Air Mata Istri Setia

Air Mata Istri Setia
Pengakuan Palsu


__ADS_3

Pusing di kepala Nero sudah sembuh. Berkat penanganan dokter, ia kembali merasa bugar. Dokter menyarankan agar Nero tidak terlalu memaksakan diri untuk mengingat masa lalu. Hal ini bisa menyebabkan pusing yang sangat hebat di kepala.


Dokter tidak ingin Nero mengalami kesulitan jika pusing di kepala akan kambuh lagi. Ia menyarankan agar Nero melakukannya dengan perlahan.


"Jangan terburu-buru, Pak. Nanti pasti bisa mengingat kembali," ujar dokter menenangkan Nero.


"Aku bilang apa, Mas. Kamu jangan terlalu memaksakan diri kamu untuk mengingat sesuatu." Widi melotot gemas sekaligus khawatir. "Jangan-jangan kamu terpengaruh dengan ucapan perempuan tadi, ya?"


Nero mengangguk. "Dari cara bicaranya, dia sangat bersungguh-sungguh."


"Udah, nggak usah dipikirin. Dia itu orang asing. Akhir-akhir ini makin banyak muncul orang nggak waras yang mengaku-" ucapan Widi langsung dipotong Nero dengan ketus.


"Saya bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi, Kinan! Saya bisa bedakan mana orang waras dan tidak!"


Widi terdiam sejenak, dalam hati ia terkejut. Ia tidak menyangka reaksi Nero akan seperti itu. "Mas Aldi, kenyataannya kita nggak pernah kenal perempuan itu."


"Tapi bukan berarti orang gila, kan?"


"Kenapa kita harus membicara dia, sih?" Widi langsung sewot. Ia merengut kesal. Membuat Nero jadi serba salah.


"Sorry."


"Jangan-jangan .... Mas suka perempuan gila itu?"


"Dia tidak gila dan saya tidak ingat apakah perempuan itu benar-benar orang asing atau bukan!" Nero kembali sinis. Meski tidak mengingat apapun hingga tidak mengenali Fay, entah kenapa ia benci saat Widi yang ia kira Kinan itu mengatakan hal buruk tentang Fay.


*****


Fay dan Galen memutuskan mencari makan lebih dulu. Mereka butuh tempat untuk menenangkan pikiran sejenak dari kegaduhan di rumah sakit tadi.


Keduanya memilih mencari restoran yang tidak jauh dari rumah sakit. Kebetulan ada satu restoran dengan pengunjung yang tidak terlalu ramai. Menu makanan western. Fay meminta makan di tempat itu.


Sembari menunggu pesanan datang, Galen memastikan kondisi emosi Fay. Saudara iparnya itu mulai terlihat tenang. Ia pun kembali menanyakan bagaimana kronologi di rumah sakit tadi.

__ADS_1


Fay menceritakan secara detail pada Galen. Mulai dari kesempatan yang ia dapat saat Widi terlena hingga Nero memperlihatkan KTP palsu miliknya. Saat Widi kembali dari toilet, tepat saat itu Nero mengalami sakit kepala.


Penjelasan Fay tentang identitas sebenarnya Nero membuat ia berusaha mengingat terlalu keras. Kepalanya langsung kambuh. Hal itu dimanfaatkan Widi untuk membuat semua orang percaya kalau Fay adalah biang onar bahkan hampir mencelakai pasien.


"Gue nggak nyangka kalau kita harus menghadapi masalah konyol seperti ini. Bener-bener mirip telenovela." Galen menghela nafas kesal.


"Gue juga nggak nyangka. Semuanya berubah begitu cepat."


"Besok kita cari cara buat ngajak bicara baik-baik. Gue nggak bisa kehilangan kakak gue satu-satunya. Bokap pasti sedih banget kalau tahu anaknya nggak balik-balik."


"Mas Nero pasti balik, gue yakin," ujar Fay sembari memegang perutnya. Air mata Fay menetes, cepat-cepat ia hapus.


Galen melihat gerak-gerik Fay yang memegang perutnya. Ia berfikir sejenak, matanya terbelalak ketika memikirkan kebenaran dari pertanyaannya sendiri.


"Fay ... loe ... nggak lagi ..."


Fay mengangguk. "Sebenarnya di hari ulang tahun kemarin gue pengen kasih kejutan ke Mas Nero soal ini. Sehari sebelum kecelakaan itu, gue sempet ke dokter kandungan. Hasilnya positif. Gue hamil satu bulan."


