Air Mata Istri Setia

Air Mata Istri Setia
Beri Ucapan Selamat atau Semangat?


__ADS_3

"Kami berdua sengaja mengundang dinner bersama sebab ada hal penting yang harus kita rayakan." Nero membuka percakapan begitu semua sudah berkumpul di meja makan.


Arya dan Danu tampak serius menyimak. Galen tampak cuek sebab ia masih belum memaafkan kakaknya.


"Tempo lalu saat terakhir kali kita lunch bareng, Papa Arya sama Papa Danu bilang ingin punya cucu kembar." Nero mengambil jeda sejenak.


"Keinginan kalian sebentar lagi terwujud. Fay positif hamil dan bayinya kembar."


Dua pria paruh baya itu terkejut. Sedetik kemudian wajah mereka terlihat sumringah. Fay menunjukkan salah satu foto USG miliknya. Senyum merekah semakin lebar terukir.


Semua terlihat bahagia kecuali satu orang. Galen hanya diam terpaku. Pikirannya menerawang jauh ke masa depan sahabat yang dicintainya itu.


Senyum Fay sedikit memudar saat melihat ekspresi Galen. Jelas ia tahu apa yang dipikirkan sahabatnya itu.


Sesudah acara dinner bersama, Nero dan para ayah memilih duduk bersantai di teras belakang. Berbincang santai sembari merokok.


Fay dan Galen masih bertahan di meja makan. Fay tampak asyik menikmati desert kesukaannya. Galen hanya menatap dengan tatapan jengah.


"Loe kenapa sih?" tanya Fay heran melihat ekspresi Galen.


"Kok bisa hamil?"


Fay menghentikan suapannya. "Namanya juga suami istri. Apa yang nggak mungkin?" Ia menanggapi dengan cuek.


"Loe siap dengan resikonya?"


Fay terdiam sejenak. "Jujur ini juga di luar rencanaku. Sebenarnya beberapa waktu lalu Mas Nero ingin kita pisah. Tapi telat, baby gue keburu ada duluan."


Galen tersenyum kecut. Ia tidak pernah membayangkan sahabatnya harus hidup dengan cara menyakitkan.


Menikah harus di bawah tanda tangan kontrak, hamil tapi tidak bisa punya hak asuh, dan dipastikan akan cerai.


Semua hal pahit itu lebih parahnya adalah status perancang permainan itu semua, kakak kandungnya sendiri.


"Gue nggak pernah nyangka kehidupan loe harus berjalan seperti ini."


Fay tersenyum tenang. Ia cukup memahami apa yang dikhawatirkan oleh Galen.


"Soal perjanjian itu ... kami sepakat untuk membuat sedikit perubahan dan itu cukup melegakan buat gue," ujar Fay.

__ADS_1


"Perubahan?" Galen mengernyitkan alis, menyadari ada hal baru yang belum ia ketahui.


"Mas Nero janji akan setia selama menjalani pernikahan, janji bersikap baik, dan akan tetap memberikan gue izin untuk bertemu dengan anak gue kelak."


Galen menghela nafas berat. "Soal perceraian itu masih berlaku?"


Fay mengangguk. "Masih tetap berlaku."


Galen menggelengkan kepala, heran melihat ketabahan Fay. "Apa perlu gue bilang bokap soal ini?"


"Jangan Len! Gue ikuti aja permintaan Mas Nero. Lagipula udah sejauh ini berjalan. Percuma, nggak akan ada yang berubah," cegah Fay.


"Lagipula pernikahan ini terjadi karena Mas Nero nggak bisa nolak permintaan almarhumah mama kita," lanjut Fay.


Fay menyentuh perutnya. "Bayi dalam rahim gue gak bersalah. Dia harus lahir, tumbuh, dan hidup dengan cara yang layak."


"Loe sendiri gimana?"


"I'm fine. Gue baik-baik aja. Setelah ini selesai ... gue jamin hidup gue masih akan baik-baik aja."


Keduanya kembali terdiam. Fay meneguk minumannya hingga tandas. Dalam hatinya sangat tahu bahwa ucapannya barusan adalah dusta.


Galen memandang wajah Fay dengan hati yang pahit. Awalnya saat ia tahu soal perjodohan itu, hatinya terkejut buka main.


Apa daya, ia tidak bisa mengutarakan isi hatinya sebab Fay lebih dulu cerita kalau dia senang dengan perjodohan ini.


