Air Mata Istri Setia

Air Mata Istri Setia
Tanda Apa Itu?


__ADS_3

Nero meneguk segelas teh miliknya. Ia baru saja menyelesaikan sarapan. Danu sedang ada di Jepang, kali ini hanya sedang ingin menemui salah satu sahabat baiknya.


Fay berjalan santai menuju meja makan, ia baru saja mengakhiri percakapannya dengan Albie lewat telpon. Setelah sarapan nanti, rencananya ia akan USG ke klinik langganannya.


"Hari ini jadwal kamu USG, bukan?" tanya Nero dingin begitu melihat keberadaan Fay yang mendekat ke meja makan.


Fay mengangguk tanpa menatap Nero. Selera makannya sedang sangat baik, ia tidak ingin rusak hanya karena menatap wajah masam suaminya.


"Saya akan antar. Kebetulan hari ini jadwal kantor sedang longgar."


Fay hanya diam. Ia malah asyik dengan makanannya. Melihat reaksi itu, Nero menatap tajam istrinya. Jelas ia tidak suka.


"Selamat pagi semuanya ..." sapa Galen ramah. Ia berjalan mendekat ke Fay. Mencium kedua pipi Fay lalu duduk di sampingnya.


"Tumben loe nongol," komentar Fay. Sudah berhari-hari saudara iparnya itu tidak pulang karena kerjaan.


"Orang sibuk, boss ... senggol dong!"


Fay tertawa geli mendengar kelakar Galen. Nero mendengus kesal sebab bukan perlakuan manis yang ia dapat, ditambah saudaranya yang mendapat perlakuan ramah.


"Loe temenin gue ke klinik, ya. Mau USG," pinta Fay seolah melupakan kalau ada yang mengatakan ingin menemaninya.


"Gue capek," jawab Galen setelah melirik sekilas ke kakaknya.


"Saya sudah bilang akan temani kamu, Fay," sahut Nero kesal.


"Galen udah tahu gimana hubungan kita yang sebenarnya, jadi jangan sok manis. Aku males ditemani kamu, Mas." Fay sinis memandang Nero.


Galen yang melihat situasi panas ini jadi bingung. Namanya yang dibawa-bawa membuatnya semakin penasaran.


"Mas Nero hanya ingat kalau kita terikat nikah kontrak, Galen," bisik Fay pelan. Membuat kedua mata pria yang sebaya dengannya itu terbelalak kaget.


"Kok loe baru cerita?" bisik Galen balik.


Melihat keduanya saling berbisik semakin membuat Nero geram. "Jangan bertindak seperti anak kecil. Saya tahu kalian membicarakan saya."


Fay dan Galen seketika diam, keduanya kembali melanjutkan sarapan tanpa ada dialog lagi.


"Saya tunggu di depan, selesaikan sarapanmu." Nero sangat keras kepala, ia langsung berjalan ke depan tanpa sudi menunggu jawaban dari Fay.

__ADS_1


"Dia kembali jadi Nero b*ngs*t yang kemarin?"


Fay mengangguk lemah. "Gue malas, lelah. Bayangin, kehidupan gue sama seperti novel yang dibaca dua kali. Bosen dan muak."


"Abang gue beneran pasti bisa sembuh total, kan?"


Fay menghela pesimis. Danu sudah mengangguk Nero ingat semuanya, terapi pemulihan ingatan sudah dihentikan. Fay sangat ingin berbicara bahwa ada yang masih belum diingat oleh Nero, tapi mustahil.


Membongkar tentang ingatan yang dilupakan Nero, berarti membongkar pula soal kontrak pernikahan itu. Sama saja membuat masalah baru.


*****


Fay berjalan tanpa suara, sementara Nero asyik menatap layar HP sembari terus mengimbangi langkahnya. Keduanya berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju klinik pemeriksaan kandungan.


Begitu sampai, keduanya langsung dipersilakan masuk. Untuk keluarga kaya seperti mereka, jangan harap kenal kata antre. Berkat koneksi bagus dengan pemilik rumah sakit, keduanya punya akses periksa VVIP kapan saja.


Keluarga besar Adhitama juga salah satu investor di rumah sakit tempat mereka periksa sekarang. Jadi, sudah dapat dipastikan seberapa nyaman dan mewah fasilitas yang didapat.


Perawat mempersilakan Fay dan Nero masuk ke dalam. Dokter sudah menunggu dengan senyum ramah. Saat baru hendak memasuki bibir pintu, sigap Fay merentangkan tangan kanannya menghalangi Nero untuk masuk.


"Kenapa? Saya mau masuk."


Nero tertawa sinis. "Wanita konyol ini sungguh keras kepala." Geram dengan tingkah konyol Fay, ia genggam erat tangan Fay. Badan yang lebih besar membuatnya dengan mudah mengangkat tangan Fay ke atas. Membuka akses masuk ke dalam.


