
Kehidupan Nero sudah kembali seperti semula. Setiap hari ia habiskan waktunya hanya untuk bekerja. Semua pekerjaan yang terbengkalai berusaha ia selesaikan secepatnya. Ia juga sangat sering lembur.
Fay dan Nero masih belum kembali ke rumah pribadi mereka. Danu meminta agar mereka berdua tetap tinggal di rumah itu sampai semua kerjaan Nero yang tertunda selesai dikerjakan.
Sesuai perkiraan Danu, anak sulungnya itu akan segera menyelesaikan tugasnya besok. Itu artinya, lusa Nero dan Fay sudah dapat dipastikan akan meminta pulang ke rumah pribadi mereka. Rumah yang mereka sebut White Land.
"Mas ... aku harus bicara ... ini penting," ujar Fay begitu melihat Nero berjalan hendak menuju kamar.
Nero menghentikan langkahnya, memandang sinis wajah Fay. "Ada apa?"
"Aku hamil," jawab Fay to the point tanpa basa-basi.
Nero mengerutkan kening, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. "Apa?" tanya Nero ingin memastikan pendengarannya.
"Aku hamil, Mas." Fay mengulang jawabannya sekali lagi.
"Damn ..." gumam Nero kesal. Ia tampak sangat tidak bahagia.
"Aku ingin malam ini kamu umumkan ke semua orang soal kehamilanku, Mas."
Mendengar permintaan Fay, pria itu hanya diam. Ia tampak memikirkan sesuatu. Tapi jelas terlihat dari wajahnya, ia tidak begitu menyukai kabar itu.
"Aku tahu pada akhirnya kamu pasti keberatan dengan kehamilanku. Sebagai istri kontrak, aku ngerti." Fay berujar demikian lalu beranjak pergi meninggalkan Nero dengan hati kecewa.
"Nanti setelah makan malam, kita umumkan kehamilan kamu."
Kata-kata Nero menghentikan langkah Fay, ia berbalik menatap wajah Nero mencari kepastian.
"Saya tidak mencintai kamu, bahkan sangat membenci. Tapi, bayi itu darah daging saya. Dia tidak bersalah. Kita akan pastikan anak itu mendapatkan hak hidup layak sesuai standar keluarga Aditama."
****
mengabarkan kabar kehamilan kepada Nero sebelum ke keluarga yg lain.
reaksi Nero msh bersikap dingin. Dengan santai dia mengeluarkan surat kontrak pernikahan keduanya.
Rupanya Nero dapat dari asistennya.
Kalimat yang Nero ucapkan. "Malam ini kita umumkan kehamilan kamu ... tapi ingat, perjanjian tetapi berlaku. begitu anak ini lahir... kita cerai."
__ADS_1
***
Makan malam berjalan seperti biasa. Hanya saja kali ini Galen tidak datang. Ia ada kerjaan di Bogor sampai minggu depan. Di meja makan hanya menyisakan Danu, Nero, dan Fay.
Nero lebih banyak membahas seputar bisnis dan kerja dengan ayahnya. Sementara Fay hanya diam, berusaha menikmati makam malam miliknya.
Sepertinya bawaan janin membuatnya sedikit kehilangan selera makan. Demi kesehatan buah hatinya, ia paksakan untuk tetap makan meski hanya sedikit demi sedikit.
"Nero, sebelum makan malam tadi kamu sempat bilang ke Papa kalau mengundang ayah Fay ke sini. Ada pembicaraan penting apa?"
Fay langsung mengalihkan pandangannya dari makanan ke wajah Nero dan Danu bergantian. Ia tidak menyangka ayahnya akan dihadirkan juga malam ini.
"Nanti saja kalau papa Arya sudah tiba. Kita selesaikan dulu makan malam kita dengan santai."
Danu memilih mengalah dan melanjutkan kembali makan malamnya. Saat ia menatap wajah Fay, menantunya itu hanya tersenyum. Mengisyaratkan bahwa ia tidak terlibat dalam rencana Nero.
Ketiganya melanjutkan makan malam dengan santai. Sesekali Nero dan ayahnya kembali membicarakan soal pekerjaan.
*****
"Papa ..." Fay berjalan mendekati papanya begitu yang ditunggu tiba. Ia berjalan beriringan dengan ayahnya menuju ruang keluarga.
Danu dan Nero sudah menunggu di ruang keluarga. Mereka menyambut ayah Fay dengan hangat.
"Sejujurnya saya merasa heran. Secara tiba-tiba menantu kesayangan saya menelfon, meminta untuk datang ke rumah. Ada kabar penting yang harus saya tahu, tapi tidak bisa ia jelaskan lewat telfon, harus bertemu." Arya membuka pembicaraan.