"Gue nggak nyangka bakal dijodohin sama abang loe, Len. Gue seneng banget!" Itulah kata-kata yang dilontarkan Fay saat tahu kabar itu.


Ia paksakan terlihat bahagia dengan sosok Fay yang mengenakan gaun pengantin, bersanding dengan orang lain dan bukan dirinya.


Baru saja ia ingin mengikhlaskan perasaannya, ia mendapati bahwa kakaknya dengan lega menorehkan kontrak pernikahan untuk Fay.


Galen jelas tidak terima sebab alasan utamanya karena pertemuan lain waktu Widi. Ditambah lagi ternyata dia perempuan penghianat yang sangat tidak layak diperjuangkan.


Hatinya semakin hancur tatkala berita kehamilan itu dengan jaminan keduanya akan berpisah begitu anak yang dikandung Fay lahir.


Sampai saat ini Galen masih tidak mengerti, ia sangat berharap sahabatnya itu harusnya berontak dari awal. Dia sangat mengenal Fay. Gadis tangguh yang tidak pernah rela ditindas oleh siapapun.


Hal itulah yang membuatnya tertarik bersahabat dengan Fay dan tanpa ia sadari, perasaannya telah tumbuh menjadi cinta. Sayangnya, ia tidak berani mengungkapkan.

__ADS_1


Galen masih ingat betul bagaimana beraninya Fay melabrak balik kakak kelas yang membully dirinya sebab berani menolak pernyataan cintanya.


Waktu itu mereka baru saja menginjak kelas 1 SMP dan kakak kelas itu 3 SMP.


Dengan berani Fay menghampiri kakak kelas yang patah hati itu, membentaknya, menjambak rambutnya, mengolok-olok dengan seribu umpatan hingga harus berakhir di ruang kepala sekolah.


Beruntung kepala sekolah mempercayai cerita Fay, kakak kelas itu yang mendapatkan hukuman.


Membandingkan kejadian itu dengan hari ini, jelas itu sangat berlainan. Fay terlihat kehilangan keberanian atau jangan-jangan memang jatuh cinta.


Memikirkan alasan kedua membuat Galen tersenyum, ia tertawa sinis. "Bener ya, jatuh cinta itu bikin orang gobl*k."


"Jatuh cinta itu ... buat kita tahu kalau selamanya hanya ada satu harapan kecil ... suatu saat loe bisa benar-benar memiliki dia," sahut Fay lirih.


"Loe serius masih punya perasaan sama Mas Nero?" Galen melotot tidak terima.


Fay mengangguk. "Perasaan itu entah kenapa belum juga hilang. Padahal perlakuan Mas Nero sangat menyakitkan."


Fay diam sejenak, Ia mengambil jeda. "Tapi ... setelah perjanjian kemarin diperbarui, gue sudah komitmen akan siap menerima kenyataan ini. Gue ikhlas melepas kakak loe."


Fay menghela nafas berat,"Apapun yang terjadi setelahnya, gue siap pisah."


Antara bahagia atau nyeri, semua bercampur jadi satu. Bahagia sebab jika Fay pada akhirnya jadi janda, Galen punya kesempatan lagi.


Nyeri sebab ia melihat air mata Fay menetes usai mengucapkan kalimat siap pisah. Jelas itu bertolak belakang dengan perasaannya.


"Kenapa harus dia yang mendapatkan hati loe Fay ..." gumam Nero dalam hati.


Galen bangkit berdiri. "Istirahat, yuk. Udah jangan nangis. Percuma. Kasihan bayi loe."


Cepat-cepat Fay mengusap air matanya. Ia ikut bangkit. Galen mengantarnya tidur ke kamar.


"Gue nggak tahu harus ngucapin selamat atas kehamilan loe ... atau ucapan semangat untuk perjuangan loe yang ..."


"Dua-duanya aja. Ponakan loe akan lahir, loe harus kasih selamat ke gue yang berhasil jadi ibu ... dan dua bayi ini. Gue juga butuh dukungan semangat loe."


Galen menghembuskan nafas berat, menganggukkan kepala. "Congrats and selamat berjuang," ucapan Galen tulus.


"Thanks, Galen. Loe sahabat sekaligus saudara terbaik gue," balas Fay senang.

__ADS_1


__ADS_2