
Usia kandungan Fay sudah berjalan bulan ke empat. Itu berarti dia memasuki trimester kedua. Badannya semakin terasa lebih enak karena semakin beradaptasi. Pengalaman hamil sebelumnya membuat Fay cepat beradaptasi dengan kondisinya saat ini.
Siang itu ia baru saja selesai periksa kandungan. Kali ini ia pergi bersama asisten pribadinya suruhan ayah mertuanya. Nero sedang sibuk di kantor, ada meeting yang sangat penting.
Fay tidak keberatan meski harus menjalani rutinitas kehamilan sendiri tanpa didampingi suami. Lagipula kondisi Nero yang belum sepenuhnya mengingat membuat Fay sangat paham.
Di tengah perjalanan pulang Fay menyempatkan diri mampir di salah satu mini market. Ia ingin membeli beberapa camilan dan juga susu hamil.
"Kamu tunggu saja di mobil, saya bisa sendiri," ujar Fay sebelum turun mobil kepada asisten pribadinya. Permintaan Fay hanya direspon dengan anggukan kepala.
Fay berjalan santai memasuki mini market. Kondisi di dalam tidak terlalu banyak pengunjung. Ia senang sebab bisa berbelanja dengan santai dan tidak perlu antre terlalu lama di kasir nanti.
"Fay." Seseorang menepuk baru Fay dari belakang. Begitu ia toleh, senyum langsung merekah menatap wajah si pemanggil. Keduanya saling berjabat tangan dengan hangat.
"Long time no see, Albie," sapa Fay tersenyum senang.
Albie yang mendapat sambutan hangat dari Fay juga memberikan balasan serupa. "Kamu apa kabar?"
"Sangat baik," jawab Fay. "Sama siapa?"
"Sendiri. Aku baru saja tiba di Indonesia. Ada yang harus diurus di Jepang. Biasa ... kerjaan."
Keduanya terlibat obrolan ringan sebentar. Melirik jam sudah menunjukkan waktunya makan siang, keduanya memutuskan untuk makan siang bersama di restoran sebelah.
Sebelah mini market ada satu restoran kecil. Tidak terlalu rame pengunjung. Menu yang dihidangkan hanya menu khas Jepang. Sushi, ramen, dan makan dan Jepang lainnya.
Fay memilih beberapa menu yang memang disarankan untuk ibu hamil. Seperti berbahan salmon, kepiting, udang, dan telur ikan. Hanya saja, ia meminta semua dagingnya dimasak matang.
Tak lupa ia juga memesan ramen tidak pedas. Minumannya jus alpukat. Sementara Albie memesan ramen dan beberapa menu sushi mentah. Minumannya sama dengan Fay.
Keduanya saling bertukar cerita tentang perjalanan hidup selama tidak pernah bersua dan saling berkirim kabar lewat jarak jauh.
Albie bercerita kalau ia beberapa waktu terakhir menghabiskan seluruh waktunya di Jepang. Ekspansi perusahaan miliknya di sana mengalami banyak kendala. Alhasil, ia harus turun tangan.
Beberapa kasus pelik harus ia tangani sendiri. Tapi semuanya bisa terselesaikan berkat kegigihan seluruh tim yang solid dan juga kepatuhan mereka pada pimpinannya. Albie merasa bersyukur bisa menyelesaikan itu semua.
Fay menceritakan perjalanan hidupnya hanya sekilas. Soal kegugurannya sebab kecelakaan dan akhirnya ia punya bayi lagi.
"Aku senang ... kamu menjalani hidup dengan baik. Setidaknya Tuhan masih beri kamu kesempatan kedua untuk menjadi ibu."
Komentar Albie ditanggapi Fay dengan senyuman. "Jujur ... aku juga merasa beruntung."
"Sudah berapa usia kandungan kamu, Fay?"
__ADS_1
"Empat bulan."
Albie juga menanyakan soal kegiatan Fay di galery. Ia penasaran apakah pelukis favoritnya ini masih terus berkarya atau tidak.
"Aku masih rehat melukis. Mungkin minggu depan, aku aktif kembali di gallery. Sudah terlalu lama rehat, kangen juga dengan lukisan."
Albie tersenyum senang mendengar jawaban itu. "Kabari aku jika kamu sudah mulai melukis lagi. Kebetulan ada yang ingin aku pesan. Satu foto diriku."
Fay tersenyum. "Nanti aku kabari."
*****
Nero berjalan pelan menuju kamar tidur. Malam sudah sangat larut saat ia tiba di rumah. Kerjaan kantor sangat menumpuk. Ia sangat bersemangat menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Ada banyak rencana yang ingin ia aplikasikan untuk perkembangan perusahaan.
Danu yang melihat kinerja anaknya sangat senang dan bangga. Rupanya dibalik musibah yang menimpa anak sulungnya itu, malah membuat kinerja Nero yang sudah bagus menjadi dua kali lipat lebih bagus lagi.
"Mas, kamu baru pulang?" sapa Fay yang baru saja keluar dari kamar hendak mengambil air minum di dapur.
Nero mengangguk. Ia terlalu begitu saja melewati Fay. Tapi, beberapa langkah melewati Fay, Tiba-tiba Nero mengaduh kesakitan. Ia mengeluhkan kepalanya yang tiba-tiba pusing.
