Air Mata Mega

Air Mata Mega
Tiga puluh


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu sejak Mega kembali tinggal di rumah kontrakan nya. Dan sampai sejauh ini semua nya baik-baik saja. Memang masih ada beberapa dari tetangga yang bertanya mengenai gosip diri nya dan Jonathan. Dan Mega dengan sabar menjelaskan bahwa semua itu hanya gosip, dia menegaskan bahwa dia dan Jonathan hanya berteman. Para tetangga tampak shock mendengar bahwa Mega berteman dengan seorang penyanyi terkenal yang selama ini selalu berseliweran di tv.


Pagi ini Matteo kembali membuntuti Mega, dia selalu mengawasi setiap aktifitas gadis itu. Dalam waktu dekat Matteo berencana untuk menjalankan misi nya. Dia sudah menyiapkan rumah untuk nanti nya di tempati Mega. Sebuah rumah di pinggir desa yang jauh dari keramaian. Matteo berharap Mega bisa aman tinggal disana untuk sementara.


Mega keluar dari rumah dan tidak lupa untuk mengunci nya. Pagi ini Mega sudah bersiap untuk pergi bekerja. Dia mengayuh sepeda nya agar bisa sampai ke hotel tepat waktu. Dia masih tidak menyadari bahwa ada orang yang diam-diam terus mengikuti nya. Udara pagi yang sejuk membuat Mega merasa lebih segar, karena sebenar nya akhir-akhir ini Mega merasa tidak semangat untuk bekerja. Rekan kerja serta pegawai yang lain mulai membicarakan hal yang paling tidak Mega sukai. Dia di tuduh menjual diri nya kepada Tristan, dan karena hal itu Tristan menjadikan diri nya sebagai kekasih pria itu. Entah dari mana berita itu berasal, yang pasti berita itu sudah di ketahui oleh hampir semua kariawan hotel.


Karena itu Mega lebih banyak menghabiskan waktu di dalam penthouse, dan untung nya Tristan tidak pernah datang hingga dia bisa menangis dengan keras tanpa khawatir akan ada yang mendengar nya. Diam-diam Mega suka tiba-tiba menangis, wanita mana yang tidak sakit hati saat di tuduh telah menjual diri, sementara bagi Mega harga diri adalah segala nya. Dia lebih baik mati kelaparan daripada harus menjual diri demi segepok uang yang tidak seberapa. Dan bisa-bisa nya rekan kerja nya menuduh diri nya melakukan hal serendah itu tanpa ada nya bukti. Tidak ada tempat bagi Mega untuk berkeluh kesah. Biasa nya dia akan bercerita kepada Jonathan, tapi saat ini pria itu sedang melakukan pekerjaan di luar negri dan Mega tidak ingin mengganggu nya. Hidup sebatang kara memang menyedihkan. Dia sering merasa kesepian dan dia sangat membutuhkan seseorang untuk bisa di andalkan.


Sejak Tessa masuk rumah sakit, Tristan memang tidak pernah lagi datang ke hotel. Pria itu di sibukkan dengan pekerjaan kantor nya. Selain sebagai pemilik hotel, Tristan juga merupakan seorang CEO di perusahaan milik keluarga nya. Meski bisnis bukanlah bidang yang Tristan sukai, tapi sebagai anak tertua mau tak mau dia harus meneruskan bisnis keluarga. Sejujur nya Tristan merasa sangat merindukan Mega, ingin sekali pria itu menghubungi gadis pujaan hati nya. Namun Tristan menahan diri, dia takut jika mendengar suara Mega dia bisa lepas kendali dan meninggalkan pekerjaan nya untuk menemui gadis itu. Padahal saat ini pekerjaan nya sangat menumpuk. Semua itu karena Tristan lebih sering melimpahkan pekerjaan kantor kepada orang-orang kepercayaan nya. Jadilah beberapa hari ini dia di sibukkan dengan dokumen-dokumen yang harus dia priksa dan dia tanda tangani.


