Air Mata Istri Setia

Air Mata Istri Setia
Bertemu Masa Lalu


__ADS_3

Dekorasi pesta bernuansa merah muda, sesuai keinginan Fay. Malam ini, di rumah White Land, keduanya sepakat merayakan pernikahan mereka yang memasuki usia dua tahun.


Rasa syukur bagi mereka berdua. Momen seharusnya berakhirnya pernikahan mereka sesuai perjanjian. Kini berganti cerita. Perayaan kebahagiaan sebab cinta benar-benar tumbuh di hati keduanya.


Semua kolega bisnis Nero datang memeriahkan acara. Teman-teman Fay sesama kurator, pelukis, juga turut hadir.


Galen hadir bersama Danu Adhitama. Ayah Fay juga turut serta. Proses pesta berjalan sangat mewah. Fay tampak cantik dengan balutan gaun warna merah muda dipadukan dengan warna putih.


Sementara Nero menggunakan jas tuxedo warna hitam. Ia sangat tampan malam ini.


"Terima kasih untuk semua ucapan selamat dan doanya bagi pernikahan kami berdua, selamat menikmati pestanya, cheers!" Nero mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, diikuti semua orang yang ada di pesta.


Galen menatap lega kedua pasangan yang kini memang telah resmi menikahkan hati mereka.


"Setidaknya ... gue yakin loe bisa bahagia ... bahagia yang sesungguhnya ..." gumam Galen dalam hati. Ia berjalan menjauh, memilih menyendiri.


"Nggak nyangka, bukannya di pengadilan buat cerai ... malah berakhir di pesta ... yang ... sumpah ini istimewa banget, Mas. Thanks ya," Fay tersenyum bahagia menatap dekorasi pesta sesuai keinginannya.


"Buat kamu, saya akan berikan yang terbaik, Fay. I love you."


Fay melipat kedua tangannya di dada, menghadap ke Nero. "Sejak Mas ngaku kalau jatuh cinta sama aku, jadi rajin banget bilang cinta, Ya?"


Nero tersenyum malu. Ia benar-benar baru menyadari hal itu.


"Tapi aku seneng, Mas." Fay meraih kedua tangan Nero. "I love you, Mas."


*****


Hari-hari berjalan sesuai mimpi Fay. Bangun pagi mendapati masih dipeluk Nero. Pelan-pelan ia bangkit dari ranjang, turun ke dapur, menyiapkan sarapan.


Keduanya menikmati sarapan sembari berbincang santai. Suasana sangat menyenangkan, Fay dan Nero saling bercanda.


Siangnya, terkadang Nero menyusul Fay untuk makan siang. Kadang juga sebaliknya. Fay yang menyusul ke kantor.


Malam hari menjadi acara paling seru. Kadang nonton ke bioskop, dinner romantis, melewatkan malam panas di berbagai tempat, dan yang pasti, keduanya selalu bahagia.


*****


"Hari ini kamu handle meeting. Saya harus menyiapkan kejutan untuk Fay. Hari ini dia ulang tahun."


Resta mengangguk patuh, wajahnya sumringah mendengar Fay ulang tahun. "Bolehkah Saya menitipkan sesuatu, Tuan?"

__ADS_1


"Apa itu?"


Resta mengeluarkan satu kotak bungkus kado dari dalam tas kerja miliknya. "Saya ingin memberi kado sebagai ucapan selamat ulang tahun untuk istri Tuan."


"Sepertinya saya kalah cepat sama kamu. Ini tidak menyenangkan." Nero pura-pura cemberut.


"Bukan maksud melangkahi Tuan ... saya ..." Resta mendadak panik, ia takut membuat Nero tersinggung.


"Tenang saja Resta." Nero tertawa kecil. "Saya hanya bercanda. Letakkan kado itu di meja. Saya akan berikan pada istri saya."


"Terima kasih, Tuan." Resta tersenyum lega.


*****


Nero berjalan masuk ke toko kue langganan Fay. Ia berniat membelikan kue ulang tahun sebagai bagian dari kejutan.


Kebetulan siang itu toko tidak terlalu ramai. Nero bisa memilih kue ulang tahun dengan leluasa.


Setelah keliling etalase, ia merasa tidak ada yang cocok. Seorang pelayan toko datang menghampiri, menawarkan Nero untuk memilih desain kue sesuai keinginannya.


"Apa boleh Saya pilih sendiri kuenya?" tanya Nero memastikan sekali lagi tawaran pelayan toko itu.


