya jeans panjang mengenakan sepatu kets.


Usai memastikan tidak ada yang membuntuti, ia langsung menutup pagar rumah. Pagar itu cukup tinggi, kira-kira 50cm lebih tinggi dari Widi.


Widi dengan santai membuka pintu rumah, tak lupa kembali menutup perlahan. Sebisa mungkin tidak ingin menimbulkan suara.


Perlahan ia berjalan menuju dapur. Diletakkannya di atas meja dekat kulkas. Lalu, satu per satu ia tata seluruh isi belanjaan di dalam kulkas.


"Kamu sudah pulang?" Nero berjalan mendekat, tampak ia baru saja bangun. Mukanya masih kucel.


"Iya, Mas. Kamu baru bangun? Hari ini kita sarapan nasi goreng aja, ya," Widi menatap Nero dengan senyum sumringah.


Nero mengangguk. "Terserah kamu saja." Ia mengedarkan pandangannya ke salah satu foto yang terpajang di dinding. Foto mesra dirinya dan Widi.

__ADS_1


"Itu foto kita setelah Mas melamar aku. Tepatnya seminggu sebelum kecelakaan itu, Mas."


Nero hanya mematung menatap foto mesra itu. Entah kenapa, apapun yang diceritakan perempuan yang mengaku sebagai calon istrinya itu terasa janggal. Sayangnya ia tidak bisa mengelak sebab Widi memiliki bukti kuat. Seperti foto, cincin, dan surat cinta yang kata Widi itu tulisan miliknya.


"Mas paling suka sama masakan aku. Terutama nasi goreng," ujar Widi sumringah sembari terus sibuk menyiapkan bahan masakan.


Nero duduk di dekat meja yang Widi gunakan untuk menyiapkan bahan masakan. Widi tersenyum memandang Nero yang hanya diam tidak menanggapi ucapannya. Tapi ia tahu, Nero tidak mengelak meski ia tidak tahu kebenarannya.


"Nanti siang kita ke rumah sakit lagi. Waktunya kontrol luka kepala kamu, Mas."


Nero mengangguk. Ia terus mengamati Widi yang sibuk memasak. Entah kenapa, ia sama sekali tidak merasakan getaran cinta. Ia hanya merasa tidak nyaman bersama perempuan yang mengaku sebagai tunangannya itu.


Widi juga bercerita kalau mereka berdua sama-sama yatim pintu yang berjuang bersama. Widi mengaku sebagai Kinan dan nama Nero adalah Aldi. Keduanya sudah bertunangan dan akan segera menikah, kira-kira dua bulan lagi.


"Apa benar namaku Aldi? Apa benar dia tunanganku? Keluargaku sudah meninggal semua dan pekerjaanku adalah model," batin Nero yang terus saja memandangi Widi. Ia sangat ragu tapi semua bukti jelas membuktikan kebenaran cerita Widi.


"Sarapan, yuk," ajak Widi.


*****


"Fay, detektif suruhan bokap udah punya hasil. Nero kecelakaan parah, luka pendarahan hebat di kepala. Ia mengalami amnesia. Widi, mengaku sebagai istri Nero sudah mengaku ke dokter yang menangani Nero kalau mereka masih bertunangan."


Fay terdiam mendengar kabar terbaru dari Galen. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Ini serasa mimpi.


"Mas Nero dibawa Widi ke salah satu rumah peninggalan orang tuanya di Bandung. Dia membuat cerita palsu juga identitas palsu untuk mereka berdua."


"Maksudnya identitas palsu?"


"Membuat cerita baru. Widi sebagai Kinan dan Nero sebagai Aldi. Nama yang diambil dari dua karakter cerpen karya Mas Nero waktu SMA. Widi berencana mengajak Nero menikah dua bulan lagi."

__ADS_1


Fay beranjak berdiri. "Ayo kita ke Bandung. Kita harus secepatnya jemput Mas Nero. Gue nggak mau kehilangan Mas Nero. Dia pasti bisa pulih ingatannya begitu lihat gue."


"Ambil jaket dan baju ganti, gue tunggu di mobil." Galen bangkit berdiri keluar rumah. Fay mengangguk dan bergegas lari ke kamar.


__ADS_2