
Fay mematut diri di depan cermin. Menghadap depan, belakang, kanan, dan kiri. Sesekali berputar pelan. Matanya hanya tertuju pada perut yang semakin membesar.
Ia tersenyum haru melihat pertumbuhan badannya. Sesekali merasakan tendangan-tendangan kecil dari kedua bayi.
"Lagi pada main, ya?" tanya Fay sembari mengusap perutnya lembut.
Tiba-tiba ia merasa mual. Segera ia berjalan menuju kamar mandi. Ia keluarkan seluruh isi makanan yang ia makan.
"Duh, katanya hanya di tri semester pertama aja mualnya," keluh Fay merasa kelelahan harus memuntahkan isi makanan yang ia telan.
Tok Tok Tok!
"Masuk aja, Mas!" teriak Fay dari dalam kamar mandi.
"Ini Ance, Mbak!" sahut Ance dari luar kamar.
"Sama Gea, Mbak!" sahut Gea juga.
"Masuk aja!" Fay berjalan perlahan keluar kama mandi kembali duduk di ranjang.
Ance dan Gea segera masuk begitu pintu terbuka. Ance membawa satu koper hitam besar dan Gea membawa beberapa gaun yang di pasangkan pada hanger.
"Kita mulai fitting baju sekarang aja ya, Mbak. Nanti sore buat nggak ribet. Mas Nero juga. Acara 7 bulanan kok mendadak," ujar Ance sembari mempersiapkan semua alat make up di atas meja rias milik Fay.
Gea memasang gantungan baju portabel, lalu menggantungkan semua gaun yang ia bawa di gantungan itu agar tidak kusut.
"Kenapa bisa mendadak banget sih, Mbak?" tanya Gea heran.
"Sorry, kita lupa ngasih tahu," jawab Fay sedikit merasa bersalah.
"Tapi tenang, kita bisa tetep buat penampilan Mbak Fay glowing and the most beautiful mommy." Ance tersenyum yakin.
Hari ini adalah perayaan tujuh bulan usia kandungan Fay. Semua ide dadakan berasal dari Arya, ayah Fay. Baginya melakukan ruwatan di usia kandungan tujuh bulan itu penting.
Bermaksud menjadi anak berbakti, akhirnya Fay dan Nero sepakat untuk mengikuti perintah Arya mengadakan ruwatan tujuh bulan kandungan.
Acaranya tetap meriah dan mewah meski persiapannya cukup mendadak. Keluarga Adhitama memiliki anak buah yang terbiasa menangani banyak acara, bisa dikatakan ahli. Hal ini jadi lebih mudah.
Secara harus keturunan, sebenarnya Fay berdarah jawa. Mengikuti permintaan Arya selaku ayah dari calon ibu, acara tujuh bulanan dirayakan berdasarkan adat Jawa.
Nero hanya mengikuti saja. Segala sesuatu berkaitan hal-hal tradisi, ia memang tidak tahu sebab terbiasa hidup dengan gaya western.
Secara Jawa, acara ruwatan tujuh bulan usia kandungan dikenal dengan istilah "tingkeban." Istilah Jawa yang berasal dari kata dasar "tingkeb" artinya tutup.
Maksudnya tutup, sebagai penutup selama kehamilan sampai bayi dilahirkan. Ada tata cara siraman atau memandikan sang calon ibu dengan cara mengguyur.
Air yang digunakan juga tidak sembarangan, berasal dari tujuh mata air yang berbeda juga diberi bunga tujuh rupa.
Jalannya tingkeban dipimpin oleh dukun bayi yang memahami seluk-beluk tata cara ruwatan tradisi.
Selama prosesi siraman, Fay tampak khusyuk menjalani ruwatan tersebut. Polesan make up Ance membuatnya tampil sangat anggun.
Balutan kain jarik membuatnya terlihat berbeda, Fay menjelma bak putri Jawa asli keraton. Anggun, wibawa, dan berkelas.
__ADS_1
Selama prosesi dari awal hingga akhir, diam-diam Nero memperhatikan lekat-lekat wajah Fay. "Kalau di lihat-lihat, wajah kamu sangat cantik," batin Nero.
Selama ini ia memang enggan melihat wajah Fay terlalu detail. Ia hanya merasa segera ingin mengakhiri pernikahan yang ia jalani bersama Fay.
Galen juga diam-diam tersenyum senang melihat kecantikan Fay. Kebetulan dia kebagian jatah menjadi fotografer acara itu. Kesempatan mengambil wajah Fay ia gunakan untuk menikmati kecantikan Fay.
Di antara pada undangan, tidur hadir pula Albie. Fay secara khusus mengundangnya. Bila bukan karena Fay, sudah dalam dipastikan bahwa Albie tidak akan datang.
"Kamu sangat cantik, Fay," gumam Albie yang diam-diam juga ikut memandang Fay dari jauh. Sesekali ia tersenyum kecil.
Fay terus saja fokus pada arahan dukun bayi, menjalani proses demi proses tanpa mengeluh. Kalau sebenarnya ia sangat ingin istirahat dan rebahan.
"Tuhan, sehatkan bayi yang ada di perutku ini, bentuklah dalam wujud tidak kurang satu apapun. Tetapkan kehidupan yang baik untuknya," ujar Fay berdoa dalam hati.
Beberapa jam kemudian, acara akhirnya selesai. Usai menghapus make up dan berhenti baju, Fay memilih langsung istirahat di kamar tidur.
Sementara Nero masih berbincang santai dengan ayahnya di taman belakang. Semua tamu sudah pulang, Galen dan ayah Fay juga sudah pulang.
