Air Mata Mega

Air Mata Mega
Dua puluh tujuh


__ADS_3

Jam menunjukan pukul enam sore, matahari pun telah kembali ke peraduan nya dan di gantikan dengan sinar bulan yang menerangi gelap nya malam. Mega masih terlelap dalam tidur nya, seperti belum ada tanda-tanda gadis itu akan bangun. Tristan sudah sejak tadi menunggu Mega untuk bangun. Dia khawatir karena Mega sudah tidur terlalu lama dan gadis itu belum makan apapun sejak siang hari. Ingin membangunkan nya pun Tristan merasa kasihan karena Mega terlihat sangat lelap. Akhir nya Tristan memutuskan untuk memesan makanan lebih dulu, dan saat Mega terbangun maka gadis itu bisa langsung memakan nya. Tristan meminta pegawai nya untuk mengantarkan makan malam untuk nya. Dia bahkan memesan banyak menu karena tidak tahu apa makanan kesukaan Mega.


Tak butuh waktu lama makanan pesanan Tristan pun datang. Tristan hanya membukakan pintu dan selanjut nya kembali fokus pada laptop nya. Dia meminta pegawai nya untuk meletakkan makanan itu ke dalam kamar. Pegawai itu masuk ke dalam kamar dengan santai karena dia berfikir kamar itu kosong. Tapi setelah membuka pintu dia sangat terkejut saat melihat Mega tertidur di ranjang. Dia sampai menutup mulut nya karena hampir saja dia berteriak karena pemandangan di hadapan nya sungguh mencengangkan bagi nya. Tentu saja pegawai itu tahu siapa Mega, dia yang awal nya berfikir bahwa hubungan Mega dan bos nya hanyalah gosip semata, tapi apa yang dia saksikan hari ini telah mengubah opini nya.


Kemudian pikiran buruk mulai bermunculan di dalam otak nya. Diam-diam dia mengeluarkan ponsel nya dan menfoto Mega yang sedang tertidur lelap. Dia ingin menunjukan foto itu kepada rekan nya yang lain sebagai bukti. Setelah berhasil mendapatkan foto yang ia mau, pegawai itu menata makanan dengan rapih di atas meja kemudian menatap Mega dengan sinis sebelum berlalu pergi.


Setengah jam kemudian Mega mulai mengeliat dalam tidur nya. Perlahan dia membuka mata nya dan melihat langit-langit kamar yang tampak asing bagi nya. Dia menatap sekeliling dan langsung melompat turun dari ranjang saat menyadari bahwa itu adalah kamar bos nya.


"astaga, apa yang aku lakukan. Kenapa aku bisa tidur disini?" gumam Mega bingung. Mega memukul kepala nya karena merasa dia sudah sangat kurang ajar pada atasan nya. "bodoh, bodoh, bodoh kau Mega. Kenapa kau bisa ketiduran". Kembali Mega menatap sekeliling untuk mencari tahu jam berapa saat ini. Dan lagi-lagi dia terkejut saat melihat jam yang sudah menunjukan hampir pukul tujuh malam. Merasa penglihatan nya sulit ia percayai, Mega berjalan ke arah balkon dan membuka tirai jendela untuk memastikan. Tubuh nya langsung lemas dan dia terduduk di lantai saat melihat langit sudah tampak gelap.


Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Tristan yang berjalan masuk. Melihat Mega yang duduk di lantai membuat pria itu cemas dan segera menghampiri nya. "apa yang terjadi, kau tidak apa-apa?".


Sepontan Mega menggenggam tangan Tristan dan memohon pada nya. "tuan, saya mohon jangan pecat saya. Saya tahu kesalahan saya memang cukup besar tapi saya mohon tolong maafkan saya dan berikan saya kesempatan kedua. Saya berjanji saya tidak akan pernah lagi mengulangi kesalahan saya"


"kau ini bicara apa, aku sama sekali tidak mengerti. Lagipula kenapa kau takut aku memecat mu?"


