Air Mata Istri Setia

Air Mata Istri Setia
Ceraikan Aku, Mas


__ADS_3

Fay mulai bisa berjalan sendiri tanpa kursi roda. Badannya sudah jauh lebih segar dibandingkan saat baru keluar rumah sakit.


Ia berjalan perlahan menuruni tangga menuju dapur. Pagi tadi Nero harus ke kantor. Resta memberi kabar ada hal penting yang harus ia tangani sendiri. Entah soal apa, Fay tidak peduli.


Sesampainya di dapur, Fay membuka pintu kulkas. Berusaha mencari sesuatu yang bisa ia makan. Meski sudah sarapan, perutnya masih lapar.


"Fay, loe ngapain?"


Ia menoleh ke sumber suara. Melihat kehadiran Galen, Fay tersenyum meringis. "Masih laper, pengen makan sesuatu."


"Duduk aja, biar gue buatin. Mana bisa gerak bebas kalau cuman pake satu tangan." Galen berjalan mendekat, mendudukkan Fay di kursi dapur.


Fay hanya tersenyum miris menatap tangan kanannya yang masih dibalut perban dengan posisi ia gendong.


"Kebetulan gue juga belum sarapan, hehe ... gue bikin omelet aja dan loe dilarang protes."


"Gue masih pengen nasi goreng, please ..." Fay memasang muka memelas.


"Oke ..." Galen mengangguk setuju setelah berpikir beberapa detik.


"Tumben loe ke sini. Biasa juga kalau mampir pas udah malem."


Galen menjelaskan kalau dia ada pemotretan dekat sini. Jadi dia memutuskan mampir buat sarapan. Makan sendiri membosankan katanya.


Butuh beberapa menit untuk menyelesaikan proses memasak menu keinginan Fay. Galen membuat nasi goreng dua porsi, untuknya dan Fay.


"Makan di meja makan aja, yuk. Gue bawain piringnya, loe jalan aja ke sana pelan-pelan," ujar Galen sembari berlalu cepat ke meja makan.


Galen kembali menyusul Fay setelah meletakkan dua piring berisi nasi goreng di atas meja makan. Dipapahnya perlahan hingga duduk nyaman di kursi.


"Thanks, Len." Fay tersenyum simpul. Ia mulai menyicipi nasi goreng masakan Galen. Keduanya duduk berhadapan.


"Masakan gue tetap enak, kan?" Galen menyunggingkan senyum, PD dengan hasil buatannya.


Fay mengangguk, mengacungkan jempol kirinya. "Banget."


"Habisin, Fay."


"Bisa gendut gue kalau tiap sarapan habis dua porsi. By the way, gue gendutan kan, ya."


"Nanti kalau udah sembuh bisa diet lagi. Santai aja. Gue temenin ke gym. Kita gym bareng, gimana? Gue juga mulai gendutan. Jarang olahraga."


"Boleh."


Keduanya terdiam sesaat, menikmati makanan masing-masing hingga tandas tidak bersisa. Setelah menghabiskan minumannya, Fay mengatakan sesuatu yang membuat Galen terkejut.


"Gue mau cerai, Len."

__ADS_1


Hampir saja Galen menyemburkan minumannya ke wajah Fay kalau tidak ia tahan. Tapi tetap saja ia tersedak.


"Gue serius. Udah nggak sanggup gue jalani pernikahan sama Mas Nero. Gue mau cerai."


"Kita perlu bicara berdua, Fay."


Galen dan Fay sontak menoleh ke pintu masuk meja makan begitu mendengar suara Nero. Keduanya cukup terkejut mendapati sosok Nero sudah berdiri di sana.


"Mas, sejak kapan kamu pulang?" Fay tampak terkejut tapi sedikit lega. Ia sangat berharap Nero mendengar ucapannya barusan. Jadi tidak perlu mengulanginya lagi.


"Gue pamit, Fay," pamit Galen lirih. Ia beranjak meninggalkan ruang makan. Niat hati ingin sekali di sana tapi jelas ini bukan ranahnya.


Saat melewati Nero, Galen hanya memandangnya sekilas tanpa mengucapkan apapun. Ia berlalu begitu seja melewati kakaknya.


Selepas Galen pergi, Nero berjalan mendekati Fay, duduk di tempat dimana Galen tadi duduk. Keduanya kini duduk berhadapan.


"Bisa kamu ulangi perkataan-" Fay langsung memotong pembicaraan Nero dengan tegas.


"Aku mau cerai, Mas!" Tatap Fay tanpa ekspresi.


"Fay, boleh kita tidak membicarakan ini dulu?" Nero menghela nafas panjang.


