Air Mata Istri Setia

Air Mata Istri Setia
Meratapi Kehilangan


__ADS_3

Sejak mengetahui si kembar meninggal, Fay mogok makan. Ia benar-benar kehilangan nafsu makan. Setiap hari hanya terdiam menatap jendela rumah sakit.


"Kamu harus makan, Fay." Nero untuk kesekian kali berusaha membujuk istrinya makan.


"Nggak laper, Mas." Tatapan Fay semakin sendu. Hatinya masih belum kuat menghadapi kenyataan buah hatinya tidak selamat.


Nero mengusap lembut kepala Fay. "Saya ngerti ini sangat berat buat kamu, Fay. Tapi kamu nggak sendiri. Kita semua juga kehilangan bayi kembar kita."


Air mata Fay kembali menetes. "Harusnya kurang sebentar lagi mereka lahir. Semua perlengkapan bayi sudah siap, Mas."


"I know ..." bisik Nero lembut. Ia peluk Fay, mencoba menguatkan hati Fay.


Fay sesenggukan di pelukan Nero. Air matanya tumpah tak terbendung lagi.


"Maafkan saya, Fay. Andai saya tidak membiarkan kamu pergi sendiri ke dokter ... Maaf, Fay."


Tangis Fay semakin pecah. Duka yang ia rasakan terlalu menyesakkan baginya. Kepergian bayi yang ia nantikan terlalu tiba-tiba di luar dugaan.


Air mata Nero menetes. Cepat-cepat ia usap air matanya. Ia tidak ingin lemah. Harus lebih kuat sebab ada seseorang yang harus ia kuatkan.


*****


"Fay, jalan-jalan yuk!" Nero masuk ke kamar dengan mendorong kursi roda. Ia sudah mendapat izin dari dokter untuk membawa Fay jalan-jalan ke taman rumah sakit.


Menurut dokter, Fay butuh menyegarkan pikiran dengan menghirup udara segar.


Fay mengangguk perlahan. Perlahan Nero membantu Fay duduk di kursi roda.


"Suster, tolong bawakan sarapan Fay ke taman. Saya akan coba membujuk dia di sana," pinta Nero pada suster dengan suara lirih supaya Fay tidak mendengar.


Suster mengangguk setuju,"Semoga berhasil ya, Pak. Kasihan belum makan sama sekali."


Taman rumah sakit pagi ini tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pasien yang duduk di beberapa bangku. Semua dengan kondisi badan yang berbeda.


Nero mengajak Fay menikmati segarnya air mancur kolam ikan. Nero duduk di bangku taman sementara Fay tetap di kursi roda.


"Udaranya segar ya, Fay." Nero menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia cukup terkesan, di tengah panas polusi Jakarta, taman rumah sakit ini bisa bernuansa alam segar dengan udara bersih.


Fay hanya terdiam menatap air mancur kolam tanpa ekspresi. Kedua matanya masih sembab.


"Jangan begini. Kalau kamu terus-terusan mogok makan, kamu nggak akan cepat sembuh. Bayi kembar pasti sedih lihat kamu kayak gini."


Nero mensendokkan sesuap nasi, menyodorkan ke depan mulut Fay, memintanya makan.

__ADS_1


"Ayo Fay," bujuk Nero.


Fay menggeleng lemah. "Aku beneran nggak nafsu makan, Mas."


"Dua hari sejak kamu sadar, kamu belum makan sama sekali. Ayolah, Fay."


Fay menjauhkan tangan Nero. Kepalanya menggeleng lemah, memelas meminta Nero berhenti memaksanya makan.


"Kamu sayang bayi kembar, kan?"


Fay menoleh memandang Nero begitu mendengar pertanyaan barusan. "Kalau aku nggak sayang, aku nggak akan sehancur ini, Mas!" bentak Fay setengah terisak.


"Kalau kamu sayang, habiskan makanan ini. Kamu harus cepat pulih." Nero menatap tajam kedua mata Fay.


Sempat diam beberapa saat, akhirnya Fay menganggukkan kepala. "Iya, aku mau makan."


Nero tersenyum mendengar jawaban Fay. Ia mulai menyuapi Fay pelan-pelan hingga makanan tandas dari piringnya.