Sadar tangan nya mendarat di tempat yang tidak seharus nya, Mega segera menjauhkan tangan nya dari tangan Tristan. Dia menunduk dalam-dalam menyesali perbuatan nya. "saya sudah menyalahi aturan, saya berani tidur saat masih jam kerja. Di tambah lagi saya malah tidur di ranjang anda. Saya benar-benar minta maaf tuan, saya sendiri tidak tahu kenapa saya bisa tertidur di ranjang anda. Tapi saya berani bersumpah saya tidak sengaja melakukan nya".


"hey lihat aku" Tristan meletakkan jari nya di dagu Mega agar gadis itu menatap nya. "tidak ada yang perlu kau takutkan, kau tidak akan di pecat. Aku melihat mu tidur di sofa, karena aku pikir itu kurang nyaman jadi aku memindahkan mu ke kamar ku. Jangan khawatir, aku tidak keberatan kau tidur di ranjang ku. Dan jangan salah sangka, aku tidak melakukan apapun pada mu saat kau tidur"


Mega hanya terdiam mendengar penjelasan dari Tristan. Benarkah pria tampan di hadapan nya saat ini benar-benar mencintai nya?.


"kenapa kau diam?"


Cepat-cepat Mega menggelengkan kepala nya. "tidak tuan"


"aku sudah bilang padamu, jangan panggil aku dengan sebutan tuan" pinta Tristan untuk yang kesekian kali nya.


"anda atasan saya, rasa nya tidak sopan jika hanya memanggil nama".


"baiklah, kau boleh memanggil ku tuan saat jam kerja. Di luar itu kau harus memanggil ku Tristan tanpa embel-embel apapun"

__ADS_1


"kenapa?" tanya Mega polos.


Tristan mendekatkan wajah nya pada wajah Mega. "kau sudah lupa atau pura-pura lupa? Aku sudah mengungkapkan perasaan ku pada mu, dan aku ingin pembicaraan kita lebih santai agar kau merasa nyaman. Aku ingin lebih dekat dengan mu" ucap Tristan di akhiri dengan senyum menggoda.


Tiba-tiba suara dari perut Mega memecahkan adegan romantis di antara kedua nya. Wajah Mega merah padam karena malu. Dia mengutuk perut nya yang berbunyi di saat yang tidak tepat.


Tristan tertawa renyah mendengar bunyi dari perut Mega. "ayo, aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita" ajak Tristan dan menggandeng tangan Mega menuju sofa. "makanlah apapun yang kau mau, aku sengaja memesan semua ini untuk mu. Aku tahu kau pasti sangat lapar".


Semua makanan yang ada di atas meja adalah menu makanan kelas atas yang belum pernah Mega makan sebelum nya.


Melihat Mega yang hanya diam tanpa menyentuh makanan nya membuat Tristan kebingungan. "kenapa, apa kau tidak suka menu nya?"


"bukan tuan, saya belum pernah melihat makanan seperti ini sebelum nya jadi saya tidak tahu harus makan yang mana" jawab Mega jujur.


"ini adalah makanan Prancis. Restoran di hotelku terkenal dengan makanan Prancis nya, karena itu aku memesan ini". Tristan mengambilkan semangkuk sup dan meletakkan nya di hadapan Mega. "makanlah ini, aku yakin kau pasti akan menyukai nya"


Mega mengambil sendok dan mulai makan sup yang di berikan Tristan. Dia membulatkan mata nya saat sup itu sudah masuk ke dalam mulut nya. Rasa nya sangat enak, sup nya begitu lembut dan kaya akan rempah. Melihat Mega makan dengan lahap Tristan pun tersenyum senang.


"wah, apa kalian sedang kencan?" tutur Jason dari ambang pintu kamar. Melihat Tristan sedang makan malam bersama Mega cukup mengejutkan bagi nya.


"tutup mulut mu. Ada apa kau kemari?" tanya Tristan tanpa mengalihakan pandangan nya dari piring yang ada di hadapan nya.


