
Pukul tujuh pagi Mega baru menyelesaikan pekerjaan nya. Minggu ini Mega mendapat jadwal bekerja di shift malam. Mata mega sudah sangat mengantuk dan dia juga merasa sangat lelah. Tanpa mengganti pakaian kerja nya, Mega keluar dari ruang ganti menuju parkiran untuk mengambil sepeda nya. Tapi saat sampai di lobi hotel seorang tamu tiba-tiba memanggil nya.
"hei kau, kemari" tunjuk seorang wanita pada Mega.
Mega yang merasa di tunjuk pun langsung menghampiri wanita itu. "apa anda memanggil saya?"
"ya, kau bekerja disini bukan?" tanya wanita itu lagi.
"iya. Saya cleaning service disini" ucap Mega sopan.
"kalau begitu cepat belikan aku kopi di kedai kopi yang ada di depan" wanita itu mengacungkan uang pada Mega.
Mega menatap uang yang di sodorkan pada nya. "maaf nona tapi jam kerja saya sudah selesai, mungkin anda bisa meminta tolong pada yang lain"
Wanita itu terlihat marah mendengar jawaban dari Mega. Dia langsung beridiri dari kursi nya dan berkacak pinggang. "hah... Berani sekali pekerja rendahan seperti mu membantahku. Apa kau tahu siapa aku? Asal kau tahu aku adalah adik dari pemilik hotel ini" ucap wanita itu dengan nada sombong nya.
Tentu saja Mega terkejut mendengar hal itu. Dia tidak mengira bahwa wanita itu adalah adik dari bos nya. Tapi tetap saja itu bukan salah nya, karena Mega sendiri tidak pernah tahu siapa dan seperti apa bos pemilik hotel tempat nya bekerja. Lagi pula dia berkata apa ada nya. Jam kerja nya memang sudah selesai dan dia sudah ingin cepat-cepat pulang.
"maaf nona, saya...."
Wanita itu melemparkan uang ke wajah Mega. "tidak perlu banyak omong, aku masih berbaik hati jadi cepat belikan apa yang aku mau sebelum aku meminta menejer disini untuk memecatmu"
Di perlakukan seperti itu membuat Mega merasa sangat di rendahkan. Tapi dia bisa apa saat lawan nya adalah seseorang yang berkuasa. Dengan menahan air mata nya Mega memungut uang yang lemparkan wanita itu dan bergegas pergi.
Setelah membeli pesanan wanita itu Mega bergegas kembali ke hotel.
"ini pesanan anda nona" Mega meletakkan kopi di atas meja beserta uang kembalian nya.
Wanita itu melirik Mega sembari tersenyum sinis. "ambil saja kembalian nya. Uang receh seperti itu pasti sangat berharga bagimu"
"tidak perlu nona. Saya permisi" Mega masih berusaha bersikap sabar saat wanita di hadapan nya ini semakin merendahkan nya.
Melihat respon Mega membuat wanita itu merasa jengkel. Dia merasa Mega seolah menantang nya. "hei tunggu" Wanita itu berjalan mendekati Mega dan mengeluarkan beberapa lembar uang. "mungkin uang recehan itu masih kurang, jadi ambil lah ini. Aku rasa ini lebih dari cukup untuk membayarmu"
__ADS_1
Mega melirik uang yang di sodorkan tanpa berniat mengambil nya. "tidak perlu nona karena saya tidak membutuhkan uang anda"
"cih sombong sekali..." wanita itu menatap Mega dari ujung rambut sampai ujung kaki. "penampilan mu saja menyedihkan, kenapa harus pura-pura menolak uang ku.."
"penampilan tidak bisa di jadikan tolak ukur. Nyata nya penampilan anda yang berkelas berbanding terbalik dengan attitude yang anda miliki"
"kurang ajar" wanita itu melayangkan tangan nya siap untuk menampar Mega, namun seseorang mencengkram tangan nya.
Wanita itu menoleh untuk tahu siapa orang yang sudah berani ikut campur urusan nya. Dan ternyata orang itu adalah Jason, teman kakak nya.
"pagi-pagi jangan membuat keributan Tessa, aku yakin kakak mu tidak akan menyukai nya" ucap Jason kalem dengan senyuman penuh arti.
Tessa langsung menghempaskan tangan nya untuk bisa lepas dari cengkraman Jason. "ck, kau suka sekali ikut campur urusan ku"
Mega masih berdiri mematung di tempat nya. Dia tidak menyangka diri nya hampir saja di tampar oleh wanita di hadapan nya itu.
