
Ance sudah aman. Kini ia bisa tenang pulang ke rumah. Widi juga sudah berjanji tidak akan menyalahkan Ance atau siapapun.
Galen masih belum bisa memaafkan tindakan Nero yang nekat berselingkuh. Ia masih enggan menyapa atau berbincang dengan Nero.
Satu-satunya alasan yang menahan tangannya untuk tidak memukul Nero adalah Fay. Ia masih bisa menuruti permintaan sahabatnya itu.
Seperti malam biasanya, Fay langsung pergi tidur sebab pusing lagi-lagi melanda. Kali ini dia cukup paham sebab siang tadi dokter sudah menjelaskan penyebabnya. Ia masih menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan pada Nero.
"Fay!" panggil Nero dari luar kamar.
"Kenapa Mas?" tanya balik Fay tanpa turun dari ranjang, badannya sangat lemas.
"Boleh Saya masuk?"
Fay mempersilakan dengan menyuruh suaminya itu masuk. Nero langsung masuk, menutup pintu. Tanpa basa-basi, ia ikut berbaring dengan Fay di ranjang.
"Boleh masuk bukan berarti tidur seranjang, Mas," tegur Fay, ia tidak nyaman sebab mereka hanya pasangan palsu.
"Malam ini izinkan Saya tidur di sini, ada yang harus kamu tahu," ujar Nero pelan.
"Soal apa Mas?"
"Dinner romantis di Jepang itu memang sengaja sebagai momen terakhir saya bersama Widi sebagai sepasang kekasih."
Nero bercerita, ia mengajak Widi makan malam di tempat pertama kali mereka sepakat untuk menikah. Tempat sejarah bagi keduanya.
Saat dulu terasa indah bagi Nero, tapi semuanya berbeda. Memori terakhir kemarin sangat pahit baginya.
Demi memberi satu pelajaran bagi perempuan yang ia cintai itu, Nero memasukkan obat pe*angsa*g pada minuman Widi.
Begitu memasuki hotel tempat Widi menginap, ia membiarkan Widi berbaring sendirian di atas ranjang dengan kondisi n*fsu yang sedang naik.
Sengaja ero mengikat tangan dan kaki Widi agar tidak berlari mengejarnya. Nero juga cerita betapa tersiksanya Widi akibat pengaruh obat itu.
Nero melepaskan satu ikatan Widi dan memberikannya alat vi*gra. Memaksanya menggunakan alat itu untuk menuntaskan hasrat yang terpacu tinggi.
Mau tidak mau, akhirnya Widi menurut sebab ikatan yang terlalu kuat dan sudah tidak tahan lagi.
Nero langsung menyalakan kamera dan merekam wajahnya saat menggunakan vi*gra untuk menuntaskan hasratnya.
Selama ini perempuan itu tidak pernah mau wajahnya direkam. Sekarang ia akan merasakan bagaimana takutnya bila wajah mes*umnya tersebar gara-gara terekam jelas di kamera.
__ADS_1
Puas mèmper mainkan Widi, besoknya Nero mengatakan bahwa ia sudah memiliki video itu dan menghapusnya.
Ia juga mengatakan akan menyimpan video milik Widi sebagai jaminan agar ia tidak lagi mengejarnya atau mengancam orang-orang yang telah membantunya mendapatkan video itu.
"Saya tidak menyangka, hari itu akan tiba. Bagaimanapun kami memulai dengan cara yang indah. Melewatkan banyak momen romantis," tutup Nero mengakhiri cerita.
"Aku ngerti, Mas. Pasti berat banget menjalani itu semua. Sabar," hiburan Fay.
"Sekali lagi terima kasih, Fay."
"Sama-sama, Mas."
Nero menegakkan badannya. "Selama ini sebagai suami, kamu selalu mendapatkan perlakuan kasar dari saya. Sorry."
Fay mengangguk. "Iya, Mas."
"Tapi, Fay. Meskipun sekarang hubungan saya dengan Widi telah berakhir, jujur saya masih mencintai dia."
