
Fay dan Nero menikmati makan malam romantis mereka untuk pertama kali. Setelah ungkapan cinta dari Nero, keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah mereka sendiri.
Malam itu, dengan bantuan Resta, Nero sengaja memberikan kejutan makan malam romantis di teras belakang rumah.
Keduanya berdansa, menikmati alunan musik romantis. Fay sangat bahagia dengan kejutan yang diberikan Nero.
Malam itu juga, keduanya sepakat merobek kertas bertuliskan kontrak pernikahan mereka. Keduanya berjanji menjaga pernikahan sampai kapanpun, sampai maut memisahkan.
"I love you, Fay," bisik Nero mesra tepat di telinga Fay saat keduanya tengah berdansa.
"I love you too, Mas."
*****
Fay berjalan di antara kabut malam. Tempat itu sangat gelap. Ia terus berjalan tanpa arah. Sayup-sayup terdengar suara memanggilnya mama. Suara bayi laki-laki.
Fay terus bergerak mengikuti arah suara. Tak lama muncul dua sosok bayi kembar berjalan mendekat. Mereka memiliki wajah yang sangat mirip dengan Nero.
Air mata Fay mengalir deras. Kata hatinya mengatakan kalau kedua sosok itu adalah anaknya. Ia peluk sosok itu dengan erat.
Saat kedua bayi melepaskan pelukan Fay, mereka berdua menyeka air mata Fay.
"Jangan sedih, Mama," ujar kedua bayi itu bersamaan.
Fay memejamkan matanya. Saat ia membuka kembali matanya, ia telah mendapati dirinya tengah berbaring tidur. Disampingnya tampak Nero masih tertidur pulas.
Menyadari hanya mimpi, Fay menangis sesenggukan. Nero yang mendengar suara tangisan Fay, akhirnya terbangun.
"Sayang ... kamu kenapa?"
"Aku mimpi, Mas. Dua bayi kita ... mereka datang di mimpiku. Aku peluk mereka, mereka usap air mata aku. Terus bilang jangan sedih mama. Wajah mereka mirip sekali sama kamu, Mas."
Nero memeluk hangat istrinya. "Hanya mimpi, Fay. Barangkali mereka rindu sama kamu. Besok kita ke makam, ya?"
"Tapi aku belum siap, Mas. Aku belum siap melihat mereka dalam wujud nisan," rengek Fay sedih.
"Banyak doa, Fay. Cepat atau lambat, kamu harus terima kenyataan, kalau mereka sudah dipanggil Tuhan."
Di malam berikutnya, Fay kembali bermimpi didatangi anaknya. Kali ini kedua bayi itu mengatakan rindu.
"Kangen, Ma."
Fay kembali terbangun dan menangis. Mimpi kedua itu membuatnya tergerak untuk mendatangi makam kedua bayinya.
__ADS_1
Nero mengangguk haru mendengar Fay mau pergi ke makam kedua anak mereka.
*****
Hari ini Nero sengaja meluangkan waktunya untuk menemani Fay pergi ke makam kedua bayi mereka.
Beberapa orang tampak sedang melakukan ziarah juga. Nero membuka pintu mobil untuk Fay. Dia tersenyum pada Fay, memberinya kekuatan.
Ragu-ragu Fay melangkahkan kaki turun dari mobil. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia ambil nafas panjang, dirangkulnya lengan Nero sebelum melangkah masuk area pemakaman.
Keduanya tiba di depan makan ukuran kecil. Tanahnya mulai mengering, bunga-bunga mawar dan kenanga yang ditabur diatasnya terlihat masih segar.
"Kemarin papa Danu ke sini." Nero mengajak Fay bersimpuh sembari menjelaskan soal bunga segar di atas makam anaknya.
"Sayang, ini Papa. Datang sama Mama," bisik Nero pada makam.
Fay membaca tulisan nama di batu nisan. Tertulis nama Nakula dan Sadewa. "Siapa yang kasih nama?"
"Sorry, waktu itu kamu masih koma. Sementara jasad bayi harus segera dikebumikan. Jadi, mau nggak mau saya yang kasih nama."
"Nama yang bagus," ujar Fay. Air matanya kembali menetes.
Fay ikut menaburkan bunga di atas pusara, sama seperti Nero. Keduanya hening untuk beberapa waktu. Mengirimkan beberapa kalimat doa untuk bayi mereka.