Tristan memijat kening nya yang terasa berdenyut. Beberapa hari berkutat dengan angka dan huruf membuat kepala nya terasa hampir pecah. Tristan mengeluarkan ponsel nya, memeriksa cctv di penthouse lewat ponsel nya untuk sekedar melihat Mega. Terlihat saat ini gadis itu sedang duduk di pinggir kolam renang dengan wajah tertunduk. Hanya dengan melihat itu Tristan seolah tahu jika Mega sedang tidak baik-baik saja. Segera Tristan meminta anak buah nya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di hotel. Dan tak lama Tristan mendapat laporan bahwa gosip tentang Mega yang menjual diri sedang ramai di bicarakan oleh para pegawai nya.


Sontak saja Tristan murka. Dia tidak terima ada seseorang yang berbicara buruk tentang Mega. "siapa dalang dari gosip itu?" tanya Tristan pada anak buah nya.


"setelah saya menyelidiki nya, gosip itu bersumber dari salah satu pegawai yang bekerja di restoran hotel tuan" anak buah Tristan mengeluarkan selembar foto dan memberikan nya pada Tristan. "ini adalah foto milikik nya tuan"


Tristan menatap foto yang memperlihat kan Mega yang sedang tertidur di ranjang nya. Tristan mencoba mengingat bagaimana orang itu bisa mendapat foto tersebut. Kemudian dia teringat saat Mega tertidur di kamar nya, dia meminta pegawai hotel untuk menata makanan di dalam kamar nya. Tristan meremas foto itu karena merasa murka. Bisa-bisa orang itu berfikir hal serendah itu hanya karena melihat Mega tidur di ranjang nya. "bawa orang itu ke hadapanku, segera" titah nya.


"baik tuan"


Mega yang sedang membersihkan area penthouse di kejutkan dengan kehadiran Tristan yang tiba-tiba datang. Tak hanya sendiri, pria itu datang bersama dengan anak buah nya yang membawa seorang wanita. Dengan kasar anak buah Tristan mendorong wanita itu hingga jatuh tersungkur di hadapan Mega. Mega yang melihat itu cukup terkejut dan cepat-cepat membantu wanita itu untuk berdiri.

__ADS_1


"ada apa ini tuan, kenapa anda melakukan ini?"


Tristan mengibaskan jari nya meminta anak buah nya untuk pergi. Setelah anak buah nya pergi, Tristan baru mengatakan semua nya kepada Mega. "wanita itu, dia yang telah membuat rumor bahwa kau menjual diri mu pada ku"


Mega membulatkan mata nya, menatap wanita di hadapan nya dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana bisa Tristan mengatakan hal itu sementara Mega sendiri merasa tidak pernah mengenal wanita itu sebelum nya. "apa itu benar? Katakan, apa yang Tristan katakan itu benar?"


Wanita itu hanya bisa menunduk, dia tidak berani mengangkat wajah nya untuk sekedar menatap Mega atau pun bos nya. Dia telah melakukan kesalahan dan sekarang dia harus siap menerima segala konsekuensi nya. Apa yang di tuduh kan Tristan memang benar ada nya dan tidak ada celah bagi nya untuk membela diri. Dia telah gegabah, hanya dengan melihat Mega tidur di kamar bos nya dia sampai berani menyebarkan rumor itu. Akhir nya wanita itu hanya bisa mengangguk tanpa berani bersuara.


Mega memaksa wanita itu agar menatap mata nya. "kenapa kau melakukan itu padaku? Katakan apa alasan nya? Apa aku mengenal mu atau aku pernah berbuat salah kepada mu sampai-sampai kau tega menyebarkan rumor seperti itu tentang ku?" tangisan Mega sudah tidak bisa terbendung lagi, rasa sesak yang beberapa hari ini dia coba pendam kini ia luapkan. "Ayo katakan jangan hanya diam saja!!"