*****


Fay menghabiskan waktu pemulihan tubuh selama dua minggu. Luka operasi kuret dan juga patah tulang. Tangannya di gips agar tidak banyak gerak.


Selama masa pemulihan, Nero tidak pernah meninggalkan rumah sakit sedikit pun. Semua pekerjaan ia kerjakan di rumah sakit.


Setiap jam makan siang, kedua ayah mereka datang menjenguk Fay. Melihat kondisinya dan juga berusaha menghibur.


Galen juga selalu datang. Hanya saja ia mampir saat sore hari sebab kerjaan pemotretan cukup padat. Ia tidak bisa mangkir dari tugas.


Galeri kini sepenuhnya ditangani ayahnya. Divisi kurator diambil alih sementara oleh Gea.


Ance sesekali juga datang memberikan semangat untuk Fay. Ia juga ikut bersedih dengan yang dialami Fay.


*****


"Aku ingin pulang, Mas. Badanku sudah lebih baik," ujar Fay penuh harap kepada Nero.


Mendengar permintaan itu Nero tersenyum. "Tenang saja, saya ada kabar baik untuk kamu. Barusan dokter mengizinkan kamu pulang dan menjalani rawat jalan. Kita pulang hari ini."


Fay tersenyum simpul. "Syukurlah. Makasih, Mas."


"Ini berkat kamu sendiri yang nurut untuk makan dan minum obat dengan rutin. Nanti di rumah pelan-pelan kamu mesti jalani terapi buat tangan kamu."


Fay mengangguk. "Iya, Mas."

__ADS_1


*****


"Kamar aku di sebelah, Mas. Kenapa bawa ke kamar utama?" tanya Fay heran saat Nero membawa dirinya ke kamar utama.


Fay memang boleh pulang tapi ia masih lemah, jadi harus menggunakan kursi roda. Saat menuju kamar di lantai dua, Nero membopongnya sementara Resta membawakan kursi roda miliknya.


"Saya malas kalau harus bolak-balik keluar kamar untuk merawat kamu. Jadi, selama kamu belum sehat, kamu tidur di sini."


"Nggak, Mas. Aku nggak mau. Aku nggak nyaman. Tolong, antar ke kamarku." Fay melotot protes.


Kali ini Neto tidak ingin berdebat, tapi ia juga tidak ingin dibantah. Tanpa meminta persetujuan Fay, Nero tetap membaringkan Fay di kamar utama.


"Saya tidak memberikan opsi, Fay. Ini perintah!" ujar Nero tegas.


Fay menghela nafas panjang. "Terserah, Mas."


*****


"Selamat pagi kesayangan, Mama. Hari ini kita akan pergi ke dokter lagi. Mama udah nggak sabar ingin melihat dua jagoan Mama." Terdengar suara Fay dari rekaman video di HP. Fay tersenyum pedih.


Rekaman video di HP miliknya ia ambil sebelum berangkat periksa ke dokter. Hari tepat dimana kecelakaan maut itu terjadi.


Fay melihat foto USG miliknya. Air matanya terus mengalir.


"Maafin Mama, sayang," ujar Fay dengan suara parau. Air matanya terus menetes.


Nero masuk ke kamar dengan membawa makan malam. Ia letakkan makanan itu di nafas samping tempat tidur.


"Calm down, Fay. Kamu harus kuat." Nero memeluk Fay lembut. Tangis Fay semakin pecah.


"Aku nggak becus jadi ibu, Mas. Aku nggak becus jagain anakku. Aku nggak .... hiks!"


Fay tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Dadanya semakin nyeri.


"Sst ... jangan bicara seperti itu. Kamu sudah berusaha, Fay. Aku yang salah, Fay. Harusnya aku ngantar kamu."


Fay terus menangis meratapi kepergian bayinya. Nero terus memeluk tubuh Fay. Tak pernah lelah menguatkan hati Fay.


"Please, be strong ..." bisik Nero penuh harap. Ia benar-benar berharap Fay segera pulih dari keterpurukannya.


Fay tidur setelah kelelahan menangis. Makanan sekali lagi tidak ia sentuh. Nero menghela nafas panjang.


"Sorry, Fay ..." bisik Nero merasa bersalah. Ia kecup kening Fay pelan dan lembut. Menutupi tubuh Fay dengan selimut.

__ADS_1


__ADS_2