Air Mata Mega

Air Mata Mega
Empat belas


__ADS_3

Dua hari berlalu dan meski sudah meminum obat keadaan Mega belum juga membaik. Dia hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur nya. Saat akan terlelap terdengar seseorang mengetuk pintu rumah nya. Dengan tertatih Mega berjalan keluar membuka pintu.


"bapak" Mega terkejut melihat menejer hotel yang memecat nya saat ini berada di hadapan nya.


"Mega, apa kamu baik-baik saja?" menejer hotel melihat wajah Mega yang pucat, terlihat bahwa Mega sedang tidak sehat.


"saya hanya demam saja pak. Mari silahkan masuk" Mega mempersilahkan mantan menejer nya itu untuk duduk. "bapak mau minum apa?"


"tidak perlu, saya hanya mampir sebentar. Sebenar nya kedatangan saya kemari karena ingin meminta kamu untuk kembali bekerja di hotel"


"apa? Bapak tidak sedang main-main kan?"


"tidak Mega, saya serius. Dan soal pemecatan kamu itu saya minta maaf, meski itu bukan murni kesalahan saya tapi karena saya yang memecat kamu jadi saya juga merasa bersalah"


Mega merasa senang karena dia kembali mendapatkan pekerjaan. Dia tidak perlu lagi berkeliling untuk mencari pekerjaan. "terimakasih pak, terimakasih banyak. Saya senang sekali bisa kembali bekerja"


"kamu bisa mulai kembali bekerja besok. Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu"


"baiklah, sekali lagi terimakasih pak"


"sama-sama Mega"


Setelah sampai di mobil nya, sang menejer menghubungi tangan kanan Tristan untuk mengabarkan bahwa dia sudah melakukan apa yang di perintahkan bos nya itu. Dalam hati dia bertanya-tanya bagaimana bisa bos nya kenal dengan Mega yang merupakan seorang cleaning service. Di tambah lagi bos nya itu sangat peduli kepada Mega dan secara pribadi menyuruh nya untuk membawa Mega agar kembali bekerja di hotel.


Ke esokan hari nya pagi-pagi sekali Mega sudah mengayuh sepeda nya menuju hotel. Bersyukur saat bangun tadi keadaan nya sedikit membaik. Meski masih demam setidak nya Mega sudah tidak merasakan pusing seperti hari sebelum nya. Sesampai nya di hotel Mega di sambut rekan kerja nya yang senang dengan kedatangan nya.

__ADS_1


"selamat datang kembali Mega"


"terimakasih, aku senang bisa bekerja dengan kalian lagi"


Zea menatap Mega dengan sinis. Kemarin dia tidak sengaja mendengar saat Hans meminta menejer untuk membawa Mega bekerja kembali. Jika Hans sudah turun tangan berarti itu adalah perintah langsung dari bos pemilik hotel. Apakah Mega benar-benar memiliki hubungan dengan bos pemilik hotel?. "apa kau menjual diri mu sampai-sampai bisa kembali kemari?"


Semua orang menatap Zea dengan pandangan bertanya-tanya. Mereka tidak menyangkan Zea berbicara sekasar itu kepada Mega.


"apa maksud mu, kenapa kau bicara seperti itu padaku?" Mega merasa tidak terima dengan kata-kata yang Zea lontarkan.


"kau bisa kembali bekerja karena kau merayu big bos bukan? Meski tempo hari big bos mengakuimu sebagai kekasih nya tapi aku tidak percaya itu"


Kali ini semua orang menatap Mega, mereka tidak menyangka Mega mengenal big bos mereka. Belum sempat Mega membuka mulut nya untuk menjawab kata-kata Zea, suara pintu terbuka mengalihkan perhatian mereka. Semua orang membulatkan mata nya terkejut melihat kedatangan Tristan yang masuk tiba-tiba.


Dengan santai nya Tristan berdiri di samping Mega dan merangkul pinggang gadis itu dengan mesra. "kami tidak harus membuktikan mengenai hubungan kami kepada siapapun, karena itu tidaklah penting. Bukan begitu sayang?" Tristan mengedipkan sebelah mata nya pada Mega. Memberi kode pada gadis itu untuk mengikuti alur cerita yang ia buat.


