
Beberapa minggu sudah berlalu sejak kejadian di lift malam itu, Mega pun sudah kembali bekerja seperti biasa. Sesekali tanpa sengaja Mega akan bertemu dengan Jonathan dan juga Jason saat kedua pria itu datang ke hotel. Mereka tidak lagi merasa canggung untuk saling menyapa atau pun mengobrol. Terlebih Jason yang memiliki sifat jenaka yang membuat Mega merasa nyaman saat mengobrol dengan pria itu.
Pagi ini senior yang bertugas untuk membersihkan penthouse di kabarkan sakit dan meminta izin untuk cuti selama beberapa hari. Meski penthouse di hotel itu jarang di tempati namun setiap hari selalu rutin di bersihkan. Karena mereka tidak tahu kapan bos mereka akan berkunjung dan tiba-tiba menginap di penthouse tersebut. Oleh karena itu pagi ini Mega dan rekan nya Zea di beri tugas untuk membersihkan penthouse.
Zea merasa senang mendapat tugas tersebut, dalam hati nya dia berharap bisa beruntung bertemu dengan bos pemilik hotel tempat nya bekerja. Sementara Mega justru berharap sebalik nya, dia yang sudah pernah bertatap muka secara langsung dengan bos nya merasa enggan untuk bertemu kembali. Pasal nya Mega merasa bahwa bos nya itu adalah pria dingin yang menakutkan. Itu lah kesan pertama yang Mega pikirkan tentang bos nya. Meski ia akui bahwa bos nya adalah pria yang amat sangat tampan, tapi jika sifat nya menakutkan Mega pun enggan berurusan dengan nya, akan lebih baik jika dia menjaga jarak dan tidak terlibat apapun dengan bos nya. Meski begitu Mega bersikap profesional, seolah tugas itu memang sudah seharus nya ia lakukan karena itu memang bagian dari pekerjaan nya.
Mega dan Zoe melakukan tugas mereka tanpa ada pembicaraan di antara mereka berdua. Mega menyadari jika sejak awal Zoe seperti tidak menyukai nya, karena itu dia lebih memilih diam dan enggan memulai pembicaraan lebih dulu. Saat sedang mengganti seprei tanpa sadar ada sebuah gelang yang terjatuh, Mega mengambil nya dan ia terpesona akan keindahan gelang tersebut.
"letakkan itu"
Terdengar sebuah suara bariton dari ambang pintu. Mega menoleh dan terkejut melihat bos nya berdiri dengan menyandarkan tubuh nya di daun pintu.
Sontak saja Mega langsung meletakkan gelang itu di atas meja nakas. "maaf, saya tidak bermaksud melihat nya. Gelang itu terjatuh saat saya sedang mengganti seprei".
Tristan berjalan mendekati Mega dan berdiri di depan gadis itu. "kau yang berada di kamar Jonathan hari itu bukan?"
"iya tuan" jawab Mega lirih.
Mendengar Mega pernah masuk ke dalam kamar Jonathan membuat Zea merasa kaget. Entah hubungan seperti apa yang terjadi antara Mega dan Jonathan, yang pasti Zoe merasa tidak terima jika Mega bisa dekat dengan pria sekelas Jonathan.
Tristan tidak tahu jika ada orang lain di kamar itu. Dia pikir hanya ada Mega dan diri nya. Karena saat ini Zea sedang membersihkan kamar mandi hingga Tristan tidak melihat nya.
__ADS_1
"apa Jonathan sudah memberitahumu jika Richard sudah berhasil masuk ke dalam penjara?"
Mega meggeleng karena dia memang belum mendengar berita itu. "belum tuan, terakhir saya bertemu dengan Jonathan minggu lalu, dia hanya mengatakan jika dia harus pergi ke luar negri untuk urusan pekerjaan".
Tristan tersenyum miring mendengar ucapan Mega. "apa kalian berpacaran sampai-sampai dia memberutahu mu jika dia akan ke luar negri?"
"tidak.... Tidak tuan, hubungan kami tidak seperti itu" jawab Mega cepat.
Tristan sudah akan menjawab, tapi terdengar suara ketukan pintu dan dia pun mengurungkan niat nya. Tristan membuka pintu dan ternyata yang datang adalah Divya.
"selamat pagi" sapa Divya dengan senyum manis nya. "aku kemari membawa sarapan kesukaan mu. Ayo kita sarapan bersama" Divya memperlihatkan kotak makan yang sudah ia siapkan.
Sebelum Tristan mempersilahkan Divya sudah masuk lebih dulu. Senyum manis nya lenyap saat melihat seorang wanita berdiri di samping tempat tidur. Mega menundukan kepala nya sopan, dia mengingat saat malam pesta bos nya bertengkar dengan wanita cantik di hadapan nya itu.
"siapa kau, kenapa kau ada disini?" tanya Divya. Tiga tahun berpacaran dengan Tristan membuat Divya paham dengan pelayan yang bertugas membersihkan kamar itu. Dan Mega bukan lah orang yang bertugas membersihkan nya.
"itu bukan urusan mu Divya" ucap Tristan dingin. Dia tidak suka Divya bersikap seolah gadis itu masih berstatus sebagai kekasih nya.
