
Hari ini Fay hampir seharian mengurung diri di kamar. Nero sudah berangkat kerja sejak pagi. Segala urusan galeri ia serahkan pada Gea lewat telpon.
Wanita itu kini memandang kertas putih di atas meja. Ditangannya tergenggam pena hitam. Pikirannya menimbang-nimbang sesuatu.
Fay berpikir keras merangkai kalimat yang tepat untuk pembaruan kontrak pernikahannya. Ia cukup cemas apakah pasal yang ia tulis akan diterima oleh Nero.
"Fay, kau di dalam?"
Fay terperanjat mendengar suara Nero dari luar pintu. "Jam berapa ini? Kenapa Mas Nero sudah pulang?" tanyanya pada diri sendiri.
Fay melihat jam dinding, masih jam 10 pagi. "Aku di dalam, Mas!"
Nero masuk, meraih kursi rias dan meletakkannya berhadapan dengan Fay. Ia duduk dengan tatapan serius.
"Tumben Mas sudah pulang."
"Saya berubah pikiran. Surat kontrak pernikahan kita sudah saya perbarui. Kamu baca."
"Tapi Mas sema-"
"Baca saja!" bentak Nero memotong ucapan Fay.
Dongkol tapi malas berdebat, Fay memilh mengalah dan membaca kertas yang disodorkan Nero.
"Kontrak pernikahan. Satu, pihak 1 dan 2 sepakat bercerai setelah 2 tahun pernikahan." Fay memandang Nero dengan kesal.
Nero menyimak dengan serius, menunggu Fay melanjutkan pembacaannya sampai tuntas.
"Dua, pihak 1 dan 2 dilarang memiliki kekasih lain atau kedekatan dengan lawan jenis selama kontrak pernikahan masih berjalan. Kedua belah pihak dilarang saling menyakiti lahir batin selama pernikahan berlangsung."
Fay bernafas lega membaca isi kontrak yang kedua. Setidaknya dia merasa dihargai sebagai istri.
"Lanjutkan," pinta Nero.
"Tiga, apabila hamil di penghujung kontrak, perceraian akan ditunda hingga anak tersebut lahir. Hak asuh anak akan jatuh di pihak 1 dengan catatan membebaskan pihak 2 untuk bertemu ... ini serius, Mas?"
"Saya tidak mau menyandang predikat sebagai ayah yang kejam," komentar Nero.
"Peringatan ini juga masih berlaku, Mas?" tanya Fay begitu membaca tulisan bold hitam di bagian paling bawah terkait denda apabila melanggar.
Nero menanggapinya dengan mengangguk. "Harus, Fay! Saya mau kita benar-benar menjalani kesepakatan ini."
__ADS_1
Fay menghela nafas. "Oke, deal!"
Nero menandatangi kontrak itu, Fay juga. Keduanya menggoreskan tinta tanda tangan mengenai materai yang ditempel pada kontrak.
Nero mengeluarkan selembar kertas dari tas kerja miliknya. "Mulai hari ini, kontrak lama kita tidak berlaku," ujar Nero sembari merobek kontrak pertama mereka.
"Sekarang saya lapar, buatkan sarapan!" perintah Nero cuek. Ia longgarkan dasi yang melingkar di leher.
"Aku lagi malas masak, Mas. Kita pesan aja, ya? Kepalaku sedikit pusing."
Nero menempelkan punggung telapak tangannya di dahi Fay, memastikan suhu tubuh. "Agak hangat, kamu istirahat. Saya akan masak menu sarapan untuk kita."
"Terima kasih, Mas," ujar Fay. Ia pun kembali berbaring ke tempat tidur. Nero membantu menyelimuti tubuh Fay.
"Dokter akan ke sini. Saya harap kamu menuruti semua perintah dokter."
"Vitaminnya jangan ditukar lagi ya, Mas?"
Nero mengangguk singkat dan berlalu.
*****
Siangnya dokter datang memeriksa Fay. Menurutnya, Fay harus banyak istirahat dan tidak banyak pikiran.
Diusap perlahan perutnya seolah sedang menyentuh si kembar yang ada di kandungan. "Maafkan Mama sayang. Mulai saat ini, Mama tidak akan sedih lagi, demi kamu."
Sebelum pulang, dokter menyerahkan vitamin dan penguat janin kepada Nero. Kali ini ia langsung menyerahkannya ke Fay tepat setelah mendapat vitamin itu.
"Jangan sampai telat, saya nggak mau si kembar lahir tidak sehat," pesan Nero mewanti-wanti. Fay hanya mengangguk pasrah.
