
Fay berjalan keluar kamar, menyusuri koridor menuju kamar milih ayah mertuanya. Saat ia sudah berdiri di depan pintu, ia berubah ragu.
"Kalau seandainya papa jadi tahu soal surat kontrak pernikahan itu bagaimana cara aku menjawabnya? Sementara sikap Mas Nero kembali seperti dulu."
Fay akhirnya memutuskan berbalik arah dan turun ke dapur, mengurungkan niat untuk bertanya. Fay memutuskan untuk menyiapkan menu sarapan saja daripada terjerumus pada hal yang mungkin saja bisa jadi lebih rumit.
*****
Nero menatap tajam foto pernikahannya bersama Fay. Setelah Fay keluar dari kamar, ia memutuskan untuk menenangkan diri dengan duduk di atas tempat timur bagian ujung.
Niat hati menenangkan diri tapi pandangannya justru tertuju pada foto itu.
"Saya ingat sekarang. Kamu adalah perempuan yang membuat semua kehidupan saya jadi rumit. Rencana pernikahan saya dengan Widi harus gagal karena kamu."
Nero mengomel seorang diri di kamar. Tatapannya semakin tajam tatkala ia ingat dimana surat kontrak pernikahan itu ia simpan.
Nero bangkit berdiri, keluar kamar dan berjalan menuju ruang kerja pribadi miliknya yang ada di lantai bawah.
Dibukanya semua laci, tapi tidak ketemu. Saat berusaha keras mengingat, ia baru sadar akan satu hal. Usai menikah, ia tinggal di rumah pribadi miliknya. Nero sangat yakin bahwa surat kontrak pernikahan itu ada di sana.
Terekam jelas di ingatan Nero bahwa ia menyimpannya di laci meja kerja miliknya yang ada di perpustakaan rumah pribadinya yang disebut White Land oleh Fay.
"Saya harus pergi ke White Land," gumam Nero yakin. Baru saja ia hendak melangkah menuju pintu keluar, langkahnya ia urungkan.
Fay membuka pintu kerja miliknya. "Mas, dokter sudah datang. Waktunya kamu terapi."
Nero melengos kesal. "Saya segera ke sana. Pergilah duluan!" bentak Nero. Fay hanya mengelus dada dan berlalu menutup pintu tanpa ucapan apapun lagi.
"Hanya butuh waktu saja, Fay," batin Fay dalam hati sembari berjalan menuju ruang tengah.
Beberapa saat kemudian Nero sudah ikut bergabung dengan Fay, Danu, dan dokter. Kali ini Galen juga ikut serta. Begitu mendapat kamar dari ayahnya kalau Nero sudah bisa mengingat keluarganya, membuat Galen semangat untuk ikut hadir dalam proses terapi kakaknya.
"Bagaimana kondisi Anda, Tuan?" tanpa dokter mengawali sesi terapi.
__ADS_1
Nero tersenyum ramah. "Jauh lebih baik. Walau semalam sempat mengalami kejadian kurang mengenakkan saat pagi tadi, saya senang ... sebab sebagian besar ingatan saya kembali."
Dokter tersenyum menanggapi penuturan Nero. "Saya turut lega mendengar penuturan Anda. Ternyata proses terapi Anda berjalan jauh lebih cepat dari dugaan saya."
"Tapi Dok ... Mas Nero masih belum mengenali saya dengan baik," ujar Fay menyela sesi terapi.
"Maksudnya bagaimana?" tanya dokter ingin tahu lebih detail.
"Suami saya ber ..." Fay menelan ludah, mengutuki diri sendiri kenapa harus keceplosan mengatakan hal barusan.
Semua mata menatap Fay, menanti penjelasan darinya. Sementara Fay hanya kebingungan dengan kalimatnya.
"Maksud loe berubah gimana?" tanya Galen penasaran dengan kalimat gantung Fay yang tak kunjung ia lanjutkan.
"Maksud saya ..." Fay belum juga bisa melanjutkan perkataannya, matanya melirik pada Nero yang menatapnya dengan tatapan mengancam.
"Maksud kamu apa, Fay?" Kali ini giliran Danu yang bertanya.
"Berubah jadi lebih sehat ... hehehe ..." Fay tertawa seolah tengah bercanda meski diam-diam jantungnya berdegup kencang. Ia benar-benar tidak ingin ayah mertuanya tahu soal surat kontrak pernikahan itu.
