
Perbincangan di telpon semalam membawa Widi melangkah ke lokasi yang telah ia dapatkan dari si penelpon. Meski tidak tahu siapa penelpon itu, tapi ia ia sudah kepalang buntu untuk bisa mendapatkan Nero kembali.
"Apapun hasilnya ... setidaknya gue mencoba dulu. Siapa tahu orang ini benar-benar bisa bantu gue," ujar Widi dalam hati sembari berjalan mendekat ke meja resepsionis.
"Selamat datang, Nona ..."
"Saya datang memenuhi undangan atas nama Albie."
Pegawai yang menyambutnya langsung membawa Widi menuju satu ruangan dengan tulisan VVIP. Melihat kemana ia dibawa, perempuan itu sudah tahu kalau yang mengundangnya bukan sembarangan. Ia tersenyum senang.
"Tuan Albie sedang dalam perjalanan ke sini, silakan Anda tunggu di dalam," ujar pegawai itu sebelum akhirnya meninggalkan Widi sendirian di ruangan tersebut.
Beberapa saat kemudian muncul pria paruh baya, ia memberikan salam hormat kepada Widi. Sebelum perempuan itu bertanya, ia lebih dulu memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, saya asisten pribadi Tuan Albie. Mohon maaf, beliau tidak bisa datang menemui Anda sebab ada meeting penting yang mendadak. Jadi, saya ditugaskan untuk menemui Anda."
Widi hanya diam menatap pria itu. Tanpa rada canggung, pria yang mengaku sebagai asisten pribadi Albie itu langsung mengambil tempat duduk di depan Widi. Ia keluarkan satu berkas map dan ia letakkan di atas meja.
Berkas map itu memiliki isi yang sama persis dengan apa yang diterima oleh Albie kemarin.
"Silakan Anda baca, saya rasa Anda jauh lebih paham terkait detailnya."
Widi enggan melihat berkas itu, jujur ia masih dongkol dengan sikap Albie. Ia yang menyuruhnya datang tapi ia sendiri yang membatalkannya.
"Saya jamin Anda akan tertarik dengan hal ini."
__ADS_1
Akhirnya Widi meraih map itu dan membacanya. Enggan ia menatap wajah pria itu. "Untuk apa saya membaca informasi yang saya sudah tahu?"
"Silakan baca tulisan paling akhir."
Widi membuka halaman paling akhir. Tertera tulisan ajakan kerja sama dari Albie. Catatan itu ditulis dengan menggunakan tinta merah. Tertera tanda tangan Albie di bagian bawah tulisan.
'Mari kerja sama dengan saya, kamu dapatkan Nero dan saya dapatkan Fay. Syaratnya hanya satu. IKUTI ALUR SKENARIO SAYA TANPA BANTAHAN SEDIKITPUN.'
Widi menatap malas asisten pribadi Albie. "Saya tidak suka diperintah. Jangan harap saya mau kerja sama."
"Alur skenarionya sangat mudah," asisten pribadi Albie menjelaskan secara detail kepada Widi. Mulanya Widi yang tidak tertarik langsung berubah pikiran setelah mendengar penjelasan detail itu.
"Jaminannya seratus persen?" tanya Widi ingin diyakinkan. Asisten pribadi itu mengangguk yakin.
Perempuan itu tersenyum senang. "Deal."
"Besok, saya akan menjemput Anda untuk menemui Tuan Albie secara langsung. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Maklum, beliau orang sibuk."
"Tunggu ... sebenarnya Albie ini siapa? Bagaimana dia bisa kenal dan menginginkan Fay?"
"Anda kenal Adyatma Albie?"
Mata Widi seketika membelalakkan lebar. Ia tidak percaya bahwa pria yang sedang mengajaknya kerja sama adalah pria muda konglomerat yang sangat digandrungi banyak perempuan.
"Albie ... sebuah kejutan yang luar biasa. Saya tidak menyangka perempuan kampungan itu bisa menarik hati pria kelas emas," seronoh Widi tak percaya.
__ADS_1
"Jaga bicara Anda. Sekalipun Anda sangat membenci Nona Fay, jangan pernah menyebutnya sebagai perempuan buruk terutama saat ada Tuan Albie. Saya khawatir nasib Anda akan berakhir buruk."
Widi diam seolah sedikit terkejut. Selain kesuksesan Albie, dia juga sangat paham bagaimana perangai sesungguhnya laki-laki itu. Dia sangat kejam dan akan melakukan apapun sekalipun itu cara kotor.
"Kita bertemu lagi besok, saya pamit," Widi langsung menutup pembicaraan. Lebih balik ia segera pergi dari pada ada pembicaraan berlarut-larut yang membuat dirinya salah ucap lagi. Ia tidak ingin kesepakatan ini batal.
"Terima masih sudah bersedia kerja sama," ujar asisten pribadi Albie mempersilakan Widi meninggalkan tempat.
Di sepanjang perjalanan pulang, Widi tersenyum tenang. "Aku tidak akan pernah melepaskan kamu, Mas. Kamu adalah aset berharga untukku hidup. Kesempatan sekecil apapun, akan aku tempuh."
*****
"Tuan ... semua kesepakatan sesuai dengan rencana. Nona Widi menyetujui kerja sama kita, meski awalnya menolak ... tapi setelah saya jelaskan rencana Anda secara detail, beliau setuju."
Laporan sang asisten pribadinya membuat Albie tersenyum puas. Ia sudah sangat yakin tawarannya tidak mungkin ditolak oleh perempuan berhati licik itu.
"Siapkan segala keperluan untuk melaksanakan rencana kita. Jangan sampai gagal."
Asisten pribadi mengangguk patuh. Ia pun pamit pergi meninggalkan ruang kerja pribadi Albie.
"Fay ... kita lihat saja ... apa yang akan terjadi jika di depan mataku sendiri ... kekasih sialanmu itu kembali memilih wanita lain ..." ujar Albie dengan tatapan tajam dan seringai mengerikan.
Albie sudah merasa tidak sanggup menahan diri untuk terus membiarkan Fay jatuh ke pelukan laki-laki yang ia anggap lemah itu.
Bagi Albie, wanita seistimewa Fay tidak kayak menderita bersama dengan suami amnesia seperti Nero. Sudah cukup penderitaannya. Ia sangat yakin akan bisa membahagiakan Fay.
__ADS_1
"Aku yang lebih kayak hidup bersama kamu, Sayang," ujar Albie lagi, "tenang saja, sebentar lagi kamu akan aku jemput."