Nero duduk di samping Fay yang tidur berbaring. "Besok kita adakan jamuan makan malam. Saya akan undang Galen dan kedua ayah kita. Mereka berhak tahu soal kehamilanmu."
Fay mengangguk setuju. "Kedua ayah kita pasti sangat senang sekali. Apalagi ayah kamu sangat ingin cucu kembar."
Nero mengangguk singkat. "Bagaimana kondisimu? Masih sakit?"
Fay tersenyum menggeleng. "Nggak sakit, Mas. Sedikit mager aja. Hari ini aku sangat ingin bersantai."
"Baguslah. Sebentar lagi pesanan makan siang kita datang. Setelah makan, jangan lupa minum vitaminmu."
Fay mengangguk, dipandangnya wajah Nero. "Setelah perpisahan kalian, bagaimana kondisi Widi sekarang?"
__ADS_1
"Saya tidak peduli. Di kamus hidup saya tidak ada tempat untuk penghianat, Fay."
Fay tersenyum sinis. "Baiklah, aku cukup paham bagaimana kondisi Mas saat terbaring lemah di rumah sakit dulu."
"Apa maksud kamu? Saya diserang, Fay!" Nero langsung sewot.
"Udah disakiti berkali-kali, saat ngigau yang disebut tetap saja nama Widi. Yakin sudah lupa?" goda Fay.
Merasa malu dengan godaan Fay, laki-laki itu melotot tajam ke arah Fay. "Jangan sembarangan kamu! Saya tidak ngigau!"
"Mana ada orang yang tahu kalau dirinya ngigau," ejek Fay lagi. Ia pun tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Nero yang memerah seperti kepiting rebus.
"Saya ke ruang kerja dulu. Kalau butuh sesuatu, telpon saja. Jangan hampiri saya. Nanti saya yang akan ke sini."
Fay hanya mengangguk memandang heran suaminya. Seolah mengerti bagaimana reaksinya, Nero berdeham singkat. "Saya pantang mengingkari perjanjian yang sudah disepakati, Fay."
"Makasih, Mas." Fay tersenyum lega.
Nero hanya mengangguk dan beranjak keluar kamar.
"Kalau sikap Mas Nero kayak gini terus, aku jadi lebih nyaman. Menjaga mood untuk terus bahagia sangat penting bagi jagoanku," ujar Fay senang.
Dipandangnya foto pernikahan miliknya yang dipajang di finding kamar. Tawa bahagia keduanya tampak Natural. Nero memeluk pinggang Fay mesra, sementara Fay mengalungkan tangannya di leher Nero. Keduanya tampak seperti pasangan sungguhan.
Foto yang memperlihatkan dua pasang manusia saling mencintai satu sama lain. Senyum yang terpancar dari wajah Nero tampak sangat natural. Siapapun pasti tidak menyangka bahwa itu hanya sandiwara.
"Senyuman di foto itu, suatu hari apa bisa menjelma nyata?" Fay menghela nafas kecewa. Realitanya mereka akan segera berpisah.
"Malang sekali nasibku, menikah lalu mengandung dan melahirkan untuk kemudian menjadi janda." Fay menatap nanar foto itu. Perlahan pandangannya buram oleh air mata.
Sementara di ruang kerja pribadi Nero, laki-laki itu tampak termenung memandang foto dirinya dan Widi yang belum juga ia buang.
"Mulai hari ini saya harus belajar melupakan kamu, Widi," ujar Nero menatap sendu foto itu.
Memori kebersamaan dengan Widi kembali terlintas. Perjumpaan pertama mereka di perpustakaan sekolah, keduanya tidak sengaja saling bertabrakan saat sama-sama asyik memilih buku.
Nero langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Di luar dugaan, rupanya Widi juga memiliki rasa yang sama. Di perpustakaan sekolah, mereka pertama kali menautkan janji saling menjaga dan menjaga sebagai kekasih.
Sejak saat itu waktu terus bergulir, tanpa terasa keduanya terus bersama hingga dewasa. Nero lulus kuliah dan mulai sibuk mengisi posisi CEO. Widi sukses dengan karirnya sebagai model.
Nero menatap miris foto itu, ingatannya yang berlari ke masa lalu, membuatnya tahu bahwa sudah banyak hal manis yang dilalui.
__ADS_1
"Sial!" umpat Nero kesal ketika tangannya tidak mampu merobek foto itu. Dongkol dengan hatinya yang lemah, ia lemparkan foto itu ke tempat sampah.