Air Mata Mega

Air Mata Mega
Tiga belas


__ADS_3

Malam hari Divya sedang bersantai di apartemen nya. Dia tidak mengetahui jika saat ini diri nya sedang ramai di bicarakan. Bahkan tidak sedikit orang-orang yang mengkritik dan memberi komentar kebencian terhadap nya. Lalu terdengar bel pintu berbunyi, dengan kesal Divya beranjak dan berjalan membuka pintu. Tepat saat pintu terbuka senyum Divya langsung merekah. Dia tidak menyangka jika saat ini Tristan datang untuk menemui nya.


"Tristan.." karena terlalu bahagia Divya langsung menghambur dalam pelukan Tristan. Tapi dengan cepat Tristan melepaskan pelukan Divya.


Senyum Divya langsung lenyap, dia pikir Tristan datang karena pria itu berubah pikiran dan akan memberi nya kesempatan.


Tristan melirik ke arah pergelangan tangan Divya yang memakai gelang milik Mega. Sore tadi, Hans menunjukan video Divya bersama Mega yang berada di restoran. Melihat Mega mendapat perlakuan buruk dari Divya, di tambah lagi tangan gadis itu juga terluka membuat Tristan merasa bersalah. Jika dia tidak mengakui Mega sebagai kekasih nya pasti Mega tidak akan mengalami hal buruk itu. Kejadian ini terjadi karena diri nya. Tristan menatap Divya dengan tajam dan mencengkram pergelangan tangan Divya dengan kuat.


"akhh.. Tristan ini sakit. Apa yang kau lakukan?" ringis Divya. Dia yakin pergelangan tangan nya pasti bisa memar.


"berani sekali kau mengambil gelang kekasihku.." Tristan melepaskan gelang itu dari tangan Divya. "jangan mengambil barang yang bukan milikmu. Kau bukan pencuri kan?".


"gelang itu milikku, bukan kah dulu kau mendesain gelang itu untuk ku?"


Tristan tersenyum lancip. "rupa nya sekarang kau menjadi tidak tahu malu. Apa kau pikir kau masih berhak atas gelang ini setelah kau menghianatiku?" Tristan menarik Divya untuk semakin dekat dengan nya. "jangan menguji kesabaran ku Divya. Dan jangan pernah mengganggu kekasihku lagi, percayalah kau pasti tidak akan menyukai hal yang akan aku lakukan jika aku sampai kehilangan kesabaranku".


Aura menyeramkan begitu terasa. Divya menelan ludah nya dengan susah payah, dia tahu jika apa yang Tristan ucap kan bukan hanya main-main. Tristan memberi nya tatapan peringatan sebelum pria itu berlalu pergi.


Divya mengepalkan tangan nya, dia berfikir Mega mengadukan semua nya pada Tristan. Dalam hati Divya berjanji akan membalas semua penghinaan ini. Saat akan menutup pintu tiba-tiba menejer nya datang dan lagsung membrondong Divya dengan banyak pertanyaan.


"Divya, apa kamu sudah gila? Apa yang kamu lakukan benar-benar bisa merusak karir dan nama baik mu. Kenapa kau bisa bersikap bar-bar seperti itu di tempat umum? Apa kau tidak berfikir jika bisa saja orang lain akan merekam apa yang kau lakukan? Kenapa kau bisa seceroboh ini Divya? Sekarang bagaimana, apa yang harus kita lakukan? Di luar sana orang-orang sudah ramai menghujat mu. Jika sudah seperti ini bagaimana dengan karir dan masa depan mu?".


"berhenti bicara, apa maksud mu sebenar nya, aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan?" Divya merasa jengkel karena begitu sampai menejernya sudah banyak bicara.


"aduh, apa kau tidak membuka ponselmu?" pria gemulai itu menarik Divya untuk masuk ke dalam apartemen kemudian menunjukan video yang sedang ramai di bicarakan.


Divya membulatkan matanya. Dia tidak menyangka ada orang yang merekam perdebatan nya dengan Mega. Sekarang dia tahu karena video ini lah alasan Tristan marah pada nya. "kurang ajar sekali, siapa orang yang sudah berani merekam dan menyebarkan video ini?!"


"ck, siapapun orang nya itu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah kelanjutan karir mu. Asal kau tahu semenjak video ini beredar beberapa kolega sudah membatalkan kontrak kerja sama kita".

__ADS_1


"apa?"


"ya, mereka menolak menggunakan mu sebagai model mereka karena menganggap attitude mu sangat buruk. Sekarang kita harus bagaimana Divya?"


Divya menyugar rambut nya dengan kasar. Ini semua karena Mega. Jika gadis itu tidak muncul dalam kehidupan Tristan maka hal ini tidak akan terjadi. "aarghh..." Divya berteriak meluapkan emosi nya, dia membanting benda apa saja yang bisa di jangkau nya.