"maaf, saya salah" cicit wanita itu. Tubuh nya bergetar karena ketakutan. Meski dia tidak melihat, tapi dia bisa merasakan bahwa saat ini bos nya itu sedang menatap diri nya dengan tatapan tajam nya. Tiba-tiba wanita itu berlutut di hadapan Mega untuk meminta belas kasihan dari nya. "Mega, maafkan aku. Hari itu aku melihat mu tidur di kamar bos jadi aku berfikir bahwa kau.... Kau sudah menjual tubuh mu pada bos kita. Aku mohon maafkan aku"


Sontak saja wanita itu langsung ketakutan mendengar nya. "tidak tuan, tolong ampuni saya. Saya berjanji tidak akan mengulangi nya lagi. Saya juga akan mengatakan kepada semua orang bahwa berita itu sama sekali tidak benar. Saya mohon tolong jangan sakiti saya, ampuni saya tuan, saya mohon.." ucap wanita itu mengiba.


"cium kaki Mega dan minta maaflah pada nya. Ampunan ku tergantung pada nya"


Baik Mega maupun wanita itu tidak menyangka dengan apa yang Tristan katakan. Meski Mega merasa marah kepada wanita itu tetap saja dia tidak akan membiarkan wanita itu mencium kaki nya. Bagi nya itu adalah hal yang tidak pantas untuk di lakukan.


Tapi lain hal nya dengan wanita itu, tanpa pikir panjang dia menundukkan wajah nya siap untuk mencium kaki Mega , karena bagi nya keselamatan nya adalah yang utama. Persetan dengan harga diri dan rasa malu, selama dia bisa keluar dari penthouse itu hidup-hidup maka dia akan melakukan nya.


Sontak saja Mega segera memundurkan langkah nya agar kaki nya menjauh dari wanita itu. "tidak, tidak. Kau tidak perlu sampai mencium kaki ku"

__ADS_1


"tapi tuan...." wanita itu menggantungkan ucapan nya, dia tidak berani untuk melanjutkan kalimat nya.


Mega melirik Tristan dan menggeleng pelan. Dia tidak ingin memperpanjang masalah ini. Wanita itu sudah minta maaf, dan terlihat sekali jika saat ini wanita itu sudah sangat ketakutan. Menurut nya itu sudah cukup membuat wanita itu jera.


Tentu saja Tristan tidak berfikir demikian. Bagi nya apa yang di lakukan wanita itu sudah di luar batas toleransi nya. Karena dia sudah berani membuat wanita yang di cintai nya menangis dan di benci oleh banyak orang karena hal yang tidak pernah dia lakukan. Tentu saja Tristan akan memberi pelajaran pada wanita itu, tapi tidak sekarang. Tidak di hadapan Mega karena hati gadis itu terlalu baik hati.


"aku sudah tidak apa-apa, biarkan dia pergi" pinta Mega pada Tristan.


Tristan melirik wanita itu dan mengusir nya. "pergilah" ucap Tristan dengan dingin.


Tanpa perlu di perintah dua kali, wanita itu langsung pergi setelah berkali-kali mengucapkan permintaan maaf nya.


Tristan mendekati Mega dan menghapus air mata nya. "apa kau sungguh baik-baik saja?"


Mega mengangguk tapi air mata nya tidak mau berhenti. Meski bagaimanapun dia masih merasa sakit hati, hanya saja dengan menghukum wanita itu juga tidak akan merubah keadaan. Dia sudah terlanjur mendengar hinaan yang di lontarkan oleh semua rekan kerja nya. Tristan membawa Mega dalam pelukan nya, membiarkan wanita itu menangis dalam pelukan nya.


"lain kali jangan menangis sendirian lagi. Ada aku yang siap menjadi tempat keluh kesah mu"


Mega membalas pelukan Tristan dan membiarkan air mata nya membasahi baju pria itu. "terimakasih".


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2