Air Mata Istri Setia

Air Mata Istri Setia
Pahami Kontrak Pasal 3


__ADS_3

"Fay, sudah tidur?" panggil Nero dari luar kamar beberapa menit setelah ia keluar.


"Belum, Mas! Masuk aja," sahut Fay dari dalam.


Suaminya itu berjalan masuk menghampiri Fay. Kali ini ia mengambil kursi dekat meja rias, meletakkan di samping ranjang dekat Fay berbaring.


Nero duduk di kursi yang ia pindahkan itu. Dipandangnya Fay lekat-lekat.


"Jawab jujur! Vitamin dari dokter apa kamu rutin meminumnya?" selidik Nero.


Fay seketika gugup. Selama ini ia hanya pura-pura meminumnya. Faktanya, semua vitamin itu pasti ia buang. Alasannya sangat jelas, Fay enggan hamil.


Melihat Fay yang hanya diam saja, dipegangnya kedua bahu Fay. "Jawab, Fay!"


"Sorry, Mas. Vitamin itu tidak pernah aku minum ..." jawab Fay ketakutan, dari wajahnya jelas terpancar permintaan tidak disakiti.


"Yakin?" tanya Nero sekali lagi.


Fay mengangguk pelan. Nero melepaskan bahu Fay, ia usap wajahnya seolah menyayangkan sesuatu.


"Kenapa Mas?"


Meluncurlah cerita soal rencana Widi yang menginginkan Fay tidak pernah hamil anak dari Nero.


Nero mengaku kalau vitamin penyubur rahim itu sudah ia tukar dengan obat penunda kehamilan.


"Makanya saya kaget soal kehamilan kamu," tutup Nero mengakhiri ceritanya.


Fay hanya menggeleng tak habis pikir. Begitu terpaksa nya ia menikah sampai melakukan segala cara.


"Kamu cukup berhenti menyentuhku, Mas!" bentak Fay kecewa. Baginya mengonsumsi obat sembarangan bisa berdampak fatal. "Kalau obat itu berdampak bahaya buat aku gimana?"


"Itu obat hasil referensi dokter, Fay," ujar Nero menjelaskan.


"Terserah, Mas. Apapun keinginan dan usaha kamu, kenyataannya sekarang dia ada di dalam tubuhku," tandas Fay.


"Saya tetap akan bertanggung jawab sebagai suami dan ayah sampai-"


"Sampai masa kontrak kita berakhir," potong Fay menahan sabar.


Nero mengangguk mengiyakan perkataan Fay barusan.


"Baguslah! Setelah anak di dalam rahimku lahir, aku memang sangat ingin segera berpisah dari kamu, Mas."


"Sepakat." Nero mengangguk mantap memandang Fay.


*****


Esok paginya Fay dan Nero pergi ke rumah sakit dengan diantar Resta. Fay hanya diam di sepanjang perjalanan. Hatinya juga masih berat menjalani.

__ADS_1


Sebagai manusia beriman, Fay sangat sadar kalau janin di dalam tubuhnya tidak berdosa. Kehadirannya di dunia ini juga bukan keinginannya.


Setibanya di klinik kandungan, Fay diminta berbaring di tempat tidur. Perawat mengoleskan gel berwarna bening di perut bagian bawah.


Tak lupa segala peralatan USG dipersiapkan. Setelah semuanya siap, dokter memulai pemeriksaan janin milik Fay. Nero berdiri di samping Fay.


"Perkembangan janinnya bagus, sehat. Anda berdua sangat beruntung, calon bayinya kembar," ucap dokter menjelaskan sembari melihat hasil USG di layar monitor.


"Kembar, Dok?" Nero tampak terkejut. Di mata Fay ekspresi Nero jelas memperlihatkan bahwa ia sangat tidak siap memiliki bayi darinya. Satu saja belum siap apalagi dua sekaligus.


"Iya, Pak. Istri Anda mengandung janin kembar dua."


*****


Nero kehilangan nafsu bekerja. Setelah dari rumah sakit, ia meminta Fay untuk tidak ke galery. Bagi Nero, mereka harus membicarakan lebih serius soal kehamilan ini.


Kini keduanya duduk di ruang tengah.


"Sekarang Mas percaya kalau aku hamil, kan?" tanya Fay mengawali percakapan.


"Jujur saya kaget, saya nggak siap," ungkap Nero.


Fay hanya mendelik tajam. " Siapa yang punya ide selalu menggunakan obat si*lan itu saat berhubungan?"


Nero hanya mendengus kasar, ia kesal bukan main mengetahui fakta Fay tengah mengandung anaknya.