Sekali lagi ia menjelaskan dengan sabar, tidak akan ada pembicaraan apapun soal perceraian selama Fay belum benar-benar pulih seperti semula.


"Kamu tidak perlu iba dengan keadaanku, Mas. Nanti atau sekarang sama saja. Aku ingin cerai!"


"Nggak mau!" teriak Fay emosi.


"Fay, orang tua kita tidak akan pernah menyetujui perceraian kita. Apa kamu sengaja ingin menorehkan citra buruk pada saya? Menceraikan istri setelah kecelakaan hingga keguguran. Apalagi belum pulih."


"Aku nggak peduli kata orang. Aku ingin kita cerai. Saat di awal pernikahan, aku memang ingin bertahan denganmu sebab aku berharap suatu saat kamu bisa benar-benar mencintaiku, Mas."


Fay mengambil nafas sejenak. "Dulu aku memang jatuh cinta sama Mas. Tapi, perasaan itu sudah hilang. Aku nggak sanggup hidup sama kamu, Mas. Aku ingin cerai."


Nero tetap menolak keputusan Fay. Ia terus mengatakan alasan yang sama berulang kali.


"Buat apa kita bertahan dengan skenario menjijikkan ini, Mas?"


Nero diam membiarkan Fay mengeluarkan semua yang ingin ia katakan.


"Kamu juga sudah tidak punya alasan untuk mempertahankan pernikahan ini. Bukannya kemarin kamu ingin menikah supaya bisa menikahi Widi. Tapi, semua sudah batal dan gagal."


"Aku tahu, tapi kita punya perjanjian baru."


"Soal kehamilan aku, mereka juga sudah nggak ada, Mas. Jangan pura-pura lupa seolah aku tidak harus keguguran."


"Tapi kondisi kamu ..."

__ADS_1


"Mas ... kondisi aku sakit atau sehat, tidak ada di dalam perjanjian kita. Kewajiban merawat aku sampai pulih, itu tidak ada di kontrak. Kita bisa cerai."


"Saya tidak sekejam itu, Fay. Kamu datang ke rumah ini dalam keadaan utuh. Pulang dari sini juga sama."


Belum sempat Fay bicara lagi, Nero lebih dulu bersuara. Ia memberikan pilihan lain.


"Saya beri kamu kesempatan untuk menenangkan diri. Kamu pasti rindu papamu. Silakan menginap di sana selama tiga hari."


"Seminggu. Aku Mas seminggu."


"Baik, seminggu."


"Aku nggak mau kamu anter. Biar dijemput sopirnya papa."


"Nggak! Saya antar atau batal!" bentak Nero kesal. Ia kehabisan kesabaran.


Sedikit terkejut dengan bentakan Nero, Fay akhirnya memilih diam Ia malas berdebat. Tiba-tiba kepalanya sedikit pening.


Nero beranjak bangkit. "Saya siapkan keperluan kamu. Nanti malam kita berangkat.


Melihat Nero berjalan keluar ruangan, Fay sengaja mengeraskan suaranya.


"Satu minggu, Mas. Aku jamin kondisiku akan pulih seperti sedia kala. Aku harap, perceraian kita akan segera diurus."


Nero hanya berhenti sejenak memandang Fay tanpa bicara. Ia pun berlalu begitu saja tanpa berniat menanggapi ucapan Fay.


Selama berjalan menuju kamar Fay, laki-laki itu tidak manis pikir dengan perasaannya. Entah kenapa dadanya sangat perih saat Fay meminta cerai.


Tumbuh rasa tidak rela apabila Fay meminta cerai. Saat Fay mengatakan perasaan untuknya telah hilang, ada kekecewaan di hati Nero.


"Kenapa sakit sekali mendengar ucapan perempuan itu," gumam Nero heran. Ia mulai mengemasi beberapa barang penting Fay selama menginap nanti.


Saat mengemasi barang, Nero terdiam dan tersenyum. "Sepertinya ikut menginap semalam bukan ide yang buruk," gumamnya tersenyum senang.


Ia pun ikut memasukkan beberapa baju miliknya.


*****


Galen terdiam menatap gedung tinggi sebelah. Ia tengah menghisap rokok di atap gedung. Sesi pemotretan baru saja berakhir.


Dipandangnya langit malam Jakarta. Ia terus terngiang dengan ucapan Fay soal keinginannya bercerai.


"Kalau Fay cerai ... apa gue punya kesempatan untuk miliki dia?" gumamnya diantara hembus asap rokok.


Hatinya cukup senang saat Fay akhirnya memutuskan untuk mempercepat proses perceraiannya. Ia masih memiliki perasaan pada sahabatnya itu.


Perlahan senyum mengembang di wajah Galen.

__ADS_1


__ADS_2