"kebetulan aku juga belum makan malam" tanpa permisi Jason duduk di samping Mega dan langsung mengambil sepiring makanan yang menarik perhatian nya.


Tristan menatap Jason dengan tajam karena Jason duduk terlalu dekat dengan Mega padahal sofa itu masih cukup luas. "apa kau tidak tahu malu, kenapa kau datang-datang langsung minta makan. Apa kau sudah jatuh miskin sampai tidak mampu membeli makanan sendiri?".


"ck, jangan seperti itu. Lagi pula makanan ini terlalu banyak. Aku yakin kalian tidak mampu untuk menghabiskan nya" jawab Jason dengan cuek dan tetap melahap makanan nya.


"apa yang di katakan Jason memang benar tuan. Makanan ini sangat banyak dan kita tidak bisa menghabiskan nya, lagi pula sayang jika harus di buang nanti nya" Mega adalah tipe orang yang sangat menghargai makanan. Hidup susah sejak kecil menjadikan Mega orang yang mensyukuri apapun makanan yang dia makan.


Tristan menutup kembali mulut nya, dia tidak jadi mengeluarkan argumen nya saat Mega malah membela Jason.

__ADS_1


Selanjut nya mereka meneruskan makan malam mereka dalam diam. Dan benar apa yang di takutkan Mega. Saat mereka bertiga sudah merasa kenyang, masih tersisa beberapa piring makanan yang masih utuh tak tersentuh sama sekali.


"apa kau sudah merasa kenyang?" tanya Tristan.


Mega hanya mengangguk sebagai jawaban.


"kalau begitu ayo, aku akan mengantar mu pulang" saat Tristan akan berdiri dari kursi nya, tiba-tiba ponsel nya berdering. Tristan melihat nama Hans yang tertera di layar ponsel nya. Dia pun keluar dari kamar untuk mengangkat panggilan nya.


Sementara kini hanya ada Jason dan Mega yang berada di dalam kamar. Jason melihat Mega seperti kurang nyaman akhir nya dia mulai membuka obrolan. "bagaimana keadaan Jonathan? Beberapa hari ini aku tidak bertemu dengan nya"


"keadaan nya masih sama. Dia belum bisa berdamai dengan masalalu nya".


Jason menatap Mega dengan lekat. "Mega, entah kenapa aku merasa kau bisa menyatukan mereka kembali"


"apa maksudmu?"


"aku yakin kau bisa menghancurkan dinding kebencian itu. Kau bisa membuat Jonathan kembali harmonis dengan ayah nya"


"aku? Kenapa kau pikir aku bisa melakukan nya?" tanya Mega tidak mengerti.


"karena Jonathan tidak pernah menangis di hadapan orang lain. Jonathan tidak membiarkan orang lain melihat air mata nya. Dia bahkan tidak pernah menangis di hadapan ku dan Tristan meski kami sudah lama berteman"


Informasi yang baru saja di dengar cukup membuat Mega terkejut. Pasal nya Jonathan bukan hanya sekali menangis di hadapan nya, melainkan sudah kedua kali nya. Benarkah dia bisa melakukan nya. Meruntuhkan dinding kebencian yang selama ini menghantui Jonathan, benarkah dia bisa melakukan itu?.


Tiba-tiba Tristan masuk kembali ke dalam kamar menghentikan percakapan mereka. "Mega, maaf aku tidak bisa mengantarmu. Aku ada urusan mendesak".


"tidak apa-apa tuan, saya bisa pulang sendiri"


"jangan khawatir, aku ada disini. Aku bisa mengantar mu" ucap Jason menawarkan diri.


"ya, biar Jason yang mengantar mu. Aku rasa itu lebih aman" sambung Tristan. Dia mendengar kabar dari Hans bahwa saat ini Tessa jatuh sakit dan di rawat di rumah sakit. Karena itu Tristan harus melihat keadaan adik nya dan memastikan bahwa adik nya baik-baik saja.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2