"Mas!" teriak Fay kesal.


Nero tersenyum puas menatap Fay sebab berhasil masuk ke dalam. Tapi, hanya sesaat. Di luar dugaan, justru kini Fay yang berdiri di luar ruangan.


"Kamu tetap di dalam? Oke, aku nggak mau periksa. Aku pulang!" Fay melotot tajam dengan geram.


Dokter dan perawat yang melihat pertengkaran itu saling memandang satu sama lain. Mengingat jadwal periksa juga padat, dokter akhirnya membujuk Nero.


"Tuan, sepertinya ini dampak dari bawaan bayi. Ibu tidak memiliki mood yang baik jika didampingi periksa USG oleh suaminya. Saya harap Anda bisa memaklumi keadaan ini," ujar Dokter sesopan mungkin.


"Keluar sekarang atau aku pulang!" bentak Fay sekali lagi.


Sesaat kemudian ...


Fay berbaring di atas ranjang periksa. Di samping terdapat alat USG. Perawat mulai membuka baju atasan Fay, memperlihatkan bagian perut yang membuncit. Perlahan dioleskan gel dengan warna bening.

__ADS_1


Dokter mulai menempelkan alat USG di perut Fay. Menggosoknya perlahan. Pandangannya terus tertuju pada layar TV. Tampak janin yang sesekali bergerak.


Fay tersenyum senang melihat gambar anaknya di dalam perut. "Apa Sudah terlihat jenis kelaminnya, Dok?"


"Ini Sudah memasuki usia 5 bulan, harus nya Sudah terlihat, Nona." Dokter terus menggerakkan alat pemindai USG, mencari letak ******** janin.


Fay menatap layar dengan hati berdebar. Mengingat wajah Nero yang emosi sebab tidak ia ijinkan ikut melihat USG, membuatnya lebih bahagia.


"Anak Anda laki-laki. Tapi nanti ada kemungkinan bisa berubah. Hasil USG tidak bisa dikatakan 100% akurat."


Fay mengangguk senang. "Terima kasih, Dok."


*****


Galen berjalan santai keluar toko sepatu langganannya yang ada di mall. Perut lapar membuatnya memutuskan untuk mampir di salah satu foodcourt favoritnya. Jarak beberapa meter hendak sampai, tanpa sengaja ia melihat Widi mendahuluinya masuk ke foodcourt itu.


"Widi?" gumam Galen terkejut. Tidak menyangka akan kembali berpapasan dengan mantan kekasih kakaknya. Penasaran, ia mempercepat langkah masuk ke foodcourt. Galen berusaha membuntuti Widi secara diam-diam.


Perempuan itu berjalan santai menuju salah satu kursi yang ada di sudut. Sepertinya ia melambaikan tangan ke seseorang. Begitu Widi duduk berhadapan dengan orang yang ia sapa barusan, Galen terdiam di tempat.


Ia tidak menyangka bahwa Widi juga mengenal Albie. Ya, Widi saat ini tengah bertemu dengan Albie secara pribadi.


Galen perlahan mencoba mendekat, kebetulan ia tengah memakai masker dan juga kacamata. Ia sangat yakin, penampilannya tidak akan dikenali baik oleh Widi maupun Albie.


Galen mengambil duduk di belakang keduanya. Samar-samar terdengar kata rencana.


"Mereka mau merencanakan apa?" batin Galen was-was. Hatinya berubah jadi tidak enak. Dia takut ada hal buruk yang mereka rencanakan.


"Kita bicarakan di tempat lain, di sini tidak aman. Kamu ikut saya."


Albie dan Widi beranjak berdiri dan berjalan meninggalkan foodcourt tanpa memesan apapun.


Galen terdiam menunggu kesempatan yang aman untuk bisa membuntuti mereka keluar. Sayang nya, begitu Galen keluar dari foodcourt, sosok Widi dan Albie Sudah menghilang, entah mereka menuju kemana.


"Gue harus beritahu Fay, jangan sampai mereka berhasil merencanakan sesuatu yang jahat." Galen mengetikkan pesan untuk Fay, sebelum akhirnya pergi meninggalkan mall.


Pesan singkat itu hanya berbunyi "Gue barusan lihat Widi ketemuan dengan Albie di foodcourt. Gue penasaran soal rencana mereka."


Sementara Fay yang baru saja hendak berdiri usia konsultasi dengan dokter, membaca pesan itu beberapa kali. Mencoba mencerna situasi. Dia tidak menyangka, Albie ternyata juga mengenal Widi.

__ADS_1


"Tuhan ... apa yang akan terjadi selanjutnya, semoga bukan hal buruk." Fay mengucapkan doa dalam hati dengan sungguh-sungguh.


__ADS_2