Air Mata Istri Setia

Air Mata Istri Setia
Menaruh Curiga


__ADS_3

Galen menghampiri Fay yang tengah duduk di terus belakang. Seperti biasanya rumah dalam keadaan sepi. Hanya ada dirinya dan para pekerja.


"Mas Nero udah balik ke kantor?" tanya Galen begitu ia duduk di samping Fay.


"Sejam yang lalu. Habis dari klinik dia langsung drop gua dan berangkat ke kantor."


Galen menatap Fay dengan cermat. "Gue perlu pastikan satu hal ke loe. Seberapa deket loe sama Albie?"


Fay menjelaskan bahwa hubungan mereka cukup akrab, tapi tidak terlalu dekat. Fay tidak terlalu mengenal Albie. Ia hanya paham bahwa Albie penyuka lukisan dan seorang pengusaha sukses.


"Selama ini obrolan kita tidak pernah jauh dari lukisan dan obrolan ringan lainnya. Albie nggak pernah cerita soal asal usulnya," ungkap Fay.


"Berarti ... loe pernah ke rumah dia?"


"Pernah ... tapi sekali dan gue udah lupa."


Galen mengungkapkan keterkejutannya soal Widi dan Albie yang ternyata saling kenal. Selama Widi masih menjalin hubungan dengan kakaknya, Galen tidak pernah melihat Widi diperkenalkan dengan semua kolega bisnis kakaknya.


"Len, waktu loe cerita kalau Widi dan Albie ketemuan ... yang artinya mereka saling kenal ... entah kenapa tiba-tiba gue punya firasat buruk." Fay tampak cemas usai mengatakan apa yang ia rasakan.


Dipegangnya bahu Fay lembut. Diturunkan tangannya menggenggam tangan Fay. "Selama ada gue ... loe pasti aman."


Fay tersenyum lega. Meski demikian, dari dalam hatinya yang paling dalam ... ia merasa terkhianati oleh Albie. Beragam pikiran negatif berkecamuk. Ada kemungkinan besar ... kalau Albie tahu seperti apa hubungan rumah tangga miliknya.


*****


Nero baru saja membuka pintu ruang kerja miliknya, langkahnya terhenti begitu ia mendapati karangan bunga tergeletak rapi di meja. Ia urungkan masuk ke dalam, ditatapnya sang asisten pribadi yang sedari tadi setia mengikuti langkahnya di belakang.


"Karangan bunga di meja ... kamu yang taruh?"


"Saya tidak tahu, Tuan ..." Asisten pribadinya menjawab sopan.


Penasaran, Nero melangkah masuk dan mencari kartu di antara karangan bunga itu. Terselip kartu kecil berwarna merah muda. Terdapat satu goresan nama. Membacanya membuat Nero tersenyum.


"Kosongkan jadwal saya, kita ketemu lagi besok," perintah Nero.


Resta sang asisten mengernyitkan dahi. Baru beberapa menit yang lalu Nero meminta untuk dicarikan jadwal, sekarang ia berubah pikiran hanya karena karangan bunga.


"Kamu boleh pulang, saya ada janji penting dengan seseorang," perintah Nero lagi setelah melihat Resta belum juga beranjak dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


Meski ia akhirnya meninggalkan ruangan, diam-diam Resta mengirimkan pesan kepada Fay.


To: Ny. Fay


From: Resta


Tuan Nero membatalkan semua janji meeting hari ini, katanya akan bertemu seseorang, apakah itu Anda? Soal karangan bunga di meja kerja beliau, apa Anda juga yang mengirim?


Beberapa menit berlalu, Fay tidak memberikan respon apapun. Merasa lelah menunggu jawaban, Resta putuskan untuk mengabaikan dan memilih fokus mencari tempat bersantai agar bisa sedikit meregangkan syaraf yang tegang.


Di rumah, Fay yang memang sudah membaca pesan dari Resta hanya diam. Ia sangat penasaran, siapa pengirim bunga itu.


"Jangan bilang ... Widi pengirimnya ..." Fay menekan tombol panggil di layar yang menampilkan nama Resta.


"Iya, Nona ..." jawab Resta sopan dari ujung seberang.


"Bisakah kamu diam-diam ikuti suami saya? Saya hanya ingin memastikan dengan siapa dia bertemu."


Resta mengiyakan sesaat sebelum Fay menutup telpon.


"Aku nggak akan biarkan kamu dimanfaatkan lagi oleh Widi, Mas. Dia itu perempuan licik. Hanya aku yang kamu cintai. Kamu hanya salah mengingat saja."


*****


"Aku akan tunggu di sini. Pasti sebentar lagi Tuan Nero akan keluar."