Fay nyeri mendengar ungkapan perasaan Nero, tapi ia cukup sadar diri. Cinta pertama memang akan selalu membekas.
"Sampai saat ini, jujur saya tetap tidak bisa mencintai kamu, Fay."
"Saya juga tidak ingin menyiksa kamu lebih lama lagi, Fay. Secepatnya, perceraian kita akan segera selesai. Besok akan mulai diurus oleh Resta."
"Soal kontrak kita, Mas?" Fay cukup terkejut dengan keputusan Nero barusan.
"Kita batalkan saja."
Fay duduk lebih tegak, ia hadapkan ke samping, berhadapan dengan Nero yang berada di sampingnya.
"Nggak bisa, Mas. Kontrak itu harus tetap dijalankan, sebab kalau batal, bisa bahaya."
Fay turun dari ranjang tidurnya, mendekat ke meja rias. Meraih tas hitam yang biasa ia gunakan saat keluar.
"Maksud kamu apa Fay?"
Fay tidak menghiraukan pertanyaan Nero. Ia membuka tas, mengeluarkan satu amplop putih. Tertera nama rumah sakit di bagian depan amplop.
Sekali lagi Fay menimbang-nimbang keputusannya. Hatinya cukup ragu antara memberitahu Nero atau cukup dia yang tahu.
"Gimana reaksi dia nanti?" batin Fay dilema. Dipandangnya Nero dari tempat ia berdiri.
__ADS_1
"Jawab, Fay! Maksud kamu apa? Bahaya gimana?" tanya Nero lagi, kali ini nadanya terdengar gusar.
"Apapun reaksinya yang penting aku sudah memberi tahu," batin Fay lagi.
Amplop putih itu ia genggam sembari berjalan mendekat ke ranjang. Nero terus mengamatinya dengan tatapan tajam, kesabarannya semakin menipis.
"Mas masih ingat kontrak kita yang terakhir, bukan?" tanya Fay mencoba berusaha terlihat tenang, padahal ia cukup takut.
"Masih, kenapa?"
Fay memberikan amplop itu tanpa banyak bicara lagi. "Mas baca sendiri," ucap Fay.
Nero menerima amplop itu, saat membuka dan mendapati test pack di dalamnya, ia cukup terkejut. Begitu ia keluarkan, tampak dua garis merah di sana.
Dipandangnya Fay dengan tatapan tak percaya. Fay hanya memberi isyarat untuk membaca kertas di dalam amplop.
Nero mengeluarkan kertas itu dan membacanya. Hasil periksa dari rumah sakit atas nama Jesslyn Fay Edre dengan nama suami Alrescho Nero Adhitama.
Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa Fay positif mengandung dengan usia kandungan 3 minggu.
"Kamu paham kan, Mas? Mau tidak mau kita harus tetap menjalankan kontrak kita. Anak di dalam perut aku ini tidak bersalah, Mas ..." ucap Fay sembari memegang perutnya.
Nero hanya terdiam menatap Fay dan kertas yang ia genggam bergantian hinggan dua kali. "Besok kita ke dokter!" perintah Widi tegas.
"Besok aku ada meeting, Mas," tolak Fay halus. Ia enggan pergi berdua dengan Nero.
"Batalkan atau saya tarik paksa kamu!" bentak Nero, ia sangat tidak suka dibantah.
"Baiklah," jawab Fay, menyerah untuk berdebat. Ia kembali berbaring sebab sangat mengantuk.
"Kita berangkat jam 7 pagi," ujar Nero turun dari ranjang beranjak keluar kamar.
"Ke mana, Mas?"
"Saya akan telpon Resta, biar dia yang atur jadwal periksa besok. Kamu istirahat."
Nero menghilang di balik pintu. Fay hanya menghela nafas berat.
"Jujur saya tetap tidak bisa mencintaimu, Fay," ucapan Nero kembali terngiang. Perlahan air matanya turun menetes.
"Pedih sekali, Nak ..." keluh Fay lirih sembari mengusap perutnya.
__ADS_1