
Widi tersenyum pahit melihat Nero yang menatapnya sinis. Jelas terlihat ia sangat enggan bertemu dengannya, meski tidak sengaja.
Usai mengucapkan terima kasih pada penjual bunga, Nero berjalan melewati Widi begitu saja tanpa bicara.
Pluk! Tanpa sengaja Widi melihat kunci mobil jatuh dari saku jas Nero. Sayangnya sang pemilik tidak menyadari. Nero terus saja berjalan keluar toko sembari membawa buket bunga yang ia beli.
Widi mengambil kunci yang terjatuh. "Tolong bungkus satu buket bunga seperti biasanya, ya. Gue ngejar Mas Nero dulu. Kuncinya jatuh."
Penjual bunga mengangguk paham. Ia memang sudah tidak asing dengan Widi. Akhir-akhir ini perempuan itu memang sering membeli bunga di tempatnya. Pesanannya juga selalu sama.
Widi membuka pintu toko, mendapati Nero sudah terlihat kebingungan mencari sesuatu di samping mobil yang terparkir di seberang jalan toko.
Saat kedua mata mereka tanpa sengaja bertemu, secepat mungkin Widi mengacungkan kunci mobil milik Nero.
Reaksi itu sangat menyebalkan bagi Widi. Laki-laki itu tampak gusar, setengah hati ia memaksa langkahnya bergegas mendekati Widi. Sampai-sampai ia tidak terlalu memperhatikan jalan.
Widi menoleh ke arah datangnya mobil yang melesat cepat ke arah Nero. Telat menyuruh Nero mundur, mobil itu langsung menabrak tubuh Nero yang menyeberang jalan tanpa hati-hati.
Nero terpelanting beberapa meter dan jatuh terkapar di jalan. Darah mengalir deras di kepala Nero.
"Mas Nero!" teriak Widi histeris.
*****
Fay gelisah mondar-mandir di depan pintu rumah. Berkali-kali ia menghubungi nomor Nero. Jawabannya selalu sama. Nomornya tidak dapat dihubungi.
Sejak tadi siang, Nero sudah tidak bisa dihubungi. Resta juga sedang sibuk menghandle seluruh meeting yang seharusnya dihadiri Nero. Sangat susah mencari tahu keberadaan suaminya saat ini.
"Kamu kemana sih, Mas? Ini sudah malam." Fay mulai semakin cemas.
Perutnya berbunyi, ia merasa sangat kelaparan. Akhirnya Fay memutuskan untuk makam malam lebih dulu.
Ia melangkah kesal menuju meja makan. "Padahal hari ini aku ulang tahun. Tapi dia malah menghilang. Menyebalkan."
"Nyonya Fay, sebaiknya Anda tunggu saja. Sebentar lagi pasti Tuan Nero memberi kabar." Kalimat itu terus terngiang di benak Fay.
Ucapan dari Resta tadi siang sebelum dia menutup telpon sebab harus segera menuntaskan tugas dari Nero. Fay sangat kesal sebab apa yang diucapkan Resta tidak terbukti. Nero tetap hilang tanpa kabar bahkan sampai malam tiba.
*****
Tit tit tit tit tit tit! Widi menekan tombol password apartemen miliknya. Wajahnya sangat kelelahan. Ia bergegas masuk rumah, meletakkan tas, menanggalkan seluruh baju dan masuk kamar mandi.
__ADS_1
Air mengalir dari shower membasahi tubuh Widi dengan perlahan. Perempuan itu menghela nafas panjang. Merasa lega, seolah kesegaran air yang mengguyur tubuhnya menghilangkan rasa lelah yang menerpa.
Beberapa menit kemudian, Widi keluar dari kamar mandi dengan badan yang bersih dan segar.
Secepat mungkin ia mengenakan pakaian bersih, dandan seperlunya, dan bergegas menyiapkan pakaian bersih. Tapi bukan pakaian miliknya. Ia masih menyimpan beberapa baju milik Nero yang memang ia sediakan bila mantan kekasihnya menginap.
Widi memasukkan beberapa baju Nero ke dalam tas. Setelah dirasa cukup, Widi bergegas meraih jaket dan kunci mobil miliknya. Ia keluar membawa semua barang yang ia siapkan barusan menuju parkiran mobil.
Hanya setengah jam, Widi sudah berada di parkiran rumah sakit. Ia turun mobil, membawa tas berisi pakaian Nero ke ruangan ICU.
*****
Beberapa saat setelah kecelakaan terjadi ...
"Halo, ada kecelakaan di sini Pak." Penjual toko bunga itu langsung menghubungi nomor darurat, meminta pertolongan. Ia ikut menghampiri Nero bersama Widi.
Melihat kondisi Nero yang terkapar, ia sangat ketakutan. Widi sangat berharap Nero akan baik-baik saja. Kondisi kepala Nero mengalami pendarahan yang sangat banyak.