"apapun alasan mu bersikap seperti ini aku yakin pasti kaulah penyebab nya" ucap Jason sambil melirik ke arah Mega. "dan jangan coba-coba membantah karena aku sudah sangat hafal dengan sikapmu itu" lanjut Jason saat melihat Tessa yang sudah siap membantah.
"dan kau nona, maafkan dia. Maklum saja sejak kecil dia sudah hidup layak nya seorang putri" kali ini Jason menatap Mega.
Mega hanya mengangguk karena tidak tahu harus berkata apa.
Wajah Mega yang cantik mampu membuat Jason terpana. Meski wajah Mega tanpa polesan make up sedikit pun namun mampu membuat seorang Jason sulit mengalihkan pandangan nya. "siapa nama mu?"
"nama saya Mega tuan"
"ish, jangan panggil aku tuan. Aku merasa seperti sudah tua. Panggil saja aku Jason, aku adalah teman Tristan si pemilik hotel ini"
"baiklah Jason. Terimakasih untuk bantuan nya. Saya permisi dulu" pamit Mega sopan dan langsung berlalu pergi.
Jason menatap punggung Mega sampai gadis itu hilang dari pandangan nya. Lalu sebuah tepukan di pundak nya menyadarkan dirinya.
"apa yang sedang kau lihat?"
__ADS_1
"Jo, kapan kau kembali?" tanya Jason heran melihat teman nya itu tiba-tiba muncul di hadapan nya.
"aku kembali dua hari yang lalu" jawab Jonathan. "dimana Tristan? aku menghubungi nya tapi dia tidak menjawab nya"
"aku datang kemari karena aku juga tidak menghubungi nya. Seperti nya dia di kamar pribadi nya, ayo kita kesana" ajak Jason.
Mereka berdua langsung menaiki lift khusus yang menuju ke lantai paling atas di hotel tersebut. Para pegawai disana sudah sangat mengenal mereka yang merupakan teman pemilik hotel, hingga mereka di bebaskan keluar masuk hotel tersebut.
Di lantai teratas hanya terdapat satu kamar yaitu kamar khusus milik Tristan. Tanpa mengetuk pintu Jason dan Jonathan masuk begitu saja. Terlihat Tristan sedang berdiri menghadap jendela dengan memegang segelas wine di tangan nya.
Tanpa menoleh Tristan sudah tahu siapa orang yang sudah berani masuk ke dalam kamar nya tanpa ijin. "untuk apa kalian datang?"
"ck, nada bicaramu dingin sekali" gumam Jason dan langsung merebahkan tubuh nya di ranjang king size yang ada di kamar itu.
"kenapa kau minum pagi-pagi begini, apa terjadi sesuatu?" tanya Jonathan. Dia sangat tahu kebiasaan teman nya itu yang akan meminum alkohol saat sedang tidak baik-baik saja.
"dia kembali"
Mendengar kata 'dia' Jason dan Jonathan saling menatap. Mereka sangat tahu siapa 'dia' yang di maksud Tristan.
'Dia' yang di maksud adalah seorang wanita cantik bernama Divya. Dia adalah mantan kekasih Tristan. Tiga tahun yang lalu Divya pergi ke luar negri tanpa pamit dengan alasan ingin mengejar karir nya sebagai seorang model. Tristan sangat marah saat tahu Divya pergi, hingga sampai saat ini Tristan bahkan enggan hanya untuk sekedar menyebutkan nama nya.
"apa dia menemui mu?" tanya Jonathan.
"Semalam dia datang kemari dan Hans mengusir nya" jawab Tristan.
Terdengar kesedihan yang nyata dalam suara Tristan. Baik Jonathan maupun Jason bisa memahami perasaan Tristan saat ini. Divya adalah cinta pertama Tristan dan satu-satu nya wanita yang bisa membuat seorang Tristan jatuh cinta. Tapi rupa nya cinta dari Tristan tidak cukup membuat Divya merasa puas hingga dia lebih memilih pergi dari pada tetap disisi Tristan.
"kami tidak akan mencampuri urusan cinta mu. Tapi ingatlah satu hal, berhenti bersikap bodoh karena cinta" tutur Jonathan menasehati.
Tristan tidak menjawab. Tatapan nya terpaku pada segelas wine yang berada di tangan nya. Tidak di pungkiri cinta untuk Divya masih ada, tapi tidak akan ada kesempatan untuk kembali karena Divya sendiri yang telah memilih untuk pergi dari nya.
Bersambung.....
__ADS_1