Air Mata Mega

Air Mata Mega
Dua puluh sembilan


__ADS_3

Saat pagi hari ada pemandangan bagus yang Mega saksikan. Yakni Jonathan dan ayah nya duduk bersama di meja makan. Meski tidak ada obrolan di antara kedua nya namun bisa duduk dan makan bersama dalam satu meja seperti itu sudah merupakan satu kemajuan yang bagus. Mungkin harus melewati tahap demi tahap yang panjang agar hubungan kedua nya bisa mencair sepenuh nya. Ternyata apa yang Jonathan ucapkan semalam bukan hanya sekedar janji, karena nyata nya pria itu sudah mau menurunkan ego nya dengan mau sarapan bersama.


"selamat pagi semua nya..." sapa Mega dan langsung duduk di depan Jonathan.


"selamat pagi" sahut mereka bersamaan. Dan Mega tersenyum senang mendengar nya.


"Mega ada yang ingin aku katakan padamu" Jonathan menatap Mega dan memusatkan perhatian nya pada gadis itu. "besok aku harus ke luar negri, dan aku akan tinggal disana selama satu bulan. Apa kau tidak apa-apa jika aku tinggal?" sebenar nya Jonathan sengaja mengatakan rencana kepergian nya di depan ayah nya agar ayah nya tahu bahwa dia akan pergi. Untuk berpamitan secara langsung kepada ayah nya masih belum bisa Jonathan lakukan karena rasa nya akan aneh sekaligus canggung.


Mendengar itu ayah Jonathan hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Pagi ini dia merasa sangat bahagia, karena untuk pertama kali nya setelah lima belas tahun akhir nya dia bisa sarapan bersama dengan putra nya dalam satu meja. Dan bahkan secara tidak langsung putra nya memberitahu tentang kepergian nya, dan hal itu belum pernah Jonathan lakukan sebelum nya. Dia tahu sedikit demi sedikit Jonathan telah memaafkan diri nya, dan ayah Jonathan yakin jika perubahan sikap Jonathan pada nya tidak lain adalah karena Mega. Gadis itu benar-benar membawa pengaruh yang baik untuk nya dan juga Jonathan.


"aku tidak apa-apa. Tapi Jo, aku ingin kembali tinggal di rumah kontrakan ku. Aku tidak bisa tinggal selama nya disini, lagi pula keadaan saat ini sudah baik-baik saja"


Jonathan memang membiarkan gosip yang beredar tentang diri nya begitu saja. Dia tidak menanggapi ataupun membuat konfrensi pers untuk mengklarifikasi gosip antara diri nya dan Mega. Karena menurut nya berita itu akan hilang dengan sendiri nya setelah orang-orang di luar sana sudah lelah dan bosan membicarakan tentang gosip itu. Dan setelah satu bulan berlalu, gosip itu pun mulai mereda.


"apa kau yakin ingin kembali ke rumah mu? Aku sungguh tidak keberatan jika kau ingin tinggal disini selama nya" tutur Jonathan.


"kenapa kau ingin pindah?" kali ini ayah Jonathan yang berbicara. Dia merasa berat melepaskan Mega untuk pergi karena sudah terlanjur menyayangi gadis itu. "kalau kau pergi aku akan kesepian lagi. Lagi pula aku sudah menganggap mu sebagai putri ku, jadi rumah ini juga rumah mu".


Mega senang mendengar nya. Dia tidak menyangka bisa di terima dengan begitu baik dalam keluarga itu. "jangan khawatir paman, aku berjanji akan sering kemari untuk mengunjungi mu. Tapi maaf aku rasa ini sudah saat nya untuk ku kembali tinggal di rumah ku sendiri".

__ADS_1


Meski masih ada rasa kekhawatiran akan keselamatan Mega, tapi Jonathan juga tidak mungkin melarang gadis itu untuk tetap tinggal di rumah nya. "baiklah jika itu sudah menjadi keputusan mu. Jadi kapan kau akan kembali?".


"sore nanti, setelah aku pulang bekerja. Bagaimana?"


"baiklah, aku akan mengantar mu" jawab Jonathan.


Sementara itu saat ini Tristan sedang berdiri di depan ruang perawatan Tessa. Dia hanya melihat adik nya lewat kaca yang ada di sana. Terlihat wajah Tessa begitu pucat dan tubuh nya lebih kurus dari saat terakhir mereka bertemu. Ada selang infus yang terpasang di tangan kanan nya. Padahal Tristan tahu jika adik nya itu sangat takut pada jarum, terutama jarum suntik.


