
Fay dan Galen duduk di sofa ruang tamu milik Widi. Sesuai permintaan Nero, keduanya memenuhi undangan pria itu. Saat ini Nero tengah menyiapkan minuman di dapur.
Fay sempat menawarkan diri untuk membantu, tapi Nero melarangnya.
Tidak butuh waktu lama, Nero sudah kembali dengan tiga gelas cangkir.
"Amnesia gak buat lupa cara bikin minuman, ya?" sindir Galen. Nero hanya meliriknya sekilas. Ucapan barusan ia anggap angin lalu.
"Saya tahu sebenarnya siapa kalian," ujar Nero mantap.
"Kamu sudah ingat siapa aku, Mas?" Fay terlihat bersemangat.
"Dari Kinan," sahut Nero tenang.
"Namanya Widi, bukan Kinan," ujar Galen sewot.
Nero mengerutkan kening memandang Galen dengan tatapan aneh.
"Dan nama Mas itu bukan Aldi, tapi Nero. Ini Galen, adek kamu Mas. Aku tahu kamu sedang amnesia, tapi aku berani sumpah. Perempuan yang mengaku Kinan itu penipu!"
Fay mengeluarkan buku nikah yang memang sudah ia persiapkan dari rumah. Ia berharap buku nikah ini bisa menjadi bukti yang kuat untuk meyakinkan Nero.
"Apa ini?" Nero menatap buku nikah yang diletakkan Fay di atas meja dan ia baca isinya. Tertera nama yang asing baginya. Foto di buku itu jelas wajahnya dan wajah Fay.
"Itu bukti kuat kalau kamu bukan Aldi, tapi Nero. Putra Danu Adhitama. Aku berani ajak kamu buat tes DNA, Mas."
"Dengan dia?" Nero melirik sinis ke arah Galen.
"Dengan ayah kamu juga, Mas."
Nero terdiam, ia sebenarnya ragu dengan segala ucapan perempuan yang mengaku Kinan. Tetapi, mempercayai dua orang yang menurutnya asing juga membuatnya ragu.
"Kamu jangan khawatir. Kita yang akan datangkan bokap kita ke sini. Kita tes DNA di kota ini. Kalau sampai terbukti benar, kamu harus ikut pulang, Mas."
"Gimana?" tanya Galen kehilangan kesabaran sebab Nero tak kunjung beri kepastian. Ia hanya terdiam dan terus menimbang sesuatu.
"Sabar," bisik Fay pelan.
"Gue heran, sekalipun udah amnesia, kelakuan masih saja bikin orang emosi," bisik Galen juga pelan dengan menahan emosi.
"Besok kita tes DNA." Nero menatap yakin pada Fay dan juga Galen.
__ADS_1
"Oke, deal," ujar Galen tegas. "Gue pastikan, hasil DNA itu tidak akan meleset dan loe harus ikut kita pulang, Mas."
"Oke."
*****
Beruntung Danu bisa ikut ke Bandung untuk menjalani serangkaian tes DNA. Nero masih terus menjaga jarak dengan Galen, Fay, dan juga Danu sang ayah.
Rasa penasaran yang tinggi sekaligus menuruti kata hati, Nero memaksa Widi untuk mengantarnya ke rumah sakit.
"Buktikan kalau memang kamu jujur dengan semua ucapan kamu tentang saya!" bentak Nero semalam sebelum akhirnya keesokannya Widi mau mengantar ke rumah sakit untuk tes DNA.
Proses tes DNA memakan waktu tidak terlalu lama. Sayangnya, hasil yang keluar baru sekitar dua minggu. Mereka harus sabar menunggu hasilnya.
Widi jelas ketar-ketir sebab sudah dapat dipastikan hasil yang keluar adalah positif anak kandung dari Danu Adhitama.
Identitas asli Nero akan terbongkar dan usahanya pasti sia-sia.
Berhari-hari Widi mencoba mencari cara untuk menggagalkan usaha tersebut. Sempat terpikir dalam benaknya untuk menukar hasil DNA itu.
Ia mencoba menghubungi salah satu kenalannya yang rela melakukan pekerjaan apapun. Sayangnya, niat meminta tolong itu harus gagal sebab kenalannya sudah tidak berniat melakukan hal-hal jahat.
Widi semakin kebingungan. Hari-hari ia tampak semakin resah. Nero semakin yakin, ada hal yang disembunyikan dari Widi.