"Papa harap kamu bisa belajar mencintai istri kamu, Nero. Dia perempuan istimewa. Apalagi saat ini ada benih keturunan Adhitama di dalam rahimnya."
Nero hanya diam mendengarkan ucapan ayahnya. Dihisapnya dalam-dalam rokok ditangannya.
"Alasan perjodohan ini bukan karena janji memenuhi keinginan mendiang ibu kamu. Alasan utamanya karena papa tahu kalau Fay adalah perempuan yang pantas mendampingi kamu."
Nero masih diam tidak menanggapi. Tetap asyik dengan rokok di tangannya.
"Percaya sama Papa," ujar Danu tenang dengan suara lugas.
Nero membuka pintu kamar Fay perlahan, ia tidak ingin menimbulkan suara, nanti Fay terbangun.
Pelan-pelan Nero mendekati ranjang tidur Fay. Tampak perempuan yang berstatus menjadi istrinya itu tidur pulas.
Nero duduk di kursi rias milik Fay. Menatapnya tanpa bicara. Kata-kata ayahnya membuat Nero berpikir keras.
Mencari tahu apa keistimewaan perempuan di depannya. Parasnya masih kalah cantik dari Widi. Badannya juga lebih mungil.
Kemampuannya hanya di bidang lukisan. Soal masak dia jago, Nero akui ia mulai ketagihan dengan Mas akan buatan Fay.
Nero mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ada hal yang menarik untuk dilihat. Hanya ada satu pajangan, foto pernikahannya.
Ia putar kembali seluruh memori dari awal pernikahan hingga sekarang. Kata-kata kasar, tamparan, pemaksaan semua ia berikan pada Fay.
Fay tidak pernah sekalipun memberontak. Ia juga tetap bertahan. "Ada perempuan seperti kamu, Fay. Apa yang buat kamu mau tunduk dengan saya?"
Nero melipat kedua tangannya, matanya tetap menatap wajah Fay yang tertidur pulas.
"Wajah kamu kalau ditatap terus-terusan ... semakin terlihat manis. Tipikal wajah yang tidak membosankan," gumam Nero tersenyum simpul.
Baru kali ini entah kenapa ia tidak bisa berhenti menatap wajah Fay. Ini benar-benar menyenangkan bagi Nero.
"Mas, sejak kapan kamu di situ?"
Nero gelagapan dengan Fay yang tiba-tiba membuka mata, menanyakan keberadaannya seperti penguntit.
__ADS_1
"Baru saja," jawab Nero berusaha menghilangkan rasa gugupnya. Ia pun teringat dengan tujuan awalnya masuk ke kamar Fay.
"Vitamin kamu ketinggalan di bawah." Nero mengeluarkan botol vitamin Fay dari saku celananya. Dalam hati bersyukur ia punya alibi kuat soal ini.
Tadi sebelum naik ke kamar Fay ia mengambil vitamin itu untuk jaga-jaga kalau semisal Fay belum tidur. Ia tidak perlu repot-repot mencari alasan sebab memang tidak memiliki kepentingan untuk menemui Fay.
"Vitamin memang sengaja aku taruh bawah, Mas. Biar nggak lupa minum tiap harus makan." Fay mendudukkan badannya.
Melihat Fay sedikit kesusahan untuk duduk, Nero bergegas menghampiri dan membantunya duduk.
"Makasih, Mas. Sumpah ini berat banget."
"Seberat apa sih?" tanya Nero penasaran.
"Mas beneran ingin tahu?" tanya Fay memastikan.
Nero mengangguk mantap. Ia benar-benar penasaran seberat apa membawa janin di dalam perut.
"Mas turun ke bawah, di meja dapur ada semangka. Ambil dan bawa ke sini. Nanti aku kasih tahu jawabannya."
Tanpa protes Nero langsung melakukan apa yang dipinta Fay. Begitu semangka sudah di bawa Nero, Fay meminta Nero mengambil korset hamil miliknya di dalam lemari.
"Mas pake korset hamil itu, masukkan semangka ke dalamnya."
Nero mengikuti apa kata Fay. Begitu semangka sudah menempel di perut Nero di dalam korset yang ia kenakan, Fay meminta Nero untuk mengambil bonek yang jatuhkan ke lantai.
"Susah, ya," keluh Nero yang kesusahan mengambil boneka Fay di lantai. Berkat usahanya, boneka itu bisa ia ambil.
Fay meminta Nero jalan dan duduk. Pria itu benar-benar bisa membayangkan seperti apa susahnya membawa janin dalam perut.
"Sekarang, coba berbaring di samping aku, Mas."
Nero perlahan mendudukkan badannya di tepi ranjang, lalu pelan-pelan merebahkan tubuhnya.
"Sial! Susah!" omel Nero. Fay tertawa melihat kelakuan suaminya.
"Coba duduk kayak aku."
"Susah banget," komentar Nero ngos-ngosan.
"Udah ngerti beratnya bawa janin?"
Nero mengangguk. Ia usap kepala Fay perlahan. "Thanks buatku perjuangannya."
Fay mematung mendapat perlakuan manis barusan. "Sama-sama."
Nero tersenyum memandang Fay. Dia sangat salut dengan perjuangan Fay. "Kamu hebat, Fay."
Fay tersenyum tersipu malu. Sesuatu di hatinya seakan mekar. Malam ini Nero benar-benar memperlakukan dirinya dengan manis. Sangat sederhana tapi entah kenapa ini sangat menyenangkan bagi Fay.
"Norak banget loe Fay, baru cuman dipuji biasa sama dielus kepala, udah klepek-klepek. Itu bukan ungkapan cinta, hanya pujian." Gumam Fay dalam hati.
Tapi hatinya tetap merasa berbunga-bunga.
__ADS_1