Air Mata Istri Setia

Air Mata Istri Setia
I Love You, Fay


__ADS_3

"Aku butuh waktu sendiri, Mas. Tolong ngertiin aku." Fay menutup pintu kamar miliknya. Ia tidak mengijinkan Nero ikut masuk ke dalam.


Arya Bramantio yang melihat sikap anaknya cukup memahami. Ia berjalan mendekati Nero. Dirangkul pundak menantunya itu, diajaknya duduk di ruang keluarga.


Keduanya duduk bersandingan selayaknya ayah dan anak. "Kalau sedang sedih, Fay memang cenderung lebih senang menyendiri. Paling tiga hari. Tunggu saja, nanti pasti dia sendiri yang akan mencari kamu."


"Sekali lagi, Nero minta maaf Pa. Sudah lalai menjaga Fay. Harusnya waktu itu ..."


Arya menepuk bahu Nero bijak. "Sudah ... tidak perlu diteruskan. Semua sudah takdir. Tidak ada yang bersalah, kamu juga tidak salah."


"Terima kasih, Pa."


Arya melihat jam dinding, waktu sudah menunjuk jam 10 malam. Pantas saja ia mulai mengantuk. Nero ikut melihat jam dinding. Ia hapal betul kebiasaan mertuanya.


"Papa istirahat saja. Sudah waktunya jam istirahat. Nero masih belum ngantuk."


"Ada banyak kamar di sini. Kamu tinggal pilih. Kecuali ... kamar itu." Arya menunjuk kamar Fay. "Si empunya masih galak banget."


Nero tertawa kecil. "Iya, Pa."


*****


Ctik! Nero menyalakan sebatang rokok di teras belakang. Kira-kira sudah batang ketujuh. Ucapan Fay soal perasaan cinta dan perceraian membuatnya tidak bisa tidur. Pikirannya kalut.


Berkali-kali Nero mengatakan pada diri sendiri, harusnya dia senang. Sejak awal pernikahan, justru dia yang ingin bercerai.


Tapi entah kenapa saat kata-kata itu meluncur dari mulut Fay, dadanya sesak. Rasanya sangat ngilu. Ia tidak rela kata-kata itu keluar dari mulut Fay.


Beberapa kejadian kembali terlintas. Usaha keras Fay membantunya lepas dari Widi, kesabaran Fay merawat saat ia sakit, kerelaan Fay mengandung anak mereka.


Semua itu Fay lakukan dengan ikhlas meski ia memperlakukan Fay dengan kejam.


Tiba-tiba Nero menemukan satu hal yang ia rindukan dari Fay. Sikap manis Fay kepadanya. Sejak kehilangan bayi mereka, Fay selalu menatapnya dingin.


Membayangkan hubungan mereka berakhir, membayangkan tidak lagi bersama Fay, tiba-tiba saja membuatnya takut.


Nero memandang jendela kamar Fay yang tiba-tiba menyala. Tampak bayangan siluet hitam tengah berjalan melintas. Nero hapal betul, itu sosok Fay.


Ia perhatikan terus kamar Fay. Sesaat kemudian, bayangan itu tampak mendekati jendela. Fay menyibak sedikit tirai.


Kedua mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Tanya sebentar sebab begitu melihat Nero, ia kembali menutup tirai. Lampu kamar kembali padam.


Nero menghembuskan asap rokok yang ia hirup dalam-dalam.


*****


Nero terpaksa menuruti saran ayah mertuanya untuk pulang ke rumah tanpa Fay. Selama ia di sana, Fay tidak mau keluar kamar. Ia juga mogok makan.


Nero kembali menyibukkan diri di kantor, berharap sedikit lupa dengan permasalahan ini. Ia hanya bisa bersabar sampai batas waktu yang telah disepakati.


"Resta, saat istri kamu marah, apa yang kau lakukan?"


Resta heran dengan pertanyaan atasannya itu. "Tumben Anda bertanya seperti itu."


"Memangnya kenapa?"

__ADS_1


Resta berdeham panik, merasa tidak enak dengan tatapan tajam Nero. "Saya hanya sedikit terkejut dengan pertanyaan Anda."


"Lupakan saja."


"Berdasarkan pemahaman saya, perempuan sangat senang diberi sesuatu, terutama saat mereka sedang marah."


Nero ganti mengernyit ke arah Resta.


"Perempuan suka diberi bunga, boneka, coklat atau perhiasan."


"Ide yang bagus. Belikan semua hadiah yang kamu sebutkan itu, lalu kirim ke rumah mertua saya. Berikan pada Fay."


"Baik, Tuan." Resta permisi keluar ruangan dengan heran. Tapi ia tetap laksanakan perintah itu.


*****


Sore harinya saat Nero baru saja tiba di rumah, ia mendapati bunga, boneka, coklat, dan sekotak perhiasan sudah ada di meja ruang tamu.


Mengira Fay sudah pulang, ia bergegas mencari Fay ke kamar. Saat hendak melangkah menuju tangga, ia mengurungkan niatnya. Matanya tertuju pada secarik amplop di atas meja.


Penasaran, ia buka amplop itu. Rupanya dari Fay.


****JANGAN PERNAH MEMBERIKU HAL-HAL BODOH SEPERTI INI LAGI. KARANGAN BUNGA? KAU PIKIR AKU SUDAH MATI? BONEKA HANYA UNTUK ANAK KECIL. BADANKU SUDAH TERLALU GEMUK UNTUK MAKAN COKLAT. DAN LAGI, AKU BISA BELI PERHIASAN SENDIRI. AMBIL SEMUA HADIAH INI. AKU NGGAK SUDI! CUKUP BERI AKU SURAT CERAI****.