Benar saja, tak lama kemudian Nero keluar lift menuju mobil yang ia parkir tak jauh dari lift. Herannya, Nero tidak langsung masuk ke mobil. Ia seperti sedang menelpon seseorang.


Tak lama dari ia menelpon, muncul taksi yang sepertinya menurunkan seseorang dengan sengaja di samping mobil Nero.


Begitu penumpang taksi itu turun, taksi langsung melaju pergi. Resta mengabadikan momen saat penumpang yang turun barusan berjalan menghampiri Nero.


Keduanya tampak sama-sama menempelkan HP di telinga. Sudah jelas bahwa barusan Nero menelpon perempuan itu.


Usai keduanya berpelukan dan cium pipi kanan kiri, keduanya masuk mobil dan meninggalkan basement. Resta yang sempat melihat wajah wanita itu cukup terkejut.


"Bukankah itu Widi?" gumamnya sembari menunggu momen yang tepat agar bisa membuntuti Nero dari belakang tanpa ketahuan.


"Nona Fay harus tahu ini," ujar Resta sembari terus membuntuti mobil Nero yang melaju pelan membelai jalan raya.

__ADS_1


Perlahan tanpa kecurigaan sedikitpun, mobil Nero memasuki halaman restoran mewah. Keduanya turun dari mobil, berjalan mesra memasuki restoran.


"Apa Tuan Nero benar-benar sudah gila? Dia masih bermain dengan Widi ..." geram Resta melihat apa yang dilakukan atasannya.


Resta melihat dari mobil saja. Keduanya memilih tempat makan yang bisa dilihat dari tempat ia parkir. Keduanya tampak sangat bahagia dan pastinya mesra.


Hanya butuh setengah jam mereka menikmati makan malam. Keduanya beranjak pergi meninggalkan restoran. Kembali Resta mengikuti mereka dari belakang, masih dengan cara diam-diam.


Semakin terkejut ia tatkala mendapati mobil Nero berbelok ke salah satu hotel ternama. "Mungkinkah mereka akan melakukan perbuatan menjijikkan disana? Benar-benar keterlaluan. Aku akan telpon Nona Fay."


"Halo, Resta. Bagaimana?" Terdengar suara Fay dari telpon.


"Tuan Nero kembali menjalin hubungan dengan Widi, Nona. Saat ini keduanya ada di hotel. Apakah perlu saya kirim lokasinya? Atau Anda ingin saya menemui Tuan Nero sekarang?"


"Kirim lokasinya ..."


"Tunggu Nona ... barusan saya melihat Tuan Nero keluar sendiri tanpa Widi. Saya akan buntuti kemana beliau pergi, nanti saya hubungi kembali."


Setenang mungkin Resta kembali membuntuti Nero yang keluar hotel tanpa Widi. Dan alhasil rupanya Nero malah pulang ke rumah.


"Iya, Nona," jawab Resta mengangkat telpon dari Fay.


"Kamu pulang saja, terima kasih," ujar Fay singkat. Fay sudah tahu kepulangan suaminya.


Sepanjang perjalanan pulang Resta terus memikirkan kejadian barusan. Bukankah sebelum kecelakaan Nero sangat mencintai Fay. Sangat jelas ia sudah melupakan Widi.


Ekspresi yang ia perlihatkan ke Widi dan cara Nero berbicara dengan istrinya, sangat persis saat pertama ia menjalani pernikahan.


"Apa jangan-jangan ... ingatan Tuan Nero sebenarnya belum benar-benar pulih dan masih mengira bahwa kekasihnya adalah Widi? Bahkan bisa jadi ia mengira kontrak pernikahan itu masih berlaku ..." ujar Resta curiga.


*****


Fay menyambut kepulangan Nero dengan senyum lega. "Untung kamu segera pulang, Mas. Aku langsung merasa lebih baik."


"Kamu masih mual? Dokter dalam perjalanan kemari untuk memeriksa kondisi kamu." Wajah Nero tampak cemas dan meminta Fay untuk menunggu di kamar saja.


Fay mengangguk patuh. Saat ia berbalik membelakangi Nero, Fay tersenyum tenang. Beberapa saat sebelum akhirnya ia keluar hotel memutuskan untuk pulang, Fay mengirim pesan ke Nero.


Intinya, ia meminta Nero cepat pulang sebab kondisinya sangat tidak nyaman. Ia mengaku merasa mual berlebihan dan nyeri perut.

__ADS_1


"Maaf, Mas ... aku terpaksa berbohong sebab hanya cara ini yang bisa kulakukan sebagai istri begitu tahu kamu jalan dengan wanita lain," batin Fay.


Sebenarnya apa yang ingin direncanakan Widi, Fay masih belum tahu ... tapi firasatnya berkata bahwa perempuan itu pasti merencanakan sesuatu.


__ADS_2