"Nasi sudah jadi bubur ... sekarang kita harus atur strategi hingga anak itu lahir. Saya mau kita pura-pura bertengkar hebat begitu anak itu lahir. Jadi, akan semakin mudah kita bercerai."


Fay kehilangan kata-kata. Bayinya belum tumbuh sempurna, belum lahir. Nero sudah membicarakan terkait perceraian. Ia hanya menggeleng melihat sisi ego Nero yang tinggi.


"Terserah, Mas! Satu hal yang aku pikirkan saat ini adalah soal Kamu dan kontrak pernikahan kita! Aku mau ada perjanjian baru sebab kondisi sekarang sudah berbeda."


Nero memicingkan matanya menatap Fay. "Perjanjian baru apa maksud kamu?"


"Perjanjian yang akan memudahkan aku menjalani masa kehamilan ini hingga lahiran nanti."


"Jelaskan!"


"Bentar, Mas. Boleh minta tolong ambilkan air minum? Aku haus, badanku lemes banget mau jalan sendiri."


Nero diam tak bergeming mendengar permintaan Fay. Membuat perempuan itu kesal.


"Aku pasti jelaskan tapi setelah minum, aku haus, Mas!"


Mau tidak mau akhirnya Nero beranjak ke dapur mengambil air minum untuk Fay.


Fay meneguk air yang diambilkan Nero sampai habis. Ia sangat kehausan.


"Sekarang jelaskan apa yang kamu maksud dengan perjanjian baru?"

__ADS_1


Fay memulai penjelasan dari bagaimana sikap Nero yang kasar. Selama ini ia tidak keberatan atas perlakuan itu. Meski pahit, ia masih kuat menjalani.


Tapi kondisi sekarang berbeda. Kandungan Fay harus tumbuh dengan sehat. Lingkungan sangat berperan penting.


Fay ingin memastikan bahwa ia akan menjalani hari-hari sebagai ibu hamil yang tenang tanpa tekanan batin juga siksaan fisik dari Nero.


Makanya ia mengajukan perjanjian baru, semata demi bakal bayi yang akan ia lahirkan nanti. Fay ingin bayinya lahir dalam keadaan sehat dan sempurna.


"Aku ingin Mas Nero merubah sikap dalam memperlakukanku. Aku nggak nuntut perasaan cinta. Aku cuma ingin sisi kemanusiaan kamu, Mas."


Nero menyimak dengan seksama penjelasan Fay. Ia menimbang permintaan istrinya itu. "Bagaimana pun janin itu adalah calon penerus keluarga Adhitama. Permintaan kamu akan sata turuti."


Fay tersenyum lega. "Terima kasih, Mas."


"Besok kita akan membuat surat perjanjian kontrak nikah yang baru."


"Satu hal lagi, Mas. Aku mau selama sisa pernikahan kita ... kamu tidak bermain dengan perempuan mana pun lagi. Berperanlah sebagai suami setia."


Fay mengambil nafas. "Aku tahu ... kamu tidak mencintai aku, Mas. Setidaknya ... dengan kamu berusaha tidak menjalin hubungan dengan perempuan lain, itu akan sangat membantu dalam menjaga mood aku, Mas."


Nero mengangguk pelan. "Baiklah ... demi janin di kandungan kamu. Saya akan turuti."


"Aku mau itu dimasukkan dalam kontrak pernikahan yang baru ... Satu hal lagi. Biar aku yang kali ini membuat isi surat perjanjian pernikahan kita, Mas."


Nero membelalakkan mata, ia ingin protes tapi dicegah oleh Fay.


"Biar Mas tahu perjanjian seperti apa yang aku inginkan. Nanti, kalau nggak setuju, kita masih bisa diskusikan lagi."


Nero akhirnya setuju. Ia menyuruh Fay istirahat di kamar. Usia kandungannya yang masih muda harus benar-benar dijaga.


"Aku nggak apa-apa, Mas. Kondisi badan aku yang lebih tahu itu aku." Fay beranjak ke dapur. Perutnya lapar ingin makan sesuatu.


"Kemana kamu?"


"Dapur. Aku lapar, Mas."


"Saya juga lapar."


"Aku cuma ingin makan nasi putih lauk telor ceplok sama kecap. Mau?"


"Saya yang masak. Kami duduk saja." Nero beranjak menyusul Fay ke dapur.


"Kamu bisa masak, Mas?"


"Jangan remehkan saya kamu."


Fay hanya memperhatikan Nero yang mulai sibuk memasak. "Kontrak pasal 3 itu ... apa aku bisa menjalaninya? Sanggupkah aku berpisah dengan anakku kelak?" batin Fay pilu.


__ADS_1


__ADS_2