"Sangat bisa, Tuan. Silakan ikut saya." Pelayan toko yang tampak masih muda itu berjalan menuju salah satu meja yang ada di sudut toko.


Desain kue di katalog jauh lebih menarik menurutnya. Ia pun memilah beberapa halaman dan akhirnya menemukan satu desain yang cocok.


Kue ulang tahun dengan tema warna merah muda, berdesain bunga mawar sederhana yang cantik dengan taburan mutiara.


"Tolong, masukkan kotak hadiah ini di dalam kue. Saya ingin berikan kejutan untuk istri tercinta di rumah. Hati-hati, jangan sampai hilang. Hadiah itu hanya ada satu. Cincin permata design custom."


"Pasti istri Tuan sangatlah istimewa. Baik, kami akan memberikan pelayanan yang terbaik."


"Dimana saya harus mengurus pembayarannya?"


"Silakan ke kasir, Tuan. Saya akan siapkan kue Anda. Setelah melakukan pembayaran, Anda bisa tunggu sekitar dua jam."


"Masih lama, ya. Begini saja. Saya masih harus mencari kado lain. Dua jam lagi saya kembali."


"Baik, Tuan."


Nero bergegas menyelesaikan pembayaran dan pergi meninggalkan toko kue menuju toko selanjutnya. Ia ingin membeli sebuket bunga untuk Fay.

__ADS_1


Kebetulan toko bunga itu berada tidak terlalu jauh dari toko kue tadi.


"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu," sapa penjual toko bunga ramah.


"Saya ingin sebuket bunga mawar putih yang besar. Saya ingin berikan untuk hadiah ulang tahun istri saya. Rangkaikan yang paling indah."


"Baik, Tuan. Silakan ditunggu sebentar."


"Mas Nero ..." panggil seorang perempuan dari belakang. Tanpa menoleh pun Nero sangat hafal dengan suara itu.


"Mas ... tumben di sini?"


Nero tetap diam. Ia sangat malas melihat pemilik suara itu.


Tiba-tiba badannya ditarik menghadap ke belakang. Mau tidak mau, ia harus berhadapan dengan si pemanggil itu.


"Jangan sombong gitu, Mas. Aku tahu, hubungan kita sudah berakhir. Tapi, aku harap kita tidak bermusuhan." Widi tersenyum sesantai mungkin.


"Kamu ngikuti saya, ya?" Nero menatap tajam wajah Widi.


"Santai, Mas. Aku juga nggak nyangka bakal ketemu kamu di sini. Kebetulan ini toko langganan aku kalau beli bunga. Ya ... baru akhir-akhir ini aku sering ke sini buat beli bunga."


Nero tetap diam, ia masih tidak percaya dengan ucapan Widi barusan. Berkali-kali perempuan di hadapannya itu membohonginya. Pantas kalau Nero tidak lagi bisa percaya.


"Fay apa kabar? Kalian benar-benar saling mencintai sekarang?"


"Bukan urusan kamu."


"Tuan, bunga yang Anda pesan sudah jadi," penjual toko bunga datang menghampiri keduanya dengan sebuket bunga ukuran besar di tangannya.


"Terima kasih," ucap Nero lega. Ia pun bergegas meninggalkan toko. Ia sangat malas bertemu kembali dengan Widi.


"Mas! Kunci mobilmu jatuh!" teriak Widi begitu menyadari kunci mobil Nero terjatuh tepat di depannya saat Nero melangkah pergi melewatinya.


Rupanya Nero tidak mendengar. Ia bergegas pergi begitu saja menyeberang jalan sebab mobil ia parkir di seberang jalan.


Rasa kesal membuat Nero tidak hati-hati dalam menyeberang. Hampir saja ia tertabrak mobil. Begitu tiba di dalam mobil, ia baru tersadar kalau kuncinya tidak ada di saku mobil.


Nero semakin kesal saat melihat di depan toko bunga, sosok Widi mengacungkan kunci mobil miliknya.


Ia pun bergegas berjalan menghampiri Widi. Tapi tiba-tiba pandangannya gelap. Entah berapa meter ia terpental. Sesuatu benda keras menghantamnya dari samping sangat keras.

__ADS_1


Widi teriak histeris mendapati sosok Nero terkapar tidak sadarkan diri usai terlempar beberapa meter di jalan.


"Halo, ada kecelakaan di sini Pak." Penjual toko bunga itu langsung menghubungi nomor darurat, meminta pertolongan.


__ADS_2