
Memasuki usia kandungan empat bulan. Fay mulai merasa nyaman, kondisinya kembali stabil. Melepas rasa bosan, ia putuskan melihat pameran lukisan milik salah satu kolega ayahnya.
Siang itu tampak cukup ramai. Fay berjalan perlahan menikmati setiap karya yang dipamerkan. Sesekali ia tersenyum melihat lukisan yang baginya menarik.
Diedarkannya pandangan ke penjuru ruangan. Rata-rata pengunjung yang datang memang bukan orang sembarangan. Beberapa cukup familiar bagi Fay.
Beberapa pengunjung yang mengenalnya sempat bertukar sapa. Ada pula yang minta foto bersama juga tanda tangan.
Fay cukup senang meladeni permintaan sederhana itu. Menurutnya itu sudah cukup untuk memberikan apresiasi kepada penikmat karyanya.
"Siang, Nona Fay," tegur seorang laki-laki yang entah dari mana tiba-tiba berdiri di samping Fay.
Spontan Fay langsung menoleh ke sumber suara. Senyum ramah langsung terukir begitu mengetahui pemilik suara itu.
"Hai! Lama tidak berjumpa," sapa Fay senang menatap wajah si pemanggil yang tak lain Albie.
"Sehat dan selalu sehat," jawab Albie sembari tersenyum ramah.
"Sendiri?" Fay menoleh ke sekitar, memastikan keberadaan seseorang yang mungkin datang bersama Albie.
"Sendiri," jawab Albie cepat.
"Sama, aku juga."
Keduanya memutuskan untuk mencari tempat untuk melanjutkan obrolan santai. Kebetulan juga sudah masuk jam makan siang.
Fay yang memang hapal daerah situ merekomendasikan satu restoran cukup enak dengan tempat nyaman untuk berbincang santai.
Restoran itu berada di samping galeri. Tempatnya cukup luas dengan interior nuansa warna alam, menciptakan suasana dingin di tengah kota yang panas.
Sembari menunggu pesanan mereka datang, keduanya saling bertanya kabar soal pekerjaan masing-masing.
Albie sangat senang melihat reaksi Fay yang antusias bertemu dengannya. Ia merasa sangat bahagia sebab wanita pujaannya ini nyaman bersamanya.
Tak butuh waktu lama, pesanan pun datang. Melihat jus buah yang dipesan Fay membuat Albie cukup heran.
__ADS_1
"Aku kira kamu hanya pesan kopi atau minuman soda. Tumben beda? Makanan kamu juga beda? Diet?"
Fay tertawa kecil, meneguk beberapa kali jus yang ia pesan, sedikit melegakan dahaga yang sejak tadi mulai terasa.
"Aku nggak mungkin diet," ujar Fay.
Albie menghela nafas, dikeluarkannya rokok dari sakunya.
"Kamu mau merokok?" tanya Fay yang melihat gerak-gerik Albie hendak mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya.
Albie mengangguk. "Iya, pahit banget belum merokok."
"Sorry, aku nggak bisa hirup asap rokok, Albie. Soal nya aku harus jaga sesuatu di dalam sini," ujar Fay menunduk mengelus perutnya.
Albie terdiam, masih belum memahami maksud perkataan Fay barusan.
"Aku hamil, Albie," ujar Fay menjelaskan maksud perkataannya barusan.
Badan Albie terdiam untuk beberapa saat. Penjelasan barusan membuatnya tidak yakin, ia masih berharap salah dengar.
"Kamu bilang apa barusan?"
"Sejak kapan?"
"Sekarang udah jalan empat bulan, aku hamil anak kembar," Fay tersenyum lebar.
Secepat mungkin Albie berusaha menguasai rasa kecewanya. "Congrats, Fay," ujar Albie tersenyum. Ia masukkan kembali rokok dan korek miliknya ke dalam saku jas.
"Terima kasih."
"Suami kamu sangat beruntung memiliki anak dari seorang perempuan cantik dan istimewa seperti kamu, Fay," puji Albie tulus.
Fay hanya tersenyum, dalam hatinya ia merasa getir. Kenyataan yang dirasakan Nero tidak seperti itu.
Suaminya jelas tidak mencintainya. Hanya saja ia tidak tega bila harus melenyapkan bayi dalam kandungannya.
__ADS_1
"Suatu saat pasti akan ada perempuan beruntung yang bisa menjadi ibu untuk anak kamu kelak, you are special people, Albie," ujar Fay tersenyum bijak.
Albie hanya tersenyum menanggapi ucapan Fay. Baginya perempuan yang seharusnya beruntung itu adalah Fay.
Ia masih sangat berharap, seharusnya Fay menjadi istrinya dan bukannya menjadi istri Nero, pria yang menurutnya sangat payah dalam memperlakukan perempuan.
Selama menikmati makan siang, keduanya memilih hening sejenak. Fay menyukai makanan yang ia pesan. Perlahan ia nikmati sembari sesekali melihat notifikasi HP.
Albie menikmati makanannya juga. Diam-diam ia terus mengamati seluruh pergerakan Fay. Melihat perkembangan tubuhnya yang mulai berubah gendut.
Albie tersenyum menatap tingkah Fay, dimatanya sosok perempuan yang ia kagumi ini sangat cantik. Kehamilannya membuat wajah Fay tampak cerah berseri.
"Albie, ngeliatin apa sih? Ada sesuatu di wajah aku?" tanya Fay yang menyadari tatapan Albie yang terus tertuju padanya.
Albie menggeleng kepala, tertawa kecil. "Aku nggak pernah nyangka, perempuan hamil itu akan menjadi lebih cantik dan memukau."
"Cantik? Tambah gendut, iya." Fay tertawa heran.
"Nggak gendut. Perut kamu membesar karena ada kehidupan di sana."
"Iya, ada baby kembar aku yang entah bagaimana wajahnya nanti, aku sudah sangat mengagumi mereka."
Albie tersenyum menanggapi ucapan Fay. Angan-angannya masih berharap bahwa kenyataan berbalik. Ia yang menjadi suami Fay, bukannya Nero.
"Sayang laki-laki beruntung itu bukan aku, Fay," gumam Albie dalam hati. Jujur ia kecewa.
Fay menuntaskan makanannya dan mengucapkan terima kasih pada Albie, ia juga mengucapkan minta maaf sebab harus pamit duluan.
Albie rencananya ingin mengantarkan Fay pulang, tapi dicegah. Alasan yang Fay ucapkan membuat moodnya memburuk.
"Mas Nero udah jemput aku, Albie. Dia ada di galeri." Fay segera berlalu meninggalkan restoran kembali ke galeri.
Penasaran ingin memastikan sendiri, Albie mengamati pergerakan Fay dari dalam restoran. Kebetulan tempat ia duduk bisa leluasa melihat halaman depan galeri.
Tampak Fay berjalan menuju depan galeri, ditangannya tergenggam telpon yang ia tempelkan di telinga. Tak lama kemudian muncul Nero dari dalam galeri.
__ADS_1
Keduanya berjalan beriringan menuju mobil yang berhenti di depan galeri. Keduanya masuk mobil yang melaju meninggalkan galeri.
"Aku yakin, suatu saat kamu pasti akan tetap jadi milikku, Fay. Kita lihat nanti," ujar Albie pelan. Tatapannya cukup serius dan tajam, senyum sinisnya seolah mengatakan akan ada hal yang ia lakukan di masa mendatang.