Air Mata Istri Setia

Air Mata Istri Setia
Menemukan Fakta Lain


__ADS_3

Suara gagang pintu yang digerakkan dari luar membuat Fay terbangun dari tidurnya. Perlahan ia buka matanya. Saat hendak berteriak sebab suara itu mengganggu tidurnya, secepat kilat ia bungkam mulutnya.


Fay menyadari kalau ia tengah menyusup di rumah Widi. Jangan sampai Widi dan Nero mengetahui keberadaannya. Sayup-sayup terdengar suara Widi.


"Aku harus ambil jaket di dalam kamar ini, Mas," ujar Widi dari luar kamar sembari terus mencoba membuka pintu.


"Pakai jaket yang lain saja. Saya sudah lapar." Kali ini terdengar suara Nero dari luar kamar.


"Tapi Mas ... oke aku pakai jaket yang lain."


Fay terus diam dengan posisi siaga. Gagang pintu tidak lagi bergerak.


"Saya tunggu di luar!" Nero setengah berteriak sebelum akhirnya kembali senyap seolah tidak ada siapapun di depan pintu kamar.


Fay melirik jam tangan. "Sial! Sudah jam 9." Fay merutuk dalam hati. Rupanya ia tertidur cukup lama. Ia berjalan mengendap mendekat ke pintu. Mencoba mendengar suara di luar.


Sesaat kemudian terdengar suara pintu dibuka dan menutup yang diikuti suara Widi.


"Otw ke depan!" ujar Widi setengah teriak. Terdengar suara derap langkah Widi menuju pintu depan. Tak lama kemudian terdengar suara dibuka dan ditutup pintu, kali ini dibarengi dengan suara pintu dikunci.


Dua menit berlalu. Suasana rumah berubah jadi lebih sunyi. Fay mengambil nafas panjang, lega. Ia yakin, rumah dalam keadaan kosong. Meski kecewa, setidaknya ia aman.


Fay membuka pintu kamar tempat ia bersembunyi. "Setidaknya, di kesempatan ini gue bisa cari info sebanyak mungkin tentang apa saja yang udah dilakukan wanita iblis itu."


Fay berjalan menyusuri seluruh ruangan. Ia hanya geleng-geleng kepala menahan sakit. Widi benar-benar memanfaatkan situasi yang menimpa suaminya.


Foto yang dipajang Widi ini pasti foto lama mereka. Bagaimanapun Fay sangat hafal bentuk paras Nero. Itu foto masa lalu mereka jauh hari sebelum ia dan Nero menikah.


"Kamu benar-benar gila, Widi." Fay mengepalkan tangannya, menyalurkan emosi yang ia rasakan.


Tok Tok Tok!


Fay diam di tempat. Seketika badannya mematung. Jantungnya berdebar saat mendengar ketukan pintu dari luar.


"Fay! Ini gue! Buka pintunya!"


Fay langsung mengenali pemilik suara itu. Menyadari Galen berdiri di depan pintu rumah, Fay berlari ke depan. Kebetulan di samping pintu depan ada jendela cukup besar. Ia membuka kunci jendela.


"Pintu dikunci. Loe ngapain ke sini?" tanya Fay begitu membuka jendela.


"Loe gila! Udah gue bilang, jangan gegabah dan ambil langkah sendiri!" Galen melotot tajam ke arah Fay.

__ADS_1


"Sorry ..." Fay meringis memandang Galen.


"Loe keluar sekarang, kita cabut dari sini. Jangan sampai ketahuan Widi, yang ada panjang urusannya."


"Tapi ..."


"Ikuti kata gue Fay. Gue nggak mau kita dituduh maling."


Terpaksa, Fay menuruti perintah Galen. Ia keluar rumah dengan melompati jendela. Setelah ia tutup jendela itu, Galen mengajaknya pergi dari rumah Widi. Tentu saja dengan melompati pagar sebab sudah dikunci oleh Widi.


Sepanjang perjalanan menuju hotel, Fay hanya diam menatap jendela mobil. Ia masih sangat kesal dengan Galen. Rencananya gagal.


"Gue dapat fakta lain soal rencana Widi." Galen membuka pembicaraan.


"Rencana apa?"


"Widi berniat ngajak Mas Nero nikah secepatnya."


"Loe tahu dari mana?"


"Sebelum mereka cabut, gue sempat denger kalau mereka hari ini rencana ke salah satu teman Widi untuk konsultasikan tanggal pernikahan mereka."