Tidak butuh waktu lama, ambulans segera datang. Mobil yang menabrak Nero tidak bisa tertangkap. Begitu menyadari menabrak seseorang, pengemudi yang tidak diketahui identitasnya itu langsung lari dari tanggung jawab.
Mobil ambulans datang beberapa menit setelah penjual toko menghubungi rumah sakit. Nero langsung diangkat ke dalam ambulans dan dilarikan ke rumah sakit.
Widi menyempatkan menyimpan semua barang Nero. Mobil juga ia bawa pulang ke apartemen miliknya. Maksud hati nanti saat Nero pulih, biar sendiri yang mengambil mobilnya.
Demi mempercepat tindakan penyelamatan, Widi mengaku sebagai istri dari Nero. Ia masih sangat ragu jika harus menghubungi keluarga Nero.
"Nyonya Widi!" Panggilan seorang perawat membangunkan Widi yang tertidur di kursi tunggu.
"Bagaimana, Sus?" tanya Widi.
"Operasi berjalan lancar, pasien sudah dipindahkan ke ruang ICU. Sekarang Anda diminta menemui dokter, ada hal penting yang harus Anda ketahui."
"Dimana ruangannya?"
"Mari saya antar, Nyonya." Perawat itu dengan sopan berjalan mendahului Widi menuju ruangan dokter yang ia maksud.
Dokter langsung meminta Widi untuk duduk begitu memasuki ruangan miliknya.
"Operasi suami Anda berjalan lancar. Masa kritis beliau juga sudah lewat. Hanya saja masih dalam pengaruh obat bius. Stamina suami Anda sangat bagus dan untungnya tidak banyak hal fatal setelah beliau jatuh."
"Syukurlah, Dok. Kira-kira kapan suami saya siuman?" Diam-diam Widi menelan ludah saat mengatakan suami saya.
__ADS_1
"Besok pagi pasti sudah sadar. Begitu sadar, suami Anda bisa langsung dipindahkan ke kamar rawat inap untuk proses pemulihan."
Widi beranjak menuju ICU. Ia duduk menemani Nero yang tengah terbaring tidur. Kepalanya masih diperban dengan kasa.
"Aku tahu kamu kuat, Mas," bisik Widi lembut tepat di telinga Nero.
Esoknya, Widi dibangunkan oleh Nero yang sadar lebih dulu. "Nona, bangun. Saya ada dimana?"
Perlahan Widi membuka matanya, ia langsung duduk tegak setelah tanpa sadar kepalanya menyandar di tempat tidur Nero dalam posisi duduk.
"Kamu sudah sadar, Mas?" Widi lega melihat Nero yang duduk di ranjang tidur.
"Nona siapa? Nona kenal saya?"
Widi terdiam melihat perubahan ekspresi Nero yang seakan asing dengannya dan dirinya sendiri.
"Dok!" Widi berdiri begitu menyadari rupanya dokter datang memeriksa keadaan Nero.
"Bagaimana Tuan? Sudah lebih baik?"
"Anda siapa? Saya dimana?" Nero memegangi kepalanya yang terasa sakit luar biasa.
"Dok, kenapa kondisi pasien?" Widi menatap bingung pada dokter.
Dokter segera melakukan pemeriksaan. Sesaat kemudian, ia mengajak Widi keluar ruangan.
"Sepertinya suami Anda mengalami amnesia."
"Amnesia?" Widi terbelalak kaget.
"Saya tidak tahu, amnesia ini bersifat permanen atau sementara. Tapi, gejalanya sangat jelas bahwa memori ingatan beliau hilang. Bahkan, suami Anda tidak mengenali dirinya sendiri."
Widi menoleh ke arah Nero. Melihat kondisi Nero yang terpaksa ditenangkan dengan obat bius sebab terus berontak ingin turun dari ranjang, tiba-tiba terlintas satu rencana.
"Dok, kondisi pasien apa bisa dilakukan rawat jalan saja? Saya yakin suami saya tidak akan nyaman di rumah sakit. Siapa tahu, dengan kembali ke rumah, ingatannya akan segera pulih."
"Bisa saja Nyonya. Tapi, saya rasa suami Anda butuh dipastikan dulu kondisinya sampai nanti sore. Kalau stabil, suami Anda saya perbolehkan pulang."
"Baik, terima kasih, Dok."
"Saya permisi dulu. Nanti saya kembali lagi untuk observasi ulang kondisi suaminya Anda."
__ADS_1
Widi mengucapkan terima kasih untuk kedua kali sebelum dokter pergi melanjutkan pemeriksaan ke pasien lainnya.
Widi masuk kembali ke ruang ICU. "Kalau kamu amnesia, ini berarti kesempatan aku, Mas. Jangan khawatir, aku akan buat kamu jauh lebih bahagia." Widi berbisik di telinga Nero dengan senyum licik.