Tristan menggenggam gelang itu di tangan nya. Dia merasa harus segera meminta maaf kepada Mega. "Hans, apa kau sudah tahu kenapa Mega bisa di pecat?" tanya Tristan pada sopir sekaligus tangan kanan nya.


"itu terjadi karena nona Tessa tuan. Nona Tessa meminta menejer hotel untuk memecat nya, tapi entah apa alasan nya karena menejer nya sendiri juga tidak tahu"


Tristan memijat pelipis nya, adik nya itu memang selalu bertindak sesuka hati nya. "aku ingin menemui Tessa sekarang"


"baik tuan" Hans menelfon anak buah nya yang di tugaskan untuk menajaga Tessa. Menanyakan dimana keberadaan nona nya itu.


Tessa sedang menghabiskan waktu nya dengan berbelanja bersama teman-teman nya. Saat sedang memilih baju di sebuah butik ternama, Tessa di kejutkan dengan kehadiran Tristan. "kakak"


Hans sudah tahu apa yang di inginkan tuan nya. Dengan segera dia mengosongkan butik itu agar tuan nya bisa berbicara dengan leluasa tanpa ada gangguan dari orang lain.


Tristan duduk di sofa dan menatap Tessa dengan tajam. Di tempat nya Tessa sudah merasa panas dingin, dia paling takut dengan kemarahan kakak nya. Jika kakak nya sudah dalam mode menyeramkan seperti ini itu arti nya dia sudah melakukan hal yang tidak di sukai kakak nya.


"berikan semua nya" Tristan menengadahkan tangan nya.


"apa yang kakak maksud?" tanya Tessa tidak mengerti.


"mobil, kartu kredit, ponsel dan semua fasilitas dari ku"


Tessa langsung menyembunyikan tas nya ke belakang tubuh nya. "kakak, kenapa kakak mengambil nya dari ku?"


"agar kau bisa mencari uang sendiri" jawab Tristan.

__ADS_1


"kenapa aku harus mencari uang sendiri? uang kakak sangat banyak. Dan aku adalah adik mu, arti nya aku juga berhak atas uang mu" mata Tessa sudah berkaca-kaca, dia tahu apapun yang kakak ucapkan pasti tidak bisa di bantah.


"kau tidak mau berusaha mencari uang dengan usahamu, lalu kenapa kau memutuskan usaha orang untuk mencari uang?"


"apa maksud kakak?"


"kenapa kau menyuruh menejer hotel ku untuk memecat Mega? Kau bertindak sesuka hati mu karena kau berfikir kau adalah adikku bukan?"


"jadi ini karena gadis itu? Apa benar seperti yang kak Divya katakan bahwa gadis itu adalah kekasih mu? Kau lebih membela nya dari pada aku adik mu sendiri?" Tessa mulai kehilangan kendali karena lagi-lagi orang yang dia sayangi membela orang yang di benci nya.


"kau masih saja egois" ucap. Tristan dengan dingin. "Hans.."


"iya tuan"


"sampaikan pada semua orang bahwa Tessa hanyalah Tessa. Dia tidak berhak atas apapun yang aku miliki, entah itu di hotel atau di perusahaan. Dia tidak berhak memerintah atau mengambil keputusan apapun"


"baik tuan"


Tristan berjalan keluar butik tanpa melihat ke arah Tessa. Hans menyuruh anak buah nya untuk mengambil seluruh fasilitas yang Tessa miliki sebelum berjalan mengikuti Tristan.


Sementara itu di rumah kontrakan nya Mega sedang terbaring lemah di tempat tidur nya. Sejak bangun pagi Mega sudah merasa kurang sehat, dan terbukti saat ini dia demam dan tubuh nya menggigil kedinginan. Mega menangis karena di saat seperti ini tidak ada siapapun di samping nya. Tidak ada keluarga atau kerabat yang bisa merawat maupun mengurus nya.


Kesepian dalam kesendirian terkadang membuat perasaan sedih dan merana karena kesunyian yang di rasakan, seolah membuat hati terluka dan kecewa dengan keadaan.


Namun itu semua merupakan bagian dari instrument kehidupan, kesepian yang terkadang di rasakan adalah hal yang lumrah karena manusia memiliki rasa dan perasaan yang menentukan suasana hati.


Kesunyian hati merupakan faktor utama jiwa merasa kesepian, dan umum nya hal seperti ini terjadi ketika tiada teman hidup sehingga hari-hari yang di lewati serasa hampa dan kosong, hanya merenung kesendirian dalam kesepian. Semua orang pasti pernah merasakan kesepian karena persoalan hidup cuma kadar nya yang berbeda, ada merasakan sepi hati yang mendalam, dan pula yang merasakan kesepian yang sangat menyentuh di hati.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2