Tristan dan Tessa tidak pernah tinggal satu atap meski mereka adalah kakak beradik. Tristan membiarkan gadis itu hidup sendiri namun masih tetap dalam pengawasan nya. Hubungan Tristan dan Tessa memang tidak sedekat hubungan kakak beradik pada umum nya. Meski tidak pernah tinggal bersama sebenar nya mereka masih tetap saling menyayangi. Hanya saja Tristan tidak pernah menunjukan rasa sayang nya secara gamblang. Karena ada kesakitan yang Tristan rasakan setiap kali melihat wajah Tessa. Hubungan di masalalu menjadikan diri nya menciptakan jarak antara dia dan Tessa.


"tuan, kenapa anda tidak masuk saja? Saya yakin nona akan senang jika melihat anda datang" kata Hans yang berdiri di belakang Tristan.


"setelah dia sembuh berikan kembali fasilitas itu pada nya. Aku rasa hukuman yang ku berikan sudah cukup" tutur Tristan. Dia seolah tidak mendengar perkataan Hans yang menyuruh nya untuk masuk.


"baik tuan" jawab Hans dengan patuh.


Selama ini Tristan mempercayakan pengawasan Tessa kepada Hans. Segala keperluan adik nya di urus oleh Hans. Bahkan Hans lebih banyak menghabiskan waktu nya untuk mengurus Tessa dari padaTristan.


Tessa yang sedang tertidur tiba-tiba membuka mata. Gadis itu terbangun dengan keringat yang membasahi wajah nya seolah dia baru saja bermimpi buruk. Kemudia tatapan nya mengarah pada kaca yang menampilkan wajah tampan kakak nya. Dia tersenyum senang karena kakak nya mau menjenguk nya. Tessa memberi isyarat kepada Tristan untuk masuk ke dalam kamar rawat nya. Tapi bukan nya masuk Tristan justru melenggang pergi tanpa menemui adik nya lebih dulu.

__ADS_1


Seketika senyum di wajah Tessa pun lenyap dan dingantikan dengan kesedihan. Tetes demi tetes air mata nya berjatuhan membasahi pipi tirus nya. Hans yang melihat itu seketika panik dan masuk ke dalam ruang rawat Tessa. Dia takut terjadi sesuatu kepada adik bos nya itu.


"ada apa nona, apa ada yang sakit. Apa perlu saya panggilkan dokter?"


Mendengar pertanyaan Hans isakan Tessa justru semakin kencang. Dia memukul-mukul dada nya yang terasa sesak. "kenapa disini rasa nya sakit sekali. Kenapa kak Tristan selalu bersikap dingin padaku, dia seolah membenciku dan membangun dinding pembatas di antara kami?"


Hans mencekal tangan Tessa untuk menghentikan pukulan gadis itu. Dia tidak mau melihat Tessa terluka lebih dari ini. "berhenti menyakiti diri anda sendiri nona. Sekarang anda sedang sakit, sebaik nya anda kembali beristirahat dan berhenti memikirkan hal-hal yang tidak perlu".


Sejak kecil Tristan seolah mengasingkan diri nya. Dia tidak di biarkan tinggal bahkan menginjak kan kaki nya di rumah utama. Sejak kecil Tristan membiarkan nya tinggal seorang diri dan hanya di temani oleh para pelayan.


"Hans, katakan padaku. Aku yakin kau pasti tahu alasan di balik sikap kak Tristan. Cepat beritahu aku Hans."


Tentu saja Hans mengetahui nya. Hanya saja dia tidak memiliki wewenang untuk menceritakan semua itu. Hanya Tristan yang bisa mengatakan semua nya pada Tessa. Tapi Hans berharap semoga Tessa tidak akan pernah mengetahui kebenaran nya. Karena jika sampai Tessa tahu maka gadis itu pasti akan terluka.


"nona, yang perlu anda lakukan hanyalah harus bersikap baik. Saya yakin tuan pasti menyayangi anda".


Tessa tersenyum getir mendengar nya. "apa kau lupa bahwa aku selalu mendapat peringkat pertama di sekolah. Aku selalu menjadi anak yang baik dan berprestasi. Kau pikir kenapa aku melakukan semua itu? Aku melakukan nya semata-mata agar aku bisa mendapat pujian dari nya. Agar dia merasa bangga pada ku dan bisa menyayangiku. Tapi setiap kali aku menunjukan nilai-nilai ku, bukan pujian yang aku dapat melainkan bentakan. Setelah semua itu apa lagi yang harus aku lakukan Hans?".


Hati Hans terenyuh mendengar nya. Ingin rasa nya dia memeluk gadis itu dan meminta nya agar berhenti menangis. Tapi apalah daya, dia hanya seorang bawahan yang harus tetap menjaga sikap. Dia tahu sebenar nya Tessa sangat menyayangi Tristan dan merasa bangga memiliki kakak seperti bos nya. Hanya saja selama ini sikap Tristan memang terlalu dingin dan keras pada Tessa. Dan Hans tidak bisa menyalahkan sikap bos nya itu, karena bagaimana pun dari semua yang terjadi di masalalu, bos nya adalah orang yang paling terluka.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2