Spontan, Fay langsung memapah suaminya itu masuk kembali ke kamar. Pusing yang amat hebat membuat Nero pasrah dan menurut saat dipapah oleh Fay masuk ke kamar dan berbaring di ranjang.
"Saya hanya butuh istirahat. Tolong jangan beritahu yang lain."
Fay mengangguk mengerti.
"Nona ... Anda belum tidur?" tanya asprinya sopan.
"Bawakan makan malam suami saya ke kamar. Jangan lupa bawakan air minum buat saya dan juga vitamin yang saya simpan di samping kotak obat."
Asisten pribadi mengangguk patuh dan beranjak menuju dapur. Tak butuh waktu lama, makanan sudah diantarkan. Nero memakan dengan lahap makanan itu.
"Aku senang kamu suka makanan buatan aku, Mas."
Nero cukup terkejut dengan celotehan Fay barusan. Ia tidak menyangka kalau mempunyai istri yang sangat jago memasak.
"Saya hanya lapar. Jangan kepedean kamu," ujar Nero gengsi.
Teringat perjumpaannya dengan Albie tadi siang, membuat Fay penasaran. Apakah Nero masih ingat dengan Albie.
"Kamu ingat Albie, Mas?"
Mendengar nama itu disebutkan, Nero seketika menghentikan suapannya. Ia menatap Fay beberapa detik, kemudian melanjutkan kembali aktifitas makannya.
__ADS_1
"Saya ingat," jawab Nero singkat.
"Aku tadi ketemu dengan Albie di mini market dekat rumah sakit. Dia titip salam untukmu, Mas."
Nero hanya mengangguk, enggan menanggapi percakapan Fay. Ia lebih senang menikmati hidangan makan malam miliknya.
"Sejauh ini ... kenapa hanya aku yang hilang di ingatan kamu, Mas," batin Fay sedih.
*****
Di sebuah rumah megah tampak Albie berjalan santai menyusuri teras belakang. Ia berjalan santai menuju gazebo kecil. Di sana sudah tersaji menu makan malam untuknya.
Malam ini ia ingin menikmati makan malam dengan nuansa outdoor. Meskipun sendiri, bagi Albie tak jadi soal. Ia sudah terlalu terbiasa dengan kesendiriannya.
Di atas meja terdapat satu map hitam. Ia sudah sangat paham. Berkas itu pasti dari asisten pribadinya. Diambilnya map itu, dibuka, dan dibaca.
Rupanya berisi informasi terkait kehidupan Fay dan Nero selama Albie di Jakarta. Ia cukup terkejut mendapati fakta bahwa Nero sempat kecelakaan dan mengalami amnesia.
"Sayang sekali, amnesianya sudah pulih," ujar Albie tersenyum kecut.
Diraihnya gelas wine, diminumnya sedikit. "Kamu masih tetap cantik, Fay."
Di lembar terakhir Nero melihat satu fakta yang sangat menarik. Perjalanan pernikahan Fay ternyata sempat diawali dengan perjanjian kontrak sebab Nero tidak mencintai Fay.
Bahkan saat ini Nero tidak ingat kalau kontrak itu batal. Ia hanya ingat bahwa dirinya hanya terpaksa menikahi Fay dan masih mencintai mantan kekasihnya yang merupakan seorang model.
Nama Widi dan fotonya disertakan dalam informasi itu. "Ini sangat menarik," gumam Albie senang. Dicatatnya nomor HP Widi, tanpa menunggu waktu lama ia segera menghubungi nomor itu.
"Saya ada tawaran menarik untuk kamu, temui saya jam 10 malam. Lokasi akan saya kirim. Ini soal Nero. Saya bisa bantu kamu dapatkan ." Tanpa menunggu jawaban Widi, Albie menutup telpon itu.
Sementara di kejauhan, Widi bertanya dalam hati, siapa orang itu. Rasa penasaran membuat Widi melirik jam. Masih dua jam lagi. Ia pun bersiap agar bisa bergegas datang ke lokasi pertemuan.
*****
Nero memberikan selimut lebih tebal kepada Fay saat ia hendak keluar kamar. "Ambil satu selimut di sudut itu. Cukup tebal untuk kamu dan calon bayi."
Fay mengangguk. "Makasih, Mas." Fay berjalan mengambil selimut itu. Rupanya cukup tebal dan berat. Ia pun meminta bantuan pada Nero.
"Mas, aku rasa ini terlalu berat untukku."
"Ini imbalan untuk makan malam yang enak," gumam Nero sinis sebelum akhirnya ia beranjak dari ranjangnya, mengambilkan Fay selimut dan membantunya berbaring di ranjang.
Sejak ingatan Nero pulih, mereka berdua mau tidak mau harus tidur satu kamar dan tentunya satu ranjang.
__ADS_1
Fay tersenyum senang dengan perlakuan Nero yang menurutnya cukup manis.
Meski ia tahu bahwa cintanya hanya untuk Widi, Nero tidak bisa memungkiri kalau ia cukup senang bisa membantu Fay mendapatkan tidur yang hangat malam ini. Tapi tentu saja perasaan senang itu tidak ia tunjukkan.