Tristan tersenyum lancip dan menatap Zea dengan tajam. "jadi lain kali jaga ucapan mu. Aku tidak suka ada orang yang berbicara buruk tentang kekasih ku"


"ma... Maaf kan saya" ucap Zea dengan tergagap. Dia menundukan wajah nya tidak berani menatap Tristan. Dia tidak menyangka Mega benar-benar menjadi kekasih dari bos nya. Jika kemarin Tristan mengakui itu di hadapan Divya, Zea masih berfikir jika bos nya hanya sedang memanas-manasi mantan kekasih nya itu. Tapi sekarang Tristan mengakui nya di depan semua orang. Apakah semua itu memang benar ada nya?.


Semua orang pun ikut menundukan wajah mereka. Aura kemarahan Tristan menguar begitu kuat membuat mereka bergidik ngeri.


"ayo, aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu" ajak Tristan dan menggandengan tangan Mega keluar dari ruangan.


Mega mengikuti langkah Tristan. Mereka menjadi pusat perhatian lantaran pemandangan tak biasa. Seorang big bos bergandengan tangan dengan seorang wanita yang merupakan pekerja cleaning service. Tristan membawa Mega ke penthouse milik nya karena Tristan ingin mengembalikan gelang yang di rampas Divya dari nya.

__ADS_1


"duduk lah, aku akan kembali" ucap Tristan dan langsung masuk ke dalam kamar nya.


Mega langsung menjatuhkan diri nya di sofa. Kaki nya terasa lemas dan jantung nya berdegup dengan kencang. Dia menyesali apa yang baru saja terjadi, hanya karena ingin membalas kata-kata Zea diri nya sampai melakukan sandiwara seperti ini.


"kau pasti sudah gila Mega. Bisa-bisa nya kau mengakui bos mu sebagai kekasih mu" gumam Mega. Dia sampai memukul kepala nya berkali-kali.


Tiba-tiba Tristan berlutut di hadapan nya, mencegah tangan Mega yang kesekian kali nya akan memukul kepala nya.


"tu.... Tuan apa yang anda lakukan?".


"berhenti memukul diri mu sendiri" ucap Tristan dengan suara bariton nya. Kemudian memegang sebelah tangan Mega dan memasangkan gelang yang pernah dia berikan.


"gelang ini..." ucap Mega tak percaya melihat gelang yang tempo hari di ambil Divya dengan paksa kini kembali berada di tangan nya.


Luka di pergelangan tangan Mega masih belum sembuh hingga Tristan memasang nya di tangan yang tidak terluka. "aku sudah memberikan gelang ini pada mu, dan itu arti nya gelang ini adalah milik mu. Jangan biarkan orang lain mengambil nya dari mu" ucap Tristan dengan lembut. "dan soal luka ini aku benar-benar minta maaf. Jika bukan karena aku Divya tidak akan mungkin menyakiti mu".


"tidak tuan, anda tidak perlu minta maaf. Lagi pula nona Divya mengatakan anda merancang gelang ini khusus untuk nya. Saya pikir dialah yang lebih pantas memakai gelang ini" Mega ingin melepas kan gelang itu namun Tristan mencegah nya.


"menjadi desainer perhiasan adalah cita-cita ku. Aku mendesain gelang itu karena aku menyukai nya, aku tidak membuat nya secara khusus untuk Divya"


"tapi nona Divya...."


"apa kau percaya dengan kata-kata seorang penghianat? Kau sudah mendengar nya hari itu bukan, bahwa dia telah pergi meninggalkan ku dan dengan sengaja menghianati ku. Dan kau masih percaya dengan kata-kata nya?" Tristan menarik nafas dalam-dalam dan tatapan nya berubah sendu. "aku adalah orang yang paling membenci penghianatan, bagi ku tidak ada maaf bagi seorang penghianat".


Saat Tristan mengatakan nya ada luka yang terpancar dari tatapan mata nya. Seolah pria itu pernah mengalami luka yang luar biasa akibat pahit nya sebuah penghianatan.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2