Aku Bukan Laki-laki

Aku Bukan Laki-laki
Bab 27


__ADS_3

Anak buah yang berisik ini kembali bertanya padaku, apa yang harus mereka lakukan sekarang. Membuat aku semakin pusing saja, dengan pertanyaan-pertanyaan mereka yang tidak tahu harus aku jawab apa.


Kalau dia adalah Nino, seorang laki-laki anak dari Herman. Aku bisa bilang harus apa sekarang.


Tapi saat ini, kenyataannya sudah berbeda. Dia adalah gadis yang membuat hatiku hidup kembali. Dan aku tidak bisa menyakiti gadis itu, walaupun dia adalah anak dari Herman.


Kembali anak buahku berisik dengan beberapa pertanyaa. Saat ia melihat, kepala preman itu berhasil memukul jatuh gadis cantik itu.


"Berisik kalian!" teriakku dengan suara yang keras dan membuat nyali semuanya menciut.


Bukan hanya anak buahku yang ada di sampingku terdiam. Juga kepala preman geng tengkorak yang sedang berada di sana, juga menoleh kearah suaraku yang menggelegar ini.


Aku tidak bisa membiarkan gadis itu terluka lagi sekarang. Karna aku tidak ingin kehilangan dia lagi, untuk yang kedua kalinya.


Aku hampiri mereka dengan di ikuti anak buahku dari belakang.


Gadis itu masih terjatuh di jalan, mungkin ia kelelahan menghadapi kepala preman geng tengkorak yang mempunyai kekuatan yang jauh berada di atas ketiga adiknya.


"Cukup, hentikan!" kataku menghentikan kepala geng tengkorak untuk melanjutkan aksinya.


.....


"Kamu sudah tahu siapa aku, jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang?" ucap Nino.

__ADS_1


"Siapa nama kamu sebenarnya?"


"Nino," ucap Nino singkat.


"Aku ingin tahu nama perempuan kamu," ucapku kesal.


Dia hanya tersenyum manis saat melihat aku mengatakan pertanyaan dengan nada kesal.


Alina POV


Ternyata, untuk mengalahkan abang dari tiga preman ini tidaklah mudah. Aku sudah berusaha mengunakan segala ilmu bela diri yang aku miliki. Namun aku tidak bisa mengalahkannya.


Bukan abang preman ini yang kalah, malahan, ia berhasil memukul wajahku dengan sangat keras. Sampai-sampai, aku terjatuh dan sudut bibirku mengeluarkan darah.


Sebuah suara keras berhasil menghentikan abang preman itu. Ia menoleh kearah gelap tak jauh dari tempat kami berkelahi.


Dari gelap itu, muncullah orang yang paling tidak aku sangka-sangkakan. Ia berjalan semakin mendekat kearah kami.


Ternyata dia adalah Mulya, ia sudah ada di sana sejak mobilku dihadang oleh empat preman.


Yang paling tidak bisa aku percaya, ia sudah tahu siapa aku sebenarnya. Ia sudah melihat jati diriku sejak tadi. Dan ia juga sudah tahu, kalau aku mempunyai keahlian bela diri.


'Maafkan aku mama, aku telah menghancurkan rencana mama. Rencana yang mama bangun selama berpuluh-puluh tahun', ucapku dalam hati.

__ADS_1


"Cukup untuk sekarang. Kamu bisa kembali, mereka akan mengantarkan adik-adikmu," kata Mulya pada abang preman itu.


"Kamu bangun, ikut aku!" kata Mulya sambil membantu aku bangun.


Aku hanya bisa mengikuti apa yang ia katakan. Mau lari juga tidak bisa, terpaksa hanya bisa mengikuti saja.


Mulya membantu aku berjalan menuju mobilnya. Ia membuka pintu mobil dan menyuruh aku masuk kedalam mobil. Semua yang ia katakan aku lakukan dan aku ikuti.


Mulya mengeluarkan kotak obat yang selalu tersedia di mobilnya. Ia mengambil obat itu, lalu membantu aku mengobati luka yang ada di sudut bibirku.


"Kamu sudah tahu siapa aku, jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang?" ucapku pada Mulya yang masih mengobati luka ku.


"Siapa nama kamu sebenarnya," kata Mulya malah bertanya namaku.


"Nino," ucapku singkat.


"Aku ingin tahu nama perempuan mu," kata Mulya dengan wajah kesalnya.


Aku hanya tersenyum saat melihat Mulya menunjukkan wajah dan nada kesal pada pertanyaan terakhir itu. Wajahnya terlihat sangat menggemaskan bagi aku.


"Namaku adalah Alina Ningsih. Tapi kamu tidak boleh memanggil aku dengan nama itu. Karna aku tidak bisa menggunakan nama itu sekarang," ucapku dengan nada sedih.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karna aku tidak mungkin melawan dan menyakiti mama."


__ADS_2