Air Mata Mega

Air Mata Mega
Dua puluh enam


__ADS_3

Mega mematut diri nya di depan cermin. Saat ini diri nya sedang berada di kamar mandi di penthouse milik Tristan. Pria itu melarang diri nya untuk keluar dari penthouse dengan pakaian basah nya, Tristan justru meminta anak buah nya untuk membelikan satu set pakaian wanita lengkap dengan pakaian dalam nya.


"bagaimana dia bisa tahu ukuran ku?" gumam Mega saat semua yang di belikan anak buah Tristan begitu pas dengan tubuh nya.


"apa kau sudah selesai? Aku juga harus mandi" ucap Tristan dari luar pintu.


"iya tuan" teriak Mega dan bergegas keluar dari kamar mandi.


Mega memilih keluar dari kamar Tristan dan menunggu pria itu di ruang tamu. Menatap sekeliling penthouse, memikirkan pekerjaan apa yang selanjut nya harus ia kerjakan. Tapi dia tidak menemukan apa yang dia cari. Semua masih bersih dan rapih. Beberapa kali Mega menguap karena sebenar nya dia sangat mengantuk akibat semalam dia tidak bisa tidur sama sekali. Duduk di sofa yang empuk dan nyaman perlahan Mega pun pergi ke alam mimpi.


Selesai mandi Tristan tidak menemukan keberadaan Mega di kamar nya. Dia mencari ke seluruh penjuru penthouse dan tersenyum gemas saat menemukan gadis itu sedang tertidur dengan sangat nyenyak. Tristan berdiri di depan Mega dan menatap wajah cantik itu dengan lekat. "kenapa aku bisa mencintaimu? Aku sungguh seperti tidak mengenal diriku sendiri". Setelah di rasa puas memandangi wajah Mega, dengan hati-hati Tristan menggendong Mega dan membaringkan nya di ranjang milik nya. Mega hanya mengeliat kecil dan mencari posisi yang nyaman kemudian kembali terlelap. Sebelum meninggalkan gadis itu, Tristan memberanikan diri mencium kening Mega dengan lembut dan penuh perasaan. "semoga kau mimpi indah".


Sementara itu Jonathan sedang berkutat di studio musik milik nya. Hanya dengan membayangkan Mega, Jonathan tiba-tiba mendapat inspirasi dan dia berhasil membuat sebuah lagu. Lagu itu melambangkan perasaan Jonathan pada Mega, perasaan cinta yang perlahan tumbuh karena melihat kemurnian hati gadis itu. Jonathan tersenyum puas saat berhasil mendapatkan nada yang pas untuk lagu nya.


"aku akan menyanyikan ini saat aku mengungukapkan perasaanku padamu" gumam Jonathan sembari menatap beberapa lembar coretan kertas di hadapan nya.


"kau menyukai nya bukan?" seru ayah Jonathan dari ambang pintu.


Jonathan melirik pada ayah nya yang saat ini duduk di kursi roda. "siapa yang mengijinkan mu memasuki ruangan ini?"

__ADS_1


Ayah Jonathan tersenyum masam mendengar nada ketus putra nya. "segeralah ungkapkan perasaan mu, sebelum orang lain lebih dulu melakukan nya" setelah memberi nasehat pada putra nya, ayah Jonathan pergi meninggalkan ruangan itu.


"ck, kenapa sekarang pria tua itu mencampuri urusan ku" gumam Jonathan kesal.


Jonathan mendapat pesan dari menejernya. Pesan yang berisi jadwal nya selama sebulan ke depan. Dua hari lagi diri nya harus ke luar negri dan akan tinggal selama sebulan disana. Saat ini pekerjaan nya bukan hanya sebagai penyanyi, tapi banyak dari perusahaan brand ternama yang ingin menjadikan Jonathan sebagai brand ambasador produk mereka. Dan Jonathan mulai mengambil beberapa tawaran yang menurut nya menarik dan bisa dia kerjakan dengan baik. Dan sepulang nya dari luar negri nanti, Jonathan akan mencoba mengungkapkan perasaan nya pada Mega.


