
"Tunggu! Siapa yang mengizinkan kamu pergi?" kata laki-laki itu menghentikan langkahku.
Ya ampun, aku sudah menebaknya dari tadi. Ini semua bisa menjadi sangat rumit jika aku berhadapat dengannya terus menerus. Mana jantung ini tidak bisa diajak bernego baik-baik lagi. Ia berdetak sesuka hatinya saja, tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan.
"Ada apa lagi, aku sudah tidak ingin berhadapat lagi dengan kamu," ucapku tanpa berbalik badan.
"Hahahah, siapa yang bisa memutuskan soal kamu tidak mahu atau mau? Kamu sudah bikin gara-gara dengan aku, maka kamu harus tahu akibatnya," kata laki-laki itu.
Ya ampun, aku harus mencari cara agar bisa lepas segera. Aku tidak bisa lama-lama bersama dengan laki-laki ini. Aku bisa gawat jika tetap bertahan di sini.
Mana aku punya masalah yang sangat rumit lagi sekarang. Jika tidak di selesaikan, bisa semakin rumit dan bertambah rumit saja.
"Bisakah kita bicaranya lain kali saja? Aku harus pulang sekarang, karna aku punya masalah yang sangat rumit yang harus aku urus," ucapku memelas dan merendahkan diri.
Aku tidak punya cara lain selain cara wanita lemah seperti ini. Cara membuat laki-laki kasihan dan iba.
Walaupun cara ini adalah cara terakhir yang aku miliki. Cara yang sangat bertentangan dengan hati nurani dan ego yang aku punya. Tapi selain cara ini, aku tidak punya cara lain lagi.
__ADS_1
"Huahahahaha, kenapa tiba-tiba berubah jadi kelinci sih. Bukannya kamu itu macam ya, beberapa menit yang lalu?" kata laki-laki itu menertawai aku.
Dasar sialan, enak sekali kamu menertawai aku. Jika saja bukan karna aku tidak punya cara lain untuk pergi, aku tidak akan berubah lembut seperti ini.
"Berhentilah tertawa dan jangan ganggu aku lagi! Aku sudah berbaik hati bicara lemah lembut padamu, tapi kamu malah menertawai aku!" kataku dengan sangat keras dan membuat semua mata tertuju pada kami.
Laki-laki itu menghentikan tawanya, ia melihat aku dengan tatapan tajam yang sangat menamkutkan buat aku.
Aku berjalan meninggalkan mereka semua dengan langkah yang sangat cepat. Aku berharap, mereka tidak mengejar aku karna telah membuat laki-laki itu menjadi pusat perhatian.
"Kejar dia!" kata laki-laki itu pada anak buahnya.
Aku tidak punya cara lain selain lari menjauh dari rumah sakit ini. Itu aku lakukan, karna aku tidak ingin mama mengetahui kalau aku ada di sini.
Beberapa meter dari pintu pagar rumah sakit, aku berhenti berlari. Aku berniat akan melawan semua anak buah yang telah mengejar aku.
Aku tidak peduli dengan apa yang mama pesankan padaku. Mama pasti marah aku mengunakan seni bela diri yang aku miliki di kota ini. Apalagi dengan pakaian wanita yang aku kenakan saat ini, itu membuat aku lebih tidak boleh mengunakan seni bela diriku lagi.
__ADS_1
Tapi jika aku tidak melawan, maka semua yang akan terjadi semakin rumit saja. Mama akan tahu kalau aku tidak ada di rumah. Mama juga akan tahu, kalau aku keluar dengan pakaian perempuan yang sangat di larang oleh mama.
Aku tahu, laki-laki itu senenarnya tidak berniat jahat. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa membiarkan laki-laki itu menahan aku terlalu lama di sini.
"Berhentilah gadis cantik, bos kami tidak akan menyakiti kamu," ucap salah satu anak buah laki-laki itu.
"Iya, bos tidak akan menyakiti perempuan."
"Kalian bodoh ya, aku sudah bilang jangan ganggu aku. Dan biarkan aku pergi. Kenapa kalian malah membuat aku berlama-lama di sini?"
"Itu karna si bos masih ingin bicara sama kamu," kata anak buah itu.
"Aku tidak ingin bicara dengan bos kalian. Aku ingin pulang."
"Bicaralah dulu, baru bisa pulang."
"Dasar bodoh, aku tidak mau!" ucapku dengan sangat kesal.
__ADS_1
Karna aku sangat kesal dengan anak buah itu, maka aku terpaksa memukul anak buah itu dengan ilmu bela diri yang aku miliki.
"Apa? Kamu ternyata bisa bela diri," kata anak buah yang kaget ketika melihat aku menendang teman mereka.