
"Dok, kalau boleh ... sebenarnya amnesia seperti apa yang dialami oleh suami saya?" tanya Fay kepada dokter yang menangani Nero. Kebetulan Nero sudah kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Kini hanya ada Fay, dokter, dan Danu di ruang tamu.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan dan uji coba terapi, dapat disimpulkan kalau Tuan Nero mengidap amnesia retrograde," jawab dokter dengan tenang.
Fay dan Danu saling berpandangan, keduanya sama-sama asing dengan istilah medis yang baru saja diucapkan dokter.
Mengetahui bahwa kedua orang itu tidak paham, dokter pun tersenyum simpul.
"Amnesia retrograde merupakan jenis hilang ingatan dimana menyebabkan ketidakmampuan untuk mengakses ingatan yang terbentuk sebelum timbulnya amnesia."
Danu diam mencerna ucapan dokter. "Semua ingatannya terhapus, Dok?" Kini giliran Danu yang melontarkan pertanyaan.
"Sebenarnya masih ada kemungkinan kalau ini hanya bersifat sementara. Selama Tuan Nero bersedia menjalani terapi, masih ada harapan untuk bisa pulih kembali."
"Berapa lama, Dok?" tanya Fay.
"Saya tidak berani memastikan, semua tergantung dari usaha dan kondisi beliau. Bisa cepat, bisa juga lambat."
"Setiap kali suami saya diingatkan sesuatu tentang masa lalu ... apakah pasti selalu kesakitan?"
Fay benar-benar berharap ada cara terapi lain yang tidak harus membuat Nero kesakitan.
"Sebenarnya ... itu karena Tuan Nero terlalu berusaha keras untuk mengingat sesuatu. Ia terlalu memaksakan diri untuk bisa segera pulih."
*****
Nero kecil berlari riang menyusuri taman. Di belakang ada seorang perempuan paruh baya berparas cantik tengah berlari mengejarnya. Di benak Nero kecil, perempuan itu adalah sang ibu.
"Mama ... ayo tangkap Nero!" teriak Nero kecil dengan semangat.
Perempuan cantik yang mengejar Nero hanya tertawa manis sembari terus berusaha mengejarnya.
Nero kecil terus berlari, begitu ia mengambil tikungan di sudut rumah, langkahnya langsung memelan sebab suara langkah kaki ibunya tak lagi terdengar.
Nero kecil berbalik badan, dilihatnya sosok ibunya sudah tidak ada. Ia pun berlari ke tempat semula. Sosok ibunya seolah menghilang tanpa jejak.
Nero kecil berteriak memanggil ibunya dengan sebutan mama berkali-kali.
"Mama!" Nero terbangun duduk. Ia dapati masih berada di kamar pribadinya. Sesaat setelah menguasai keadaan, ia baru tersadar kalau itu hanya mimpi.
__ADS_1
Nero menghela nafas panjang. Diraihnya gelas air minum di atas nakas samping tempat tidur. Diteguknya air dalam gelas itu hingga tandas.
Nero melihat foto keluarga di atas nakas samping gelasnya tadi. Ia baru menyadari, wajah perempuan yang ada di mimpinya sama dengan wajah perempuan yang ada di foto.
"Apa dia benar-benar ibuku?" tanya Nero dalam hati. Ia berusaha mengenali wajah dalam foto itu. Sesaat kemudian, ia kembali mengalami rasa sakit kepala yang sangat hebat.
Kepala Nero terasa berdenyut hebat. Dicengkeramnya kepala dengan kedua tangan begitu erat. Tanpa sadar, ia kehilangan keseimbangan yang membuatnya jatuh dari ranjang. Kepalanya membentuk sudut nakas.
Duk! Tidak terlalu keras tapi cukup menyakitkan. Nero mengaduh kesakitan. Tiba-tiba beragam memori masa kecil hingga ia dewasa terlintas di pikirannya.
Beberapa menit kemudian, pusingnya mereda. Nero yang tertelungkup di atas lantai, bangkit duduk. Ia mulai mengingat siapa dirinya dan juga semua anggota keluarganya.
Ia berdiri, berjalan keluar kamar menuju kamar ayahnya. Diketoknya pintu kamar. "Pah! Papah!" panggil Nero dengan suara setengah berteriak.
Danu membuka kamar dengan tergesa. Dari cara Nero memanggilnya, ia yakin anaknya mulai bisa mengingat dirinya.
"Kamu ingat siapa saya, Nero?" tanya Danu antusias begitu membuka pintu kamar dan berhadapan dengan Nero.
Nero mengangguk senang. "Iya, saya ingat semuanya."
