
"Papa!" Fay berlari memeluk Arya yang baru saja tiba. Begitu Fay mengabarinya bahwa Nero tiba-tiba menghilang, membuatnya bergegas datang.
Arya membiarkan Fay menenangkan diri di pelukannya untuk beberapa saat. "Tenangkan dirimu Fay. Ceritakan pelan-pelan ke Papa."
"Mas Nero tiba-tiba menghilang, Pa. Fay sama sekali tidak bisa menghubungi dia."
"Kita duduk dulu." Ajak Arya sembari meregangkan pelukannya, mengajak Fay duduk di kursi ruang tamu, terus berusaha menenangkan kepanikan Fay.
Galen tengah dalam perjalanan menuju White Land. Barusan ia juga menghubungi Galen. Fay tidak puas hanya mengandalkan usaha Resta, si asisten yang mulai panik kelabakan mendapati Nero tiba-tiba tidak bisa dihubungi.
Danu juga panik mendapati anaknya menghilang tanpa kabar secara tiba-tiba. Sayangnya ia hanya bisa memantau dari jauh sebab masih berada di London. Ada meeting penting yang tidak mungkin ditinggal.
"Fay harus cari kemana? Terakhir kali ketemu, kita baik-baik aja. Akhir-akhir ini banyak berita penculikan, apa mungkin ..."
"Jangan berpikir terlalu jauh. Kita tunggu hasil pencarian anak buah mertua kamu. Mereka masih berusaha mencari jejak Nero."
Galen yang baru saja datang langsung duduk di samping Fay. Tak lupa mencium tangan Raya terlebih dulu.
"Kata Resta, Nero keluar kantor untuk menyiapkan kado kejutan buat loe. Sebelum berangkat, dia bilang akan pergi ke toko kue tart."
"Resta sudah cerita, dia sudah ke sana juga. Resta sudah memastikan ke toko kue yang diperkirakan akan didatangi Nero. Ada satu toko yang mengatakan ada pesanan atas nama Nero. Siang hari. Kue itu sama sekali tidak pernah diambil."
Galen menyimak dengan seksama penjelasan dari Fay. Sesekali ia mengangguk, mencoba menalar segala kemungkinan.
"Kira-kira setelah dari toko, dia kemana, ya?" tanpa Arya.
"Ada kemungkinan dia pergi ke toko lain sembari menunggu pesanannya jadi. Fay, hadiah apa yang sering Nero beli untuk loe?"
Fay terdiam, mencoba mengingat sesuatu. "Satu hadiah yang selalu ada. Bunga. Mas Nero nggak pernah absen beri hadiah bunga."
"Ada kemungkinan besar dia pasti ke toko bunga. Biasanya dia beli dimana?"
Fay menggeleng lemah. "Aku nggak pernah tahu. Sedikit pun tidak pernah terlintas pertanyaan dimana Mas Nero beli bunga untuk aku."
"Resta mungkin tahu."
"Resta bilang dia tidak tahu. Gue juga pernah tanya soal itu."
__ADS_1
"Loe masih simpan buket bunga sebelumnya? Barangkali ada kartu ucapan terselip di sana."
Fay terkesiap, ia segera berlari menuju kamar. Ia ingat masih menyimpan buket bunga terakhir dari Nero. Buket bunga yang diberikan seminggu yang lalu.
Fay tersenyum lega mendapati catatan kecil di buket yang masih terikat rapi pada salah satu tangkai bunga. Tertera jelas nama pemilik toko di catatan kecil itu.
Diambilnya catatan itu, dibawa keluar menuju ruang tamu. Galen yang menerima catatan itu mengatakan kalau dia tahu lokasi toko itu.
"Tempatnya memang tidak terlalu jauh dari toko kue, ada kemungkinan besar, Nero sempat mampir di toko bunga itu."
Fay langsung meminta Galen untuk menunjukkan dimana lokasi toko bunga itu. Ia ingin memastikan apa benar suaminya juga sempat mampir di toko itu.
Tanpa berlama-lama lagi, Fay dan Galen meluncur ke lokasi toko bunga itu. Sayangnya jalanan cukup macet. Perjalanan mereka memakan waktu cukup lama.