"Nggak, nggak boleh terjadi. Sampai saat ini, gue masih istri sahnya Mas Nero."


Fay menghela nafas panjang. Ia benar-benar berharap bisa mencegah rencana pernikahan Widi.


"Kita sarapan dulu, Fay. Ingat, ada nyawa yang harus loe jaga." Galen membawa mobil memasuki salah satu pelataran restoran.


Fay hanya menuruti kata Galen. Lagi pula memang ada benarnya. Dia harus menjaga kondisi janin yang ada di dalam perutnya.


Saat hendak duduk, Galen membisikkan ke Fay. "Ada Mas Nero dan Widi di arah jam 9. Jangan nengok. Kita pura-pura nggak melihat aja. Gue yakin, bentar lagi Mas Nero pasti notice ke arah kita."


"Serius?" Fay melirik Galen.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh ..." Tepat di hitungan ke sepuluh, Nero sudah berdiri di samping Fay, menyapanya terlebih dahulu.


"Nona, bukankah Anda perempuan yang saya temui di rumah sakit waktu itu?" tanya Nero.


Fay menoleh ke arah Nero, memasang muka ramah. "Iya, Mas."


Sebelum melanjutkan pembicaraannya, Nero menoleh ke arah toilet. Kebetulan Widi yang ia panggil Kinan itu baru saja pergi ke toilet.

__ADS_1


"Bukti apa yang Anda punya soal identitas asli saya?" tanya Nero penuh selidik.


"Bukti soal pernikahan kita, Mas."


Nero mendengar jawaban itu langsung tertawa. "Ternyata benar apa kata Kinan. Anda pasti mengaku-ngaku kalau kita sudah menikah."


"Kenyataannya memang begitu, Mas!" bentak Galen hilang kesabaran.


Nero mengerutkan kening saat ia menatap Galen. "Anda siapanya nona ini, suaminya?" tanya Nero dengan tatapan asing.


"Gue Galen, adik loe!" sentak Galen kehilangan kesabaran.


"Tunangan saya akan segera kembali, jangan sampai kalian diusir dari sini hanya karena dianggap membuat keributan. Kita bicara lagi nanti. Tinggalkan nomor HP kalian."


Tanpa basa-basi Fay menuliskan nomor HP miliknya di kertas. Beruntung ia selalu membawa memo kecil dan juga pulpen di dalam tas kecilnya.


Usai menerima memo itu, Nero segera kembali ke tempat duduknya. Tak lama kemudian, Widi kembali dari toilet. Entah apa yang dibicarakan, tak lama kemudian Nero dan Widi beranjak meninggalkan restoran. Sepertinya pindah tempat.


Melihat gelagat Fay yang ingin membuntuti kedua orang itu, Galen langsung menahan Fay.


"Gue yakin, abang gue merasa ada yang tidak beres dari cerita Widi. Dia pasti belum puas dengan apa yang diceritakan Widi. By the way, loe nemu apa di rumah Widi?"


"Semua kenangan Mas Nero dengan Widi di masa jauh sebelum gue kenal dia. Masa remaja. Sepertinya Widi sengaja menggunakan masa lalu mereka, tapi dengan identitas baru."


"Mereka berdua sempat bertunangan secara diam-diam dan sudah pernah memiliki rencana menikah. Tapi tertunda sebab Widi ingin berangkat ke London. Urusan model."


"Berarti, papa Danu sempat kasih restu?"


Galen menggeleng. "Keduanya berencana menikah tanpa restu."


Fay menarik nafas panjang. "Berarti ... Widi memang berniat menggunakan cerita masa lalu itu."


"Kita tunggu saja, apa yang ingin Mas Nero bicarakan pada kita."


Keduanya memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum kembali ke hotel.


Saat berjalan menuju mobil, Fay mendapat telpon dari nomor asing. Saat dijawab, rupanya dari Nero.


📞 "Saya ingin kita bertemu di rumah. Kebetulan besok tunangan saya ada kerjaan. Dia akan pulang saat malam hari. Saya tunggu di rumah. Kali ini jangan ada acara menyusup lagi. Saya tidak akan menyelamatkan Anda untuk kedua kali."


Belum sempat Fay menjawab, Nero sudah terlebih dahulu menutup telpon.

__ADS_1


"Mas Nero ngundang kita ke rumah ... gue nggak nyangka, ternyata dia tahu kalau gue diam-diam nyusup ke rumah," ujar Fay termangu.


__ADS_2