Nero menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia kesal bukan main. "Saya sudah bilang, tidak ada pembicaraan perceraian sebelum kamu sembuh, Fay!" omelnya kesal.


Ia langsung menekan nomor Resta di HP miliknya.


📞 "Iya, Tuan."


"Saran kamu gagal Resta. Kamu yang benar beri solusinya!"


"Dari internet? Kamu ini dungu atau apa?"


📞 "Maaf, Tuan. Anda seharusnya juga ingat kalau saya juga belum pernah berumah tangga. Bagaimana mungkin saya tahu jawabannya dengan akurat."


Nero menepuk jidatnya. Ia baru ingat kalau asistennya ini jomblo lapuk. Geram, ia matikan telpon.


*****


Nero terus berpikir selama Fay masih berada di rumah orang tuanya. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa agar mendapat kelembutan Fay lagi.


"Apa perlu kontrak itu batal?" gumam Nero. Mengingat perasaan Fay telah berubah, ia sedikit ragu. Pasti Fay sangat menginginkan perceraian itu secepatnya.


Nero berjalan memasuki kamar yang biasa Fay tempati untuk tidur. Ia memandang sekeliling perlahan. Kamar itu terasa sepi tanpa Fay.


Tanpa sengaja ia melihat selembar kertas foto yang terselip di bawah bantal tidur Fay.


"Sepertinya itu kertas foto, foto siapa itu?" Nero berjalan mendekat ke ranjang. Diambilnya foto yang terselip di bawah bantal itu.


Foto pernikahannya bersama Fay. Foto yang diambil usai mereka mengucapkan janji pernikahan di depan altar.


Di balik kertas itu terdapat tulisan tangan milik Fay.


Aku menyerah Tuhan. Kebahagiaan Mas Nero adalah tidak bersamaku sebab dia tidak pernah mencintaiku. Aku mohon, izinkan kami bercerai.

__ADS_1


"Fay ingin bercerai sebab perkataan soal perasaan saya yang tidak mencintai dia," gumam Nero pelan.


Nero terdiam. Perasaannya seolah membisikkan banyak hal tentang kesetiaan Fay yang hadir di saat ia butuh seseorang.


"Sorry, Fay." Nero berjalan keluar kamar. Ia raih kunci mobil dan jaket. Secepatnya melaju meninggalkan rumah menuju ke tempat dimana Fay berada saat ini.


*****


Tok Tok Tok! Nero terus mengetuk kamar Fay. Ia tahu kalau istrinya itu ada di dalam. Arya tengah berada di galeri. Saat ini Fay hanya sendiri di rumah.


"Fay, saya tahu kamu ada di dalam."


Hening, tidak ada sahutan sama sekali.


"Fay, saya tahu saya salah. Saya bodoh selama ini. Sorry, Fay. Saya harap, masih ada satu kesempatan untuk saya. Tolong keluar Fay. Saya ingin bicara hal penting tentang kita."


Masih tetap hening, tidak ada sahutan sama sekali dari Fay.


"Sampai kapanpun, saya tidak ingin kita cerai. Kita lupakan saja kontrak pernikahan sialan itu. Saya tidak bisa jauh dari kamu, Fay. Saya salah menilai perasaan saya selama ini. Saya ... saya mencintai kamu, Fay."


Kamar Fay tetap hening. Sama sekali tidak ada sahutan.


"Mas Nero, kamu ngapain di depan kamar papa?"


Nero menoleh ke belakang, tampak Fay berdiri heran menatap keberadaannya. Ia kembali menatap pintu kamar yang sedari tadi ia ketuk.


Menyadari itu bukan kamar Fay, membuatnya merasa bodoh dan malu. "Sial," rutuknya dalam hati. Rasa panik membuat dia tidak memperhatikan kalau sedari tadi salah ketuk kamar.


"Kamu ngapain kesini Mas?" tanya Fay.


Nero sedikit terperangah melihat tampilan Fay. Tangan kanannya sudah bergerak bebas. Tidak lagi dibalut gips. Wajah Fay tampak lebih cerah.


"Kamu sudah pulih, Fay. Saya senang melihat kondisi kamu sekarang," ujar Nero senang. Ia berjalan mendekat, memeluk Fay erat.


"Lepasin, Mas." Berontak Fay tidak nyaman.


Nero menggeleng kuat. "Tidak Fay. I miss you. Please, jangan tinggalkan saya."


"Mas, bukannya kamu sendiri yang ingin kita cerai dari awal?" isak Fay.


"Sorry, saya keliru Fay. Kehilangan kamu akhir-akhir ini buat saya sadar. Saya ... saya ... tidak bisa tanpa kamu."


Nero merenggangkan pelukannya. "I love you, Fay."


Fay kebingungan dengan pernyataan cinta itu. "Kamu sakit, Mas?"


Nero menggeleng pelan. Kali ini ia terisak, air matanya menetes. "Saya sangat sehat. I love you, Fay. Jangan cerai ya, sayang."


Fay melihat ketulusan di mata Nero. Hatinya seketika ikut menghangat.


"Saya janji, mulai hari ini kita adalah pasangan sesungguhnya. I love you."


"Sumpah?"


Nero mengangguk. "Mau ya?"

__ADS_1


Perlahan, Fay menganggukkan kepalanya. "Mau, Mas."


Keduanya berpelukan mesra. Tanpa sepengetahuan mereka, Galen yang hendak memberikan Fay kejutan sarapan, terdiam menatap dari jauh. Diam-diam ia berlalu pergi.


__ADS_2