Kembali ponsel Jonathan berdering. Kali ini ada telfon dari nomor yang tidak di kenal. Jonathan enggan mengangkat nya, tapi rupa nya si penelfon tidak mudah menyerah dan terus saja menelfon nya.


Akhir nya Jonathan pun mengangkat nya. "hallo"


Terdengar suara tangisan seorang wanita di ujung telefon. Jonathan mengerutkan kening nya karena mengenali suara wanita itu. "Tessa, apa itu kamu?"


"kau dimana?" tanya Jonathan. Mendengar suara Tessa Jonathan yakin gadis itu sedang mabuk. Dan Jonathan tidak ingin sampai terjadi sesuatu pada gadis itu. MeskiTessa selalu bersikap menyebalkan saat di depan nya, tapi Jonathan benar-benar menyayangi gadis itu seperti layak nya adik sendiri. Jonathan bergegas mengambil kunci mobil nya dan pergi menuju tempat yang di sebutkan gadis itu.


Rupa nya Tessa sedang berada di sebuah club. Terlihat club itu cukup sepi karena masih siang hari. Jonathan melihat Tessa duduk di meja bartender dan sudah tidak sadarkan diri.


"tuan, apa kau mengenal gadis ini?" tanya sang bartender.


"iya, dia adik ku" jawab Jonathan.

__ADS_1


"baiklah, kau bisa membawa nya. Dia sudah sangat mabuk, dan satu lagi dia belum membayar minuman nya"


Jonathan segera mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkan nya pada si bartender. "terimakasih karena sudah menjaga nya" ucap Jonathan dan menggendong Tessa menuju mobil nya.


Jonathan melajukan mobil nya menuju apartemen Tessa. Rupa nya Tessa benar-benar mabuk, Jonathan berusaha membangunkan gadis itu untuk menanyakan password apartemen nya tapi Tessa sama sekali tidak merespon. Jonathan mencoba menelfon Tristan namun pria itu tidak mengangkat panggilan nya. Akhir nya Jonathan menelfon Hans dan bersyukurlah tangan kanan Tristan itu mengangkat telfon nya.


Hans meminta Jonathan untuk membawa Tessa ke hotel. Sesampai nya di hotel rupa nya Hans sudah menunggu nya di basment, kemudian pria itu menawarkan diri untuk membawa Tessa dan Jonathan pun mengijinkan. Hans langsung menggendong Tessa dan membawanya menuju salah satu kamar yang sudah ia persiapkan sebelum nya. Dengan hati-hati Hans membaringkan Tessa di ranjang dan menyelimuti gadis itu. Saat Hans akan pergi tiba-tiba Tessa menggenggam tangan nya.


"jangan pergi, aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini" racau Tessa masih dengan mata tertutup. Setetes air mata terjatuh dari sudut mata gadis itu.


Hans duduk di samping ranjang. Dengan lembut di hapus nya air mata yang mengalir di pipi gadis cantik itu. "aku tahu selama ini hidup mu kesepian. Kau bersikap seenak nya dan kekanak-kanakkan karena kau ingin mencari perhatian dari kakak mu. Tessa, sebenar nya kau adalah gadis yang baik dan manis, aku tahu itu".


Mendengar suara Hans, membuat genggaman Tessa pada tangan Hans semakin erat. Seolah gadis itu mendengar setiap kata-kata yang Hans ucap kan pada nya.


Perlahan Hans mencoba melepaskan genggaman Tessa pada tangan nya. Berada di dekat gadis itu terlalu lama tidak baik untuk kesehatan jantung nya. Ya, sebenar nya sudah sejak lama Hans memendam perasaan nya pada Tessa. Yang bisa Hans lakukan hanya lah mencintai gadis itu dalam diam. Hans menyadari posisi nya, karena Tessa merupakan adik dari bos nya. Dia tidak pantas bersanding dengan Tessa karena kehidupan mereka jauh berbeda.


Saat ini bisa melihat gadis itu setiap hari sudah lebih dari cukup untuk Hans. Tak apa jika Tessa tidak pernah tahu tentang perasaan nya, asalkan gadis itu baik-baik saja maka Hans akan tetap bisa memendam perasaan nya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2