
Semalaman Fay dan Galen begadang sibuk mengatur beberapa strategi untuk bisa membuat Widi menjauh dari Nero untuk sementara waktu. Tujuannya agar bisa bicara leluasa dengan Nero.
Fay harus menjelaskan secara detail bagaimana sebenarnya identitas dan status Nero yang sebenarnya agar dia bisa membawa suaminya pulang ke rumah, kembali ke kehidupan normal sebelum kecelakaan terjadi.
Gegara hal itu, keduanya baru tidur saat jam 3 pagi. Galen langsung terpejam lelap sebab terlalu lelah. Fay mencoba memanggilnya beberapa kali. Galen hanya diam tidak menyahut. Fay tersenyum lega.
"Sorry, Len. Gue pengen jalani satu rencana lain. Hanya gue yang tahu rencana itu," bisik Fay pelan. Ia pun bangkit berdiri keluar kamar hotel dengan mengendap-endap.
Secepat mungkin ia masuk ke dalam taksi online yang ia pesan. Fay mengambil nafas panjang. "Semoga rencana aku berhasil," batinnya penuh harap.
"Jalan, Pak!" perintah Fay sopan pada sopir. Mobil pun melaju perlahan meninggalkan hotel menuju kediaman Widi.
Di tengah perjalanan, Fay minta berhenti sebentar di salah satu pom bensin 24 jam. Ia butuh ke toilet untuk ganti baju. Seharusnya dia bisa melakukannya saat di hotel, hanya saja Fay tidak tenang. Ia ingin secepatnya meninggalkan hotel sebelum Galen terbangun.
Fay benar-benar tidak ingin Galen bisa mengejar langkahnya kalau seandainya tiba-tiba ia terbangun dan Fay masih berada di hotel.
Fay segera mengganti pakaiannya dengan baju serba hitam. Ia kemarin sempat melihat detail desain rumah Widi. Pagarnya memang tinggi tapi sangat mudah dipanjat. Ia berencana menyusup ke dalam dan menunggu Widi keluar rumah tanpa Nero, baru ia akan mengajak bicara suaminya yang kini amnesia itu.
Tak butuh waktu lama, taksi online yang dinaiki Fay sudah kembali meluncur melanjutkan perjalanan. Kira-kira setengah jam kemudian, ia telah sampai di depan rumah Widi.
Begitu taksi yang ditumpangi Fay menghilang di tikungan depan, perempuan itu menoleh ke kanan dan kiri, memastikan jalanan dalam kondisi sepi. Dirasa aman, Fay mulai melancarkan aksinya memanjat pagar rumah Widi.
Awalnya ia kesusahan untuk melompat, setelah beberapa kali usaha, Fay berhasil naik ke atas pagar dan perlahan turun tepat di dalam halaman rumah Widi. "Nggak sia-sia bisa panjat dinding," gumam Fay pelan. Ia tersenyum senang.
Fay mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah. Bibirnya tersenyum begitu melihat ada jalan masuk tanpa pintu menuju ke dalam. Meski tidak tahu ke arah mana jalan itu berujung, ia bermain gambling saja.
__ADS_1
Fay mengendap-endap menyusuri jalan setapak, beberapa langkah kemudian, ia sampai pada ujung jalan setapak itu. Rupanya mengarah ke halaman belakang. Mata Fay tercekat. Jantungnya berdegup kencang seketika.
Ia melihat sosok Nero tengah duduk menikmati rokok di tangannya. Tatapannya tajam mengarah ke kolam renang.
"Rupanya Mas Nero belum tidur. Dia sedang memikirkan apa?" batin Fay penasaran. Ia pun segera mencari tempat sembunyi. Untung di sebelah tempat ia berdiri, ada rerumputan yang dibentuk menjadi semacam pagar. Fay sembunyi di balik itu dengan duduk bersimpuh. Matanya terus awas mengawasi Nero.
Tak lama kemudian, Nero mematikan rokoknya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Fay tersenyum senang melihat Nero yang membiarkan pintu tetap terbuka.
Setelah memastikan Nero sudah masuk ke dalam ruangan lainnya, Fay keluar dari persembunyiannya dan bergegas masuk ke dalam rumah. Tentu saja dengan langkah sepelan mungkin.
