
Benakku dipenuhi dengan bermacam-macam pertanyaan yang membuat kepalaku sedikit pusing.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Alina?" kata Mulya membuat aku kaget.
"Oh, tidak, tidak ada apa-apa."
"Kamu pasti sedang berpikir tentang aku bukan?" kata Mulya dengan sangat bangganya.
"Lah, kenapa aku harus berpikir tentang kamu sih?"
"Sudahlah, akui saja kalau kamu itu sedang berpikir tentang aku. Aku bisa lihat apa yang kamu rasakan, hanya dengan melihat bola mata kamu."
Aku semakin tidak percaya dengan apa yang ada dihadapan aku saat ini. Lagi-lagi, benakku diisi oleh pertanyaan yang jawabannya aku sendiri bingung.
Benarkah ini Mulya? Orang yang selalu dingin saat berhadapan dengan orang lain. Termasuk aku waktu itu.
"Alina, kamu pasti tidak percayakan sama apa yang aku rasakan saat ini. Aku cemas dengan keadaan kamu dan aku juga ...."
Mulya menggantungkan perkataannya. Padahal, aku sangat penasaran dengan apa lanjutan dari perkataan itu.
"Sudah waktu makan siang Alin, apa kamu tidak ingin makan siang sekarang?" kata Mulya mengusir aku secara tidak langsung.
"Baiklah, jika tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi, aku permisi dulu."
"Mau kemana kamu?"
__ADS_1
"Mau makan siang," ucapku sedikit bingung.
Tiba-tiba, aku merasakan kalau Mulya saat ini sedikit ... bodoh. Ya ampun, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk mengatakannya.
Aku merasa, mungkin saat ini yang ada dihadapan aku bukan Mulya yang sebelumnya pernah aku lihat dan aku temui. Karna Mulya yang ada di sini, sangat jauh berbeda dari Mulya yang sebelumnya.
Atau mungkin juga, saat ini, Mulya yang berada dihadapan aku ini, Mulya yang sedang amnesia. Mungkin kepalanya baru saja terbentur sesuatu, sehingga mengubah seratus delapan puluh derajat dari sifat Mulya yang sebelumnya.
"Hamz, bisakah lain kali kita makan berdua Alina?"
"Makan berdua?" ucapku sangat tidak percaya.
"Iya, makan berdua. Makan bersama aku dan kamu."
"Yap, aku yakin seratus persen Alina," kata Mulya sambil tersenyum manis.
"Lain kali saja," ucapku dengan berat hati.
"Yah, baiklah. Kita makan lain kali, oke?"
"Iy, iya, lain kali saja. Aku permisi dulu," ucapku sambil beranjak pergi dengan cepat.
Aku menutup pintu ruangan Mulya dengan cepat. Tapi sebelum keluar tadi, aku sempat melihat Mulya tersenyum manis mengiringi langkah kakiku.
Aku menggetuk dahiku pelan saat memikirkan apa yang baru saja terjadi. Aku juga mengelus dadaku pelan, saat keluar dari ruangan Mulya.
__ADS_1
Hal itu ternyata mengundang perhatian semua karyawan yang tahu kalau aku baru saja keluar dari ruangan Mulya.
"Apa yang terjadi Tuan muda? Apakah kamu dapat masalah dari Tuan tampan itu?" kata salah satu ibuk-ibuk yang duduk di pojokan.
"Tidak, aku rasa aku tidak dapat masalah soal pekerjaan. Tapi ...."
"Tapi apa Tuan muda?"
"Tidak ada apa-apa, lupakan saja. Semoga saja, ia tidak bikin masalah dengan ku. Dan semoga, ia tidak mempersulit aku di sini," kataku dengan nada yang sedikit dibuat-buat penuh harap.
Aku yakin, mereka pasti cemas saat melihat aku dipanggil kedalam ruangan Mulya tadi. Karna, mereka tahu siapa Mulya. Bagaimana sifat Mulya pada karyawan di sini.
Aku kembali duduk ketempat ku semula, di mana di sana sudah ada Mika yang sedang menantikan kedatangan ku dengan rasa penasaran yang sama dengan yang lainnya.
"Apa yang Mulya inginkan dari kamu kak Nino?" tanya Mika dengan penuh penasaran.
"Tidak ada. Hanya soal kerja yang biasa di bicarakan oleh bawahan dan atasan," ucapku datar tanpa ekspresi.
"Gila, gak biasanya Mulya itu ingin bicara sama kakak. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang kalian bicarakan, ya kan?"
Ya Tuhan, gadis ini terkadang membuat aku merasa sangat jengkel. Ia sangat sok tahu dan sangat membuat rasa muak yang aku miliki ini kambuh dengan cepat.
"Jika kamu ingin tahu, kamu bisa tanyakan langsung pada Mulya, Mika. Kamu dan Mulya kan pacaran, tentu ia akan bilang terus terang apa yang ia bicarakan padaku."
Mika terdiam, tidak berani menjawab apa yang aku katakan lagi. Karna dinada itu, mungkin Mika menemukan nada jengkel yang aku ucapkan dengan penekanan kata kesalku.
__ADS_1