"Ambil tes kehamilan kamu," bisik Nero pada Fay. Sebisa mungkin ia tidak menarik perhatian kedua ayah mereka.
Fay mengangguk paham. Ia segera beranjak menuju kamar miliknya. Hatinya sangat bahagia sebab reaksi Nero masih tetap manusiawi.
Sekembalinya dari kamar, ia menyerahkan hasil tes itu pada Nero secara diam-diam tanpa diketahui ayah mereka.
"Malam ini, Nero dan Fay ingin mengabarkan tentang satu hal yang kita nantikan selama ini." Nero membuka percakapan lagi.
Danu dan Arya saling berpandangan, mata mereka mengisyaratkan pertanyaan. Keduanya tidak mengerti, apa yang mereka nantikan di mata anak mereka.
"Maksud kamu apa Nero? Kami tidak paham." Danu merespon ucapan Nero dengan mengangkat kedua bahunya.
Nero mengeluarkan hasil kehamilan yang ia dapatkan dari Fay. "Silakan baca sendiri." Diserahkannya tes itu kepada Danu.
__ADS_1
Danu menerima dengan penuh tanda tanya. Ia baca sekilas, lalu ia serahkan kepada Arya dengan sumringah. "Baca sendiri," ujarnya kepada Arya.
Giliran ayah Fay yang membaca, sesaat kemudian ia juga ikut sumringah.
"Selamat, Anda akan segera menyandang status kakek." Nero tersenyum senang.
Danu dan Arya langsung memeluk Nero dan Fay bergantian. Ini memang menjadi kabar yang luar biasa bagi keduanya.
Setelah harapan mereka pupus memiliki cucu sebab kecelakaan yang Fay alami, kini harapan itu muncul kembali.
"Maaf, Pa. Kali ini Fay tidak hamil kembar," ujar Fay takut mengecewakan. Sebab keduanya berharap memiliki cucu kembar.
Danu langsung memeluk kembali Fay. "It's okay sayang. Apapun itu, kembar arau tidak, cowok arau cewek, kaki terima. Bisa mempunyai cucu, sudah sangat membahagiakan bagi kami. Betul kan, Arya?"
Papa Fay mengangguk senang. Ia membetulkan ucapan sahabat sekaligus besannya itu. Mendengar ucapan itu, Fay bernafas lega.
"Kamu kali ini harus mempunyai asisten penjaga, Fay. Papa tidak mau kamu pergi sendiri. Jangan sampai tragedi kemarin kembali berulang. Kami tidak mau kehilangan calon cucu untuk kedua kali."
Kali ini Fay tidak bisa berkutik dengan ucapan Danu. Ia juga tidak ingin mengalami kehilangan anak untuk kedua kali. Ia mengangguk patuh dengan perkataan ayah mertuanya.
Danu tersenyum lega, begitu juga dengan Arya. Nero yang melihat situasi itu dalam hati penuhi dengan tanya.
Memori ingatannya hanya menyakinkan dirinya bahwa ia tidak mengurai Fay, sebab pernikahan merekah adalah keterpaksaan. Tapi, dalam Ku buk hati terdalamnya, ia sangat menyukai senyum Fay.
"Mas Nero, selama aku hamil, kita tinggal di rumah papa aja, ya," pinta Fay penuh harap.
Arya dan Danu langsung mendukung permintaan Fay. Mengingat kesibukan Nero yang luar biasa padat, Fay pasti akan kesepian di rumah saja.
"Itu ide yang bagus, Nero. Papa harap kamu setuju." Danu menatap Nero dengan senyuman.
Setelah berpikir beberapa saat, Nero mengangguk mengiyakan. " Nero tidak keberatan, Pa. Selama tidak menyusahkan saja."
"Itu sudah jelas tidak menyusahkan. Jangan bicara seperti orang asing, Nero. Ini rumahmu juga," ujar Danu lagi.
Di balik senyum bahagia Fay dengan persetujuan Nero untuk membuat mereka tetap tinggal di rumah papa Danu, sebenarnya ia sangat paham kalau suaminya itu mengiyakan dengan terpaksa.
Jelas terlihat ia sempat beradu mata walau sekilas, suaminya sedikit melotot padanya. Tapi Fay tidak peduli. Ia lelah beradu argumen dan juga melewatkan suasana tidak menyenangkan lainnya jika ia harus kembali ke White Land dan hanya berdua dengan Nero.
"Sebisa mungkin aku tidak akan membiarkan kamu bertemu dengan Widi. Aku tidak ingin kamu pergi dari hidup aku. Jika ingatan kamu pulih sepenuhnya, aku yakin ... kamu akan kembali mencintaiku sepenuhnya," batin Fay yakin.
__ADS_1