Begitu mobil tiba di depan toko yang dimaksud, Fay langsung kecewa sebab toko sedang tutup. Bahkan tertera tulisan "TOKO LIBUR".
" Bagaimana kita bisa mencari info soal keberadaan Mas Nero kalau tokonya tutup." Fay merengut kesal, perjalanannya menempuh kemacetan kota jadi sia-sia.
Galen turun dari mobil, ia mendekat ke papan bertuliskan toko tutup. Setelah mengeluarkan HP dari sakunya, ia mencatat sesuatu. Tak lama kemudian, ia secepatnya ia kembali ke mobil.
"Gue dapet nomor telpon owner toko. Sebentar." Galen memencet tombol telpon, mencoba menghubungi.
Galen menggeleng. "Mungkin sedang sibuk. Sama sekali tidak di angkat."
Sekali lagi menemukan jalan buntu. Dari kejauhan berjalan seorang perempuan. Ia mendekat ke toko. Begitu di depan toko, ia berhenti dan mengeluarkan kunci dari saku.
"Len, ayo turun! Siapa tahu dia owner toko." Fay bergegas membuka pintu mobil dan berlari menghampiri perempuan yang baru saja membuka pintu toko bunga.
"Permisi, Kak. Apa Anda pemilik toko bunga ini?" tanya Fay to the point.
Wanita yang merasa dipanggil itu langsung menoleh memandang Fay. Ia tampak merasa asing dengan Fay.
"Anda siapa?" tanyanya sembari memicingkan kedua matanya.
"Saya hanya ingin bertanya sesuatu. Ini penting."
"Tanya apa?"
__ADS_1
"Apa benar pernah ada pelanggan atas nama Nero membeli bunga di sini?"
"Nero ... tidak ada Nyonya. Maaf, saya sangat sibuk." Perempuan itu hendak bergegas masuk toko tapi dicegah oleh Fay.
"Tolong lihat foto ini dulu. Siapa tahu Anda bisa mengingatnya kembali." Fay menyodorkan foto Nero yang ia simpan di HP miliknya.
Perempuan itu dengan enggan melihat foto yang disodorkan oleh Fay. Begitu melihat wajah Nero, seketika ia terkejut.
"Ini laki-laki yang kecelakaan kemarin!" ujarnya terkejut.
"Kecelakaan?" Fay kebingungan sekaligus takut mendengar ucapan pemilik toko itu.
"Laki-laki dalam foto ini memang sempat beli bunga di sini, tapi setelah keluar dari toko ini, entah bagaimana ceritanya saya tidak tahu. Saya hanya lihat tiba-tiba dia sudah ditabrak mobil dengan kecepatan sangat tinggi."
"Anda tidak bercanda, kan?" Fay syok mendengar penjelasan pemilik toko itu tentang kondisi terakhir Nero.
"Dimana dia sekarang?"
"Waktu kecelakaan ada salah satu pelanggan saya yang kebetulan mengenal beliau. Dia yang membawa laki-laki dalam foto itu ke rumah sakit."
"Siapa?"
"Saya mengenalnya dengan nama Widi."
Bagai disambar petir di siang bolong. Nama Widi membuat Fay semakin terkejut dan syok. Galen juga ikut syok mendengar penuturan dari pemilik toko itu.
"Waktu itu ada polisi juga di sini. Kalian bisa bertanya pada petugas agar tahu kemana Widi membawa dia."
"Ayo, Fay." Galen mengucapkan terima kasih dan mengajak Fay kembali ke mobil secepatnya. Ia melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.
"Kita bukannya ke kantor polisi?"
"Nggak perlu. Gue yakin banget, Nero dibawa ke rumah sakit terdekat sini. Kebetulan ada rumah sakit besar di daerah sini."
Fay terdiam menatap lurus ke depan. Pikirannya sangat kacau. Ia sangat berharap akan bertemu dengan Nero dalam keadaan baik-baik saja.
"Gue takut, Widi sengaja menyembunyikan Nero dari kita. Dia sengaja tidak menghubungi kita dan sengaja menghilangkan jejak Nero dari kita. Widi keterlaluan." Galen memukul setir mobil, ia sangat emosi.
__ADS_1
"Semoga kita bisa menemukan Mas Nero di sana," ujar Fay penuh harap.