"Mas Nero pasti seneng banget kalau seandainya dia nggak amnesia."


"Habis ini kita rehat dulu. Kita cari penginapan. Loe jangan kecapekan. Inget, ada nyawa berharga yang musti loe jaga."


Fay hanya mengangguk. Lagipula ia memang merasa sedikit lelah. Kepalanya yang pusing membuat matanya sedikit berkunang-kunang.


"Gue akan usahain membawa Mas Nero ke hotel tempat kita menginap."


"Thanks, Galen. Loe sodara terbaik," ujar Fay tersenyum lega. Secercah harapan kembali muncul di binar matanya yang sempat meredup.


*****


Malam itu Nero tampak termangu di halaman rumah. Widi sudah tidur sejak sejam yang lalu. Nero terus teringat dengan perkataan Fay tadi siang.


"Siapa perempuan itu sebenarnya? Kenapa terasa sangat tidak asing. Sayangnya saya tidak bisa mengingat apapun. Kenapa dia sebegitunya yakin bahwa saya adalah suaminya?" gumam Nero dalam hati.

__ADS_1


"Nama kamu Aldi. Nama aku Kinan. Ini data pernikahan kita yang akan berlangsung dua bulan lagi." Saat makam malam Widi kembali menjelaskan identitas keduanya.


Ada satu pengakuan yang membuat Nero masih ragu. Pengakuan Widi yang lagi-lagi mengatakan bahwa ia tidak mengenal perempuan itu. Widi juga menjelaskan bahwa dirinya tidak mengenal perempuan itu di masa lalu.


"Kinan bilang, dia orang asing. Tapi, kenapa saya masih sangat ragu?" Nero menatap foto dirinya dengan Widi yang terlihat mesra. Foto yang dipajang di ruang tengah. Kebetulan terlihat dari halaman belakang.


"Foto itu benar-benar memperlihatkan betapa mesranya saya dengan Kinan. Tapi, kenapa hati saya seolah mengatakan perasaan yang lain? Saya lebih sering merasa tidak nyaman dengan Kinan," lanjut Nero.


Nero menyadari sejak ia terbangun di rumah sakit, ia benar-benar tidak mengingat apa-apa. Ia hanya ingat bahwa ia memang punya pasangan dan sedang bahagia menjalan hubungan asmaranya.


Sayangnya, hubungan seperti apa dan dengan siapa, dia lupa. Terkait identitas, dia juga lupa. "Dokter bilang saya hanya amnesia sebagian, tapi kenapa sangat banyak hal yang tidak saya ingat?"


Nero yang menyadari ada dua pengakuan dari dua perempuan yang berbeda, membuat bingung menentukan mana pengakuan palsu dan mana pengakuan asli.


"Saya penasaran, sebenarnya apa yang ingin ditunjukkan perempuan di rumah sakit tadi. Dia bilang kalau saya suaminya. Bukti apa yang dia punya?"


"Mas Nero!" panggil Widi dari dalam rumah.


"Kamu panggil saya dengan nama apa? Nero?"


Widi yang semula berdiri dalam keadaan setengah mengantuk langsung tersadar. Jantungnya berdebar, dalam hati mengutuki diri sendiri sebab keceplosan memanggil nama asli Nero.


"Kinan! Kamu manggil saya Nero? Siapa Nero?"


"Nero?" Widi memasang ekspresi pura-pura bingung. "Aku bilang Mas Aldi. Kamu ngantuk kayaknya, sampai-sampai salah denger. Memangnya Nero itu siapa?"


"Jelas-jelas saya denger kamu manggil saya dengan nama itu."


"Mas salah denger. Aku manggil Aldi. Udah ah, udah malam. Buruan tidur. Besok kita musti cari gaun buat pernikahan kita."


"Kamu duluan saja. Sebentar lagi saya akan tidur. Saya masih ingin habiskan rokok satu batang lagi."


"Baiklah ... aku tidur dulu, Mas." Widi pura-pura menguap. Begitu ia membalikkan badan, ia langsung mengumpat tanpa suara. "Bodo banget sampai salah sebut nama."

__ADS_1


"Saya yakin ... saya tidak salah dengar. Ini cukup mencurigakan meski segala buktinya memang sangat kuat." Nero memandang tajam punggung Widi yang menghilang ke dalam rumah.


__ADS_2