"Kinan!" panggil Nero dari luar kamar.
Widi terus saja mondar-mandir tidak menghiraukan panggilan Widi.
"Kinan!" panggil Nero sekali lagi. Tidak ada sahutan, Nero berjalan mendekat dan berdiri di depan pintu kamar. "Kinan!" panggilnya sekali lagi.
Widi masih terus mondar-mandir tidak jelas di depan meja rias.
"Widi!" panggil Nero dengan suara keras.
"Apa sih, Mas Nero!" bentak Widi keras. Reaksi spontannya membuatnya mematung di tempat.
"Siapa nama kamu sebenarnya? Kinan atau Widi?" tatap Nero tajam. "Nama saya Aldi atau Nero?"
"Sorry, Mas. Reflek salah panggil."
"Saya tidak mau lagi dengar penjelasan kamu. Besok, semua fakta akan menjelaskan semuanya. Selamat malam," Nero menatap tajam mata Widi sebelum akhirnya berlalu menuju kamar tidur di sebelah kamar Widi.
__ADS_1
"Sial! Kenapa tidak ada satu pun yang bisa bantu gue! Ditambah lagi, Mas Nero nggak pernah ngebiarin gue pergi sendiri sedetik pun. Sial!" umpat Widi kesal.
*****
"Tuan Adhitama, ini hasil tes DNA kemarin," ujar dokter begitu Galen, Danu, Nero, Fay, dan Widi tiba di ruangan dan duduk menghadap sang dokter. "Hasilnya, Anda bertiga sah satu darah. Pak Danu sebagai ayah kandung dari Saudara Nero dan Galen."
"Nero itu saya, Dok?" tanya Nero meminta kepastian.
"Dari data kependudukan yang asli, nama Anda Nero. Kami juga sudah cek dari hasil sidik jari Anda. KTP yang Anda tunjukkan itu palsu," ujar dokter menjelaskan.
"Bagaimana, Mas? Kamu masih belum percaya kalau perempuan itu pembohong," ujar Fay.
"Siapa kamu!" bentak Nero lantang pada Widi.
Widi sedari tadi sudah sangat panik, ia pun akhirnya memilih meninggalkan ruangan dengan berlari. Nero hendak mengejar, sayangnya ditahan oleh sang ayah.
"Biarkan saja wanita itu, nanti di rumah akan papa jelaskan siapa dia."
"Maaf, saya benar-benar tidak ingat apa-apa," ujar Nero.
"Papa paham, kita pulang ke Jakarta sekarang. Rumah kamu di sana. Buka. di Bandung."
*****
Akhirnya Nero bersedia ikut pulang ke Jakarta tanpa menyempatkan diri pamit ke Widi yang entah sekarang berada dimana. Nero memprediksikan kalau perempuan pembohong itu pasti sudah berada di dalam rumahnya.
Di sepanjang perjalanan, Fay menjelaskan inti siapa mereka bertiga. Terutama dirinya, sebab status suami istri tidak mungkin bisa dibuktikan dengan DNA.
Nero diam sesaat, lalu meminta waktu pada Fay untuk bisa benar-benar beradaptasi dengan semuanya. Baginya, semua sangat asing.
Fay mengangguk dan berjanji pada Nero akan membantunya untuk memulihkan ingatannya secara perlahan hingga kembali sepenuhnya.
Danu juga berjanji akan mendatangkan dokter spesialis yang akan memberikan fasilitas terapi terbaik untuk Nero.
Di tengah-tengah perjalanan, Nero teringat bahwa ia masih memegang HP pemberian Widi. Ia pun mengeluarkannya dari saku.
Nero mengetikkan beberapa kalimat, mengirimkannya pada Widi. Isinya sangat singkat, intinya meminta Widi untuk berhenti bermain peran.
From: Nero
To: Kinan alias Widi
__ADS_1
Berhenti bersandiwara sama saya. Dari awal sebenarnya saya sudah merasa janggal. Hanya saja karena kamu yang menolong saya, jadi saya hargai saja. Satu hal yang perlu kamu camkan. JANGAN BERMAIN PERAN DENGAN SAYA!
Di kejauhan, Widi yang membaca pesan itu hanya tersenyum sinis. "Dari dulu kamu memang tidak pernah bisa aku prediksi Mas."