"Ceritakan, apa saja yang kamu ingat?"
Nero memberitahu Danu kalau dia ingat identitasnya. Nama lengkap, tanggal lahir, hobi, perjalanan pendidikan dan karir, semua anggota keluarga Adhitama, dan juga kejadian kecelakaan itu.
"Ingatan kamu sudah pulih, Mas?" Fay berjalan mendekat. Saat ia hendak ke dapur, tak sengaja ia mendengar percakapan Nero dan ayahnya.
Nero melihat kehadiran Fay hanya terdiam. Ia seperti terkejut. Danu melihat ekspresi anaknya mulai menjadi khawatir.
"Nero, kamu tidak kenal siapa dia?" tanya Danu perlahan.
Nero menatap Fay dengan seksama. Beberapa saat kemudian, ia kembali menatap Danu.
"Dia ... istri saya, Pa." Danu menjawab dengan enggan.
Fay mendengar jawaban Nero seketika tersenyum lebar. Matanya berkaca-kaca.
"Kamu beneran ingat aku, Mas?" Fay berjalan mendekat.
Nero mengangguk. "Pah, saya masih sedikit pusing. Boleh saya istirahat di kamar dulu? Nanti saat makan siang, saya pasti turun."
__ADS_1
"Fay, antar suami kamu!" perintah Danu.
"Nggak usah. Saya bisa sendiri," tolak Nero halus. Ia melenggang melewati Fay, kembali ke kamarnya.
"Aku antar, Mas," ujar Fay menahan langkah Nero. Mau tidak mau, diikutinya kemauan Fay.
Begitu memasuki kamar, Nero melepas rangkulan tangan Fay sedikit kasar.
"Saya lelah, sebaiknya kamu keluar," ujar Nero sedikit ketus.
Fay termangu. Ia merasa ada yang tidak beres. Bukan seperti ini yang dia harapkan saat ingatan Nero pulih. Dia sudah sangat merindukan kasih sayang suaminya.
"Kenapa aku harus keluar, Mas?" tanya Fay tidak mengerti.
"Kamu tuli atau gimana?" Nero mendelik tajam menatap Fay. Tidak ada tatapan hangat sama sekali. Tatapannya sangat persis ketika keduanya baru saja melangsungkan pernikahan.
"Mas, kamu ingat siapa aku, kan?" tanya Fay mencari kepastian.
"Sangat ingat, saudari Jesslyn Fay Edre. Putri tunggal Arya Bramantio Edre. Berdasarkan keinginan kedua mendiang ibu kita, saya dan kamu harus menikah."
Jawaban Nero membuat Fay terperangah. Firasat buruk di pikirannya sepertinya memang menjelma jadi nyata.
"Ya Tuhan, jangan-jangan Mas Nero mengingat memori tentang kita hanya di awal pernikahan saja. Sepertinya ada memori yang terlewat," batin Fay cemas.
Nero menatap tajam Fay. "Jangan harap hanya karena saya kecelakaan, masa kontrak pernikahan kita jadi kamu lupakan."
"Tapi, Mas. Ada hal yang mesti kamu ingat lagi. Perjalanan pernikahan kita belum sepenuhnya kamu ingat semua."
Nero tersenyum sinis. "Perempuan kalau sudah mempunyai maksud dan tujuan, pasti nekat melakukan segala cara termasuk memanfaatkan musibah orang lain."
Fay mengerutkan kening. "Maksud Mas apa? Aku nggak ngerti arah pembicaraan kamu."
Nero tertawa sinis. "Sudahlah, Fay." Ia berjalan lebih mendekat ke Fay dengan tatapan tajam mengerikan. Melihat itu, bulu kuduk Fay seketika merinding.
"Tuhan ... aku lelah ... kenapa berlanjut menjadi seperti ini? Haruskah mengulang masa manyakitkan?" bisik Fay dalam hati.
"Seharusnya kita sudah bercerai. Tapi, saya masih berbaik hati untuk menundanya, sampai Widi kembali ke Indonesia."
Mendengar nama Widi kembali disebut, hati Fay benar-benar lelah. Kenapa perempuan j*l*ng itu selalu hadir di tengah-tengah kehidupan mereka.
__ADS_1
"Mas sebaiknya istirahat, aku yakin kalau ingatan Mas sudah pulih sepenuhnya, Mas pasti menyesal telah bersikap seperti ini padaku." Fay langsung berjalan keluar kamar meninggalkan Nero. Dia butuh ruang untuk bernafas.
"Aku harus bertanya pada papa." Fay bergegas menemui Danu di kamarnya.