Divya menatap Tristan dan kembali memasang senyum manis nya. "baiklah, lagi pula itu tidak penting" Divya menarik tangan Tristan meminta nya untuk duduk di sofa. "ayo kita sarapan bersama"
Tristan berusaha menahan diri dengan sikap Divya. Tristan tahu Divya melakukan semua ini karena masih mengharapkan diri nya untuk kembali. Tapi sayang nya rasa kecewa nya sudah sangat dalam, kepergian gadis itu tiga tahun yang lalu benar-benar menyakiti nya.
"aku sudah sarapan" ucap Tristan saat Divya berusaha menyuapi nya.
Wajah Divya langsung murung, ia tahu memang tidak mudah meluluhkan hati seorang Tristan. "cobalah sedikit, ini makanan buatanku. Pagi ini aku belajar memasak makanan kesukaan mu" ucap Divya masih belum menyerah.
__ADS_1
"tidak" tolak Tristan, dia beranjak dari sofa dan berjalan menuju ke arah Mega. "kau bertanya dia siapa bukan? Sekarang aku akan memberitahumu, nama nya adalah Mega, dia kekasihku" Tristan merangkul bahu Mega dengan mesra.
Baik Divya maupun Mega kedua nya sama-sama terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar. Tubuh Mega menegang merasakan sentuhan Tristan di pundak nya. Ingin rasa nya Mega berteriak bahwa semua itu tidak benar, tapi untuk mengeluarkan suara rasa nya sulit sekali. Suara nya seolah tertahan di tenggorokan.
Mata Divya sudah berkaca-kaca. Hati nya sakit mendengar Tristan mengakui wanita lain sebagai kekasih nya. "itu bohong kan? Katakan itu semua bohong, kau berbohong Tristan..!"
"kau harus menerima kenyataan, karena sekarang dia adalah kekasih ku dan sudah waktu nya untuk mu berhenti mengejarku. Aku tidak ingin kekasihku salah paham dengan sikap mu".
"tidak, aku yakin ini hanya sandiwara. Aku tahu kau masih mencintaiku, kau sangat mencintaiku Tristan" Divya mulai meninggikan suara nya. Dada nya terasa sesak, menolak menerima kenyataan yang ada di depan mata nya. "begitu pun dengan ku, aku masih sangat mencintai mu".
Mendengar kata cinta keluar dari mulut Divya membuat Tristan tersulut emosi. "apa, cinta? Cinta kau bilang?!" Tristan membuka laci yang berada di meja nakas dan mengambil beberapa lembar foto lalu melemparkan nya ke hadapan Divya. "apa ini yang kau sebut dengan cinta?!".
Dua hari yang lalu, Hans tangan kanan Tristan telah memberi nya foto-foto perselingkuhan Divya. Selama tiga tahun berada di luar negri rupa nya Divya menjalani hubungan dengan beberapa pria. Itu benar-benar membuat Tristan merasa di hianati. Padahal saat gadis itu pergi tidak ada kata perpisahan di antara mereka. Tapi Divya denga mudah nya menjalin hubungan dengan pria lain.
Divya membulatkan mata nya saat melihat foto-foto mesra diri nya bersama pria lain saat di luar negri. Dia tidak menyangka bahwa selama diri nya di luar negri ada seseorang yang diam-diam selalu mengikuti nya. "apa ini Tristan, apa selama ini kau memata-matai aku?".
Tristan tersenyum sinis mendengar tuduhan Divya. "apa kau pikir aku kurang kerjaan sampai harus memata-matai dirimu?".
Divya menjadi salah tingkah, dia menyesali kebodohan nya yang dulu lebih memilih pergi meninggalkan Tristan, padahal hati nya masih menjadi milik pria itu. "Tristan maafkan aku. Pria-pria itu tidak berarti apa-apa untukku. Jujur saja, awal nya aku hanya ingin mencari hiburan dengan mengencani mereka. Tapi aku tidak bisa membohongi hatiku kalau aku hanya mencintaimu. Aku tahu aku salah, tapi aku mohon maafkan aku".
"aku memaafkan mu, tapi aku tidak bisa kembali pada mu karena aku sudah memiliki nya" lirik Tristan pada Mega.
Sementara Mega masih mematung di tempat nya. Dia mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Dia tahu bahwa ini hanya sandiwara bos nya, tapi kenapa harus diri nya yang terlibat dalam urusan cinta mereka. Begitu pun dengan Zea, di dalam kamar mandi tentu dia mendengar semua perdebatan itu. Dia pun begitu shock saat mendengar bos mereka mengakui Mega sebagai kekasih nya. Zea merasa tidak percaya percaya dengan pendengaran nya sendiri. Tapi nyata nya semua ini memang terjadi di depan mata nya sendiri.
Perlahan Divya berjalan mundur. Air mata sudah membasahi wajah cantik nya. "tidak Tristan, aku tidak akan pernah menyerah. Aku akan berusaha untuk merebut mu kembali karena aku tahu kau masih mencintaiku dan kau hanya bisa mencintaiku". Selanjut nya Divya pergi meninggalkan mereka dengan hati yang terluka.
__ADS_1
Bersambung.....