"Mama juga kangen kalian. Mama sayang kalian."
"Tuhan, beri tempat terbaik untuk malaikat kecil kami. Beri kekuatan istri hamba untuk hadapi semua ini. Beri rahmatMu, Tuhan." Nero mengucapkan doa dalam hati dengan sungguh-sungguh.
Tik Tik Tik. Gerimis perlahan turun. Nero mengajak Fay meninggalkan makam. Ia tidak ingin mereka kehujanan. Terutama kondisi Fay baru saja pulih.
"Next time kita kesini lagi," bisik Nero. Fay mengangguk setuju.
*****
Fay terbangun di kamar bayi mereka. Ia melihat kedua bayi mereka berbaring di ranjang berayun. Keduanya tampak ceria. Suara tawa mereka renyah terdengar.
Senyum Fay mengembang, ia berjalan mendekat. Kedua bayi tersenyum melihat wajah Fay yang tersenyum.
Perasaan bahagia itu benar-benar terasa nyata. Ia timang kedua bayinya. Tak lama terdengar suara alarm. Berdering sangat nyaring.
Fay menoleh mencari sumber suara. Tiba-tiba matanya terkena debu yang terbang tertiup angin entah dari mana.
Fay menutup mata. Begitu kembali membuka mata, ia mendapati dirinya sudah terbaring di ranjang tidurnya. Alarm HP miliknya masih terus berbunyi.
__ADS_1
Setengah malas, Fay mematikan alarm di HP miliknya. Tak lama kemudian, Nero masuk dengan nampan berisi roti tawar, selai, dan juga susu.
"Kamu nggak ke kantor, Mas?" tanya Fay heran.
"Agak siang. Saya buatkan sarapan untuk kita. Makan, yuk."
Keduanya memilih sarapan di balkon. Udara pagi masih cukup sejuk.
"Mas, aku mimpi bertemu Nakula dan Sadewa lagi. Kali ini mereka tertawa bahagia. Sangat bahagia. Suara tawa mereka masih terngiang sampai sekarang."
Nero menelan roti yang ia kunyah sampai habis. "Kata nenek, kalau mimpi bertemu anak yang sudah meninggal dalam keadaan bahagia, berarti mereka bahagia di sana."
"Mereka bahagia?"
Nero mengangguk. "Mereka ingin menunjukkan pada orang yang paling mereka sayangi kalau mereka tidak kesakitan. Mereka tidak ingin ditangisi."
Fay hening sejenak. "Iya, Mas. Perkataan Mas ada benarnya. Entah kenapa sejak bangun tadi, kalau aku terus larut dalam kesedihan, seolah aku juga membuat mereka sedih."
Nero bangkit dari duduknya, mendekati Fay, mendekapnya hangat. "Saya tahu ini berat. Tapi saya jauh lebih yakin, istriku tercinta pasti kuat menjalani ini." Dikecupnya dahi Fay lembut dan mesra.
"Iya, Mas."
"Biar tidak sedih terus, gimana kalau kita liburan?"
"Liburan?"
Nero mengangguk. "Kita ulang honeymoon pernikahan kita. Gimana?"
"Kamu bukannya sibuk urus kantor, Mas." Fay menatap wajah Nero ragu.
"Bisa saya urus. Gimana kalau minggu depan kita honeymoon selama satu minggu?"
"Seminggu? Pergi kemana?"
"Terserah. Kamu mau ke mana. Bali, Tokyo, Seoul ... kamu yang tentukan."
"Mmm... aku pengen ke Bali. Terutama ke Ubud. Boleh, ya?"
"Deal." Nero tersenyum menatap istrinya. Keduanya saling menatap, semakin lama jarak keduanya semakin terkikis. Kedua bibir mereka saling berpagut dengan lembut.
"Sweet desert for breakfast, honey," ujar Nero tersenyum genit begitu keduanya melepas ciuman karena ke habis oksigen.
"Meski pahit, setidaknya ada satu hal manis yang Kau beri. Cinta sejati suamiku. Terima kasih, Tuhan." Fay bisikkan doa dalam hatinya dengan rasa penuh syukur.
__ADS_1
Keduanya kembali berciuman. Kali ini lebih intim. Selanjutnya yang terjadi, tidak perlu dijelaskan detail kan ya? Pastinya pergumulan suami istri dalam balutan romansa penuh hasrat cinta.