Dokter memulai terapi pada Nero. Kembali beberapa hal ia pertanyakan. Pertama soal apa yang dirasakan Nero secara fisik, lalu mulai melakukan pemastian tentang ingatan apa saja yang telah kembali.
Tak lupa Nero menceritakan kronologi insiden kecil pagi tadi yang membuatnya akhirnya mengingat beberapa memori masa lalunya.
Hasil terapi yang dilakukan hari ini membuat semua lebih lega. Hasil pemulihan ingatan Nero mengalami kemajuan. Terapi ini jauh lebih cepat dari perkiraan.
Meski demikian, ada yang tidak bahagia. Fay yang kecewa sebab ingatan Nero hanya sampai kontrak pernikahan itu. Nero yang benci dengan kehadiran Fay, dan Galen yang memiliki firasat buruk.
*****
"Ada sesuatu yang harus loe tahu," ujar Fay begitu ia hanya duduk berdua dengan Galen. Nero dan ayahnya sedang pergi ke kantor. Nero sangat ingin mengunjungi kantor untuk melihat apa saja yang harus ia selesaikan. Dokter terapi juga sudah pulang.
"Soal apa?"
__ADS_1
Fay menghembuskan nafas panjang. "Mas Nero hanya ingat kalau gue dan dia nikah terpaksa dengan perjanjian surat kontrak. Dia sekarang balik benci gue lagi. Loe tahu siapa yang ingin dia temui?"
Galen menangkap maksud ucapan Fay. Firasat buruknya ternyata benar. Ada yang salah soal ingatan kakaknya.
"Fay, jangan pernah loe biarkan abang gue bertemu dengan perempuan j*l*ng itu lagi."
Jauh di dalam lubuk hatinya, Fay jelas tidak ikhlas apabila Nero memilih mengutamakan Widi. Apalagi, saat ini dia sedang dalam posisi mengandung.
"Gue pasti berjuang, Len. Bukan hanya demi diri gue sendiri, tapi ..." Fay terdiam sejenak. Diusapnya perutnya sembari menatap nanar. "Ada nyawa yang harus gue perjuangkan."
Melihat semangat Fay, Galen sedikit trenyuh dan iba. Ia tidak pernah menyangka, kehidupan sahabatnya harus carut marut penuh luka hanya karena menjadi istri dari kakak kandungnya.
"Len, kita harus bisa cegah kalau Mas Nero akan bertemu dengan Widi," ujar Fay lagi.
"Tunggu, siapa saja selain gue yang tahu kalau loe ... hamil lagi."
Fay menggeleng pelan. "Gue nunggu suasana yang tepat. Setidaknya ... gue harus kendalikan emosi Mas Nero dulu."
"Secepatnya jauh lebih baik, biar calon ponakan gue dapat perawatan maksimal. Ini akan jadi kabar yang sangat membahagiakan untuk semua orang Fay."
Fay sangat paham. Mengingat secara silsilah, Nero adalah anak pertama, cucu sekaligus cicit pertama di keluarga besar Adhitama. Mengingat ayahnya Nero adalah anak sulung.
Semua orang pasti menantikan kehadiran keturunan dari generasi penerus yang tertua.
Ia sudah membayangkan wajah bahagia seluruh keluarga besar. Sama seperti saat ia dan Nero dulu melakukan hal yang sama untuk kehamilannya yang pertama. Sayangnya keguguran.
Ingatan Fay berlari ke kenyataan sekarang. Nero yang mengenalnya sebagai istri kontrak, kini sangat membencinya. Ini membuat semangatnya hilang untuk mengabarkan tentang kehamilannya.
"Gue yakin ... ini bukan kabar yang membahagiakan buat Mas Nero," gumam Fay dalam hati, "Ya Tuhan ... kenapa sesakit ini perjalanan rumah tanggaku?"
"Yakin Fay ... lagipula ... cepat atau lambat semua orang juga pasti tahu seiring perut loe yang semakin membesar. Kalau loe tunda, justru mereka akan sedih. Biarkan mereka tahu."
Fay hanya terdiam mendengar ucapan Galen.
__ADS_1
"Secepatnya Fay," ujar Galen sebelum akhirnya beranjak bangun dari tempat duduknya. "Gue cabut."