Fay memperhatikan seluruh pintu yang ada di dekat pintu masuk. Bermain gambling sekali lagi, Fay memutuskan memilih bersembunyi di salah satu pintu yang tidak terkunci.
Ia memulai dari pintu paling dekat dengan pintu masuk tadi. Rupanya tidak dikunci. Setelah Fay buka, ternyata itu kamar tidur. Sepertinya untuk tamu. Fay memutuskan sembunyi di dalam ruangan itu. Pelan-pelan ia putar kunci yang digantung di pintu bagian dalam kamar.
"Setidaknya sekarang gue aman," gumam Fay pelan dengan perasaan lega. Ia berjalan penuh waspada. Memastikan tidak ada kamera tersembunyi di kamar ini. Setelah memeriksa di berbagai sudut, Fay merasa aman.
"Sebaiknya aku tidur dulu. HP harus aku matikan biar aman." Fay menekan tombol power di layar HP miliknya, sesaat kemudian ia memejamkan mata dan tertidur lelap.
*****
Galen menyusuri seluruh kamar hotel dengan kalut. Begitu ia terbangun dan mendapati hanya sendirian di kamar, ia langsung mencari kunci mobil.
"Sial!" umpat Galen kesal. Kunci mobil tidak ada di tempat terakhir kali ia simpan. Galen sangat yakin kalau Fay cabut membawa mobilnya.
Galen melihat jam tangan, pukul setengah 6 pagi. Ia bertanya-tanya dalam hati, kemana Fay pergi. Kenapa tiba-tiba dia pergi tanpa pamit. Menyadari sesuatu, ia tersenyum konyol. "Gini, nih. Otak kalau bangun tidur gampang banget jadi tolol. Paling Fay lagi keluar sebentar ke supermarket cari sesuatu. Gue tunggu dulu aja."
__ADS_1
Satu jam lebih Galen menunggu. Ia mulai panik kembali. HP milik Fay masih belum bisa ia hubungi. "Loe kemana Fay?" Galen kalut, ia mondar-mandir di depan ranjang tidur.
Langkah Galen terhenti, ia ingat dengan satu kalimat ambigu Fay yang sempat ia ucapkan sebelum tidur.
"Andai gue bisa nyusup ... gue bakal nyusup kesana, menunggu Widi pergi tanpa Mas Nero, terus gue ajak ngomong berdua deh." Begitulah ucapan Fay yang dilontarkan dengan setengah bercanda.
"Jangan-jangan ..." Galen meninju udara dengan kesal. "Sial!"
Galen bergegas membereskan diri, ia berlari turun ke basement. Saat tiba di parkiran mobil, ia menepuk jidatnya. "Bego! Mobil gue kan dibawa sama ..."
Galen tidak melanjutkan kalimatnya begitu menyadari mobilnya masih terparkir rapi di tempat semula. Jelas menandakan kalau Fay ingin jalan sendiri untuk menyelesaikan permasalahan ini.
"Cari mati loe, Fay," ujar Galen geram. Dikeluarkannya ponsel untuk memesan taksi online. Tak butuh waktu lama, kendaraan yang dipesan Galen tiba. Ia pun melesat masuk dan meminta sopir melajukan kendaraan menyusul Fay ke rumah Widi.
Galen semakin gusar ketika mendapati jalan yang dilalui macet. Ia pun meminta sopir untuk mencari jalan tikus agar cepat sampai.
"Kenapa berhenti, Mang?" tanya Galen pada sopir yang menghentikan mobilnya tiba-tiba.
"Ada kecelakaan di depan, Pak. Jadi perjalanan sedikit terhambat. Harap bersabar, ya."
"Nggak ada jalan lain, Mang?"
"Ini jalan satu arah, Mang. Harap sabar."
Galen menghela nafas kasar. Ia hempaskan badan nempel ke badan kursi mobil. Dicobanya sekali lagi untuk menghubungi Fay. Nomornya tetap belum aktif.
__ADS_1
Galen baru menyadari, rundingan semalam hanya bertujuan membuatnya kelelahan sehingga tertidur nyenyak. Tujuannya agar Fay bisa cabut tanpa dirinya.
Di tengah kekalutan Galen, di rumah Widi, Fay tengah tertidur pulas. Sepertinya ia juga kelelahan, sampai lupa kalau sedang menyusup di rumah orang lain.