
Beberapa jam sebelum pertemuan di basement kantor...
Widi mengirimkan satu karangan bunga ke kantor Nero. Ia khususkan untuk Nero, tak lupa ia tinggalkan satu catatan kecil. Isinya permintaan maaf sebab sempat berbohong.
Widi menjelaskan dalan catatan kecil itu, ia terpaksa berbohong sebab sudah tidak bisa menahan diri untuk hidup bersama Nero. Selagi Nero amnesia, ia berniat membawa kabur Nero untuk hidup berdua dengan identitas baru.
Inti dari catatan itu, Widi hanya meyakinkan Nero bahwa perasaannya sangat dalam dan tidak akan berhenti berjuang untuk bisa hidup berdua dengan Nero.
Memori ingatan Nero yang masih keliru dalam mengingat Widi, membuatnya luluh. Bahkan ia mengatakan sangat rindu. Keduanya memutuskan untuk bertemu dan terjadilah pertemuan itu.
Pertemuan yang disaksikan langsung oleh Resta sang asisten pribadi. Ia sengaja membuntuti Nero demi menuruti keinginan Fay dan juga rasa curiga tentang karangan bunga di ruang kerja.
Widi duduk tenang di depan meja rias. Senyum mengembang tatkala satu pesan masuk dari Nero. Mengabarkan ingin bertemu dengannya. Menantikan kedatangannya ke kantor untuk makan malam dan berharap berlanjut pada kejutan lainnya.
Ia memastikan riasannya tampak sempurna. Ingin terlihat polos namun anggun, Widi memilih menggunakan dress simpel dengan warna merah muda.
Gaun sederhana dengan panjang selutut itu adalah gaun pemberian Nero saat keduanya masih berkencan dan belum ada perjodohan itu.
Sebelum berangkat, Widi menyempatkan untuk menghubungi Albie. Memastikan tentang rencana yang merdeka sepakati.
"Lakukan saja sesuai kesepakatan kita. Jalankan dengan rapi. Aku pastikan ... besok eksekusi akan segera dijalankan ..." ujar Albie dari seberang telepon sebelum komunikasi keduanya berakhir.
*****
"Aku seneng banget akhirnya kita bisa bertemu kembali ... sorry untuk kebohonganku waktu itu ..." ujar Widi membuka pembicaraan dengan tutur kata yang lembut. Keduanya tengah menunggu pesanan datang.
__ADS_1
Nero tersenyum tenang menatap Widi. "Saya terharu ... perjuangan kamu di luar nalar saya. Terima kasih ... masih terus memperjuangan cinta kita."
Widi mengangguk senang. Rupanya hasil riset dari asisten Albie memang tidak meleset. Nero salah mengingat masa lalunya. Ini kesempatan emas baginya.
"Aku senang masih bisa berkesempatan mendapatkan kamu lagi, Mas ..." batin Widi lega.
Percakapan ringan lainnya terus mengalir. Keduanya menikmati makan malam dengan hati berbunga layaknya remaja kasmaran. Usai makan malam, Widi menawarkan rekomendasi tempat selanjutnya.
"Apa kamu tidak rindu menghabiskan malam bersama?" goda Widi sembari mengusap pelan punggung telapak tangan Nero. Usapan itu sangat pelan hingga membuat bulu kuduk Nero berdiri.
Sebagai pria dewasa, ia sangat tahu arti dari sentuhan itu. Ia hanya tersenyum menatap Widi. Dilambaikannya tangan memanggil pelayan. Ia meminta bill dan segera membayar makanan yang dipesan.
"Can't to wait ..." bisik Nero pelan begitu ia bangkit dari duduknya dan berdiri di dekat Widi.
"Romantic dinner ... and then ... beauty night ... it's perfect ..." batin Widi senang begitu keduanya dalam perjalanan menuju hotel.
Tanpa rasa berdosa dan rasa malu sudah menyandang status suami, Nero memesan satu kamar dengan single bed. Menghabiskan malam dengan perempuan lain yang dimatanya hanya berstatus kekasih dan bukannya istri.
Keduanya berjalan memasuki kamar beriringan, begitu pintu kamar ditutup ... tanpa rasa malu Widi menarik Nero dalam pelukannya. Baru saja hendak meraih bibir Nero untuk ia cumbu ... HP Nero bergetar.
Takut ada hal penting, Nero segera mengurungkan niat Widi yang ingin menciumnya. Rupanya pesan dari Fay. Ia mengabarkan sedang di rumah sendirian, saat ini perutnya terasa sangat sakit. Ia sangat butuh pertolongan. Bahkan Fay mengabarkan baru saja mengalami gejala pecah ketuban.
Nero langsung bergegas pergi meninggalkan Widi tanpa berpikir dua kali. Ia sangat panik, takut terjadi sesuatu pada Fay dan juga calon anaknya.
Widi mengumpat kesal mendapati siap Nero yang langsung panik begitu membaca pesan. Ia sudah menduga pasti dari Fay.
__ADS_1
"Si*l*n!" teriak Widi kesal. Rencananya gagal total. Sesaat setelah kepergian Nero, ia mendapatkan pesan. Begitu dilihat ternyata dari Nero.
Isi pesannya membuat Widi semakin murka.
To: Widi
From: Nero
Maafkan saya Widi. Fay pecah ketuban. They need me.
"Aku jauh lebih butuh kamu, Nero! Aku sangat menantikan malam ini. Kamu brengs*k!" Widi teriak kesal.
Masuk lagi satu pesan, kali ini dari nomor asing. Penasaran ia buka pesan itu.
To:Widi
From:xxx
Let's fight ... gue g akan menyerah ... looser ...
Fay
Membaca pesan itu membuatnya tersadar. Fay baru saja menipu Nero agar bisa membuatnya cepat pulang ke rumah. Amarahnya memuncak, dilemparkannya HP ke lantai.
"Kita lihat saja Fay! Siapa yang akan menang ... it'me ... not you b*tch!"
__ADS_1